BERDOA DI SEPUTAR WAKTU SHALAT

WAKTU BERDOA SEPUTAR SHALAT.

 

Kekeliruan umum berdoa kaitannya dengan shalat: pemahaman bahwa anjuran berdoa itu setelah shalat saja, sementara kalau melihat hadits-hadits yang ada, berdoa seputar shalat ini dapat dilakukan sebelum, saat dan sesudah shalat, justru berdoa setelah shalat paling tidak, terjadi perbedaan pendapat ulama. Berikut penjelasannya:

1. Berdoa Sebelum Shalat Adalah Saat Setelah Adzan Hingga Iqamah


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ. رواه الترمذي وصححه، وأبو داود، وصححه الألباني في صحيح أبي داود،

Dari anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam bersabda,” doa itu tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah“. HR At Tirmidzi dan ia menshahihkannya. Juga diriwayatkan Abu Dawud yang dishahihkan oleh Al Albani dalam kitab Shahih Abu Dawud.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ فَادْعُوا. رواه أحمد قال الشيخ شعيب الأرنوؤط: إسناده صحيح.

Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam bersabda: sungguh doa itu tidak ditolak antara adzan dan iqamah, maka hendaklah kalian berdoa“. HR Ahmad, Syeikh Syu’aib al Arnauth berkata: sanadnya shahih.

عن أبي أمامة أن رسول الله قال: إذا نَادى المُنَادِي فُتِحَتْ أبْوابُ السماءِ واستُجِيب الدعاءُ. رواه أبوعوانة في مسنده، والحاكم في المستدرك، وصححه الألباني.

Dari Abu Umamah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam bersabda:” jika pengumandang adzan telah mengumandangkan adzan maka dibuka pintu-pintu langit dan dikabulkan doa-doa“. HR Abu ‘Uwanah dalam musnadnya. Dan Al Hakim dalam Mustadraknya, dan dishahihkan oleh Al Albani.

2. Berdoa Saat Shalat Dilakukan Ketika Saat Sujud

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَشَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السِّتَارَةَ وَالنَّاسُ صُفُوفٌ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ فَقَالَ … أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

Dari Ibn Abbas berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam menyingkat tabir sedangkan orang-orang berbaris di belakang Abu Bakar lalu beliau bersabda:…ketahuilah sunggh aku dilarang membaca AL Qur’an dalam keadaan ruku atau sujud. Adapun saat rukuk hendaklah kalian agungkan Tuhan yang maha mulia dan maha agung dalam rukuk itu, dan adapun saat sujud maka bersungguhlah dalam berdoa, maka itu lebih layak dan lebih terwujud agar dikabulkan untukmu doa itu. HR Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: keadaan paling dekat yang terjadi antara seorang hamba dari Tuhannya adalah dia sujud maka kalian perbanyak doa“. HR Muslim.

3. Berdoa Saat Shalat Dilakukan Ketika Antara Setelah Tahiyat Dan Sebelum Salam

عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا نَقُولُ فِي الصَّلَاةِ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ السَّلَامُ عَلَى فُلَانٍ فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ فَإِذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَقُلْ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ فَإِذَا قَالَهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ
. رواه مسلم

Dari Abu Wail dari Abdullah berkata, dulu kami mengucapkan dalam shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam, keselamatan atas Allah, keselamatan atas si fulan, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam berkata kepada kami suatu hari, : “sesungguhnya Allah adalah as salam (Maha Selamat) maka jika seorang dari kalian duduk dalam shalat maka ucapkanlah: (Segala penghormatan bagi Allah, shalawat dan juga kebaikan. Semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu wahai Nabi dan juga rahmat dan berkahnya. Semoga keselamatan terlimpahkan atas kami dan hamba Allah yang shalih) ‘. -Apabila dia mengucapkannya maka doa itu akan mengenai setiap hamba shalih di langit dan bumi Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, kemudian ia memilih permintaan apa saja yang ia kehendaki. HR Muslim

حَدَّثَنِي شَقِيقٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا إِذَا كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّلَاةِ قُلْنَا السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ مِنْ عِبَادِهِ السَّلَامُ عَلَى فُلَانٍ وَفُلَانٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُولُوا السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ وَلَكِنْ قُولُوا التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمْ أَصَابَ كُلَّ عَبْدٍ فِي السَّمَاءِ أَوْ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو. رواه البخاري

… kemudian ia memilih doa yang paling menakjubkan kepada dirinya lalu berdoalah. HR Al Bukhari.

Contoh doa:

1. عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …..يَكُونُ مِنْ آخِرِ مَا يَقُولُ بَيْنَ التَّشَهُّدِ وَالتَّسْلِيمِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ . مسلم

2. عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، أَنَّ رَسُولَ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ، وَقَالَ: «يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ»، فَقَالَ: ” أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “. رواه أبو داود, وغيره, وصححه الشيخ الألباني.

قال الصنعاني في سبل السلام، تعليقا على حديث: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يتعوذ بهن دبر كل صلاة: اللهم إني أعوذ بك من البخل… إلخ . .

قوله: دبر الصلاة هنا، (1) وفي الأول، يحتمل أنه قبل الخروج، لأن دبر الحيوان منه، وعليه بعض أئمة الحديث، (2) ويحتمل أنه بعدها وهو أقرب؛ والمراد بالصلاة عند الإطلاق المفروضة. انتهى.

Ash Shan’ani dalam kitab Subulus Salam menjelaskan hadits di atas: bahwa arti “duburi kulli shalah” – belakang setiap shalat- adu dua pengertian: 1) dipahami sebagai akhir sebelum selesai salam/shalat, karena kalau dikatakan “duburul hayawan ” maka bagian belakang hewan termasuk bagian darinya. Demikian pendapat sebagain ahli hadits. 2) dipahami sebagai setelah selesai shalat, ini sebagai pendapat yang lebih mendekati kebenaran. Lebih lanjut dibahas dalam masalah berdoa setelah selesai shalat.

Adapun makna “setiap selesai shalat” adalah shalat fardlu saja, jadi selesai shalat sunnah tidak ada anjuran berdoa.

3. كَانَ سَعْدٌ يُعَلِّمُ بَنِيهِ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ كَمَا يُعَلِّمُ الْمُعَلِّمُ الْغِلْمَانَ الْكِتَابَةَ وَيَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْهُنَّ دُبُرَ الصَّلَاةِ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ. البخاري

4. عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. البخاري

5. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ
فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ. مسلم

4. Berdoa setelah selesai shalat

a. Disyari’atkan berdoa setelah shalat

dalam shahih Bukhari kitab ad da’awat ada bab ad du’a ba’da shalat” – berdoa setelah selesai shalat. Yang dimaksud adalah setelah selesai shalat fardlu. Penjelasan Bukhari ini sebagai bantahan bagi pendapat yang mengatakan bahwa setelah selesai shalat tidak disyari’atkan berdoa.

Ibn Hajar mengatakan bahwa berdoa selepas shalat berdasar beberapa hadits misalnya:

1. Hadits dari Mu’adz.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا مُعَاذُ إِنِّي وَاللَّهِ لَأُحِبُّكَ فَلَا تَدَعْ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيّ وَصَححهُ بن حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

2. Hadits dari Abu Bakrah

وَحَدِيثُ أَبِي بَكْرَةَ فِي قَوْلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

Hadits ini dan beberapa hadits lainnya menganjurkan berdoa di akhir shalat (duburus shalat). Akhir di sini dipahami sebagai “setelah” shalat bukan mendekati akhir shalat yakni ketika selesai membaca tasyahud. karena ada hadits yang menganjurkan berdzikir di akhir shalat (duburah shalah) maksudnya setelah mengucapkan salam dalam shalat.

(Fathul bari: Ahmad Ibn Ali Ibn Hajar Al Asqalani al maktabah assalafiyah juz 11 hal: 133)

Hadits dari Ka’ab ini juga menjelaskan adanya doa setelah selesai shalat:

أَنَّ كَعْبًا حَلَفَ لَهُ بِاللَّهِ الَّذِي فَلَقَ الْبَحْرَ لِمُوسَى إِنَّا لَنَجِدُ فِي التَّوْرَاةِ أَنَّ دَاوُدَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي جَعَلْتَهُ لِي عِصْمَةً وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي جَعَلْتَ فِيهَا مَعَاشِي اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوذُ بِعَفْوِكَ مِنْ نِقْمَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ قَالَ وَحَدَّثَنِي كَعْبٌ أَنَّ صُهَيْبًا حَدَّثَهُ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُهُنَّ عِنْدَ انْصِرَافِهِ مِنْ صَلَاتِهِالحديث أخرجه النسائي وصححه ابن حبان

“….bahwa beliau mengucapkan doa tersebut ketika selesai dari shalatnya” HR An Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibn Hibban.

Hadits riwayat Muslim ini merupakan kelanjutan dari hadits yang sudah disebutkan di atas dalam contoh doa antara sesudah tahiyat dan sebelum salam. Jadi doa dalam hadits ini masih menurut hadits riwayat Muslim ini bisa diucapkan sebelum atau sesudah salam dalam shalat.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ….وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ وَلَمْ يَقُلْ بَيْنَ التَّشَهُّدِ وَالتَّسْلِيمِ. رواه مسلم

“apabila telah selesai mengucap salam dalam shalat beliau mengucapkan “ya Allah ampunilah aku apa yang telah lalu..” hingga akhir hadits. dan beliau tidak mengatakan antara tasyahud dan salam. HR Muslim.

Syeikh bin Baz dalam Fatawa Nurun ‘ala Darbi menyatakan:

الدعاء بعد الصلاة لا يكره بل مستحب، كونه يدعو بينه وبين ربه، في آخر الصلاة وبعد الصلاة بعد الذكر كل هذا جاء في الأحاديث عن النبي عليه الصلاة والسلام، فإذا دعا في آخر الصلاة قبل أن يسلم هذا أفضل، وإن دعا بعد السلام وبعد الذكر فلا بأس بينه وبين ربه ( الكتاب: فتاوى نور على الدرب، المؤلف: عبد العزيز بن عبد الله بن باز (المتوفى: 1420هـ)، جمعها: الدكتور محمد بن سعد الشويعر.

bahwa berdoa setelah shalat tidak tidak makruh tetapi dianjurkan, berdoa antara dirinya denngan Tuhannya, di akhir shalat setelah selesai membaca shalwat dan dzikir, demikian ini ada dasarnya dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam . Tetapi berdoa di akhir shalat sebelum membaca salam adalah lebih afdhal. Jika membaca doanya setalah salam dan sesudah dzikir maka boleh, berdoa antara dirinya dengan Tuhannya. (Maktabah Syamilah, Fatawa Nurun ‘Ala Darbi, Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Baz, disusun oleh Muhammad ibn Saad Asy Syuwai’ir)

b. Tidak disyari’atkan doa setelah shalat

Ibn Hajar Al Asqalani dalam fathul Bari mengatakan:

أَنَّ الدُّعَاءَ بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا يُشْرَعُ مُتَمَسِّكًا بِالْحَدِيثِ الَّذِي أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مِنْ رِوَايَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عَائِشَةَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ لَا يَثْبُتُ إِلَّا قَدْرَ مَا يَقُولُ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكت يَاذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Bahwa ulama yang berpendapat tidak adanya syari’at doa setelah shalat berdasar pada pemahaman hadits riwayat Abdullah bin al Harits dari Aisyah bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila setelah selesai salam dalam shalat, tidak duduk menetap setelah selesai shalat kecuali skedar selama membaca: Allahumma antas salam wa minka salam, tabarakta ya dzal jalali wal ikram.

قَالَ بن الْقَيِّمِ فِي الْهَدْيِ النَّبَوِيِّ وَأَمَّا الدُّعَاءُ بَعْدَ السَّلَامِ مِنَ الصَّلَاةِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ سَوَاءٌ الْإِمَامُ وَالْمُنْفَرِدُ وَالْمَأْمُومُ فَلَمْ يَكُنْ ذَلِكَ مِنْ هَدْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْلًا وَلَا رُوِيَ عَنْهُ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ وَلَا حَسَنٍ وَخَصَّ بَعْضَهُمْ ذَلِكَ بِصَلَاتَيِ الْفَجْرِ وَالْعَصْرِ وَلَمْ يَفْعَلْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا الْخُلَفَاءُ بَعْدَهُ وَلَا أَرْشَدَ إِلَيْهِ أُمَّتَهُ وَإِنَّمَا هُوَ اسْتِحْسَانٌ رَآهُ مَنْ رَآهُ عِوَضًا مِنَ السُّنَّةِ بَعْدَهُمَا

Dalam Fathul Bari, Ibn Hajar Al Asqalani menjelaskan pendapat Ibnul Qayyim yang mengatakan bahwa berdoa setelah salam dalam shalat menghadap kiblat baik oleh imam, sendirian atau makmum hal ini bukan merupakan tuntunan nabi sama sekali tidak pula ada riwayat dengan sanad shahih tidak pula sanad hasan, terkhusus untuk shalat asar dan subuh. tidak pernah dikerjakan rasulullah ataupun para khalifah sesudahnya, tidak pula menunjukkan umatnya agar melakasanakannya, tetapi pelaksanaan doa ini berdasar istihsan saja oleh orang-orang yang berpendapat demikian sebagai ganti dari sunnah.

وَعَامَّةُ الْأَدْعِيَةِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالصَّلَاةِ إِنَّمَا فَعَلَهَا فِيهَا وَأَمَرَ بِهَا فِيهَا قَالَ وَهَذَا اللَّائِقُ بِحَالِ الْمُصَلِّي فَإِنَّهُ مُقْبِلٌ عَلَى رَبِّهِ مُنَاجِيهِ

Lebih lanjut Ibnul Qayyim menyatakan bahwa umumnya doa yang berhubungan dengan shalat Rasulullah mengerjakannya dan memerintahkannya di dalam shalat, dan hal ini yang tepat bagi orang yang shalat karena sedang menghadap dan bermunajat dengan Tuhannya.

لَكِنَّ الْأَذْكَارَ الْوَارِدَةَ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ يُسْتَحَبُّ لِمَنْ أَتَى بِهَا أَنْ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْهَا وَيَدْعُوَ بِمَا شَاءَ وَيَكُونُ دُعَاؤُهُ عَقِبَ هَذِهِ الْعِبَادَةِ الثَّانِيَةِ وَهِيَ الذِّكْرُ لَا لِكَوْنِهِ دُبُرَ الْمَكْتُوبَةِ

Miskipun demikian Ibnul Qayyim juga mengatakan dzikir sesuai tuntunan Rasulullah setelah selesai shalat adalah dianjurkan bagi orang yang melaksanakannya, hendaknya memulai dengan shalawat setelah selesai dzikir kemudian berdoa sesuai apa yang diinginkannya, sehingga doa ini setelah ibadah yang kedua yakni dzikir bukan lagi setelah selesai ibadah shalat.

(Fathul bari: Ahmad Ibn Ali Ibn Hajar Al Asqalani al maktabah assalafiyah juz 11 hal: 133)

Syeikh Utsaimin berpendapat berdoa sesudah shalat apakah disyari’atkan ataukah tidak? Maka kami jawab: bahwa hal itu tidak disyari’atkan karena Allah berfirman: ” maka jika kalian telah menyelesaikan shalat maka kalian sebutlah Allah”. An Nisa: 103. Di ayat ini tidak dikatakan :” maka kalian berdoalah” . Karenanya bukan tempatnya berdoa setelah shalat, tempat berdoa adalah sebelum mengucap salam dalam shalat, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan shahabatnya bertasyahud kemudian mengatakan: kemudian berdoa dengan apa saja yang dia kehendaki. Maka doa adalah sebelum salam. (Maktabah Syamilah, Muhammad Ibn Shalih Ibn Muhammad Al ‘Utsaimin, Liqa’ al Bab al Maftuh)

بارك الله فيك، أصلاً لا تسأل عن رفع اليدين بعد الصلاة، اسأل عن الدعاء بعد الصلاة هل هو مشروع أم لا؟ نقول: هو غير مشروع؛ لأن الله قال: فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ [النساء:103] ما قال: فادعوا، فلا محل للدعاء بعد الصلاة، محل الدعاء قبل السلام؛ لأن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم كان يعلم أصحابه التشهد ويقول: ثم يدعو بما يشاء، فجعل الدعاء قبل السلام، ( محمد بن صالح بن محمد العثيمين ، لقاء الباب المفتوح ، حكم الدعاء بعد الصلاة)

 

c. Kesimpulan:

berdoa setelah shalat dianjurkan dengan didahului dengan dzikir terlebih dahulu, tidak langsung setelah salam kemudian berdoa.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: