Sikap terhadap Perbedaan memahami nash agama

Dewasa Dalam Mensikapi Perbedaan Menjalankan Ajaran Agama

 

Sumber Agama

Sebagaimana menjadi kesepakatan ulama bahwa sumber Islam utama hanyalah Al Qur’an dan As Sunnah. Semua sepakat demikian, dan semua sudah memaklumi hal ini, mushaf al Qur’an yang kita baca sehari-hari, kitab-kitab hadits yang beredar semisal Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At Tirmidzi dan kitab hadits lainnya, semua ini sudah masyhur sebagai acuan utama Islam.

Al Qur’an, merupakan wahyu Allah kepada nabi Muhammad yang disampaikan dalam bahasa Arab, dimulai dari surat al fatihah dan di akhiri dengan surat An nas, membacanya dipandang sebagai ibadah.

Sementara itu al Qur’an sebagaimana kita ketahui bersama, disampaikan dalam bahasa Arab dan diturunkan di masyarakat Arab saat itu. Tentu prasyarat penguasaan bahasa Arab dan sosiologi bangsa Arab saat itu juga diperlukan. Maka disiplin semacam ilmu asababun nuzul yakni ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang mengiringi turunnya Al Qur’an sangat penting untuk diperhatikan.

As Sunnah merupakan semua yang muncul dari nabi Muhammad berupa perkataan, perbuatan termasuk taqrir/kejadian-kejadian yang didiamkan oleh Rasulullah, karena tentu Rasulullah tidak akan diam terhadap perbuatan jelek yang diketahuinya. Sehingga sesuatu yang didiamkan oleh beliau dipandang sebagai ketetapan atau taqrir.

Sebagaimana al Qur’an ada asbabunuzul, dalam as Sunnah ada asbabul wurud yakni mengenai kejadian yang mengiringi munculnya as sunnah itu, yang juga harus diperhatikan. Baik al Qur’an dan as Sunnah berbahasa Arab tentu struktur atau gaya ungkap bahasa Arab memiliki kekhasannya sendiri yang harus dipahami dengan baik bagi mereka yang ingin mendalami dan memahami ajaran Islam dengan lebih baik.

Memang dapat dikatakan bahwa sumber sama tetapi dalam kenyataan sehari-hari yang terjadi ditengah masyarakat sering ditemukan perbedaan-perbedaan pelaksanaan dari sumber itu, bahkan juga perbedaan memahami apa yang diinginkan dari sumber itu.

Perbedaan Pemahaman dan Pelaksanaan

Mengenai contoh-contoh perbedaan dalam memahami ajaran agama dari kedua sumber ini misalnya saat-saat ini dapat kita lihat terkait dengan ibadah di bulan Dzulhijjah ini. Menentukan tanggal 1 Dzulhijah secara garis besar lewat rukyah dan lewat hisab, bahkan dengan metode hisab sekalipun juga dapat menimbulkan perbedaan, misalnya mengenai derajat ketinggian hilal awal bulan, bisa jadi 1 derajat sudah dipandang sebagai awal bulan, dapat pula 3 derajat menurut pendapat lainnya, bahkan mungkin 4 derajat dan seterusnya.

Bahkan bagi orang yang memegangi rukyat hilal sekalipun juga bisa timbul perbedaan pemahaman misalnya mengenai apakah rukyat harus dengan mata telanjang atau boleh menggunakan peralatan teropong? Apakah mungkin misalnya tinggi hilal 4 derajat benar-benar sudah bisa dirukyat dengan mata telanjang? Apabila ketinggian tersebut memungkinkan dirukyat adakah kiranya pengakuan berhasil merukyat itu bisa dibuktikan menurut ilmu pengetahuan ataukah sekedar keyakinan? Miskipun tentu disiplin hokum dan disiplin ilmu pengetahuan ada domainnya masing-masing.

Apalagi terkait dengan berbagai hal ibadah di bulan Dzulhijah ini misalnya wukuf di Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijah, sangat mungkin ada perbedaan penanggalan berdasar kriteria tadi. Hal ini juga menyangkut sunnah puasa Arafah apakah mengikuti saat orang-orang haji berwukuf di Arafah ataukah pada saat tanggal 9 Dzulhijah.

Sebagaimana di awal, sumber bisa sama yakni as sunnah yang menyatakan bahwa puasa Arafah, bahwa Rasulullah bersabda,” puasa pada hari Arafah, aku berharap sekiranya Allah menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”.

أنَّ النَّبِيَ صلى الله عليه وسلّمَ قَالَ: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ والسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ. (مسلم)

Tetapi ternyata dalam memahami kapan puasa Arafah itu juga terjadi perbedaan pemahaman, satu pendapat mengatakan saat para haji wukuf di Arafah, pendapat lainnya mengatakan saat tanggal 9 Dzulhijah. Akibatnya adalah pendapat pertama menjadikan penetapan kapan wukuf di Arafah sebagai acuan puasa Arafah, sedangkan pendapat kedua mengacu pada penanggalan masing-masing wilayah. Tentu pelaksanaannya bisa terjadi perbedaan waktu puasa Arafah.

Misal yang lainnya yakni masalah pembagian daging qurban, bisa saja secara teknis sangat beragam dan menimbulkan berbagai pemahaman, misalnya ada yang mengambil untuk dirinya separa dari daging qurban dan separo sebagai sedekah. Kalau melihat nash al Qur’an misalnya dapat kita lihat surat al haj: 27, ” Maka makanlah sebagian darinya dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir”.

(كُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ) [ الحج : 27 ]

Sementara di surat al Hajj: 36 ” maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta “.

(فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ) [ الحج : 36 ]

Namun barangkali ada yang mengambil sepertiga untuk dirinya, sepertiga untuk sedekah bagi fakir miskin, sepertiga dihadiahkan untuk sahabat maupun karib kerabatnya. Bahkan mungkin ada yang tidak mau mengambil untuk dirinya sendiri tetapi semuanya disedekahkan kepad fakir miskin atau dihadiahkan kepada saudara maupun teman-temannya.

Tentu masih banyak keragaman dalam memahami dan menjalankan dari satu sisi ibadah yang dianjurkan dalam al Qur’an maupun As Sunnah terkait di bulan Dzulhijah ini yakni ibadah haji, puasa Arafah, ibadah qurban maupun shalat Idul adha.

Mensikapi Perbedaan.

Barangkali kita ke dalam diri sendiri dapat mendewasakan diri dengan berbagai pendapat, lewat membuka diri terhadap pendapat di luar dirinya bahkan yang secara berhadap-hadapan berlawanan dengan pendapat dirinya sendiri. Bisa jadi dirinya konsisten dengan pendapatnya sendiri, tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk melihat dan memahami pendapat orang lain.

Untuk bisa dewasa dalam memahami perbedaan pendapat dirinya dengan pendapat lainnnya, seseorang juga perlu memahami sungguh-sungguh apa yang menjadi landasan berpikir dirinya, bukan berpendapat sekedar mengikuti pendapat kelompoknya tanpa memahami dengan baik landasannya. Bila hanya sebatas mengikuti maka kencenderungannya bisa saja sangat fanatic dengan pendapat diri sendiri dan alergi dengan pendapat lain yang berbeda.

misalnya dengan menyadarkan diri bahwa dalam persoalan ijtihadiyah seseorang yang sudah berusaha untuk memahami hokum dengan seluruh potensi kemudian memberikan hasil yang tepat maka ia mendapatkan dua pahala dari usaha dan ketepatan, tetapi manakala hasilnya tidak tepat maka ia masih mendapatkan satu pahala atas jerihpayahnya memahami hokum tersebut. Hal ini diterapkan kepada dirinya sendiri maupun orang lain, karena dirinya merasa orang lain ada potensi tepat tetapi bisa juga tidak tepat, begitu juga dengan dirinya ada potensi tepat memahami tetapi juga ada potensi tidak tepat dalam memahami.

Pendewasaan diri terhadap perbedaan pendapat ini, akan dapat membuat seseorang terus berusaha mencari kebenaran, berusaha untuk memilih pendapat yang lebih kuat alasannya, sebagai acuannya bukan berdasar pada apa yang menjadi paham dan egonya. Maka atas dasar kebenaran ini, dirinya tidak segan-segan untuk mengambil pendapat orang lain yang lebih benar dan meninggallkan pendapat lain atau dari dirinya yang kurang tepat. Ia tidak merasa kecil diri, dan manakala pendapat dirinya yang tepat dan diikuti oleh orang lain, ia juga tidak akan merasa ujub atau takabur.

Sedangkan ke luar diri sendiri bisa dengan mau mendengarkan bahkan kalau perlu mengkaji pendapat yang berbeda untuk dipahami kemudian memunculkan sikap menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat sendiri tadi. Manakala orang tersebut juga bersikukuh dengan pendapatnya sendiri, maka tetap melahirkan sikap toleran terhadapnya. Wallahu a’lam bish shawwab. Almuwaffiq ila aqwami tahriq.

ASAL USUL DOA SHALAT DLUHA

MENELUSURI DOA SHALAT DHUHA

 

PENGANTAR

Salah satu shalat sunah/tathawwu’ yang masyhur dikalangan kaum muslimin adalah shalat sunnah dhuha. Shalat ini dikerjakan pada waktu dhuha yakni awal siang, rentang waktunya setelah matahari terbit sekira setinggi tombak hingga matahari meninggi sebelum tergelincir. Waktu paling afdhal untuk mengerjakan shalat dhuha adalah pada waktu matahari sudah meninggi dan panasnya sudah menyengat:

((خرَجَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ على أهلِ قُباءٍ، وهم يُصلُّونَ الضُّحى، فقال: صلاةُ الأوَّابِين إذا رَمِضَتِ الفصالُ من الضُّحَى)) مسلم

“Rasulullah saw keluar menuju perkampungan penduduk Quba, sedang mereka lagi mengerjakan shalat dhuha, kemudian Rasulullah mengatakan: shalat dhuha waktunya jika anak unta merasa kepanasan di waktu dhuha”.

Adapun shalat isyraq yakni setelah matahari terbit ada yang berpendapat bahwa shalat ini merupakan shalat dhuha di awal waktu, demikian pendapat At Thibi dalam Mirqatul mafatih Syarh Misykatul Mashabih, juga pendapat Ibnu hajar al Haitsami, Ar Ramly dalam Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj, juga oleh Bin Baz dan Ib Utsamin.

Adapun rakaat dhuha paling sedikit adalah dua rakaat, berdasar dalil:

ويُجزِئُ عن ذلك ركعتانِ يَركعُهما من الضُّحَى (مسلم)

“dan hal itu cukup dengan mengerjakan dua rakaat shalat dhuha”

Ada perbedaan pandangan para ulama mengenai jumlah rakaat terbanyaknya, ada yang berpendapat tidak terbatas ada yang membatasi dua belas rakaat,

كان رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يُصلِّي الضحى أربعًا، ويَزيد ما شاءَ الله (مسلم)

“adalah Rasulullah bila mengerjakan shalat dhuha sebanyak empat rakaat dan bisa bertambah apa yang menjadi kehendak Allah”

DOA SHALAT DHUHA.

Banyak beredar di tengah kita doa shalat dhuha seperti berikut ini:

اللَّهُمَّ إنَّ الضَّحَاءَ ضَحَاؤُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُك، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُك، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُك، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُك اللَّهُمَّ إنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضَحَائِك وَبِهَائِك وَجَمَالِك وَقُوَّتِك وَقُدْرَتِك آتِنِي مَا آتَيْت عِبَادَك الصَّالِحِينَ.

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi, maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh.”

Doa ini nampaknya tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits tetapi dapat dijumpai dalam beberapa kitab fiqih klasik. Kitab fiqih yang di tulis belakangan ini misalnya Fiqih Sunnah karya Sayid Sabiq tidak menyebutkan doa tersebut, tetapi menyebutkan fadhilah-fadhilah shalat dhuha saja.

Dalam kitab-kitab fiqih klasik juga tidak semuanya memuat doa ini, tetapi dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj Wa Hawasyi Asy Syarwani wa al ‘Ibadi karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Aly bin Hujr al Haitsami khususnya dalam Hawasyi Asy Syarwani memuat doa tersebut saat menguraikan shalat dhuha.

دُعَاءُ صَلَاةِ الضُّحَى اللَّهُمَّ إنَّ الضَّحَاءَ ضَحَاؤُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُك، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُك، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُك، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُك اللَّهُمَّ إنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضَحَائِك وَبِهَائِك وَجَمَالِك وَقُوَّتِك وَقُدْرَتِك آتِنِي مَا آتَيْت عِبَادَك الصَّالِحِينَ.

Hanya saja Ahmad bin Muhammad bin ‘Aly bin Hujr al Haitsami dalam kitab (hawasyi Asy Syrwani) tersebut langsung menyebutkan “doa shalat dhuha”, tanpa menyebutkan sandaran sanad hadits doa shalat dhuha ini yang sekira dapat menguatkannya.

Kemudian dalam kitab I’anatu tholibin ‘ala halli alfadz Fath Mu’in oleh Ad Dimyathi Asy Syafi’i, menjelaskan bahwa setelah selesai shalat dhuha hendaknya berdoa dengan do’a ini (seperti tersebut di atas), kemudian menambah dengan doa ini:

اللَّهُمَّ بِكَ أُحَاوِلُ، وَبِكَ أُصَاوِلُ، وَبِكَ أُقَاتِلُ.

“Ya Allah, kepada-Mu-lah kuserahkan segala daya dan upaya, dengan-Mu-lah kami menyerang, dan dengan (kekuatan-Mu-lah) kami berperang).

Kemudian mengucapkan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي ، وَتُبْ عَلَيَّ ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

” ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, dan terimalah taubatku sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang”. Sebanyak seratus (100) kali atau empat puluh (40) kali.

Bila ditelusur lebih lanjut, doa ” Allahumma bika uhawilu ..dst” terdapat dalam riwayat imam Ahmad, Ad darimi, ath Thabrani, doa ini diucapkan oleh Rasulullah ketika perang Hunain.

Adapun doa “allahumaghfirlii warhamni…dst”, diriwayatkan oleh Abu Dawud, An Nasa’i, Ibn Majah, bahwa Rasulullah dalam satu majlis duduk membaca doa tersebut sebanyak seratus (100) kali.

Selanjutnya untuk lebih jelasnya mengenai asal muasal doa tersebut, potongannya, dalam kitab Al Mujalasah wa Jawahirul ‘Ilm karya Abu Bakar Ahmad bin Marwan Ad Dainuri Al Maliki menyebutkan:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ يُونُسَ، نا الرِّيَاشِيُّ، عَنِ الأَصْمَعِيِّ؛ قَالَ: سَمِعْتُ أَعْرَابِيَّةً بِعَرَفَاتٍ وَهِيَ تَقُولُ: اللهُمَّ! إِنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ؛ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الأَرْضِ؛ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ نَائِيًا؛ فَقَرِّبْهُ، وَإِنْ كَانَ قَرِيبًا؛ فَيَسِّرْهُ.

Nukilan ini menyebutkan bahwa do’a,” allahumma in kana rizqi fis sama’ fa anzilhu….hingga…wa in kana qariban fa yassirhu”, bersumber dari al Ashma’i yang mendengar seorang perempuan (a’rabiyah) di Arafah berdoa dengan doa tersebut.

Mengingat doa shalat dhuha sebagaimana tersebut di atas, bukanlah bersumber dari hadits Rasulullah secara shahih, tentunya tidak boleh diyakini dan disandarkan kepada Rasulullah, karena memang tidak ada sandaran bahwa doa tersebut berasal dari Rasulullah, baik di dalam shalat dhuha atau di luar shalat dhuha. dengan demikian tidak dapat dijadikan landasan sebagai kemestian atau kelaziman bahwa ada doa khusus dalam shalat dhuha yang berbunyi sebagaimana tersebut di atas. Mengerjakan atau mengamalkan secara terus menerus sebagai sebuah kemestianpun juga tidak dapat dibenarkan.

Memang sebagian ulama menyukai bahkan menuliskan dalam kitab-kitab mereka mengenai doa ini untuk dibaca setelah selesai shalat dhuha, meskipun jelas mereka tidak menyebutkan sandaran haditsnya. Sehingga sebagaimana doa pada umumnya, doa tentang kebaikan atau meminta rezki kepada Allah, yang dapat dipanjatkan dalam shalat atau setelah shalat, maka doa shalat dhuha ini kedudukannnya bisa dipandang demikian, sepanjang bukan sebagai sebuah kemestian demikian adanya dari Rasulullah. Demikian wallahu a’lam bish shwwab.


 

HUKKUM SHALAT SUNNAH SECARA BERJAMA’AH

Shalat Sunnah Secara Berjama’ah

 

Hadits-Hadits Yang membolehkan berjama’ah dalam shalat Sunnah.

Ada beberapa hadits riwayat al Bukhari dan Muslim yang menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam shalat sunnah secara berjama’ah, misalnya hadits berikut ini:

عَنْ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ الْأَنْصارِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ : “فَغَدَا عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ مَا اشْتَدَّ النَّهَارُ فَاسْتَأْذَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذِنْتُ لَهُ فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى قَالَ أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مِنْ بَيْتِكَ فَأَشَرْتُ لَهُ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي أُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ فِيهِ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَبَّرَ وَصَفَفْنَا وَرَاءَهُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ وَسَلَّمْنَا. البخاري ومسلم

‘Itban bin Malik Al Anshariy radliallahu ‘anhu berkata: maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar berangkat ketempatku ketika siang hari lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta izin, maka aku izinkan. Beliau tidaklah duduk hingga Beliau berkata: “Mana tempat yang kau sukai untuk aku shalat di rumahmu?” Maka Beliau aku tunjukkan tempat yang aku sukai untuk aku shalat disana. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri lalu bertakbir. Dan kami pun berdiri membuat shaf di belakang Beliau, lalu Beliau shalat dua raka’at kemudian memberi salam dan kami pun memberi salam ketika Beliau memberi salam. AL Bukhari dan Muslim.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ) رواه البخاري

dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Pada suatu malam aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku berdiri di samping kirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memegang kepalaku dari arah belakangku, lalu menempatkan aku di sebelah kanannya. HR AL Bukhari.

Pendapat Ulama tentang Shalat Sunaah secara Berjama’ah.

Syaikhul Islam Ibn Tamiyah berkata: shalat sunah/tathawwu’ secara berjama’ah ada dua macam:

صَلَاةُ التَّطَوُّعِ فِي جَمَاعَةٍ نَوْعَانِ: أَحَدُهُمَا: مَا تُسَنُّ لَهُ الْجَمَاعَةُ الرَّاتِبَةُ كَالْكُسُوفِ وَالِاسْتِسْقَاءِ وَقِيَامِ رَمَضَانَ، فَهَذَا يُفْعَلُ فِي الْجَمَاعَةِ دَائِمًا كَمَا مَضَتْ بِهِ السُّنَّةُ.

الثَّانِي: مَا لَا تُسَنُّ لَهُ الْجَمَاعَةُ الرَّاتِبَةُ: كَقِيَامِ اللَّيْلِ، وَالسُّنَنِ الرَّوَاتِبِ، وَصَلَاةِ الضُّحَى، وَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ وَنَحْوِ ذَلِكَ. فَهَذَا إذَا فُعِلَ جَمَاعَةً أَحْيَانًا جَازَ. (الفتاوى الكبرى لابن تيميمة)

1. shalat sunnah yang disunnahkan dikerjakan secara rutin berjama’ah . seperti shalat gerhana bulan/matahari. Sholat istisqa/meminta hujan dan shalat tarawih/qiyamur Ramadhan.

2. shalat sunat yang tidak disunnahkan untuk dikerjakan secara rutin berjama’ah. Seperti qiyamul lail/shalat malam. Shalat sunnah rawatib. Shalat dhuha, shalat tahiyatul masjid dan yang semisal ini. Namun shalat ini bila dilakukan secara berjama’ah hukumnya boleh, (Al Fatawa Al Kubra, Ibn Taimiyah juz: 2 hal: 238)

قال النووي رحمه الله في “المجموع” (3/548) : ” قد سبق أن النوافل لا تشرع الجماعة فيها إلا في العيدين والكسوفين والاستسقاء , وكذا التراويح والوتر بعدها ….

وأما باقي النوافل كالسنن الراتبة مع الفرائض والضحى والنوافل المطلقة فلا تشرع فيها الجماعة , أي لا تستحب , لكن لو صلاها جماعة جاز

Imam An Nawawi dalam “Al Majmu” mengatakan : bahwa shalat sunnah/nafilah tidak disyariatkan dikerjakan secara berjama’ah, kecuali shalat dua shalat ‘idul adlha dan idul fitri, shalat gerhana bulan dan matahari, shalat istisqa dan shalat tarawih serta witir.

Adapun shalat-shalat sunnat lainnya seperti shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat fardlu, shalat dhuha, shalat sunnah mutlak, maka tidak disyari’atkan untuk dilakukan secara berjama’ah yalni tidak dianjurkan (dikerjakan secara berjama’ah) tetapi kalau ada yang mengerjakan dengan berjama’ah maka hukumnya boleh”. Al Majmu An Nawawi.

Kesimpulan:

Shalat Sunnah umumnya tidak dikerjakan secara berjama’ah kecuali beberapa jenis saja ( shalat gerhana bulan/matahari, sholat istisqa, shalat tarawih, Shalat ‘Idain). Shalat sunnah malam/shalat lail, shalat dhuha tidak dianjurkan untuk mengerjakannya secara rutin berjama’ah, tetapi kalau dikerjakan secara berjama’ah hukumnya boleh dilakukan.

TUNTUNAN SHALAT DLUHA

SHALAT DLUHA

 

A. Pengertian shalat dhuha

Shalat dluha adalah salah satu shalat sunnat ini dikerjakan pada waktu dluha, dinamakan shalat dluha berarti menamakan sesuatu dengan mengaitkan pada waktu. Waktu dluha yakni awal siang, rentang waktunya setelah matahari terbit sekira setinggi tombak hingga matahari meninggi sebelum tergelincir. Waktu paling afdhal untuk mengerjakan shalat dluha adalah pada waktu matahari sudah meninggi dan panasnya sudah menyengat:

((خرَجَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ على أهلِ قُباءٍ، وهم يُصلُّونَ الضُّحى، فقال: صلاةُ الأوَّابِين إذا رَمِضَتِ الفصالُ من الضُّحَى)) مسلم

Rasulullah saw keluar menuju perkampungan penduduk Quba, sedang mereka lagi mengerjakan shalat dhuha, kemudian Rasulullah mengatakan: shalat dluha waktunya jika anak unta merasa kepanasan di waktu dhuha”.

B. Hukum Shalat Dluha

Sholat dluha hukumnya sunnah/mustahab/dianjurkan. Berdasar hadits – hadist berikut ini.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى. رواه مسلم

Dari Abu Dzarr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “bahwa wajib dari setiap persendian dari kalian ada sedekahnya, maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” HR. Muslim

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ. رواه مسلم

Dari ‘Aisyah katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat dhuha sebanyak empat rakaat, dan terkadang beliau menambah sekehendak Allah.”. HR. Muslim.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : (أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ : صَوْمِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ) . رواه البخاري و مسلم ( وَفِي لَفْظٍ لِأَحْمَدَ وَمُسْلِمٍ: «وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى كُلَّ يَوْمٍ» )

dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata: “Kekasihku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal dunia, yaitu shaum tiga hari pada setiap bulan, shalat Dhuha dan tidur dalam keadaan sudah shalat witir”. HR. Bukhari Muslim. (dan dalam redaksi riwayat Ahmad dan Muslim berbunyi: dan dua rakaat dluha setiap hari).

C. Batasan Rakaat Shalat Dluha:

Shalat dluha paling sedikit dikerjakan dua (2) rakaat, berdasar hadits yang telah disebutkan di atas.

1. … وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى. رواه مسلم

2. … وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى كُلَّ يَوْمٍ. رواه أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ

Rakaat shalat dluha berdasarkan yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam paling banyak depalan (8) rakaat dan berdasar ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam paling banyak dua belas (12) rakaat.

غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا قَالَتْ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ فَلَمْ أَرَ صَلَاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ. البخاري ومسلم

Hanya saja Ummu Hani’ yang dia menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memasuki rumahnya pada saat penaklukan Makkah, kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mandi lalu shalat delapan raka’at” seraya menjelaskan: “Aku belum pernah sekalipun melihat Beliau melaksanakan shalat yang lebih ringan dari pada saat itu, namun Beliau tetap menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”. HR Bukhari Muslim).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا مِنْ ذَهَبٍ فِي الْجَنَّةِ. رواه التِّرْمِذِيِّ وَابْنِ مَاجَهْ.

Hadits Anas ini dinilai dla’if oleh imam Nawawi. tetapi Al Hafidz Ibn Hajar mengatakan: akan tetapi jika hadits Anas riwayat At Tirmidzi dan Ibn Majah digabung dengan hadits Abu Darda riwayat At Thabrani dan hadits Abu Dzar riwayat Al Bazzar bisa menjadi kuat dan dapat dipergunakan sebagai landasan hukum terlebih lagi dalam hadits Anas tersebut tidak ada sanadnya yang dinilai mutlak lemah.

قَالَ الْحَافِظُ: لَكِنْ إذَا ضُمَّ حَدِيثُ أَبِي ذَرٍّ وَأَبِي الدَّرْدَاءِ إلَى حَدِيثَ أَنَسٍ قَوِيَ وَصَلُحَ لِلِاحْتِجَاجِ، وَقَالَ أَيْضًا: إنَّ حَدِيثَ أَنَسٍ لَيْسَ فِي إسْنَادِهِ مَنْ أُطْلِقَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ (نيل الأوطار ج: 3 ص. 77 )

Jumlah Rakaat Shalat Dluha Tidak Terbatas.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ. رواه مسلم

Dari ‘Aisyah katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat dhuha sebanyak empat rakaat, dan terkadang beliau menambah sekehendak Allah.”. HR. Muslim.

Sebagian ulama mengatakan tidak ada batasan banyaknya rakaat dhuha, seperti dikatakan oleh Abu Jakfar At Thabari, dan juga dari beberapa ulama madzhab Syafi’iyah diantaranya Al Halimi dan Ar Ruyani, mereka mengatakan bahwa tidak ada batasan banyaknya rakaat shalat dluha.

وَقَدْ ذَهَبَ قَوْمٌ مِنْهُمْ أَبُو جَعْفَرٍ الطَّبَرِيُّ وَبِهِ جَزَمَ الْحَلِيمِيُّ وَالرُّويَانِيُّ مِنْ الشَّافِعِيَّةِ إلَى أَنَّهُ لَا حَدّ لِأَكْثَرِهَا (نيل الأوطار ج: 3 ص. 77 )

Al ‘Iraqi dalam Syarah At Tirmidzi mengatakan: aku tidak melihat salah seorangpun dari kalangan shahabat dan tabi’in yang membatasi jumlah rakaat shalat dluha menjadi 12 rakaat, demikian pula yang dikatakan oleh As Suyuthi.

قَالَ الْعِرَاقِيُّ فِي شَرْحِ التِّرْمِذِيِّ: لَمْ أَرَ عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ أَنَّهُ حَصَرَهَا فِي اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً، وَكَذَا قَالَ السُّيُوطِيّ. (نيل الأوطار ج: 3 ص. 77 )

D. Waktu :

1. Awal dan akhir waktu shalat

وصلاة الضحى يبتدئ وقتها -كما تقدم معنا- من ارتفاع الشمس قيد رمح إلى الضحى، والضحى يمتد إلى ما قبل الزوال (شرح زاد المستقنع: محمد بن محمد المختار الشنقيطي ج: 55 ص: 3)

Shalat dhuha dilakukan semenjak matahari terbit hingga beberapa saat sebelum matahari tergelincir ke arah barat yang menandakan telah masuk waktu dhuhur. (Syarh Zaadul Mustaqni’: Muhammad Ibn Muhammad Al Mukhtar Asy Syinqiti)

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَوْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Dari Abu Darda’ atau Abu Dzar dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Azza Wa Jalla, Dia berfirman: “Wahai anak Adam, ruku’lah kamu kepadaku dipermulaan siang sebanyak empat raka’at, niscaya Aku akan mencukupkan kebutuhanmu hingga akhir siang.” Abu Isa berkata, ini adalah hadits hasan gharib.

وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِي وَقْتِ دُخُولِ الضُّحَى، فَرَوَى النَّوَوِيُّ فِي الرَّوْضَةِ، عَنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ وَقْتَ الضُّحَى يَدْخُلُ بِطُلُوعِ الشَّمْسِ وَلَكِنْ تُسْتَحَبُّ تَأْخِيرُهَا إلَى ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ. وَذَهَبَ الْبَعْضُ مِنْهُمْ إلَى أَنَّ وَقْتَهَا يَدْخُلُ مِنْ الِارْتِفَاعِ، وَبِهِ جَزَمَ الرَّافِعِيُّ وَابْنُ الرِّفْعَةِ

Imam Nawawi dalam “Ar Rawdlah” mengatakan beberapa ulama dari shahabat – shahabat imam Syafi’i bahwa mulai masuk waktu shalat dluha dengan terbitnya matahari, tetapi dianjurkan mengakhirkan mengerjakan shalat dlhuha hingga matahari meninggi .

2. Waktu afdhal:

Waktu yang dianjurkan untuk mengerjakan shalat dluha adalah ketika matahari sudah meninggi yang ditandai dengan keadaan saat anak unta merasakan panas sinar matahari, sebagaimana hadits berikut ini:

(وَعَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ: «خَرَجَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى أَهْلِ قُبَاءَ وَهُمْ يُصَلُّونَ الضُّحَى، فَقَالَ: صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ إذَا رَمِضَتْ الْفِصَالُ مِنْ الضُّحَى» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ)

E. Tata caranya:

Apabila shalat dluha dikerjakan lebih dari dua rakaat, maka dikerjakan dua rakaat, dua rakaat dan seterusnya dengan memisahkan setiap dua rakaat dengan salam.

يَفْصِلُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَالنَّبِيِّينَ وَمَنْ يَتْبَعُهُمْ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُؤْمِنِينَ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا أَبَا دَاوُد) . الْحَدِيثُ حَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ وَأَسَانِيدُهُ ثِقَاتٌ

” beliau memisah di antara dua rakaat dengan salam terhadap para malaikat yang mereka itu begitu dekat dengan Allah, dan terhadap para nabi serta orang-orang yang mengikuti mereka dari kaum muslimin dan mukminin” HR. Lima ahli hadits kecuali Abu Dawud. Hadits ini dinilai hasan oleh At Tirmidzi dan sanadnya tisqat/terpercaya.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى. رواه أحمد وأصحاب السنن.

dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Shalat di malam dan siang hari itu dikerjakan dua-dua (raka’at).” HR. Ahmad dan Ashhabus sunan.

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى يَوْمَ الْفَتْحِ سُبْحَةَ الضُّحَى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ» رَواهُ أَبِو دَاوُد

Dari Umi Hani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam pada waktu fathu Makkah shalat dluha delapan rakaat dengan bersalam antara tiap dua rakaat. HR Abu Dawud.

F. Berjama’ah Dalam Shalat Dhuha:

Syaikhul Islam Ibn Tamiyah berkata: shalat sunah/tathawwu’ secara berjama’ah ada dua macam:

صَلَاةُ التَّطَوُّعِ فِي جَمَاعَةٍ نَوْعَانِ: أَحَدُهُمَا: مَا تُسَنُّ لَهُ الْجَمَاعَةُ الرَّاتِبَةُ كَالْكُسُوفِ وَالِاسْتِسْقَاءِ وَقِيَامِ رَمَضَانَ، فَهَذَا يُفْعَلُ فِي الْجَمَاعَةِ دَائِمًا كَمَا مَضَتْ بِهِ السُّنَّةُ.

الثَّانِي: مَا لَا تُسَنُّ لَهُ الْجَمَاعَةُ الرَّاتِبَةُ: كَقِيَامِ اللَّيْلِ، وَالسُّنَنِ الرَّوَاتِبِ، وَصَلَاةِ الضُّحَى، وَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ وَنَحْوِ ذَلِكَ. فَهَذَا إذَا فُعِلَ جَمَاعَةً أَحْيَانًا جَازَ. (الفتاوى الكبرى لابن تيميمة)

1. shalat sunnah yang disunnahkan dikerjakan secara rutin berjama’ah . seperti shalat gerhana bulan/matahari. Sholat istisqa/meminta hujan dan shalat tarawih/qiyamur Ramadhan.

2. shalat sunat yang tidak disunnahkan untuk dikerjakan secara rutin berjama’ah. Seperti qiyamul lail/shalat malam. Shalat sunnah rawatib. Shalat dhuha, shalat tahiyatul masjid dan yang semisal ini. Namun shalat ini bila dilakukan secara berjama’ah hukumnya boleh, (Al Fatawa Al Kubra, Ibn Taimiyah juz: 2 hal: 238)

قال النووي رحمه الله في “المجموع” (3/548) : ” قد سبق أن النوافل لا تشرع الجماعة فيها إلا في العيدين والكسوفين والاستسقاء , وكذا التراويح والوتر بعدها ….

وأما باقي النوافل كالسنن الراتبة مع الفرائض والضحى والنوافل المطلقة فلا تشرع فيها الجماعة , أي لا تستحب , لكن لو صلاها جماعة جاز

 

Imam An Nawawi dalam “Al Majmu” mengatakan : bahwa shalat sunnah/nafilah tidak disyariatkan dikerjakan secara berjama’ah, kecuali shalat dua shalat ‘idul adlha dan idul fitri, shalat gerhana bulan dan matahari, shalat istisqa dan shalat tarawih serta witir.

Adapun shalat-shalat sunnat lainnya seperti shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat fardlu, shalat dhuha, shalat sunnah mutlak, maka tidak disyari’atkan untuk dilakukan secara berjama’ah yalni tidak dianjurkan (dikerjakan secara berjama’ah) tetapi kalau ada yang mengerjakan dengan berjama’ah maka hukumnya boleh.

Ada beberapa hadits riwayat al Bukhari dan Muslim yang menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam shalat sunnah secara berjama’ah, misalnya hadits berikut ini:

عَنْ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ الْأَنْصارِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ : “فَغَدَا عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ مَا اشْتَدَّ النَّهَارُ فَاسْتَأْذَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذِنْتُ لَهُ فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى قَالَ أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مِنْ بَيْتِكَ فَأَشَرْتُ لَهُ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي أُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ فِيهِ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَبَّرَ وَصَفَفْنَا وَرَاءَهُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ وَسَلَّمْنَا. البخاري ومسلم

‘Itban bin Malik Al Anshariy radliallahu ‘anhu berkata: maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar berangkat ketempatku ketika siang hari lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta izin, maka aku izinkan. Beliau tidaklah duduk hingga Beliau berkata: “Mana tempat yang kau sukai untuk aku shalat di rumahmu?” Maka Beliau aku tunjukkan tempat yang aku sukai untuk aku shalat disana. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri lalu bertakbir. Dan kami pun berdiri membuat shaf di belakang Beliau, lalu Beliau shalat dua raka’at kemudian memberi salam dan kami pun memberi salam ketika Beliau memberi salam. AL Bukhari dan Muslim.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ) رواه البخاري

dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Pada suatu malam aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku berdiri di samping kirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memegang kepalaku dari arah belakangku, lalu menempatkan aku di sebelah kanannya. HR AL Bukhari.

Shalat sunnah dhuha tidak dianjurkan untuk mengerjakannya secara berjama’ah, tetapi kalau dikerjakan secara berjama’ah hukumnya boleh dilakukan.

G. Shalat Dhuha Dan Shalat Isyraq:

Shalat isyraq/shslat sunnah saat matahari telah terbit adalah merupakan shalat dhuha yang dikerjakan di awal waktu. Karena dalam definisi para ulama di atas, waktu dluha adalah sejak setelah terbit matahri hingga menjelang matahari tergelincir ke arah barat.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ رواه الترمذي

dari Anas bin Malik dia berkata, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang shalat subuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir sampai matahari terbit yang dilanjutkan dengan shalat dua raka’at, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah.” dia (Anas radliallahu ‘anhu) berkata, Rasulullah bersabda: “Sempurna, sempurna, sempurna.” dia (Abu ‘Isa) berkata, ini adalah hadits hasan gharib,

وروى الطَّبَرَانِيّ من حَدِيث زيد بن أَرقم أَنه – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مر بِأَهْل قبَاء وهم يصلونَ الضُّحَى حِين أشرقت الشَّمْس فَقَالَ صَلَاة الْأَوَّابِينَ إِذا رمضت الفصال وَهَذَا يدل على جَوَاز صَلَاة الضُّحَى عِنْد الْإِشْرَاق لِأَنَّهُ لم ينههم عَن ذَلِك. ( عمدة القاري شرح صحيح البخاري )

At Thabrani meriwaytakan dari hadits Zaid ibn Arqam bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam melewati penduduk Quba’ mereka sedang melakukan shalat dluha ketika matahari telah terbit. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam mengatakan, shalat orang yang bertaubat (awabin) jika anak unta sudah merasakan panasnya sinar matahari. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam ini menunjukkkan kebolehan shalat dluha ketika isyraq/terbit matahari karena Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam tidak melarang mereka melakukannya. (‘Umdatul Qari syarh Shahih al Bukhari.

H. Keutamaannya:

1. Sebagai pengganti sedekah

1. عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : ( يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى ) رواه مسلم

Dari Abu Dzarr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “bahwa wajib dari setiap persendian dari kalian ada sedekahnya, maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” HR. Muslim.

 

2. Amalan yang menjadi wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam kepada beberapa shahabatnya.

2. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : ( أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ : صَوْمِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ) .رواه البخاري ومسلم)

dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata: “Kekasihku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal dunia, yaitu shaum tiga hari pada setiap bulan, shalat Dhuha dan tidur dengan shalat witir terlebih dahulu”.

3. Shalat dluha sebagai sebagai pelancar berkegiatan dan beramal hingga akhir siang.

3.
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَوْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Dari Abu Darda’ atau Abu Dzar dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Azza Wa Jalla, Dia berfirman: “Wahai anak Adam, ruku’lah kamu kepadaku dipermulaan siang sebanyak empat raka’at, niscaya Aku akan mencukupkan kebutuhanmu hingga akhir siang.” Abu Isa berkata, ini adalah hadits hasan gharib.

4. Shalat dluha merupakan salah satu amalan yang senantiasa dikerjakan oleh orang-orang yang bertaubat

4 . وعن أبي هريرة رضي الله عنهـ قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب قال وهي صلاة الأوابين. رواه الطبراني وابن خزيمة في صحيحه ، وحسنه الألباني في “صحيح الترغيب والترهيب” (1/164) .

Dari Abu Hurairah RA, berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam bersabda:” tidaklah menjaga shalat dluha kecuali awwabin (orang-orang yang bertaubat) dia berkata: dan hal itu adalah shalat orang-orang yang bertaubat (awwabin). Hadits riwayat Ath Thabrani dan Ibn Khuzaimah dalam shahihnya. Dan dinilai hasan oleh al Albani dalam Shahih at Targhib wat Tarhib.

5. Shalat dluha setara haji dan umrah bila dilakukan dengan didahului shalat subuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir hingga terbit matahari.

5) عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : ( مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ ، وَعُمْرَةٍ ، تَامَّةٍ ، تَامَّةٍ ، تَامَّةٍ) رواه الترمذي برقم (586) ، وحسنه الشيخ الألباني رحمه الله في “صحيح سنن الترمذي” .

dari Anas bin Malik dia berkata, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang shalat subuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir sampai matahari terbit yang dilanjutkan dengan shalat dua raka’at, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah.” dia (Anas radliallahu ‘anhu) berkata, Rasulullah bersabda: “Sempurna, sempurna, sempurna.”.

I. Tentang Doa shalat dhuha

Tidak ada doa khusus dalam shalat dluha yang bersumber dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam.

Doa yang beredar di masyarakat bersumber dari dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj Wa Hawasyi Asy Syarwani wa al ‘Ibadi karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Aly bin Hujr al Haitsami khususnya dalam Hasyiyah Syarwani oleh Al Imam Abdul Hamid Asy Syarwani, setelah shalat dluha berdoa dengan doa ini:

اللَّهُمَّ إنَّ الضَّحَاءَ ضَحَاؤُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُك، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُك، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُك، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُك اللَّهُمَّ إنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضَحَائِك وَبِهَائِك وَجَمَالِك وَقُوَّتِك وَقُدْرَتِك آتِنِي مَا آتَيْت عِبَادَك الصَّالِحِينَ. (تحفة المحتاج في شرح المنهاج: أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي حاشية الإمام عبد الحميد الشرواني)

Dalam kitab Al Mujalasah wa Jawahirul ‘Ilm karya Abu Bakar Ahmad bin Marwan Ad Dainuri Al Maliki menyebutkan, seorang wanita badui Arab mengucapkan :

عَنِ الأَصْمَعِيِّ؛ قَالَ: سَمِعْتُ أَعْرَابِيَّةً بِعَرَفَاتٍ وَهِيَ تَقُولُ: اللهُمَّ! إِنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ؛ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الأَرْضِ؛ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ نَائِيًا؛ فَقَرِّبْهُ، وَإِنْ كَانَ قَرِيبًا؛ فَيَسِّرْهُ.

Dari Al Ashma’i berkata: aku mendengar seorang wanita badui arab di Arafah yang mengucapkan,” ya Allah jika rizkiku di langit maka turunkahlah, dan jika di bumi maka keluarkanlah, dan jika jauh maka dekatkanlah. Dan jika dekat maka mudahkan.

