ASAL USUL DOA SHALAT DLUHA

MENELUSURI DOA SHALAT DHUHA

 

PENGANTAR

Salah satu shalat sunah/tathawwu’ yang masyhur dikalangan kaum muslimin adalah shalat sunnah dhuha. Shalat ini dikerjakan pada waktu dhuha yakni awal siang, rentang waktunya setelah matahari terbit sekira setinggi tombak hingga matahari meninggi sebelum tergelincir. Waktu paling afdhal untuk mengerjakan shalat dhuha adalah pada waktu matahari sudah meninggi dan panasnya sudah menyengat:

((خرَجَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ على أهلِ قُباءٍ، وهم يُصلُّونَ الضُّحى، فقال: صلاةُ الأوَّابِين إذا رَمِضَتِ الفصالُ من الضُّحَى)) مسلم

“Rasulullah saw keluar menuju perkampungan penduduk Quba, sedang mereka lagi mengerjakan shalat dhuha, kemudian Rasulullah mengatakan: shalat dhuha waktunya jika anak unta merasa kepanasan di waktu dhuha”.

Adapun shalat isyraq yakni setelah matahari terbit ada yang berpendapat bahwa shalat ini merupakan shalat dhuha di awal waktu, demikian pendapat At Thibi dalam Mirqatul mafatih Syarh Misykatul Mashabih, juga pendapat Ibnu hajar al Haitsami, Ar Ramly dalam Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj, juga oleh Bin Baz dan Ib Utsamin.

Adapun rakaat dhuha paling sedikit adalah dua rakaat, berdasar dalil:

ويُجزِئُ عن ذلك ركعتانِ يَركعُهما من الضُّحَى (مسلم)

“dan hal itu cukup dengan mengerjakan dua rakaat shalat dhuha”

Ada perbedaan pandangan para ulama mengenai jumlah rakaat terbanyaknya, ada yang berpendapat tidak terbatas ada yang membatasi dua belas rakaat,

كان رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يُصلِّي الضحى أربعًا، ويَزيد ما شاءَ الله (مسلم)

“adalah Rasulullah bila mengerjakan shalat dhuha sebanyak empat rakaat dan bisa bertambah apa yang menjadi kehendak Allah”

DOA SHALAT DHUHA.

Banyak beredar di tengah kita doa shalat dhuha seperti berikut ini:

اللَّهُمَّ إنَّ الضَّحَاءَ ضَحَاؤُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُك، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُك، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُك، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُك اللَّهُمَّ إنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضَحَائِك وَبِهَائِك وَجَمَالِك وَقُوَّتِك وَقُدْرَتِك آتِنِي مَا آتَيْت عِبَادَك الصَّالِحِينَ.

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi, maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh.”

Doa ini nampaknya tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits tetapi dapat dijumpai dalam beberapa kitab fiqih klasik. Kitab fiqih yang di tulis belakangan ini misalnya Fiqih Sunnah karya Sayid Sabiq tidak menyebutkan doa tersebut, tetapi menyebutkan fadhilah-fadhilah shalat dhuha saja.

Dalam kitab-kitab fiqih klasik juga tidak semuanya memuat doa ini, tetapi dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj Wa Hawasyi Asy Syarwani wa al ‘Ibadi karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Aly bin Hujr al Haitsami khususnya dalam Hawasyi Asy Syarwani memuat doa tersebut saat menguraikan shalat dhuha.

دُعَاءُ صَلَاةِ الضُّحَى اللَّهُمَّ إنَّ الضَّحَاءَ ضَحَاؤُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُك، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُك، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُك، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُك اللَّهُمَّ إنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضَحَائِك وَبِهَائِك وَجَمَالِك وَقُوَّتِك وَقُدْرَتِك آتِنِي مَا آتَيْت عِبَادَك الصَّالِحِينَ.

Hanya saja Ahmad bin Muhammad bin ‘Aly bin Hujr al Haitsami dalam kitab (hawasyi Asy Syrwani) tersebut langsung menyebutkan “doa shalat dhuha”, tanpa menyebutkan sandaran sanad hadits doa shalat dhuha ini yang sekira dapat menguatkannya.

Kemudian dalam kitab I’anatu tholibin ‘ala halli alfadz Fath Mu’in oleh Ad Dimyathi Asy Syafi’i, menjelaskan bahwa setelah selesai shalat dhuha hendaknya berdoa dengan do’a ini (seperti tersebut di atas), kemudian menambah dengan doa ini:

اللَّهُمَّ بِكَ أُحَاوِلُ، وَبِكَ أُصَاوِلُ، وَبِكَ أُقَاتِلُ.

“Ya Allah, kepada-Mu-lah kuserahkan segala daya dan upaya, dengan-Mu-lah kami menyerang, dan dengan (kekuatan-Mu-lah) kami berperang).

Kemudian mengucapkan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي ، وَتُبْ عَلَيَّ ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

” ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, dan terimalah taubatku sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang”. Sebanyak seratus (100) kali atau empat puluh (40) kali.

Bila ditelusur lebih lanjut, doa ” Allahumma bika uhawilu ..dst” terdapat dalam riwayat imam Ahmad, Ad darimi, ath Thabrani, doa ini diucapkan oleh Rasulullah ketika perang Hunain.

Adapun doa “allahumaghfirlii warhamni…dst”, diriwayatkan oleh Abu Dawud, An Nasa’i, Ibn Majah, bahwa Rasulullah dalam satu majlis duduk membaca doa tersebut sebanyak seratus (100) kali.

Selanjutnya untuk lebih jelasnya mengenai asal muasal doa tersebut, potongannya, dalam kitab Al Mujalasah wa Jawahirul ‘Ilm karya Abu Bakar Ahmad bin Marwan Ad Dainuri Al Maliki menyebutkan:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ يُونُسَ، نا الرِّيَاشِيُّ، عَنِ الأَصْمَعِيِّ؛ قَالَ: سَمِعْتُ أَعْرَابِيَّةً بِعَرَفَاتٍ وَهِيَ تَقُولُ: اللهُمَّ! إِنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ؛ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الأَرْضِ؛ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ نَائِيًا؛ فَقَرِّبْهُ، وَإِنْ كَانَ قَرِيبًا؛ فَيَسِّرْهُ.

Nukilan ini menyebutkan bahwa do’a,” allahumma in kana rizqi fis sama’ fa anzilhu….hingga…wa in kana qariban fa yassirhu”, bersumber dari al Ashma’i yang mendengar seorang perempuan (a’rabiyah) di Arafah berdoa dengan doa tersebut.

Mengingat doa shalat dhuha sebagaimana tersebut di atas, bukanlah bersumber dari hadits Rasulullah secara shahih, tentunya tidak boleh diyakini dan disandarkan kepada Rasulullah, karena memang tidak ada sandaran bahwa doa tersebut berasal dari Rasulullah, baik di dalam shalat dhuha atau di luar shalat dhuha. dengan demikian tidak dapat dijadikan landasan sebagai kemestian atau kelaziman bahwa ada doa khusus dalam shalat dhuha yang berbunyi sebagaimana tersebut di atas. Mengerjakan atau mengamalkan secara terus menerus sebagai sebuah kemestianpun juga tidak dapat dibenarkan.

Memang sebagian ulama menyukai bahkan menuliskan dalam kitab-kitab mereka mengenai doa ini untuk dibaca setelah selesai shalat dhuha, meskipun jelas mereka tidak menyebutkan sandaran haditsnya. Sehingga sebagaimana doa pada umumnya, doa tentang kebaikan atau meminta rezki kepada Allah, yang dapat dipanjatkan dalam shalat atau setelah shalat, maka doa shalat dhuha ini kedudukannnya bisa dipandang demikian, sepanjang bukan sebagai sebuah kemestian demikian adanya dari Rasulullah. Demikian wallahu a’lam bish shwwab.


 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: