Sikap terhadap Perbedaan memahami nash agama

Dewasa Dalam Mensikapi Perbedaan Menjalankan Ajaran Agama

 

Sumber Agama

Sebagaimana menjadi kesepakatan ulama bahwa sumber Islam utama hanyalah Al Qur’an dan As Sunnah. Semua sepakat demikian, dan semua sudah memaklumi hal ini, mushaf al Qur’an yang kita baca sehari-hari, kitab-kitab hadits yang beredar semisal Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At Tirmidzi dan kitab hadits lainnya, semua ini sudah masyhur sebagai acuan utama Islam.

Al Qur’an, merupakan wahyu Allah kepada nabi Muhammad yang disampaikan dalam bahasa Arab, dimulai dari surat al fatihah dan di akhiri dengan surat An nas, membacanya dipandang sebagai ibadah.

Sementara itu al Qur’an sebagaimana kita ketahui bersama, disampaikan dalam bahasa Arab dan diturunkan di masyarakat Arab saat itu. Tentu prasyarat penguasaan bahasa Arab dan sosiologi bangsa Arab saat itu juga diperlukan. Maka disiplin semacam ilmu asababun nuzul yakni ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang mengiringi turunnya Al Qur’an sangat penting untuk diperhatikan.

As Sunnah merupakan semua yang muncul dari nabi Muhammad berupa perkataan, perbuatan termasuk taqrir/kejadian-kejadian yang didiamkan oleh Rasulullah, karena tentu Rasulullah tidak akan diam terhadap perbuatan jelek yang diketahuinya. Sehingga sesuatu yang didiamkan oleh beliau dipandang sebagai ketetapan atau taqrir.

Sebagaimana al Qur’an ada asbabunuzul, dalam as Sunnah ada asbabul wurud yakni mengenai kejadian yang mengiringi munculnya as sunnah itu, yang juga harus diperhatikan. Baik al Qur’an dan as Sunnah berbahasa Arab tentu struktur atau gaya ungkap bahasa Arab memiliki kekhasannya sendiri yang harus dipahami dengan baik bagi mereka yang ingin mendalami dan memahami ajaran Islam dengan lebih baik.

Memang dapat dikatakan bahwa sumber sama tetapi dalam kenyataan sehari-hari yang terjadi ditengah masyarakat sering ditemukan perbedaan-perbedaan pelaksanaan dari sumber itu, bahkan juga perbedaan memahami apa yang diinginkan dari sumber itu.

Perbedaan Pemahaman dan Pelaksanaan

Mengenai contoh-contoh perbedaan dalam memahami ajaran agama dari kedua sumber ini misalnya saat-saat ini dapat kita lihat terkait dengan ibadah di bulan Dzulhijjah ini. Menentukan tanggal 1 Dzulhijah secara garis besar lewat rukyah dan lewat hisab, bahkan dengan metode hisab sekalipun juga dapat menimbulkan perbedaan, misalnya mengenai derajat ketinggian hilal awal bulan, bisa jadi 1 derajat sudah dipandang sebagai awal bulan, dapat pula 3 derajat menurut pendapat lainnya, bahkan mungkin 4 derajat dan seterusnya.

Bahkan bagi orang yang memegangi rukyat hilal sekalipun juga bisa timbul perbedaan pemahaman misalnya mengenai apakah rukyat harus dengan mata telanjang atau boleh menggunakan peralatan teropong? Apakah mungkin misalnya tinggi hilal 4 derajat benar-benar sudah bisa dirukyat dengan mata telanjang? Apabila ketinggian tersebut memungkinkan dirukyat adakah kiranya pengakuan berhasil merukyat itu bisa dibuktikan menurut ilmu pengetahuan ataukah sekedar keyakinan? Miskipun tentu disiplin hokum dan disiplin ilmu pengetahuan ada domainnya masing-masing.

Apalagi terkait dengan berbagai hal ibadah di bulan Dzulhijah ini misalnya wukuf di Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijah, sangat mungkin ada perbedaan penanggalan berdasar kriteria tadi. Hal ini juga menyangkut sunnah puasa Arafah apakah mengikuti saat orang-orang haji berwukuf di Arafah ataukah pada saat tanggal 9 Dzulhijah.

Sebagaimana di awal, sumber bisa sama yakni as sunnah yang menyatakan bahwa puasa Arafah, bahwa Rasulullah bersabda,” puasa pada hari Arafah, aku berharap sekiranya Allah menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”.

أنَّ النَّبِيَ صلى الله عليه وسلّمَ قَالَ: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ والسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ. (مسلم)

Tetapi ternyata dalam memahami kapan puasa Arafah itu juga terjadi perbedaan pemahaman, satu pendapat mengatakan saat para haji wukuf di Arafah, pendapat lainnya mengatakan saat tanggal 9 Dzulhijah. Akibatnya adalah pendapat pertama menjadikan penetapan kapan wukuf di Arafah sebagai acuan puasa Arafah, sedangkan pendapat kedua mengacu pada penanggalan masing-masing wilayah. Tentu pelaksanaannya bisa terjadi perbedaan waktu puasa Arafah.

Misal yang lainnya yakni masalah pembagian daging qurban, bisa saja secara teknis sangat beragam dan menimbulkan berbagai pemahaman, misalnya ada yang mengambil untuk dirinya separa dari daging qurban dan separo sebagai sedekah. Kalau melihat nash al Qur’an misalnya dapat kita lihat surat al haj: 27, ” Maka makanlah sebagian darinya dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir”.

(كُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ) [ الحج : 27 ]

Sementara di surat al Hajj: 36 ” maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta “.

(فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ) [ الحج : 36 ]

Namun barangkali ada yang mengambil sepertiga untuk dirinya, sepertiga untuk sedekah bagi fakir miskin, sepertiga dihadiahkan untuk sahabat maupun karib kerabatnya. Bahkan mungkin ada yang tidak mau mengambil untuk dirinya sendiri tetapi semuanya disedekahkan kepad fakir miskin atau dihadiahkan kepada saudara maupun teman-temannya.

Tentu masih banyak keragaman dalam memahami dan menjalankan dari satu sisi ibadah yang dianjurkan dalam al Qur’an maupun As Sunnah terkait di bulan Dzulhijah ini yakni ibadah haji, puasa Arafah, ibadah qurban maupun shalat Idul adha.

Mensikapi Perbedaan.

Barangkali kita ke dalam diri sendiri dapat mendewasakan diri dengan berbagai pendapat, lewat membuka diri terhadap pendapat di luar dirinya bahkan yang secara berhadap-hadapan berlawanan dengan pendapat dirinya sendiri. Bisa jadi dirinya konsisten dengan pendapatnya sendiri, tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk melihat dan memahami pendapat orang lain.

Untuk bisa dewasa dalam memahami perbedaan pendapat dirinya dengan pendapat lainnnya, seseorang juga perlu memahami sungguh-sungguh apa yang menjadi landasan berpikir dirinya, bukan berpendapat sekedar mengikuti pendapat kelompoknya tanpa memahami dengan baik landasannya. Bila hanya sebatas mengikuti maka kencenderungannya bisa saja sangat fanatic dengan pendapat diri sendiri dan alergi dengan pendapat lain yang berbeda.

misalnya dengan menyadarkan diri bahwa dalam persoalan ijtihadiyah seseorang yang sudah berusaha untuk memahami hokum dengan seluruh potensi kemudian memberikan hasil yang tepat maka ia mendapatkan dua pahala dari usaha dan ketepatan, tetapi manakala hasilnya tidak tepat maka ia masih mendapatkan satu pahala atas jerihpayahnya memahami hokum tersebut. Hal ini diterapkan kepada dirinya sendiri maupun orang lain, karena dirinya merasa orang lain ada potensi tepat tetapi bisa juga tidak tepat, begitu juga dengan dirinya ada potensi tepat memahami tetapi juga ada potensi tidak tepat dalam memahami.

Pendewasaan diri terhadap perbedaan pendapat ini, akan dapat membuat seseorang terus berusaha mencari kebenaran, berusaha untuk memilih pendapat yang lebih kuat alasannya, sebagai acuannya bukan berdasar pada apa yang menjadi paham dan egonya. Maka atas dasar kebenaran ini, dirinya tidak segan-segan untuk mengambil pendapat orang lain yang lebih benar dan meninggallkan pendapat lain atau dari dirinya yang kurang tepat. Ia tidak merasa kecil diri, dan manakala pendapat dirinya yang tepat dan diikuti oleh orang lain, ia juga tidak akan merasa ujub atau takabur.

Sedangkan ke luar diri sendiri bisa dengan mau mendengarkan bahkan kalau perlu mengkaji pendapat yang berbeda untuk dipahami kemudian memunculkan sikap menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat sendiri tadi. Manakala orang tersebut juga bersikukuh dengan pendapatnya sendiri, maka tetap melahirkan sikap toleran terhadapnya. Wallahu a’lam bish shawwab. Almuwaffiq ila aqwami tahriq.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: