Aplikasi kaidah Ushul Fiqih

MEMELIHARA HAL-HAL LAMA YANG BAGUS DAN MENGAMBIL HAL-HAL BARU YANG LEBIH BAIK

 

Pendahuluan

Ada sebuah kaedah dalam Ushul Fiqih yang sering dikutip terkait dengan pelestarian nilai-nilai bagus dan bagaimana kita mensikapai dengan perubahan budaya maupuan arus pergerakan budaya yang ada. Karena sangat mungkin seseorang atau masyarakat akan senantiasa melihat hal-hal baru yang terus bermunculan, bisa saja sebenarnya suatu hal itu baru bagi suatu masyarakat tetapi bagi masyarakat lainnya hal itu dipandang sebagai hal-hal yang sudah lama. Munculnya arus pergerakan hal-hal ini menimbulkan pergesekan dan pergeseran akan hal-hal lama.

Kaedah ini adalah seperti judul di atas ” memelihara hal-hal lama yang bagus dan mengambil hal-hal baru yang lebih bagus”. Yang dalam kaedah bahasa Arab dituliskan sebagai berikut.

المحُاَفَظَةُ عَلَى القَدِيْمِ الصَالِحِ وَالأَخْذُ باِلجَدِيْدِ الأَصْلَحِ

Salahsatu khazanah dala Islam yang harus terus diaktualisasikan sehingga menjadi sebuah kaedah yang hidup bukan hanya dalam kajian-kajian ushul fiqih saja, tetapi dapat diimplementasikan untuk pemecahan permasalahan yang lebih luas sehingga bisa lebih diimplementasikan.

Kita mempunyai pusaka yang begitu banyak, terutama tradisi dan nilai-nilai kebaikan (local wisdom). Dalam tradisi intelektual Islam, adat atau tradisi baik sekalipun memiliki tempatnya tersendiri dalam Islam. Misalnya dalam khasanah fiqih disebutkan bahwa jual beli salam (pesanan) adalah adat kebiasaan masyarakat yang diakomodasi fiqih Islam. Ijarah atau upah mengupah juga diantaranya, apa yang menjadi tradisi di masyarakat menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan ijarah.

Bahkan banyak lagi contoh-contohnya, misalnya dalam pembagian af’al rasul, disebutkan bahwa salah satu dari macam-macam af’al rasul ini ada yang dikerjakan oleh Rasulullah berdasarkan adat, misalnya mengenai model pakaian, model sandal dan lainnya. Ini juga menandaskan pentingnya adat yang baik, yang sesuai dengan Islam menjadi pertimbangan sendiri dalam pengembangan hukum Islam, maupun dalam budaya Islam.

MEMELIHARA HAL-HAL LAMA YANG BAGUS

Tentu dalam kita bermasyarakat, membangun budaya dan peradaban, di sana ada nilai-nilai bagus yang harus dipertahankan, apalagi nilai-nilai bagus itu selaras dengan Islam dan selaras dengan kondisi di mana kita tinggal. Dalam setiap masyarakat, lembaga, sampai tingkat negara, di sana pasti ada tradisi atau hal-hal lama yang terus dipertahankan, karena memang memiliki nilai-nilai yang bagus.

Contoh, dalam pembangunan tempat wudlu dan sarana penunjang bersuci lainnya dalam suatu masjid, bisa saja antara satu dengan lainnya, antara daerah dengan daerah lainnya ada perbedaan, ini tentu lebih pada pertimbangan kebiasaan yang baik, mana bentuk yang lebih bisa memberikan efektifitas untuk bersuci. Kalau ada masjid yang dibangunkan kolam untuk mencuci kaki misalnya, antara satu dan lainnya juga berbeda. Hal ini kalau ditelusur sebenarnya kita bisa memandangnya sebagai hal-hal yang lama yang baik, karena untuk mengajarkan orang memasuki masjid dengan kaki bersih, maka hal yang paling efektif adalah dengan membangunkan kolam di sekeliling masjid, daripada harus mengingatkan satu persatu kepada jama’ah.

Itu barangkali contoh sederhana yang bisa kita jumpai sehari-hari, kalau kita tarik lebih lanjut misalnya, kita bisa melihat bagaimana hal-hal lama yang bagus ini bila dipertahankan dan dijaga akan memberikan peningkatan yang luar bisa bagi kemajuan sebuah masyarakat, karena mempertahankan hal-hal lama yang bagus ini, apakah itu nilai-nilai, bangunan fisik, aktifitas merupakan sebuah kontinuitas atau kesinambungan. Bagaimana jadinya sebuah masyarakat tanpa adanya kesinambungan yang terus menerus, maka bisa jadi masyarakat itu akan mengalami pergolakan dan labil, karena tidak ada patokan yang dapat dipegangi.

Kalau dalam tradisi akademik, misalnya hal-hal lama yang bagus ini terkait dengan kewajiban mencantumkan dari mana kita mendapatkan kabar atau kutipan, termasuk mempertahankan bidang kajian yang ditekuni seseorang. Misalnya ada ulama yang menekuni bidang fiqih sampai dia mendapatkan julukan faqih, atau seseorang yang mendalami bidang hadits sehingga menjadi muhaddits atau seseorang mendalami bidang ilmu bahasa/nahwu menjadi seorang nuhat atau bidang tafsir menjadi seorang mufassir.

Dalam memelihara hal-hal lama yang baik ini adalah dengan mengokohkan pokok hal-hal lama yang bagus ini sehingga benar-benar menjadi keyakinan, misalnya kerangka sepeda motor bebek bila dperhatikan sejak awal memiliki kerangka demikian itu, maka hal ini harus dijadikan pokoknya dan diyakini bahwa kerangka pokok atau pakem sepeda motor bebek adalah seperti itu.

Tidak cukup hanya dengan mengokohkannya saja, karena kalau demikian ini hanya akan menjadi kenangan masa silam maka diperlukan pengembangan dengan tetap berpijak pada kerangka pokok dari hal-hal lama yang bagus itu. Katakanlah kalau sepeda motor bebek kerangkanya bodinya adalah seperti yang ada sekarang ini, kemudian kerangka ini diperkuat bahannya dengan penelitian yang berkembang misalnya dengan materi yang lebih ringan dan kuat, kemudian pengembangan lainnya adalah pada desain penutup kerangka maupun aksesoris yang menyertainya.

Bisa jadi dua hal ini, yakni mengokohkan kerangka dasar hal-hal bagus dan mengembangkannya merupakan dua hal minimal dalam menjaganya. Sulit untuk bisa mengembangkan kalau seseorang atau masyarakat tidak memiliki pakem atau kerangka dasar yang menopang dirinya. Kerangka dasar apa yang hendak dikokohkan, kemudian setelah disepakati lantas ditentukan pengembangannya.

MENGAMBIL HAL-HAL BARU YANG LEBIH BAGUS

Mengenai masalah pengembangan tentunya terkait erat dengan lanjutan dari kaedah kita ini, yakni mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Tidak hanya baik tetapi yang lebih baik atau terbaik. Dalam mengambil hal-hal yang lebih baik ini, ada dua hal yang perlu dimengerti yakni, mengambil pokok baru yang lebih baik dan tetap mempertahankan pokok lama yang baik, dan mengambil hal-hal baru pengembangan dari pokok lama yang baik.

Kekurangan kita adalah, sering meninggalkan pokok lama yang baik dan mengambil pokok baru dengan meninggalkan atau tidak memelihara pokok lama. Ini berakibat pada labilnya kondisi yang ada, sehingga menyulitkan untuk melakukan pengembangan pada pokok yang ada, karena bagaimana bisa dievaluasi, dikembangkan pokoknya, kalau yang pokok itu senantiasa dirubah dan diganti, tidak bisa dibayangkan kalau kerangka sepeda motor bebek itu dirubah menjadi bentuk segitiga misalnya, yang sebelumnya berbentuk segitiga tidak penuh seperti itu.

Kalau berbicara masalah pendidikan misalnya, dalam tradisi sekolah kita ada semboyan “tutwuri handayani’, ini sebuah dasar filsofis yang semestinya terus dijaga bukan hanya fisiknya tapi maknanya, secara fisik memang tetap terus terpampang di papan sekolah dan di lambang sekolah, tetapi memelihara maknanya barangkali juga lebih sulit apalagi mengembangkan sehingga bisa diturunkan menjadi teori-teori pendidikan atau menjadi pedoman perilaku bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan.

Memang sangat banyak sekali, filosofi-filosofi pendidikan yang ada, yang kita ambil dari berbagai pemikiran besar dunia, tetapi seringkali kita juga melupakan filosofi pendidikan kita sendiri yang sudah dipunyai dan menyandarkan diri pada pokok pemikiran yang baru masuk kepada diri kita. Perlu disadari pula bahwa filosofi besar itupun sebenarnya di mengikuti tradisi memelihara dan mengambil seperti dalam kaedah ushul fiqih tersebut. Bagaimana sebuah filosofi yang asalnya hanya pemikiran kemudian dikembangkan menjadi idelogi, kemudian juga dimatangkan lagi oleh para pemikir penganut aliran filosofi tersebut.

Kalau dalam tradisi pesantren ada namanya pemberian ijasah seorang kiyai kepada santrinya yang telah menamatkan pengajian suatu kitab, dimana ijasah ini berisi semacam jalur sanad bahwa santri telah menamatkan mengaji kitab dari seorang kiyai terus demikian ke atas hingga kepada ulama pengarang kitab. Mungkin juga disertai dengan tradisi khataman, makna yang terkandung dalam hal ini tentu lain manakala tradisi ini kita pegangi. Tetapi saat pokok ini digantikan atau dikembangkan tidak berdasar pada pokoknya tetapi dengan mengadopsi tradisi pesta/party maka sesungguhnya akan memberikan dampak yang sangat berbeda bagi para pelajar dalam mensikapi kelulusannya.

Haruslah benar-benar dipertimbangkan untung dan manfaatnya ketika hendak mengambil hal-hal baru ini, bukan semata kebaruannya yang sebenarnya barang usang, baru hanya karena kita baru mengenalnya, padahal malah meruntuhkan pondisi lama. Barangkali mengambil hal baru adalah untuk memperkuat hal-hal lama yang menjadi pondasi dan ciri khas kebaikan suatu masyarakat. Demikian wallahul muawwiq illa aqwami thariq.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: