STRATEGI DAN METHODE PENGAJARAN NILAI-NILAI DALAM KONTEKS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNESCO. Principal Regional Office for Asia and the Pacific.

Strategies and methods for teaching values in the context of science and technology.

Bangkok, 1993.

52 p. (Asia and the Pacific Programme of Educational Innovation for Development)

1. VALUES—TEACHING METHODS—ASIA/PACIFIC. 2. SCIENCE EDUCATION—ASIA/PACIFIC. 3. TECHNICAL EDUCATION—ASIA/PACIFIC. 4. SCIENCEEDUCATION—TEACHING MATERIALS—ASIA/PACIFIC. I. Title. II. Series

=======

Buku berjudul “Strategies and methods for teaching values in the context of science and technology.” Terbitan UNESCO Bangkok. Tahun 1993 Hal: 6-7.

======

STRATEGI DAN METHODE PENGAJARAN NILAI-NILAI DALAM KONTEKS SAINS DAN TEKNOLOGI

INDONESIA

Pengantar

Di Indonesia, nilai-nilai pendidikan diturunkan dari Pancasila, sbagai falsafah Negara Republik Indonesia lima kesatuan dasar cara pandang bangsa Indonesia. Lima dasar ini berdiri sendiri-sendiri tetapi saling mengisi satu sama lain. Yakni 1) ketuhanan yang maha esa, 2) kemanusian yang adil dan beradab, 3) persatuan Indonesia, 4) kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah permusyawaratan/perwakilan, 5) keadilan sosial bagi seluruh Indonesia. Pancasila juga digunakan sebagai falsafah pendidikan di Indonesia, karena itu tujuan pendidikan nasional didasarkan pada Pancasila. Dalam konteks pendidikan sains, nilai-nilai pendidikan seharusnya selaras dengan nilai-nilai yang terefleksikan 35 butir pancasila.

Tujuan dan Isi

Tujuan:

Tujuan pengajaran nilai-nilai adalah:

a) menumbuhkan sikap dan nilai-nilai positif terhadap sains dan teknologi;

b) meningkatkan kesadaran hubungan antara sains, teknologi, manusia dan lingkungan yang peduli pengaruhnya dan efeknya satu sama lain.

c) mengembangkan sifat dan sikap pribadi, diantaranya adalah sifat sangat ingin tahu, orisinalitas, ketekunan, keterbukaan pikiran, sikap kritis, tanggung jawab, kemauan untuk bekerjasama dan merdeka, bebas.

d) mengembangkan sikap sosial. Diantaranya adalah peka dan kritis terhadap isu-isu aktual dengan menampakkan kepedulian terhadap perubahan di masyarakat dan sepenuh hati berkontribusi dan perhatian terhadap kebutuhan masyrakat.

Isi:

Isi yang luas dan seimbang mencakup dua aspek lingkungan, yang dinamakan lingkungan alami termasuk lingkunagn fisik dan biologis, dan lingkungan buatan manusia. Ada juga beberapa topik yang berkaitan dengan problem ekologi, problem berdasarkan komunitas, problem kesehatan dan bahan-bahan lokal.

Strategies for Teaching and Learning

Pendekatan berbagai sisi digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai dalam kontks sains dan teknologi. Metode ini termasuk problem solving (pemecahan masalah), debat, diskusi, dan project work/tugas kerja. Ada juga upaya untuk menyokong motivasi dan pembelajaran sains. Dalam upaya ini, perlu didesain suatu panduan bagi guru. Dalam panduan ini digunakan cognitive conflicts, self concepts, dan modelling.

Metode evaluasi

Evaluasi sikap dalam pendidikan sains dilakukan dengan observasi langsung/direct observation dan skala likert/Likert-type scaling, tetapi semua ini belum memberikan hasil yang memuaskan. Akhir-akhir ini ada usaha untuk mengembangkan pedoman bagi guru untuk mengembangkan sikap, dan nilai-nilai dalam pengajran sains. Bagaimanapun, hal ini tidak termasuk penialian sikap dan nilai-nilai yang mana diturunkan dari tujuan nasional

7

Administrasi dan Birokrasi Islam: sejarah perkembangannya

Sejarah Singkat Administrasi dan Birokrasi Islam

Turats atau pusaka peradaban dan kebudayaan Islam sungguh sangat luar biasa, sejak diletakkan dasarnya oleh Rasulullah kemudian dilanjutkan oleh khulafaurrosyidin dan dilanjutkan pada masa daulah Umayah dan daulah Abasiyah dan seterusnya. Sungguh suatu capain peradaban kemanusian yang luar biasa terlebih pada saat itu.

Catatan-catatan sejarah pembangunan peradaban dan kebudayaan Islam juga terabadikan sedemikian lengkap sehingga kita sekarang ini dapat membacanya dengan jelas, kita dapat memiliki gambaran betapa tingginya peradaban dan kebudayaan masa itu, sebuah inspirasi untuk mengembangkan dan membangun peradaban ke depan.

Namun, barangkali patutu disayangkan, kita sebagai umat Islam kehilangan akar sejarah ini, kita hanya mengenal Islam sebatas ritual belaka barangkali, atau sebagai sebuah keyakinan saja. Memang sangat penting kedua hal ini, tetapi kalau membaca bagaimana generasi awal Islam membangun peradaban dan kebudayaan Islam sungguh sangat jauh berbeda sekali apa yang dilakukan oleh generasi awal dengan sekarang ini, bagaimana mereka memahami Islam secara lebih konprehensif, bagi kehidupan dunia ini untuk mencapai kebahagian kehidupan akherat.

Hebatnya mereka dalam membangun administrasi dan birokrasi negara dapatlah kita simak dalam sejarah peradaban Islam maupun kebudayaan Islam, mereka dapat mengimplementasikan ajaran Islam bukan semata sebagai ritual dan keyakinan semata tetapi benar-beanr riil sebagai sebuah ajaran mengenai bagaimana menata kehidupan ini lebih baik, ruhani maupun jasmani, fisik maupun spiritual nyang tercermin dalam penataan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sebagaimana tatanan ekonomi, dalam administrasi maupun birokrasi, Islam juga menawarkan konsepnya tersendiri yang unik dan tidak kalah dari sisi kajiannya dengan konsep lainnya. Ada baiknya misalnya membaca hasil penelitian Muhammad A. Al-Buraey Islam Landasan Alternatif Administrasi Pembangunan. ada banyak Istilah yang diperkenalkan misalnya, lembaga khilafah, wazir, wali, amir, qadhi, diwan, syurthah, hisbah, kharaj dan sebagainya. inti tentu dapat menjadi dasar pengembangan administrasi dan birokrasi Islam. hanya barangkali kajiannya masih tertinggal jauh dengan kajian fiqih ibadah maupun kajian aqidah. Khusus masalah administrasi dapat dibaca >>>>>disini<<<<.

Learning Theory, Learning Model, Instruction Design

Teori Pembelajaran, Model Pembelajaran, dan Desain Pengajaran

Learning theory/ theory of learning, Model of Learning

Teori belajar yang paling berpengaruh adalah :

1. Behaviourism

2. Cognitive psychology

3. Constructivism

4. Social learning theory

5. Socio-constructivism

6. Experiential learning

7. Multiple intelligences

8. Situated learning theory and community of practice

9. 21st century learning or skills

(diakses pertama tanggal 20/9/2015) lebih lengkapnya lihat di sini : http://www.unesco.org/new/en/education/themes/strengthening-education-systems/quality-framework/technical-notes/influential-theories-of-learning/)

Namun ada juga yang menyebut teori belajar ini sebagai paradigm yang mencakup (http://www.learning-theories.com/):

1. behaviorism:

a. classical conditioning (Pavlov)

b. GOMS model (card.Moran, Newell)

c. Operant Conditioning (skinner)

d. Social Learning Theory (Bandura)

2. cognitivism

a. Teori Atribusi (Weiner)

b. Cognitive Load Theory/ teori beban kognisi (Sweller).

c. Teori elaborasi ( Reigeluth)

d. Teori konteks fungsional ( Sticht)

e. Teori Gestalt (Von Ehrenfels)

f. Kognisi situasi/ Situated Cognition (Brown, Collins & Duguid)

g. Teori tahapan perkembangan kognisi (Piaget)

3. Constructivism, Social, Situational Theories:

a. Anchored Instruction (Bransford)

b. Cognitive Apprentichip (Collin et al)

c. Communities of practice ( Lave dan Wenger)

d. Connectivsm (Siemen, Downes)

e. Discovery learning ( Bruner)

f. Multiliteracies (New London Group)

g. Semiotic (deSaussure, Barthes, Bakhtin)

h. Teori perkembangan social/Social development theory (Vygotsky)

i. Problem-Based Learning

j. Situated Learning (Lave)

4. design-Based dan Models (precristive)

a. desain pengajaran model ADDIE/ADDIE Model of instruction design

b. ARCS model of motivational design (Keller)

c. Elaboratiion theory (Reigeluth)

d. Learner-Centered Design (Soloway, Guzdian, Hay)

e. Multimodality (Kress)

5. humanism dan motivational teori

a. ARCS model mengenai desain motivasi (Keller)

b. Kecerdasan emosi/Emotional Intelligence (Goleman)

c. Experiential Learning (Kolb) (lihat bawah)

d. Flow (Csikszentmihalyi)

e. Grit (Dcukworth, Matthews, Kelly, Peterson)

f. Intrinsically Motivating Instruction/pengajaran motivasi intrinsic (Malone)

g. tingkat kebutuhan dari Maslow/Hierarchy of needs (Maslow)

h. teori determinasi diri/self-determination theory (Deci dan Ryan)

6. 21st century skills

Descriptive and Meta teori:

a. Activity Theory (Vygotsky, Leont”ev, Luria, ENgstrom)

b. Actor-network theory (latour, Callon)

c. Taksonomi Bloom (Bloom)

d. Kognisi distribusi (Hutchins)

e. Analisa jaringan social/Social Network Analysis (Scott, Prell)

Teori identitas/ Identity Theory:

a. Tahap perkembangan Erikson (Erikson)

b. Teori Status identitas (Marcia)

c. Self-Theori: Entity and Incremental Theory (Dweck)

Teori dan Model lainnya:

a. Teori Afordan (Gibson)

b. Kecerdasan Mejemuk (Gardner)

d. Kecakapan abad 21 (P21 dan lainnya)

sebagai tambahan dari learning theory ini juga bisa dilihat di sini : http://www.instructionaldesign.org/theories/index.html

Learning concepts:

Konsep belajar misalnya (anxiety/kecemasan, arousal, attention, attitudes, cognitive style, creativity, grit and persistence, imagery, learning strait, mastery, memory, mental model dan lainnya, lebih lanjut bisa dilihat di sini:( diakses 20/9/2015)

http://www.instructionaldesign.org/concepts/index.html

Learning domain

http://www.instructionaldesign.org/domains/index.html

Perbandingan antara berbagai teori belajar mengenai orentasinya (diakses 20/9/2015, lebih lanjut dapat dilihat di: http://infed.org/mobi/learning-theory-models-product-and-process/ ).

Four orientations to learning (after Merriam and Caffarella 1991: 138)

Aspect Behaviourist

(http://infed.org/mobi/the-behaviourist-orientation-to-learning/)

Cognitivist

(http://infed.org/mobi/the-cognitive-orientation-to-learning/)

Humanist

(http://infed.org/mobi/humanistic-orientations-to-learning/)

Social and situational

(http://infed.org/mobi/the-socialsituational-orientation-to-learning/)

Learning theorists Thorndike, Pavlov, Watson, Guthrie, Hull, Tolman, Skinner Koffka, Kohler, Lewin, Piaget, Ausubel, Bruner, Gagne Maslow, Rogers Bandura, Lave and Wenger, Salomon
View of the learning process Change in behaviour Internal mental process (including insight, information processing, memory, perception A personal act to fulfil potential. Interaction /observation in social contexts. Movement from the periphery to the centre of a community of practice
Locus of learning Stimuli in external environment Internal cognitive structuring Affective and cognitive needs Learning is in relationship between people and environment.
Purpose in education Produce behavioural change in desired direction Develop capacity and skills to learn better Become self-actualized, autonomous Full participation in communities of practice and utilization of resources
Educator’s role Arranges environment to elicit desired response Structures content of learning activity Facilitates development of the whole person Works to establish communities of practice in which conversation and participation can occur.
Manifestations in adult learning Behavioural objectivesCompetency -based education

Skill development and training

Cognitive developmentIntelligence, learning and memory as function of age

Learning how to learn

AndragogySelf-directed learning SocializationSocial participation

Associationalism

Conversation

Learning model

1. Diantara model belajar yang juga banyak dipergunakan adalah “experiential Learning” dari Kolb (1984). Model ini membutuhkan empat (4) kecakapan belajar yakni 1) pengalaman konkret ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru, 2) observasi/pengamatan yang bersifat refelktif untuk melihat kontek khusus dari perpektif yang berbeda untuk menangkap maknanya, 3) konseptualisasi abstrak untuk menganalisa dan mengintegrasikan ide baru dan membuat konsep, 4) membuat konklusi logis dengan melakukan refleksi pada pengalaman baru serta percobaan aktif untuk penguatan kembali dengan lingkungan menggunakan pembelajaran baru. (lebih lanjut lihat di siniL http://edtechreview.in/research/2022-learning-models-learning-theories. Diakses 20/9/2015)

Kegiatan pembelajar dengan model Kolb ini diantaranya adalah seperti ini:

2. model lainnya yang juga banyak dipergunakan adalah model Schulman (2002) yang menggunakna enam (6) langkah proses belajar seperti berikut ini

Instructional Design (N):

The process
by which instruction is improved
through the analysis of learning needs
and systematic
development
of learning experiences. Instructional designers often use technology and multimedia
as tools to enhance instruction.

BUKU PAKET SKI XI

Buku paket mata pelajaran kurikulum 2013 umumnya diberikan dari pemerintah, untuk kelas 10 tentu lebih lancar dibandingkan kelas 12 atau 11, yang mungkin agak telat terutama bagi sekolah/madrasah yang menginjak tahun ke dua untuk implementasi K 13 nya.
khusus untuk buku SKI (Sejarah kebudayaan Islam) kelas XI, anda dapat mendownload lewat di sini , silahkan didownload, file sebesar 13 MB berbentuk pdf. bisa dibaca lewat gadget semacam android atao laptop.

Silahkan DIDOWNLOAD DI SINI >>>.ski XI

Pengembangan Penulisan Item Soal Pilihan Ganda Mata Pelajaran Fiqih

Pengembangan Penulisan Item Soal Pilihan Ganda Mata Pelajaran Fiqih

 

Diadaptasikan dari buku:

  1. Haladyna, Thomas M. Developing and validating multiple-choice test items , 3rd ed. Lawrence Erlbaum Associates, Inc., Publishers 10 Industrial Avenue Mahwah, New Jerse, 2004
  2. Haladyna, Thomas M and Downing , Steven M. Applied measurement in education, 2(1), 37-50, A Taxonomy of Multiple-Choice Item-Writing Rules. 1989

 

Pilihan Ganda (Multiple Choice) Konvensional: memiliki 3 vareasi:

  1. Format Kalimat Tanya
  2. Stem kalimat tidak lengkap (kalimat sebagiannya)
  3. Jawaban terbaik

Contoh ketiga vareasi dapat dilihat dibawah ini.

Ketiga vareasi ini memiliki tiga bagian:

  1. Stem
  2. Jawaban pilihan benar
  3. Alternatif jawaban pengecoh (distraktor)


 

 

 

 

 

 

 

 

Khusus untuk vareasi kedua yakni stem dengan format kalimat tidak lengkap, hendaknya menghindari penggunaan kata kosong di depan atau ditengah.

 

Pilihan Ganda Komplek

Pilihan Ganda Komplek adalah dimana peserta test memilih tiga pilihan yang dikelompokkan menjadi 4 (empat), dengan berbagai pertimbangan Haladyna memberikan perlawanan untuk penggunaan format Pilihan Ganda Komplek ini.

 

Format lainnya adalah reading comprehension, problem solving, pictoral

 

An naskh secara bahasa berarti (1. A. Penghapusan atau B. Membiarkan). Dalam an naskh ada empat unsur yaitu an naskh itu sendiri, an nasikh artinya (2.C. yang menghapus atau D. yang dihapus. E. Penghapusan), al mansukh dan hukum yang dinaskh. Contoh sabda Rasulullah kuntu nahaitukum ‘an ziraratil qubur ala fazuruha, al mansukh dari sabda rasulullah adalah (3.A. nahaitukum ‘an ziratil qubur atau B. Fazuruha). Adapun nasikhnya adalah (4.D……atau E……).

Format ini dapat juga untuk menguji hapalan dan kemampuan bacaan peserta didik. Dalam teks fiqih arab atau dalil qur’an dan hadits mengenai

Penulisan Stem

Haladyna menyarankan tiga (3) hal dalam penulisan stem:

  1. Bikin sejelas mungkin arah item soalnya

    Contoh yang jelek:

    Babi adalah hewan yang banyak dikonsumsi, apakah hukum yang terdapat pada hewan babi?

    Contoh itu dapat dikembangkan:

    apa hukum Islam mengkonsumsi hewan babi ?

  2. Buatlah stemnya sesingkat mungkin.

    Contoh stem yang kurang singkat:

    1. Ijtihad adalah mencurahkan semua kemampuan untuk mendapatkan suatu hukum syar’i yang amali dari dalil-dalilnya yang tafsiri. Fungsi dari ijtihad ini adalah…
    2. Orang-orang yang berkemampuan mengijtihadkan seluruh masalah syariat yang hasilnya diikuti dan dijadikan pedoman oleh orang-orang yang tidak sanggup berijtihat. Ijtihat yang mereka lakukan itu semata-mata hasil usahanya sendiri tanpa mencangkok dari pendapat orang lain. Orang-orang yang melakukan ijtihad semacam ini masuk dalam tingkatan…

    Contoh ini bisa disingkat:

    1. Manakah berikut ini yang merupakan fungsi ijtihad?
    2. Termasuk dalam tingkatan manakah seorang yang berijtihad atas kemampuannya sendiri tanpa mencangkok pendapat imam lainnya?
  3. Taruhlah ide pokok dalam stem sehingga item soal lebih fokus, bukan dalam pilihan jawaban.

    Contoh yang tidak fokus:

    Membunuh secara sengaja.


    1. ….

    Contoh ini bisa dikembangkan.

    Apakah membunuh secara sengaja itu?

    1. ..

  4. Gunakan stem dengan format kalimat tanya atau melengkapi kalimat.
  5. Bila menggunakan format melengkapi kalimat, hindari yang kosong di depan atau ditengah.

    (Haladyna memberikan pernyataan ulang, berdasar pengalaman empiris untuk menggunakan stem dalam format kalimat tanya.)

  6. Gunakan kata posisitif bukan dalam bentuk negatif.

    (bila menggunakan kata negatif hendaklah dicetak miring/garis bawah/cetak tebal. Misalnya “manakah berikut ini yang bukan merupakan shighah al amr?”, “manakah berikut ini yang tidak termasuk wajib haji?”, “manakah berikut ini yang merupakan pengecualian dari rukun haji?”)

  7. Gunakan format kalimat tanya daripada kalimat tidak lengkap

    – Format kalimat tidak lengkap :

    Sanksi hukum bagi pembunuhan sengaja adalah……… < – – – – – – – kurang efektif

    – Format kalimat pertanyaan

    Manakah dari sanksi hukum berikut ini yang merupakan sanksi hukum pembunh sengaja? <- – – – lebih efektif

  8. Gunakan pertanyaan mengenai hapalan+aplikasi (principle, rules, facts in real life)

    – Hapalan saja.

    Mana yang merupakan syarat shalat?    < – – – – – – – – – -kurang efektif

    – Hapalan dan aplikasi.

    Ahmad Syarif mengerjakan shalat dengan memakai sarung, menghadap kiblat, berdiri tegak, berniat dalam hati mengerjakan shalat, mengangkat kedua tangan sejajar pundak, dan mengucapkan allahu akbar. Apa syarat shalat yang dilakukan Ahmad Syarif?

     

    Manakah yang merupakan bagian syarat shalat ?     < – – – – – – – – efektif

     

    Manakah salah satu dari berikut ini yang paling tepat menunjukkan syarat shalat ?

    a. memakai sarung

    b. memakai kopiah

    c. menggelar sajadah

    – Metode dan prosedur.

    manakah urutan yang benar berwudlu?

    a.

    b.

    c.

    – intepretasi hubungan sebab akibat

    Mengapa menutup aurat diperlukan dalam shalat?

    a.

    b.

  9. hindari penggunaan “tidak satupun dari yang di atas” atau ” semua yang ada di atas”.

 

5. contoh template penulisan item stem

Mana pengertian dari…?

Which is the definition of…?

Manakah pengertian terbaik mengenai..?

Which is the best definition of…?

Manakah yang merupakan arti ….?

Which is the meaning of…?

Manakah yang merupakan kesamaan dengan..?

Which is synonymous with …?

Manakah yang seperti …?

Which is like …?

Manakah sifat…?

Which is characteristic of…?

Apa yang membedakan?

What distinguishes …?

Manakah yang merupakan alasan…?

Which is the reason for…?

Manakah yang menyebabkan..?

Which is the cause of…?

Apakah hubungan antara…dengan..?

What is the relationship between … and …?

 

Which is an example of the principle of…?

 

What would happen if…?

 

What is the consequence of…?

 

What is the cause of…?

 

Which is the most or least important, significant, effective …?

 

Which is better, worse, higher, lower, farther, nearer, heavier, lighter, darker, lighter…?

 

Which is most like, least like …?

 

What is the difference between … and …?

 

What is a similarity between … and …?

 

Which of the following principles best applies to …?

 

Which of the following procedures best applies to the problem of…?

   

4.

RAMADHAN: BULAN AMPUNAN, MOTIVASI BERBUAT BAIK

RAMADHAN BULAN AMPUNAN: MOTIVASI TERUS MENERUS UNTUK MENABUNG KEBAIKAN

 

 

Persiapan Menyambut Ramadhan

Sebagaimana sudah menjadi pemahaman bersama seluruh umat Islam bahwa Ramadhan adalah bulan mulia karena di dalamnya ada puasa Ramadhan yang memiliki fadhilah sedemikian besar sebagai rahmat Allah kepada hambaNya. Tentu agar kita mendapatkan banyak manfaat dari keutamaan bulan Ramadhan ini maka perlu bagi kita untuk mengetahui dan memahaminya dengan baik, karena bagaimanapun menjalankan Ramadhan sesuai dengan ketentuannya sehingga bisa mendapatkan manfaatnya, adalah amalan yang berat, maka sangat perlu memahaminya dengan baik sehingga beratnya menjalankan Ramadhan ini dapat dilalui dengan baik dan memberikan banyak manfaat bagi kita fi dunya wal akhirah.

Bekal ilmu mengenai keutamaan Ramadhan:

Bulan Ampunan: Rahmat Allah Untuk HambaNya Sebagai Motivasi Mereka Senantiasa Dalam Kebaikan. Pada umumnya hadits yang sering dikutip adalah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa orang yang qiyam lailatul qadr dalam keadaan keimanan dan muhasabah, dalam redaksi lainnya disebutkan bahwa orang yang qiyam bulan Ramadhan maka akan diampuni dosanya yang telah lewat.

Begitu pula orang yang melakukan puasa Ramdhan dalam keadaan keimanan dan muhasabah akan diampuni dosanya yang telah lalu. Dengan iman dan muhasabah, tentunya, karena puasa dimaksudkan untuk ibadah pengendalian diri. Orang yang mengerjakan puasa tetapi tidak bisa mengendalikan diri dari sifat pelit, pemarah, berkata kotor dan jorok, tidak ikhlas, riya dan semua hal yang mengurangi kualitas puasa, maka sesungguhnya ia mengerjakan puasa bukan dengan iman dan muhasabah yang sungguh-sungguh.

Dua hal dalam hadits, disebutkan disini, yakni berpuasa itu sendiri di siang hari dan malamnya melakukan qiyam malam ramadhan atau lailatul qadar. Keduanya menyebutkan keutamaan ampunan dosa untuk dosa-dosanya yang telah lewat, memang para ulama berbeda pendapat mengenai apakah semua dosa besar kecil atau dosa kecil saja yang diampuni, namun dalam semangat muslim, semua ini adalah rahmat Allah yang sudah cukup bagi seorang muslim untuk banyak bersyukur secara lisan atau amaliyah. Cukup bagi seorang muslim sebagi motivasi dan dorongan untuk senantiasa membuat kebaikan dan pembenahan dalam hidup ini. Teks hadit dapat dibaca berikut ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ، وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ” . البخاري

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ” البخاري

Inilah redaksi hadits yang sudah disepakati mengenai keshahihannya, yang berisi “pengampunan dosa-dosa yang telah lewat”, ada riwayat lain dengan tambahan redaksi “dan dosa-dosa yang belakangan”. Riwayat dengan tambahan redaksi ini banyak diperbincangkan oleh para ulama dari dahulu hingga sekarang ini mengenai keshahihannya. Redaksi mengenai “diampuninya dosa yang telah lewat dan yang akan datang” misalnya dalam Tanwirul Hawalik Syarh Muwatha’ Malik karya Jalaluddin Abdur Rahman As Suyuthi, ketika membahas hadits ketika membaca aamiin dan makmun juga kemudian bila ada yang bersesuaian dengan aamiin malaikat maka diampuni dosanya yang telah lewat, kemudian dalam penjelasan berikutnya banyak disinggung mengenai amal yang menggugurkan dosa telalu maupun yang akan datang. Diantaranya adalah mengenai puasa Ramadhan, berikut ini contohnya haditsnya:

أخرج أَحْمد عَن أبي هُرَيْرَة قَالَ قَالَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من قَامَ رَمَضَان إِيمَانًا واحتسابا غفر لَهُ مَا تقدم من ذَنبه وَمَا تَأَخّر

وَأخرج أَحْمد عَن أبي هُرَيْرَة قَالَ قَالَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من صَامَ رَمَضَان إِيمَانًا واحتسابا غفر لَهُ مَا تقدم من ذَنبه وَمَا تَأَخّر

وَأخرج النَّسَائِيّ فِي الْكُبْرَى وقاسم بن أصبغ فِي مُصَنفه عَن عَن أبي هُرَيْرَة أَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ من قَامَ شهر رَمَضَان إِيمَانًا واحتسابا غفر لَهُ مَا تقدم من ذَنبه وَمَا تَأَخّر وَمن قَامَ لَيْلَة الْقدر إِيمَانًا واحتسابا غفر لَهُ مَا تقدم من ذَنبه وَمَا تَأَخّر

Dalam paparan selanjutnya dalam kitab Tanwirul Hawalik tadi, misalnya dikatakan bahwa tambahan “wamaa ta akhara” merupakan tambahan yang diingkari, tetapi Ibn Hajar mengatakan bahwa tambahan itu juga diikuti oleh hadits lainnya

Lebih lanjut betapa istimewanya Ramadhan ini, dapat kita simak dalam rangkaian hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Ahmad berikut ini,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَ يَقُولُ : ” الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ ” . مسلم وأحمد

Hadits ini memberitahukan bahwa antara shalat lima kali sehari semalam, satu Jum’at ke Jum’at lainnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya dapat sebagai tebusan dosa diantara hari-hari tersebut kalau ia tidak mengerjakan dosa-dosa besar. Dengan demikian sebenarnya sehari-hari orang muslim itu dalam keadaan suci bersih, shalat lima waktu yang dikerjakannya, shalat Jum’at yang dikerjakan dari minggu ke minggu maupun puasa Ramadhan yang dikerjakannya dari Ramadhan satu ke Ramadhan lainnya, akan menjaga orang muslim ini senantiasa memiliki jiwa yang jernih bersih, sehingga tentunya akan mampu menjaganya pula dari dosa-dosa besar. Sebuah karunia dan rahmat Allah bagi kaum muslimin semuanya, inilah dorongan yang semestinya kita hayati, kita pahami dengan baik, sehingga pribadi muslim yang memiliki celupan Allah dapat benar-benar terwujud dalam diri kita, semoga Allah memudahkan kita semua untuk ini.

Manakala puasa sunnah saja, misalnya puasa Arafah dapat menghapuskan dosa tahun lalu dan tahun akan datang, dan puasa Asyura sebagai penebus dosa satu tahun sebelumnya, seperti dalam hadits berikut ini,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” ثَلَاثٌ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ، فَهَذَا صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ ، صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ ، وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ. رواه مسلم

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً ، وَصَوْمُ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً . رواه أحمد

maka tentu sudah dapat dimengerti dengan baik puasa Ramadhan sebagai puasa fardlu memiliki keutamaan yang jauh lebih besar dibanding dengan puasa sunnah, dan apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad menunjukkan semua itu. Seperti halnya saat nabi Muhammad menjelaskan bahwa dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya,

عَنْ عَائِشَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” رَكْعَتَا الْفَجْرِ ، خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ” مسلم

Ini dengan dua rakaat shalat sunnah qabliyah fajar, bagaimana halnya dengan shalat fardlu dua rakaat subuh itu sendiri, tentu fadhilahnya jauh lebih besar dibanding dengan dua rakaat qabiyah fajar. Kalau kita memahami ini tentu akan semakin semangat dalam menjalankannya.

Terlepas dari semu itu, rasanya yang paling penting di sini adalah bagaimana kita berlomba-lomba mengisi Ramadhan dengan sebaik-baiknya, bisa istiqamah dari awalnya hingga akhirnya, tentu mujahadah kita dalam mengisi Ramadhan akan mendapatkan pahala tersendiri dari Allah yang tidak bisa kita kira luasnya. Semoga Allah memudahkan kita menjalankan amaliyah Ramdhan dengan baik, dan mencatatnya sebagai amal ibadah yang diterima oleh Allah. Wallahu a’lam.

Doa Agar Terhindar dari Syirik

DOA TERHINDAR DARI PERBUATAN SYIRIK

 

Perlunya senantiasa waspada kesyirikan

Para nabi dan rasul yang di utus oleh Allah, membawa misi yang sama yakni tauhid, mengesakan Allah ta’ala, dan sebaliknya memberitakan agar menjauhi syirik, yang berarti menyekutukan Allah ta’ala dengan makhluknya. Beragam bentuk dari perbuatan syirik ini, sebagai contoh sebuah kisah persembahan dari dua anak Adam yang satu sebagai peternak, ia mempersembahan kepada Allah ternak yang bagus dan yang kedua sebagai petani yang mempersembahkan hasil buah-buahan yang jelek dan busuk.

Dua kisah ini sudah menggambarkan bentuk ketauhidan dimana yang mengorbankan hewannya yang paling bagus menunjukkan kemurniannya, sedangkan yang mengorbankan buah-buahan yang jelek, ia masih terkekang oleh nafsunya yang berarti ia menyerikatkan Allah dengan dirinya sendiri. Dalam kata lain ia tidak ikhlas yang berarti tidak murni dalam bertauhid, karena ia masih memiliki pamrih diri terhadap harta yang dipersembahkannya kepada Allah.

Inilah barangkali sekelumit gambaran mengenai betapa pentingnya kita mawas diri terhadap perkara syirik ini. Karena betapapun amaln yang dilakkan oleh seseorang itu sebagai amalan ibadah namun tatkala dalam mengerjakan tidak sepenuhnya ikhas untuk Allah maka sesungguhnya sudah nampak di sana kesyirikan itu yang menjadikan amalan itu tidak diterima oleh Allah.

Bahkan Luqman Al hakim juga dalam sebuah nasehatnya kepada anaknya mengatakan agar hendaknya tidak menyekutukan Allah karena syirk merupakan kedholiman. Surat Luqman: 13

“وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ” ،

Demikian pula di surat an nisa: 48, ayah menyatakan bahwa sesungguuhnya Allah tidak akan mengampuni manakala Allah dipersekutukan, namun Allah mengampuni dosa selain syirik bagi siapapun yang Allah kehendaki.

وقال تعالى:”إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ”.

Ini semua menandaskan betapa sudah seharusnya semua dari kaum muslimin memperhatikan masalah syirik ini dengan cermat. Dan senantiasa untuk memohon dengan sungguh-sungguh agar diampuni dosa syiriknya dan senantiasa memohon agar dijauhkan dari perbuatan syirik baik yang besar atau kecil, baik yang disadari atau tidak disadari.

Doa terhindar dari syirik

Mengingat begitu mendasar dan pentingnya masalah syirik ini dalam agama Islam, bisa dimengerti betapa sesungguhnya masalah syirik ini teramat lembut dan tersamar sehingga hampir bisa dikatakan tidak orang yang akan merasa aman dari perbuatan syirik ini.

Barangkali ibarat orang tersandung, saat yang terlihat adalah batu besar ia akan bisa menghindarinya, tetapi saat yang di depannya adalah batu kecil bisa saja ia tidak akan selamat dari tersandung. Maka saat seseorang melihat perbuatan sebagai syirik yang jelas terlihat karena memang nampak besar sangat bisa ia akan terhindar tetapi bagaimana dengan syirik yang tersamarkan dan terlihat kecil, maka sangat mungkin ia tersandung syirik yang dilihat kecil dan tidak nampak ini.

Sangat mungkin juga seseorang dalam shalatnya atau dalam menjadi khatib atau imam atau cermah, bahkan saat menjalan ibadah lainnya seperti haji dan berkurban, di dalam hatinya ada bisikan-bisikan setan yang mengganggu keikhlasannya dalam beribadah tadi.

Demikianlah sesungguhnya betapa berat dan susahnya seseorang menjaga dirinya dan amalannya dari godaan syirik ini. Maka untuk melindunginya Rasulullah mengajarkan doa yang dapat membentengi seseorang dari terjerumus ke dalam kesyirikan. Tentu ia juga harus terus memohon ampun kepada Allah atas dosa syiriknya yang mungkin tidak ia sadari sebagai perbuatan syirik.

Seseorang memang sangat mungkin tidak akan aman dari melakukan dosa syirik ini karena memang sedemikian tersamarnya syirik ini sehingga terluput dari perhatian kaum muslimin. Rasulullah mengingatkan dihadapan para sahabat yang merupakan orang-orang terpilih, generasi terbaik umat ini, agar mereka semua mewaspadai syirik ini, karena syirik itu lebih lembut dan lebih tersamarkan dibandingkan dengan suara langkah kaki semut sekalipun.

Betapa dapat kita bayangkan rasanya belum ada yang dapat mendengarkan bunyi kaki langkah semut, kecuali semut yang di dalam telinga manusia. Karena sedemikian tersamarkannya dibanding dengan suara semut merayap, maka salah seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah, bagaimana bisa mewaspadai syirik ini, sementara syirik itu sedemikian tersamarkannya, karena tentu saja dalam benak shahabat tadi bagaimana mampu seseorang menghindari syirik yang sedemikian tersembunyi ini.

Mendengar shahabat tadi lantas Rasulullah mengajarkan doa, “ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari menyekutukanMu dengan apapun yang kami ketahui dan kami mohon ampun kepadaMu dari menyekutukanMu terhadap apa yang tidak kami ketahui”

“اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ ”

Atau :

اللهمَّ إنا نعوذُ بك مِن أن نُشْرِكَ شيئًا نعلَمُه ونستغفِرُك لِما لا نعلَمُه

Doa yang pertama ini dapat dilihat dalam imam Bukhari di Adabul Mufrad yang dinilai shohih oleh Al albani dalam Shahih Adabul Mufrad. Dan yang kedua juga dalam At targhib watarhib oleh Al mundziri juga dalam Majma’uzawaid oleh Al haitsami. Redaksi sebagaimana berikut ini:

خطَبَنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ذاتَ يومٍ فقال يا أيُّها النَّاسُ اتَّقوا هذا الشِّركَ فإنَّه أخفى مِن دَبيبِ النَّملِ فقال له مَن شاء اللهُ أن يقولَ وكيف نتَّقيه وهو أخفى مِن دَبيبِ النَّملِ يا رسولَ اللهِ قال قولوا اللهمَّ إنا نعوذُ بك مِن أن نُشْرِكَ شيئًا نعلَمُه ونستغفِرُك لِما لا نعلَمُه

Dalam beberapa penjelasan, syirik yang sangat tidak terlihat jelas ini adalah riya’, sum’ah dan ‘ujub. Dalam ketiga bentuk ini sangat mungkin ada dalam diri seseorang manakala ia tidak memahami dirinya sendiri. Maka setiap kaum muslimin hendaknya senantiasa menghitung-hitung dirinya, senantiasa mewaspadai dirinya dari perilaku syirik ini di setiap saatnya.

Dengan demikian hendaknya kita semua kaum musllimin senantiasa bisa memperbanyak mengucapkan doa tersebut, sehingga Allah sendiri yang akan menjagakan kita dari terjerumus dosa syirik, sehingga kita pun akan merasa ringan dan mudah dalam meninggalkan perbuatan dan perkataan yang membawa kesyirikan baiak yang kita sadari atau yang tidak kita sadari, semoga Allah snenatiasa mengampuni semu dosa kita.

Doa Belajar

 

DOA DALAM BELAJAR

 

Makna doa belajar

Ibn Katsir dalam tafsirnya menuliskan mengenai ayat 114 surat Taha, betapa Rasulullah sangat inginnya untuk menghapal dengan segera whayu yang diterimanya dari Jibril, sehingga saat Jibril membacakan Rasulullah mengikuti bersamaan dengan Jibril sebekum Jibril selesai membacakannya, maka kemudian Allah memberitahukannya yang termudah dan paling ringan bagi Rasulullah dalam menghapal Alqur’an dan memahaminya itu. Ini sebenarnya mengandung makna pembelajaran dan pengajaran yang sangat dalam. Di antara maknanya adalah bahwa belajar itu membutuhkan proses dan dengan demikian proses menjadi penting dalam keseluruhan belajar, tidak saja hasilnya, miskipun hasil juga penting. Maka belajar tidaklah dikerjakan secara tergesa-gesa betapapun sangat inginnya untuk menguasai materi pelajaran, sabar menjalani proses sampai tuntas merupakan hal yang sangat diperlukan dalam belajar.

Inilah barngkali salah satu hikmahnya Allah mengajarkan kepada Rasulullah untuk tidak tergesa-gesa dalam menghapal dan memahami Alqur’an sebelum Jibril tuntas membacakan dan mengajarkannya kepada beliau.

{وَلا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ}

Artinya hendaknya diam menyimak saat Alqur’an dibacakan oleh malaikat Jibril kemudian mengulanginya setelah malaikat Jibril membacakannya. Demikian pula saat kita belajar ilmu-ilmu lainnya tidak secara instan untuk bisa menguasainya tetapi dengan proses, sedikit-demi sedikit sesuai dengan kemampuan sampai selesai.

Ujung ayat ini, Allah memerintahkan agar Rasulullah berdoa memohon kepada Allah agar ditambah ilmu, dimana Allah tidak memerintahkan kepada beliau untuk minta tambah, misalnya panjang umur atau rizki, selain diperintahkan untuk minta tambah ilmu saja.

{وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا}

Yakni agar ditambahi ilmu dari Allah. Inipun sesungguhnya juga memgajarkan mengenai spiritualitas ilmu, bahwa Allah pemilik ilmu dan sumber ilmu, manusia pada dasarnya adalah tidak berilmu, kecuali apa yang Allah ajarkan saja. Dengan spiritualitas ilmu, mengajarkan ketidaksombongan dengan ilmu yang dimiliki, kesombongan ilmu adalah saat merasa ilmu yang dimiliki adalah atas jerih payahnya sendiri, dan spiritualitas ilmu mengajarkan agar ilmunya menjadi manfaat bagi dirinya maupun bagi kehidupan ini yang gilirannya memberi manfaat di hari akhir kelak. Bahkan para malaikat tetap mengatakan, “Maha Suci Engkau ya Allah, tidak ada ilmu pada kami kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami”, karena memang sesungguhna demikian adanya. Albaqarah: 32

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Bahkan dalam Alisra’: 85 disebutkan, bahwa manusia pada dasarnya tidak diberi apapun dari ilmu yang ada kecuali sedikit saja, dan sesungguhnya pula seberapapun hebat dan banyaknya ilmu yang dikuasai, atau seberapa mendalamnya ilmu yang dipelajari maka ilmu itu tetaplah hanya sedikit saja.

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Mengenai doa agar Allah senantiasa menambah ilmu, Ibnu ‘Uyainah seperti dikutip oleh Ibn Abbas, bahwa Rasulullah hingga akhir hayatnya senantiasa memanjatkan doa ini yakni agar Allah senantiasa menambah ilmu, hal inipun mengajarkan kepada kita pentingnya untuk senantiasa terus menerus berdoa dan berusaha memperbaiki metode belajar termasuk pengajaran kita dalam mendalami suatu ilmu. Dan dengan terus menerus berdoa ini akan senantiasa menjaga spiritualitas ilmu kita.

Namun yang perlu diperhatikan diantara etika berdoa adalah hendaknya saat berdoa itu tidaklah senantiasa dengan hati khusyuk memahami benar apa yang dimintakan kepada Allah dan dengan suara lembut penuh kerendahdirian kepada Allah yang maha mengabulkan do’a, sebagaimana Allah telah ajarakan dalam al a’raf: 55. Ada kecenderungan do’a yang dipanjatkan secara rutin akan menjadi mekanistis seperti halnya pergerakan mesin yang rutin tanpa jiwa, maka sangat perlu menjiwai dan memahami do’a dan terus memperbaiki tatacara berdoa kita.

Contoh doa belajar

Al Bukhari meriwayatkan dari Ibn Abbas mengenai bagaimana Rasulullah mendoakan dirinya agar dipahamkan oleh Allah mengenai agama Islam ini, dengan doa beliau:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ (البخاري)

Demikian doa Rasulullah untuk Ibn Abbas, sehingga kelak Ibn Abbas menjadi orang yang berilmu. Bahkan dalam doa lainnya doa nabi untuk ibn abbas, agar Allah memberikan ilmu mengenai al qur’an, sehingga Ibn Abbas terkenal sebagai muffasir handal dari kalangan shahabat.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ ضَمَّنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ (البخاري)

Bahkan dalam riwayat al Bukhari lainnya, Rasulullah mendoakan agar Ibn Abbas mendapatkan ilmu mengenai hikmah. Yang dalam rangkaian hadits tersebut hikmah dijelaskan sebagai mendapatkan kebenaran bukan dengan jalan wahyu seperti nabi. Tetapi hikmah juga juga berarti sunnah rasulullah.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ ضَمَّنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى صَدْرِهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْحِكْمَةَ. (البخاري)

 

Do’a-do’a Rasulullah untuk Ibn Abbas tersebut, kalau digabungkan menjadi do’a diberikan kepahaman dalam masalah agama, diberikan ilmu mengenai alqur’an dan diberikan ilmu mengenai hikmah.

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، و عَلِّمْهُ الْكِتَابَ، والْحِكْمَةَ.

Doa tersebut dapat kita panjatkan untuk anak cucu kita atau siapapun dari saudara-saudara kita, bahkan para murid-murid kita, dan sesungguhnya dari sisi pendidikan dapat dijadikan inspirasi, bahwa para pendidik, para guru hendaknya dapat mendo’akan murid-muridnya, miskipun para murid ini dapat berdoa sendiri, tentu tatkala mendokan ini dengan menghadirkan kedekatan hati antara guru dan siswa.

Demikian pula, do’a ini dapat kita panjatkan kepada Allah untuk diri kita sendiri, tentunya dengan merubah redaksinya menjadi:

اللَّهُمَّ فَقِّهْنِي فِي الدِّينِ، و عَلِّمْنِي الْكِتَابَ، والْحِكْمَةَ.

Dan secara keseluruahn dalam tafsir Ibn Katsir, saat mengakhiri pembahasan ayat 114 surat Taha, beliau membawakan hadits riwayat Ibn Majah dari Abu Hurairah, bahwa dlam masalah ilmu, memanjatkan doa agar ilmu yang Allah berikan dapat bermanfaat, Allah memberikan ilmu yang memberi manfaat:

“اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا علَّمتني، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ”

Demikian, wallahu waliyuttaufiq ilaa aqwami tahriq.

Memanfaatkan Teknologi Informasi dengan baik

BERTANYALAH PADA GOOGLE JIKA KALIAN TIDAK TAHU

 

A. Muqaddimah

Bukan bermaksud untuk mempromosikan suatu produk atau mendukung, namun sebuah realita sosial yang nampak di depan mata dan sangat erat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mungkin bagi sebagian orang sudah menjadi kebutuhan primer, yakni akses internet yang di dalamnya ada mesin penelusur informasi yang ingin diketahui yang salah satunya adalah Google tersebut.

Dalam hidup banyak hal yang tidak ketahui, menyangkut arti hidup itu sendiri, alam fisik dan alam sosial di mana kita hidup, maupun tentang agama kita, maka disinilah salah satu letak pentingnya kenapa kita harus belajar baik secara formal di sekolah maupun secara non formal belajar secara mandiri atau lewat pengajian, kajian-kajian, seminar, dan sebagainya.

Misalnya saat kita tersesat jalan, kita ingin tahu kosakata bahasa asing apapun, kita ingin tahu masjid terdekat dengan posisi kita, ingin mengetahui bacaan al qur’an dengan semua riwayat yang mu’tabar, jam berapakah sekarang di Maroko, siapakah pemegang kunci kakbah, siapakah CEO dari pembuat sepeda motor anda ? 15 tahun lalu mungkin masih cukup sulit bagi kita untuk mengetahui informasi itu dengan cepat. Sekarang kita dapat dengan mudah dan cepat mencari tahu informasi tersebut, bahkan semua hal yang ingin anda ketahui apapun itu, baik buruk, positif atau negatif, terlarang atau legal.

Informasi ini semua tersedia didepan mata, dalam konteks infromasi mengenai agama Islam semua tersedia dengan segala macam paham dan madzab yang menyertainya, dengan segala pemikiran yang berseliweran, lengkap dengan dukungan kitab-kitab, ulama dan ustadz maupun kiyai yang memiliki kesamaan pandangan dan pendapat masing-masing.

B. Prasyarat penting

1. penguasaan bahasa

Sebuah fenomena yang rasanya tidak mungkin lagi kita menghindar darinya, yang bisa dilakukan adalah justru mengakrabinya kemudian memanfaatkan sebaik-baiknya. Untuk dapat memanfaatkan tentu banyak hal yang perlu dipahami, tetapi sekali lagi semua itu bisa ditanyakan, bahkan kalau kita tidak tahu harus bertanya apa, harus memulai dan melakukan apa, itupun bisa ditanyakan. Salah satu prasyarat dapat memanfaatkan dengan baik adalah penguasaan paling tidak bahasa Arab dan bahasa Inggris, dengan bahasa Indonesia saja maka kita hanya bisa bertanya dengan bahsa Indonesia dan dijawab terbatas dalam bahasa Indonesia tentunya, padahal dengan berbagai bahasa akan ditemukan jawaban yang lebih luas dan banyak.

Khusus bagi kita, tentu karena alqur’an dan as sunnah dalam bahasa Arab, maka dengan fasilitas yang disediakan oleh Google, akan banyak memberikan manfaat kalau kita cukup menguasai bahasa Arab, kita dapat dengan cepat menelusur kitab-kitab, haidts, ayat-ayat al qur’an maupun syarah dan tafsir. Kita dapat pula membandingkan berbagai macam pendapat para imam dan komentar-komentar ulama sekarang ini, kemudian kita mengambilnya mana yang tepat. Tentu hal ini akan lebih lengkap kalau kita ditopang oleh bahasa Arab kita yang memadai dibanding hanya mampu bahasa Indonesia saja.

2. tabayyun

Mengingat sedemikian banyaknya informasi jawaban yang diberikan dari satu pertanyaan kita, maka dibutuhkan tabayyun dari semua informasi jawaban yang disediakan itu. Kita tidak tahu persis siapa yang menjawab pertanyaan kita, Google hanya menampilkannya, kitalah yang harus cerdas memilih dan memilah mana informasi yang valid, mana informasi yang bermanfaat dan bisa dipertanggung jawabkan.

Tabayyun informasi ini sangat penting, entah darimanapun datangnya informasi yang ada. Rambu-rambu ini dapat kita ambil inspirasinya dari surat an nisa’: 94

ذَٰلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا

Juga dalam surat al hujurat: 6

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Ayat ini menganjurkan kita agar memverifikasi semua informasi yang kita dapatkan, sehingga kita tidak salah dalam memutuskan tindakan apa yang akan diambil mengenai suatu perkara yang kita hadapi. Ketidakmauan melakukan verifikasi informasi berakibat pada kesalahan mengambil sikap maupun tindakan yang dapat merugikan diri sendiri, orang lain, lembaga maupun agama kita.

C. Taqlid Google.

Hal yang sangat dicela dalam Islam adalah sikap taqlid, yakni sikap mengikuti pendapat orang lain, menelannnya mentah-mentah sebagai sebuuah kebenaran tanpa mengetahui dasar pijakannya, tidak melakukan verifikasi keabsahannya. Bisa dilihat bagaimana al qur’an dalam surat al Isra’: 36 mencela sikap demikian. Justru kita diperintahkan untuk menggunakan daya pendengaran kita, penglihatan dan nurani kita untuk menjadikannya sebagai panduan sehingga denganya kita mengetahui hal-hal yang memberi faidah.

Dengan adanya google menjadikan seseorang mudah mendapatkan informasi dan menganggap bahwa apa yang didapatkannya itu sebagai sebuah kebenaran pasti karena didapatkan dari internet yang dianggap sebagai dewa kebenaran. Orang akan sangat gampang dipengaruhi oleh berbagai pendapat dan informasi yang disediakan oleh Google, ia akan menjadi manusia serba bingung dan ragu-ragu atau justru menjadi manusia fanatik dengan menjadi pengikut (follower) sejati dengan menutup daya kritisnya.

D. Muttabi’ Google

Barangkali istilah muttabi’ yang biasa kita kenal dalam istilah Ushul Fiqih dapat menjadi landasan bagi kita dalam mensikapi berbagai informasi yang diberikan oleh Google dari pertanyaan yang kita ajukan kepadanya. Muttabi’ adalah sikap kritis dengan menelusur dasar pijakan dan dalil yang dipergunakan sehingga kita mengetahui dalil pijakan dan dasar pemikiran dari suatu pendapat. Kitapun dapat menilai dan membandingkan dengan berbagai pendapat yang ada, bukankah Google dapat menyediakannya dengan mudah. Maka prinsip ittiba’ ini sesungguhnya dapat memebantu kita menyikapi dengan baik informasi yang ada.

Namun barangkali tidak mudah untuk menjadi muttabi’ karena membutuhkan sikap kritis, bahkan miskipun sebenarnya untuk bisa kritis inipun google bisa sangat membantu. Sikap kritis dan tabayyun membutuhkan kejelian dan proses pemikiran lebih lanjut dari informasi yang kita terima. Berpikir kritis ini dapat kita mulai dari bagaimana memilahkan antara fakta dan pendapat dari informasi yang kita terima. Kalau ada informasi misalnya ‘di akherat nanti nanti ada empat (4) golongan lelaki yang akan ditarik masuk ke neraka oleh perempuan …. dan seterusnya” atau informasi mengenai “orang yang bersedekah derajatnya 10 kali, orang yang menghutangi derajatnya 18 kali, orang yang mempersaudarakan derajatnya 20 kali dan orang yang menyambung silaturahmi derajatnya 40 kali”,. Dengan berpikir kritis maka kita akan bertanya apakah ini semata pendapat? apakah ada dasar kuat dalilnya? Bila ada dalilnya bagaimanakah aslinya dalilnya?. Kemudian selanjutnya setelah memilah tadi adalah memberikan penilaian dari pendapat dan informasi yang telah kita terima. Selanjutnya adalah menarik kesimpulan mandiri dari apa yang telah serap dengan melalui pemilahan dan evaluasi serta kajian.

Dengan cara tersebut, sebenarnya kita sudah dapat mempraktekkan dan menggairahkan diri kita untuk melakukan ijtihad. Termasuk hal yang kurang dari kita adalah gairah untuk mempraktekkan ijtihad ini entah dengan berbagai alasan yang ada tentunya, alasan paling klasik adalah ketidak mampuan, tentu saja akan terus berkepanjangan tidak mampu kalau tidak mau dan takut untuk melatih dan mencobanya.

Inilah barangkali bagaimana kita dapat memanfaatkan layanan mesin pencarian informasi yang ada untuk membuat diri kita lebih arif, lebih mengerti, lebih bisa bersikap kritis mana yang terbaik untuk diri kita. Sebaliknya kalau kita menelan apa saja informasi yang ada dan meyakininya sebagai sebuah kebenaran pasti maka sesungguhnya kita sedang mengamalkan sikap taqlid baru tanpa disadari. Semoga Allah memudahkan kita menyaring informasi yang memberi manfaat dunia akherat kita.

Aplikasi kaidah Ushul Fiqih

MEMELIHARA HAL-HAL LAMA YANG BAGUS DAN MENGAMBIL HAL-HAL BARU YANG LEBIH BAIK

 

Pendahuluan

Ada sebuah kaedah dalam Ushul Fiqih yang sering dikutip terkait dengan pelestarian nilai-nilai bagus dan bagaimana kita mensikapai dengan perubahan budaya maupuan arus pergerakan budaya yang ada. Karena sangat mungkin seseorang atau masyarakat akan senantiasa melihat hal-hal baru yang terus bermunculan, bisa saja sebenarnya suatu hal itu baru bagi suatu masyarakat tetapi bagi masyarakat lainnya hal itu dipandang sebagai hal-hal yang sudah lama. Munculnya arus pergerakan hal-hal ini menimbulkan pergesekan dan pergeseran akan hal-hal lama.

Kaedah ini adalah seperti judul di atas ” memelihara hal-hal lama yang bagus dan mengambil hal-hal baru yang lebih bagus”. Yang dalam kaedah bahasa Arab dituliskan sebagai berikut.

المحُاَفَظَةُ عَلَى القَدِيْمِ الصَالِحِ وَالأَخْذُ باِلجَدِيْدِ الأَصْلَحِ

Salahsatu khazanah dala Islam yang harus terus diaktualisasikan sehingga menjadi sebuah kaedah yang hidup bukan hanya dalam kajian-kajian ushul fiqih saja, tetapi dapat diimplementasikan untuk pemecahan permasalahan yang lebih luas sehingga bisa lebih diimplementasikan.

Kita mempunyai pusaka yang begitu banyak, terutama tradisi dan nilai-nilai kebaikan (local wisdom). Dalam tradisi intelektual Islam, adat atau tradisi baik sekalipun memiliki tempatnya tersendiri dalam Islam. Misalnya dalam khasanah fiqih disebutkan bahwa jual beli salam (pesanan) adalah adat kebiasaan masyarakat yang diakomodasi fiqih Islam. Ijarah atau upah mengupah juga diantaranya, apa yang menjadi tradisi di masyarakat menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan ijarah.

Bahkan banyak lagi contoh-contohnya, misalnya dalam pembagian af’al rasul, disebutkan bahwa salah satu dari macam-macam af’al rasul ini ada yang dikerjakan oleh Rasulullah berdasarkan adat, misalnya mengenai model pakaian, model sandal dan lainnya. Ini juga menandaskan pentingnya adat yang baik, yang sesuai dengan Islam menjadi pertimbangan sendiri dalam pengembangan hukum Islam, maupun dalam budaya Islam.

MEMELIHARA HAL-HAL LAMA YANG BAGUS

Tentu dalam kita bermasyarakat, membangun budaya dan peradaban, di sana ada nilai-nilai bagus yang harus dipertahankan, apalagi nilai-nilai bagus itu selaras dengan Islam dan selaras dengan kondisi di mana kita tinggal. Dalam setiap masyarakat, lembaga, sampai tingkat negara, di sana pasti ada tradisi atau hal-hal lama yang terus dipertahankan, karena memang memiliki nilai-nilai yang bagus.

Contoh, dalam pembangunan tempat wudlu dan sarana penunjang bersuci lainnya dalam suatu masjid, bisa saja antara satu dengan lainnya, antara daerah dengan daerah lainnya ada perbedaan, ini tentu lebih pada pertimbangan kebiasaan yang baik, mana bentuk yang lebih bisa memberikan efektifitas untuk bersuci. Kalau ada masjid yang dibangunkan kolam untuk mencuci kaki misalnya, antara satu dan lainnya juga berbeda. Hal ini kalau ditelusur sebenarnya kita bisa memandangnya sebagai hal-hal yang lama yang baik, karena untuk mengajarkan orang memasuki masjid dengan kaki bersih, maka hal yang paling efektif adalah dengan membangunkan kolam di sekeliling masjid, daripada harus mengingatkan satu persatu kepada jama’ah.

Itu barangkali contoh sederhana yang bisa kita jumpai sehari-hari, kalau kita tarik lebih lanjut misalnya, kita bisa melihat bagaimana hal-hal lama yang bagus ini bila dipertahankan dan dijaga akan memberikan peningkatan yang luar bisa bagi kemajuan sebuah masyarakat, karena mempertahankan hal-hal lama yang bagus ini, apakah itu nilai-nilai, bangunan fisik, aktifitas merupakan sebuah kontinuitas atau kesinambungan. Bagaimana jadinya sebuah masyarakat tanpa adanya kesinambungan yang terus menerus, maka bisa jadi masyarakat itu akan mengalami pergolakan dan labil, karena tidak ada patokan yang dapat dipegangi.

Kalau dalam tradisi akademik, misalnya hal-hal lama yang bagus ini terkait dengan kewajiban mencantumkan dari mana kita mendapatkan kabar atau kutipan, termasuk mempertahankan bidang kajian yang ditekuni seseorang. Misalnya ada ulama yang menekuni bidang fiqih sampai dia mendapatkan julukan faqih, atau seseorang yang mendalami bidang hadits sehingga menjadi muhaddits atau seseorang mendalami bidang ilmu bahasa/nahwu menjadi seorang nuhat atau bidang tafsir menjadi seorang mufassir.

Dalam memelihara hal-hal lama yang baik ini adalah dengan mengokohkan pokok hal-hal lama yang bagus ini sehingga benar-benar menjadi keyakinan, misalnya kerangka sepeda motor bebek bila dperhatikan sejak awal memiliki kerangka demikian itu, maka hal ini harus dijadikan pokoknya dan diyakini bahwa kerangka pokok atau pakem sepeda motor bebek adalah seperti itu.

Tidak cukup hanya dengan mengokohkannya saja, karena kalau demikian ini hanya akan menjadi kenangan masa silam maka diperlukan pengembangan dengan tetap berpijak pada kerangka pokok dari hal-hal lama yang bagus itu. Katakanlah kalau sepeda motor bebek kerangkanya bodinya adalah seperti yang ada sekarang ini, kemudian kerangka ini diperkuat bahannya dengan penelitian yang berkembang misalnya dengan materi yang lebih ringan dan kuat, kemudian pengembangan lainnya adalah pada desain penutup kerangka maupun aksesoris yang menyertainya.

Bisa jadi dua hal ini, yakni mengokohkan kerangka dasar hal-hal bagus dan mengembangkannya merupakan dua hal minimal dalam menjaganya. Sulit untuk bisa mengembangkan kalau seseorang atau masyarakat tidak memiliki pakem atau kerangka dasar yang menopang dirinya. Kerangka dasar apa yang hendak dikokohkan, kemudian setelah disepakati lantas ditentukan pengembangannya.

MENGAMBIL HAL-HAL BARU YANG LEBIH BAGUS

Mengenai masalah pengembangan tentunya terkait erat dengan lanjutan dari kaedah kita ini, yakni mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Tidak hanya baik tetapi yang lebih baik atau terbaik. Dalam mengambil hal-hal yang lebih baik ini, ada dua hal yang perlu dimengerti yakni, mengambil pokok baru yang lebih baik dan tetap mempertahankan pokok lama yang baik, dan mengambil hal-hal baru pengembangan dari pokok lama yang baik.

Kekurangan kita adalah, sering meninggalkan pokok lama yang baik dan mengambil pokok baru dengan meninggalkan atau tidak memelihara pokok lama. Ini berakibat pada labilnya kondisi yang ada, sehingga menyulitkan untuk melakukan pengembangan pada pokok yang ada, karena bagaimana bisa dievaluasi, dikembangkan pokoknya, kalau yang pokok itu senantiasa dirubah dan diganti, tidak bisa dibayangkan kalau kerangka sepeda motor bebek itu dirubah menjadi bentuk segitiga misalnya, yang sebelumnya berbentuk segitiga tidak penuh seperti itu.

Kalau berbicara masalah pendidikan misalnya, dalam tradisi sekolah kita ada semboyan “tutwuri handayani’, ini sebuah dasar filsofis yang semestinya terus dijaga bukan hanya fisiknya tapi maknanya, secara fisik memang tetap terus terpampang di papan sekolah dan di lambang sekolah, tetapi memelihara maknanya barangkali juga lebih sulit apalagi mengembangkan sehingga bisa diturunkan menjadi teori-teori pendidikan atau menjadi pedoman perilaku bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan.

Memang sangat banyak sekali, filosofi-filosofi pendidikan yang ada, yang kita ambil dari berbagai pemikiran besar dunia, tetapi seringkali kita juga melupakan filosofi pendidikan kita sendiri yang sudah dipunyai dan menyandarkan diri pada pokok pemikiran yang baru masuk kepada diri kita. Perlu disadari pula bahwa filosofi besar itupun sebenarnya di mengikuti tradisi memelihara dan mengambil seperti dalam kaedah ushul fiqih tersebut. Bagaimana sebuah filosofi yang asalnya hanya pemikiran kemudian dikembangkan menjadi idelogi, kemudian juga dimatangkan lagi oleh para pemikir penganut aliran filosofi tersebut.

Kalau dalam tradisi pesantren ada namanya pemberian ijasah seorang kiyai kepada santrinya yang telah menamatkan pengajian suatu kitab, dimana ijasah ini berisi semacam jalur sanad bahwa santri telah menamatkan mengaji kitab dari seorang kiyai terus demikian ke atas hingga kepada ulama pengarang kitab. Mungkin juga disertai dengan tradisi khataman, makna yang terkandung dalam hal ini tentu lain manakala tradisi ini kita pegangi. Tetapi saat pokok ini digantikan atau dikembangkan tidak berdasar pada pokoknya tetapi dengan mengadopsi tradisi pesta/party maka sesungguhnya akan memberikan dampak yang sangat berbeda bagi para pelajar dalam mensikapi kelulusannya.

Haruslah benar-benar dipertimbangkan untung dan manfaatnya ketika hendak mengambil hal-hal baru ini, bukan semata kebaruannya yang sebenarnya barang usang, baru hanya karena kita baru mengenalnya, padahal malah meruntuhkan pondisi lama. Barangkali mengambil hal baru adalah untuk memperkuat hal-hal lama yang menjadi pondasi dan ciri khas kebaikan suatu masyarakat. Demikian wallahul muawwiq illa aqwami thariq.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.