Doa ini karena bukan berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam maka tidak boleh dipahami sebagai sabda beliau, dan tidak boleh dinisbatkan kepada beliau serta tidak bisa dijadikan hujjah bahwa setelah seseorang selesai mengerjakan shalat dluha dilanjutkan berdoa dengan doa tersebut.

Demikian, والله المستعان

BERDOA DI SEPUTAR WAKTU SHALAT

WAKTU BERDOA SEPUTAR SHALAT.

 

Kekeliruan umum berdoa kaitannya dengan shalat: pemahaman bahwa anjuran berdoa itu setelah shalat saja, sementara kalau melihat hadits-hadits yang ada, berdoa seputar shalat ini dapat dilakukan sebelum, saat dan sesudah shalat, justru berdoa setelah shalat paling tidak, terjadi perbedaan pendapat ulama. Berikut penjelasannya:

1. Berdoa Sebelum Shalat Adalah Saat Setelah Adzan Hingga Iqamah


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ. رواه الترمذي وصححه، وأبو داود، وصححه الألباني في صحيح أبي داود،

Dari anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam bersabda,” doa itu tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah“. HR At Tirmidzi dan ia menshahihkannya. Juga diriwayatkan Abu Dawud yang dishahihkan oleh Al Albani dalam kitab Shahih Abu Dawud.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ فَادْعُوا. رواه أحمد قال الشيخ شعيب الأرنوؤط: إسناده صحيح.

Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam bersabda: sungguh doa itu tidak ditolak antara adzan dan iqamah, maka hendaklah kalian berdoa“. HR Ahmad, Syeikh Syu’aib al Arnauth berkata: sanadnya shahih.

عن أبي أمامة أن رسول الله قال: إذا نَادى المُنَادِي فُتِحَتْ أبْوابُ السماءِ واستُجِيب الدعاءُ. رواه أبوعوانة في مسنده، والحاكم في المستدرك، وصححه الألباني.

Dari Abu Umamah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam bersabda:” jika pengumandang adzan telah mengumandangkan adzan maka dibuka pintu-pintu langit dan dikabulkan doa-doa“. HR Abu ‘Uwanah dalam musnadnya. Dan Al Hakim dalam Mustadraknya, dan dishahihkan oleh Al Albani.

2. Berdoa Saat Shalat Dilakukan Ketika Saat Sujud

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَشَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السِّتَارَةَ وَالنَّاسُ صُفُوفٌ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ فَقَالَ … أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

Dari Ibn Abbas berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam menyingkat tabir sedangkan orang-orang berbaris di belakang Abu Bakar lalu beliau bersabda:…ketahuilah sunggh aku dilarang membaca AL Qur’an dalam keadaan ruku atau sujud. Adapun saat rukuk hendaklah kalian agungkan Tuhan yang maha mulia dan maha agung dalam rukuk itu, dan adapun saat sujud maka bersungguhlah dalam berdoa, maka itu lebih layak dan lebih terwujud agar dikabulkan untukmu doa itu. HR Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: keadaan paling dekat yang terjadi antara seorang hamba dari Tuhannya adalah dia sujud maka kalian perbanyak doa“. HR Muslim.

3. Berdoa Saat Shalat Dilakukan Ketika Antara Setelah Tahiyat Dan Sebelum Salam

عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا نَقُولُ فِي الصَّلَاةِ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ السَّلَامُ عَلَى فُلَانٍ فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ فَإِذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَقُلْ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ فَإِذَا قَالَهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ
. رواه مسلم

Dari Abu Wail dari Abdullah berkata, dulu kami mengucapkan dalam shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam, keselamatan atas Allah, keselamatan atas si fulan, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam berkata kepada kami suatu hari, : “sesungguhnya Allah adalah as salam (Maha Selamat) maka jika seorang dari kalian duduk dalam shalat maka ucapkanlah: (Segala penghormatan bagi Allah, shalawat dan juga kebaikan. Semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu wahai Nabi dan juga rahmat dan berkahnya. Semoga keselamatan terlimpahkan atas kami dan hamba Allah yang shalih) ‘. -Apabila dia mengucapkannya maka doa itu akan mengenai setiap hamba shalih di langit dan bumi Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, kemudian ia memilih permintaan apa saja yang ia kehendaki. HR Muslim

حَدَّثَنِي شَقِيقٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا إِذَا كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّلَاةِ قُلْنَا السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ مِنْ عِبَادِهِ السَّلَامُ عَلَى فُلَانٍ وَفُلَانٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُولُوا السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ وَلَكِنْ قُولُوا التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمْ أَصَابَ كُلَّ عَبْدٍ فِي السَّمَاءِ أَوْ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو. رواه البخاري

… kemudian ia memilih doa yang paling menakjubkan kepada dirinya lalu berdoalah. HR Al Bukhari.

Contoh doa:

1. عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …..يَكُونُ مِنْ آخِرِ مَا يَقُولُ بَيْنَ التَّشَهُّدِ وَالتَّسْلِيمِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ . مسلم

2. عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، أَنَّ رَسُولَ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ، وَقَالَ: «يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ»، فَقَالَ: ” أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “. رواه أبو داود, وغيره, وصححه الشيخ الألباني.

قال الصنعاني في سبل السلام، تعليقا على حديث: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يتعوذ بهن دبر كل صلاة: اللهم إني أعوذ بك من البخل… إلخ . .

قوله: دبر الصلاة هنا، (1) وفي الأول، يحتمل أنه قبل الخروج، لأن دبر الحيوان منه، وعليه بعض أئمة الحديث، (2) ويحتمل أنه بعدها وهو أقرب؛ والمراد بالصلاة عند الإطلاق المفروضة. انتهى.

Ash Shan’ani dalam kitab Subulus Salam menjelaskan hadits di atas: bahwa arti “duburi kulli shalah” – belakang setiap shalat- adu dua pengertian: 1) dipahami sebagai akhir sebelum selesai salam/shalat, karena kalau dikatakan “duburul hayawan ” maka bagian belakang hewan termasuk bagian darinya. Demikian pendapat sebagain ahli hadits. 2) dipahami sebagai setelah selesai shalat, ini sebagai pendapat yang lebih mendekati kebenaran. Lebih lanjut dibahas dalam masalah berdoa setelah selesai shalat.

Adapun makna “setiap selesai shalat” adalah shalat fardlu saja, jadi selesai shalat sunnah tidak ada anjuran berdoa.

3. كَانَ سَعْدٌ يُعَلِّمُ بَنِيهِ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ كَمَا يُعَلِّمُ الْمُعَلِّمُ الْغِلْمَانَ الْكِتَابَةَ وَيَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْهُنَّ دُبُرَ الصَّلَاةِ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ. البخاري

4. عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. البخاري

5. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ
فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ. مسلم

4. Berdoa setelah selesai shalat

a. Disyari’atkan berdoa setelah shalat

dalam shahih Bukhari kitab ad da’awat ada bab ad du’a ba’da shalat” – berdoa setelah selesai shalat. Yang dimaksud adalah setelah selesai shalat fardlu. Penjelasan Bukhari ini sebagai bantahan bagi pendapat yang mengatakan bahwa setelah selesai shalat tidak disyari’atkan berdoa.

Ibn Hajar mengatakan bahwa berdoa selepas shalat berdasar beberapa hadits misalnya:

1. Hadits dari Mu’adz.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا مُعَاذُ إِنِّي وَاللَّهِ لَأُحِبُّكَ فَلَا تَدَعْ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيّ وَصَححهُ بن حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

2. Hadits dari Abu Bakrah

وَحَدِيثُ أَبِي بَكْرَةَ فِي قَوْلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

Hadits ini dan beberapa hadits lainnya menganjurkan berdoa di akhir shalat (duburus shalat). Akhir di sini dipahami sebagai “setelah” shalat bukan mendekati akhir shalat yakni ketika selesai membaca tasyahud. karena ada hadits yang menganjurkan berdzikir di akhir shalat (duburah shalah) maksudnya setelah mengucapkan salam dalam shalat.

(Fathul bari: Ahmad Ibn Ali Ibn Hajar Al Asqalani al maktabah assalafiyah juz 11 hal: 133)

Hadits dari Ka’ab ini juga menjelaskan adanya doa setelah selesai shalat:

أَنَّ كَعْبًا حَلَفَ لَهُ بِاللَّهِ الَّذِي فَلَقَ الْبَحْرَ لِمُوسَى إِنَّا لَنَجِدُ فِي التَّوْرَاةِ أَنَّ دَاوُدَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي جَعَلْتَهُ لِي عِصْمَةً وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي جَعَلْتَ فِيهَا مَعَاشِي اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوذُ بِعَفْوِكَ مِنْ نِقْمَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ قَالَ وَحَدَّثَنِي كَعْبٌ أَنَّ صُهَيْبًا حَدَّثَهُ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُهُنَّ عِنْدَ انْصِرَافِهِ مِنْ صَلَاتِهِالحديث أخرجه النسائي وصححه ابن حبان

“….bahwa beliau mengucapkan doa tersebut ketika selesai dari shalatnya” HR An Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibn Hibban.

Hadits riwayat Muslim ini merupakan kelanjutan dari hadits yang sudah disebutkan di atas dalam contoh doa antara sesudah tahiyat dan sebelum salam. Jadi doa dalam hadits ini masih menurut hadits riwayat Muslim ini bisa diucapkan sebelum atau sesudah salam dalam shalat.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ….وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ وَلَمْ يَقُلْ بَيْنَ التَّشَهُّدِ وَالتَّسْلِيمِ. رواه مسلم

“apabila telah selesai mengucap salam dalam shalat beliau mengucapkan “ya Allah ampunilah aku apa yang telah lalu..” hingga akhir hadits. dan beliau tidak mengatakan antara tasyahud dan salam. HR Muslim.

Syeikh bin Baz dalam Fatawa Nurun ‘ala Darbi menyatakan:

الدعاء بعد الصلاة لا يكره بل مستحب، كونه يدعو بينه وبين ربه، في آخر الصلاة وبعد الصلاة بعد الذكر كل هذا جاء في الأحاديث عن النبي عليه الصلاة والسلام، فإذا دعا في آخر الصلاة قبل أن يسلم هذا أفضل، وإن دعا بعد السلام وبعد الذكر فلا بأس بينه وبين ربه ( الكتاب: فتاوى نور على الدرب، المؤلف: عبد العزيز بن عبد الله بن باز (المتوفى: 1420هـ)، جمعها: الدكتور محمد بن سعد الشويعر.

bahwa berdoa setelah shalat tidak tidak makruh tetapi dianjurkan, berdoa antara dirinya denngan Tuhannya, di akhir shalat setelah selesai membaca shalwat dan dzikir, demikian ini ada dasarnya dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam . Tetapi berdoa di akhir shalat sebelum membaca salam adalah lebih afdhal. Jika membaca doanya setalah salam dan sesudah dzikir maka boleh, berdoa antara dirinya dengan Tuhannya. (Maktabah Syamilah, Fatawa Nurun ‘Ala Darbi, Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Baz, disusun oleh Muhammad ibn Saad Asy Syuwai’ir)

b. Tidak disyari’atkan doa setelah shalat

Ibn Hajar Al Asqalani dalam fathul Bari mengatakan:

أَنَّ الدُّعَاءَ بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا يُشْرَعُ مُتَمَسِّكًا بِالْحَدِيثِ الَّذِي أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مِنْ رِوَايَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عَائِشَةَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ لَا يَثْبُتُ إِلَّا قَدْرَ مَا يَقُولُ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكت يَاذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Bahwa ulama yang berpendapat tidak adanya syari’at doa setelah shalat berdasar pada pemahaman hadits riwayat Abdullah bin al Harits dari Aisyah bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila setelah selesai salam dalam shalat, tidak duduk menetap setelah selesai shalat kecuali skedar selama membaca: Allahumma antas salam wa minka salam, tabarakta ya dzal jalali wal ikram.

قَالَ بن الْقَيِّمِ فِي الْهَدْيِ النَّبَوِيِّ وَأَمَّا الدُّعَاءُ بَعْدَ السَّلَامِ مِنَ الصَّلَاةِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ سَوَاءٌ الْإِمَامُ وَالْمُنْفَرِدُ وَالْمَأْمُومُ فَلَمْ يَكُنْ ذَلِكَ مِنْ هَدْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْلًا وَلَا رُوِيَ عَنْهُ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ وَلَا حَسَنٍ وَخَصَّ بَعْضَهُمْ ذَلِكَ بِصَلَاتَيِ الْفَجْرِ وَالْعَصْرِ وَلَمْ يَفْعَلْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا الْخُلَفَاءُ بَعْدَهُ وَلَا أَرْشَدَ إِلَيْهِ أُمَّتَهُ وَإِنَّمَا هُوَ اسْتِحْسَانٌ رَآهُ مَنْ رَآهُ عِوَضًا مِنَ السُّنَّةِ بَعْدَهُمَا

Dalam Fathul Bari, Ibn Hajar Al Asqalani menjelaskan pendapat Ibnul Qayyim yang mengatakan bahwa berdoa setelah salam dalam shalat menghadap kiblat baik oleh imam, sendirian atau makmum hal ini bukan merupakan tuntunan nabi sama sekali tidak pula ada riwayat dengan sanad shahih tidak pula sanad hasan, terkhusus untuk shalat asar dan subuh. tidak pernah dikerjakan rasulullah ataupun para khalifah sesudahnya, tidak pula menunjukkan umatnya agar melakasanakannya, tetapi pelaksanaan doa ini berdasar istihsan saja oleh orang-orang yang berpendapat demikian sebagai ganti dari sunnah.

وَعَامَّةُ الْأَدْعِيَةِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالصَّلَاةِ إِنَّمَا فَعَلَهَا فِيهَا وَأَمَرَ بِهَا فِيهَا قَالَ وَهَذَا اللَّائِقُ بِحَالِ الْمُصَلِّي فَإِنَّهُ مُقْبِلٌ عَلَى رَبِّهِ مُنَاجِيهِ

Lebih lanjut Ibnul Qayyim menyatakan bahwa umumnya doa yang berhubungan dengan shalat Rasulullah mengerjakannya dan memerintahkannya di dalam shalat, dan hal ini yang tepat bagi orang yang shalat karena sedang menghadap dan bermunajat dengan Tuhannya.

لَكِنَّ الْأَذْكَارَ الْوَارِدَةَ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ يُسْتَحَبُّ لِمَنْ أَتَى بِهَا أَنْ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْهَا وَيَدْعُوَ بِمَا شَاءَ وَيَكُونُ دُعَاؤُهُ عَقِبَ هَذِهِ الْعِبَادَةِ الثَّانِيَةِ وَهِيَ الذِّكْرُ لَا لِكَوْنِهِ دُبُرَ الْمَكْتُوبَةِ

Miskipun demikian Ibnul Qayyim juga mengatakan dzikir sesuai tuntunan Rasulullah setelah selesai shalat adalah dianjurkan bagi orang yang melaksanakannya, hendaknya memulai dengan shalawat setelah selesai dzikir kemudian berdoa sesuai apa yang diinginkannya, sehingga doa ini setelah ibadah yang kedua yakni dzikir bukan lagi setelah selesai ibadah shalat.

(Fathul bari: Ahmad Ibn Ali Ibn Hajar Al Asqalani al maktabah assalafiyah juz 11 hal: 133)

Syeikh Utsaimin berpendapat berdoa sesudah shalat apakah disyari’atkan ataukah tidak? Maka kami jawab: bahwa hal itu tidak disyari’atkan karena Allah berfirman: ” maka jika kalian telah menyelesaikan shalat maka kalian sebutlah Allah”. An Nisa: 103. Di ayat ini tidak dikatakan :” maka kalian berdoalah” . Karenanya bukan tempatnya berdoa setelah shalat, tempat berdoa adalah sebelum mengucap salam dalam shalat, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan shahabatnya bertasyahud kemudian mengatakan: kemudian berdoa dengan apa saja yang dia kehendaki. Maka doa adalah sebelum salam. (Maktabah Syamilah, Muhammad Ibn Shalih Ibn Muhammad Al ‘Utsaimin, Liqa’ al Bab al Maftuh)

بارك الله فيك، أصلاً لا تسأل عن رفع اليدين بعد الصلاة، اسأل عن الدعاء بعد الصلاة هل هو مشروع أم لا؟ نقول: هو غير مشروع؛ لأن الله قال: فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ [النساء:103] ما قال: فادعوا، فلا محل للدعاء بعد الصلاة، محل الدعاء قبل السلام؛ لأن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم كان يعلم أصحابه التشهد ويقول: ثم يدعو بما يشاء، فجعل الدعاء قبل السلام، ( محمد بن صالح بن محمد العثيمين ، لقاء الباب المفتوح ، حكم الدعاء بعد الصلاة)

 

c. Kesimpulan:

berdoa setelah shalat dianjurkan dengan didahului dengan dzikir terlebih dahulu, tidak langsung setelah salam kemudian berdoa.

EDITING VIDEO UNTUK DISIMPAN DI USB SEHINGGA BISA DIPUTAR DI HEAD UNIT MOBIL ATAU VCD/DVD PLAYER

Ini sekedar tips parameter encoding video sehingga bisa disimpan di flash disk dan diputar di head unit mobil atau VCD/DVD player.

A. Membuat video untuk bisa diputar disimpan di flash disk yang bisa diputar atau dimainkan di VCD/DVD player atau Head Unit Player di mobil

B. Video bisa hasil editing rekaman sendiri atau download dari Youtube banyak video digabungkan menjadi satu, atau kreasi lalinnya.
C. Bisa diedit di software “VideoPad”
D. untuk bisa disimpan di USB flashdisk sehingga diputar di VCD/DVD Player atau head unit mobil.

1. setelah selesai editing
2. Export Portable Video, pilih Portable Video, isi:

Preset :Custom
File Format : .mpg
Resolution :320 x 240 / 480 x 272 / 640 x 480 (sudah test yang 480 x 272)
Maximum Frame Rate:Custom (25.000)

Video
Encoder Options..
Compression : MPEG1 (VCD standar low bote rate.)
Average bitrate :1150
Maximum bitrate :1150

Audio
sample rate : 4410
Bitrate : 224 atau lebih

Menghilangkan notifikasi registrasi kartu sim

Kematin beli kartu sim baru, maunya unt paket internet saja. Dari produk si “kuning merah” itu, biasane langsung pasang lancar jaya.

Entah kemarin karena salah beli kartu, yg mestinya unt nomer saja, ato yg unt paket internet. Tp apapun, yg bikin sebel muncul notifikasi unt mendaftar, registrasi nomer perdana. Berulang kali muncul, silahkan registrasi kartu sim..

Walah marai sebel, langsung nyari aplikasi untuk memghapus aplikasi sistem “simcard tool”, pake aplikasi System App Remover dari jumobile

Download di sini: https://www.apkmirror.com/apk/jumobile/system-app-remover-root/system-app-remover-root-3-6-2019-release/system-app-remover-root-3-6-2019-android-apk-download/download/

Instalkan, jalankan aplikasi, (kl perlu backup dulu aplikasinya pake ES explorer,misalnya ) cari aplikasi simcard tool, centang,trus uninstall

Dah gitu sja,notifikasi popup tidak akan muncul lagi unt registrasi kartu sim nya.

Syarat gadget harus sdh di root.

Menghilangkan notifikasi registrasi kartu sim

Kematin beli kartu sim baru, maunya unt paket internet saja. Dari produk si “kuning merah” itu, biasane langsung pasang lancar jaya.

Entah kemarin karena salah beli kartu, yg mestinya unt nomer saja, ato yg unt paket internet. Tp apapun, yg bikin sebel muncul notifikasi unt mendaftar, registrasi nomer perdana. Berulang kali muncul, silahkan registrasi kartu sim..

Walah marai sebel, langsung nyari aplikasi untuk memghapus aplikasi sistem “simcard tool”, pake aplikasi System App Remover dari jumobile

Download di sini: https://www.apkmirror.com/apk/jumobile/system-app-remover-root/system-app-remover-root-3-6-2019-release/system-app-remover-root-3-6-2019-android-apk-download/download/

Instalkan, jalankan aplikasi, (kl perlu backup dulu aplikasinya pake ES explorer,misalnya ) cari aplikasi simcard tool, centang,trus uninstall

Dah gitu sja,notifikasi popup tidak akan muncul lagi unt registrasi kartu sim nya.

Syarat gadget harus sdh di root.

PERPUSTAKAAN ONLINE KHAZANAH KEILMUAN ISLAM

Perpustakaan Islam Online:

1. perpustakaan Waqfeya berisi kitab-kitab Bahasa Arab dalam bentuk PDF, enak dibaca atao dicetak. Lihat > http://www.waqfeya.com

2. perpustakaan al Meshkat, dalam bentuk MS Word, kelebihannya untuk searching/ mencari kata-kata kunci, tetapi kurang fleksibel untuk dibaca. Lihat > http://www.almeshkat.net/books/index.php

3. buku-buku karya sarjana barat (arab+inggris) tentang Islam. Lihat > http://www.archive.org/details/texts

4. perpustakaan Said al fawaid menyediakan berbagai sumber. Lihat > http://saaid.net/book/index.php

5. Perpustakaan Syamilah yang sudah terkenal. Di websitenya bisa di download dalam bentuk PDF, EPUb, juga dalam bentuk online, cocok untuk tablet dan HP yang memiliki koneksi internet, maupun software untuk laptop/komputer. Lihat > http://shamela.ws/browse.php atau http://shamela.ws

 

6. situs: http://www.islamweb.net/mainpage/index.php

Seperti tampilannya, memuat berbagai hal dari: mausu’at/ensiklopedi, makalah, fatwa, konsultasi, audio, maktabah/perpustakaan, tube/video dan galeri. Untuk perpustakaan online bisa diklik bagian maktabah. Atau menginginkan hasil fatwa-fatwa bisa diklik bagian fatwa. Kalau asing dengan tulisan arab bisa tulisan latin bahasa Inggris. Ini tampilan mukanya.

 

 

7. agak berbeda dengan situs: http://wadod.net/ yang nampaknya lebih ditujukan untuk mahasiswa, tersedia berbagai literatur Arab termasuk majalah, buku-buku penelitian maupun hasil risalah (disertasi atau tesis ) dalam bahasa Arab. Ini gambar depannya.

 

8. situs ini juga termasuk sangat lengkap menyediakan berbagai buku-buku bahasa Arab, baik keilmuan Islam klasik: fiqih, hadits, tafsir, akhlak juga buku-buku hasil penelitian disertasi dan tesis. Situsnya dapat dilihat di sini: http://kt-b.com/ . adapun tampilan awalnya dapat dilihat seperti di bawah ini.

Mengapa Orang Mudah dan Gigih Membid’ahkan Orang Lain

mengapa seseorang itu begitu gigihnya menuduh orang lain telah melakukan bid’ah

perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh pemikirannya. ibarat iodelogi, maka cara pandang inilah yang menggerakkan seluruh aktifitas hidupnya. kalau orang berideologi kapitalis maka gerak gerik hidupnya, pandangannya dan kata-katanya didasari oleh watak kapitalis. bangsa yang didominasi paham budis atau konfusian, maka cara pandang bangsa tersebut akan diwarnai oleh ajaran-ajaran ini.

orang yang sangat mudah membid’ahkanpun juga demikian. di pemahamannya membid’ahkan adalah sebuah ideologi, yang dianut diajdikan landasan bertindak. maka siapapun yang tidak sesuai dengan ajarannya akan diangap di luar ajarannya yang harus dibid’ahkan.bahkan saat ajaran dan perbuatan orang lain sesuai dan sama dengan yang dilakukan oleh orang yang membid’ahkan tadi maka ajaran dan perbuatan ini juga dimaknai sebagai bukan dari ideologi yang sama. maka kesaamaan ajaran dan perbuatan tidaklah menjadikan sebagai sesama ideologi sehingga tidak bisa bersatu hidup dalam satu kotak. yang ada adalah tetap dirinya dalam satu kotak, orang lain dalam kotak lain.

konsekuensi dari pandangan ini adalah paham tertutp tidak bisa melihat adanya penafsiran dan perbedaan lainnya, orang harus dijadikan sama dengan paham dirinya, kelompoknya di luar itu adalah bid’ah sesat masuk neraka.

kemudian, tatkala ada paham lain yang memiliki argumentasi yang memadai, ahlu tabdi’ ini akan berusaha sekuat tenaga, bukan lagi sekedar berargumentasi tetapi juga mulai membully “lawan” pahamnya. kalau dalam dunia medsos, dibuatlah meme yang tidak sepantasnya, menyerang pribadi orangnya.

jadi kegigihan untuk tabdi’ atau membid’ahkan amalan suatu kelompok selain kelompok dirinya itu dipengaruhi oleh pemahaman dirinya tentang pengertian biod’ah, kemudian pemahaman ini dijadikan cara pandang atau ideologi yang mempengaruhi tindakan fisik maupun ucapannya.