SHALAT DAN BACAAN ISTIFTAH KITA

SHALAT DAN BACAAN ISTIFTAH KITA

Sebagaimana kita ketahui, shalat merupakan ibadah yang terkait dengan gerakan fisik dan bacaan, tentu hati juga. Terkait dengan tigal hal unsur ini barangkali bisa disampaikan lima (5) keadaan orang yang mengerjakan shalat.

Ini terkait bagaimana interaksi dan pergaulan kita dengan shalat, bisa saja terkadang secara lahir terlihat bagus tetapi secara batin dan pikiran melayang-layang. Bisa saja secara lahir dari wudlu hingga suasana dan penampilan shalat belum sesungguhnya mencerminkan orang beribadah.

Bahkan bisa saja, melantunkan doa, dzikir dan bacaan dalah shalat begitu merdu dan indahnya, meliuk-liuk, melingking, dengan nada naik turun, hanya saja barangkali belum bisa menyimbangkan keindahan dan kemerduan lantunan itu dengan memahami arti dan makna dari yang diucapkannya.

Lima Macam Orang yang Mengerjakan Shalat

Sebagaimana disebutkan di awal bermacam-macam keadaaan orang dalam bergaul dan mengerjakan shalat, maka ada setidaknya kita bisa membagi menjadi llima (5) macam orang yang mengerjakan shalat itu dari sisi gerakan, bacaan dan suasana hati.

Pertama: tingkat menganiaya terhadap diri sendiri, kelompok ini adalah mereka yang mengerjakan shalat dengan berbagai ketidaksungguhan, serampangan. Bahkan wudlu sekalipun tidak dikerjakan dengan baik dan sempurna dan tidak peduli mengenai kesempurnaan wudlu. Tidak memperhatikan ketentuan waktu shalat, ketentuan-ketentuan lainnya yangharus dipenuhi saat shalat maupun rukun-rukun shalat.

Bisa saja orang mengerjakan shalat demikian ini, dirinya merasa aman dari dosa meninggalkan shalat karena sudah merasa menggugurkan kewajiban shalat dengan shalat a la kadarnnya demikian itu. Tetapi dengan mengerjakan shalat secara demikian ini maka tentu menjadi catatan bagi dirinya, bahkan bisa saja terkena sanksi karena sembrono dan sembarang dalam mengerjakan shalat.

Kedua: orang yang mengerjakan shalat dengan menjaga baik-baik syarat, rukun, wajib dan berbagai ketentuan lainnya yang Nampak secara lahiriyah. Tetapi saat shalat ia masih terganggu dengan segala macam bentuk was-was di hati dan pikirannya, sibuk dengan berbagai urusan dunia. Ia juga tidak bisa sepenuhnya bersungguh-sungguh untuk konsentrasi dan menikmati shalat. (mu’aqabun).

Orang yang mengerjakan shalat setingkat demikian, maka dia akan dihisab (muhasabun), mengenai kekurangan dia dalam mengerjakan shalat di sisi batinnya, miskipun di sisi lahir nampak sempurna, tentu juga diperhitungkan kesungguhannya menjaga sisi lahiriyahnya sesuai dengan petunjuk syari’at.

Ketiga: orang yang menjaga syarat, rukun dan kewajiban shalat serta ketentuan lainnya juga dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati untuk menyingkirkan was-was dan gangguan hati dan pikirannya. Ia benar-benar sungguh-sungguh berupaya menyingkirkan gangguan hati dan pikiran itu agar shalatnya tidak tercemarkan. Ia sungguh shalat dan mujahadah.

Orang yang mengerjakan shalat dalam peringkat ini, maka shalatnya dipandang sebagai penggugur (mukaffirun ‘anhu) dosanya maupun kewajbannya mengerjakan shalat.

Keempat: orang yang sudah bersungguh-sungguh mengerjakan shalat dengan memperhatikan hak-hak shalat, rukun, kewajiban dan ketentuan lainnya. Lebih dari ini, hati dan pikirannya tenggelam dalam shalatnya, larut dalam sepenuhnya menjaga semua ketentuan shalat agar shalatnya tidak cacat dan cela sedikitpun. Bahkan seluruh perhtiannya tercurahkan semuanya untuk dapat mengerjakan shalat secara lahir batin dengan baik dan benar sesuai tuntunanya. Hati dan pikirannya benar-benar tenggelam dalam shalat dan beribadah kepada Allah ta’ala.

Orang yang mengerjakan shalat dalam tingkatan demikian ini, dialah oranng yang shalatnya mendapatkan ganjaran (mutsabun). Layak dan pantas menerima pahala dan penghargaan atas kesungguhannya untuk dapat shalat dengan sebaik-baiknya.

Kelima: orang yang sudah mengerjakan shalat dengan sebenar-benarnya, ia tunaikan semua hak-hak shalat. Tetapi lebih dari itu ia meletakkan hatinya di haribaan Allah ta’ala. Dengan hatinya ia melihat Allah, ia merasa bahwa Allah mengawasinya. Hatinya dipenuhi dengan kecintaan dan keagungan Allah ta’ala, seolah ia menyaksikan dan melihat secara langsung Allah ta’ala. Inilah shalat orang yang tidak lagi hati dan dipikiran disibukkan oleh urusan dunia, orang yang sudah tidak terhalang lagi antara dirinya dengan rabbnya, ia sudah mampu melihat tidak ada lagi yang lebih utama di luar sana selain merasakan kehadiran Allah ta’ala dalam dirinya. Ia sudah tersibukkan denan Allah ta’ala, shalat sudah menjadi penyejuk mata hatinya.

Orang yang sudah mampu mengerjakan shalat demikin ini, maka shalatnya menjadi pendekat dirinya kepada Allah (Muqrrabun min rabbihi). Karena ia merupakan orangn yang mendapat anugrah dari Allah bahwa, shalat sudah dijadikan oleh Allah untuk dirinya sebagai qurrata ‘ain (penyejuk matanya).

Siapa orang yang di dunia ini oleh Allah sudah dijadikan shalatnya sebagai qurrata ‘ain, maka pandangan matanya tersjukkan dengan kedekatannya terhadap Allah ta’ala di akherat kelak. Maka berbahagialah orang yang sudah Allah jadikan dirinya sejuk matanya dengan shalat karena dengan demikian akan sejuklah semuanya tentang dunia ini, dan amat rugi orang tidak memiliki kesejukan mata terhadap Allah dan justru menjadi terbelalak dengan keindahan dunia ini, maka sesungguhnya ia tidaklah mendapatkan kesejukan pandangan mata di terhadap dunia ini.

Do’a Istiftah Kita

Salah satu doa istiftah yang dibaca oleh Rasulullah adalah:

اللَّهُمَّ بَاِعدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا باَعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي ِمنْ خَطَايَايَ كَمَا نَقَيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ باِلثَّلْجِ وَالمَاءِ وَالبَرَدِ (البخاري مسلم النسائي

Disini kita berdoa, maknanya adalah agar sejauh mungkin bahkan tidak bertemu antara dirinya dengan mengerjakan kesalahan sebagaimana antara timur dan barat yang memang berlawanan arah itu. Termasuk pula agar dijauhkan sejauh-jauhnya antara dirinya dengnan hukumannya kalau ia mengerjakan kesalahan itu.

Disini juga berdoa agar disucikan dirinya dari dari dosa-dosa dan kesalahan yang telah ia perbuatnya seperti kain putih yang tidak ternoda, dan manakala ternoda setelah dibersihkan itu, kemudian dibersihkan lagi sehingga tidak bernoda lagi. Demikian lah kita tahu pakain putih menunjukkan tidak ternoda, dan saat ternoda kemudian dibersihkan.

Ini menunjukkan berdoa agar bener-benar terhindar dari dosa, tetapi manakala berdosa maka berdoa agar disucikan bahkan tidak cukup itu setelah bersih sekalipun masih berdoa agar semakin benar-benar bersih dengan tiga jenis air: air itu sendiri, ai salju, dan air embun. Mengapa air ?? hikmah penggambaran dan pengungkapan pembersihan dan penyucian dengan ungkapan demikian karena dosa mendapakan siksa neraka yang panas, jamaknya panasnya sesuatu di padamkan dengan yang dapat mendinginkannya.

Imam al Karmani memberikan hikmah alasan tiga macam kalimat doa istiftah ini. 1) bahwa dijauhkan dari dosa itu untuk masa mendatang, 2) disucikan itu di masa sekarang inni, dan 3) dicuci untuk kesalahan dan dosa yang telah lampau.

Demikian wallahu a’lam.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: