HIDUP KITA: HARTA DAN ANAK

HIDUP KITA: HARTA DAN ANAK

 

 

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

dan ketahuilah bahwasannya hartabendamu dan anak-anakmu merupakan fitnah, dan bahwa Allah itu disisiNya ada pahala yang besar “. al Anfal: 28.

Banyak hal yang bisa kita jadikan petunjuk dalam menghadapi dan menjalani hidup di dunia ini berdasar satu ayat tersebut di atas. Perlu kita sadari bahwa kita umat Islam hidup di dunia, tidak hidup dalam angan-angan atau khayalan. Semua orang, semua makhluk hidup di dunia yang disediakan oleh Allah ini, hanya saja tentu beda bagaimana cara orang Islam dan cara orang non Islam hidup di dunia ini. Semua Allah berikan kesempatan dan hak yang sama untuk menikmati kehidupan dunia ini, hanya saja Allah ingatkan bahwa kenikmatan dunia ini sangatlah kecil saja dibanding kenikmatan di sisi Allah.

Perjalanan hidup manusia tidaklah terhenti dalam satu tahap saja, tapi sesungguhnya bertahap-tahap, selesai satu tahap dijalani maka akan berlanjut ke tahap berikutnya, misalnya manusia mengalami tahap hidup di perut ibu, kemudian lahir menjalani tumbuh berkembang menjalani hidup di dunia sampai menyelesaikan tahap hidup di dunia, kemudian masuk tahap kehidupan berikutnya yakni kehidupan di alam kubur.

Saat menjalani kehidupan di dunia ini, Allah berikan petunjuk dan pedoman hidup yakni al qur’an. Di dalamnya berisi panduan dan bimbingan bagaimana kita menjalani, mensikapi segala macam hal yang terkait dengan kehidupan di dunia ini, apa hakekat kehidupan dunia ini, apa yang harus dikerjakan, apa yang harus ditinggalkan, bagaimana seharusnya mengisi kehidupannya di dunia ini, semua Allah berikan petunjukny dalam al qur’an.

IIlmu Kehidupan.

Diantara yang paling sering Allah tekankan mengenai bagaimana mensikapi kehidupan dunia ini adalah dengan firmannya “ketahuilah” sebagaimana dalam ayat tersebut di atas dibuka dengan perintah tersebut. “ketahuilah” bukan sekedar tahu sepintas saja, kalau kita lihat akar katanya, واعلموا demikian Allah berfirman, kata ini berakar kata “ilmu”, maka bisa dipahami bahwa orang dituntut untuk memiliki ilmu, terkait dengan kehidupan di dunia ini, orang harus punya ilmu tentang makna dan arti kehidupan ini beserta seluruh fitur kehidupan yang melingkupi dirinya. Fitur ini misalnya derajat, pangkat, status social, kekayaan, jabatan, kepandaian ketrampilan, kekuatan dan kecantikan fisik, dan sebagainya.

Mengapa orang harus memiliki ilmu tentang kehidupan ini? Ya karena sebagaimana dipaparkan di atas bahwa kehidupan manusia itu bertahap-tahap, saat menapaki tahap kehidupan di dunia, ini bukan tahap akhir sehingga tidak dihabiskan dan berakhir di dunia ini, bahwa kehidupan terus berlanjut, maka manusia dalam hidup di dunia ini haruslah memahami sebagai proses bagaimana kehidupan selanjutnya lebih baik yakni kehidupan tahap di alam kubur.

Ketidakpahaman dalam memahami hakekat kehidupan, bias menjerumuskan manusia kepada kenistaan hidup, bahwa hidup adalah untuk hidup di dunia ini semaunya, seenaknya, sesukanya karena meyakini bahwa kehidupan berakhir selesai dengan mati. Berhentilah tahap lainnya, tidak ada hal lain lagi semua selesai, bubar begitu saja. Demikianlah kalau orang tidak memiliki “ilmu” yang memadai tentang dunia ini.

Jadi orang harus memiliki ilmu tentang kehidupan ini, meliputi makna hidup ini secara umum, kemudian kalau dia berprofesi sebagai pedagang maka dia juga harus tahu ilmu perdagangan bukan saja trik berdagang tetapi juga dari sisi ilmu syari’at tentang berdagang itu; mengenai halal haramnya maupun inti berdagang sendiri sebagai bagian dari kehidupannya.

Harta kita

Tentu orang hidup di dunia ini membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Memang hidup tanpa harta tentu tidak akan bias berjalan dengan baik, bahkan ibadah murni sekalipun tidak akan bias dikerjakan dengan baik manakala tidak ada harta benda yang menyertainya. Ambil contoh ibadah haji atau umroh tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit, artinya kalau orang tidak ada beaya sendiri atau barangkali ada yang membiayai tentu tidaklah dapat mengerjakannya. Ibadah puasa sekalipun, miski dituntut untuk menahan dari makan dan minum tetapi sesungguhnya sebagai penyempurna ibadah puasa, seseorang dituntut untuk bisa banyak-banyak bersedeqah atau menyediakan makanan berbuka puasa bagi orang banyak.

Hanya saja tentu ada perbedaan sikap terhadap harta benda ini, dimana seorang muslim wajib mengusahakan dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan karunia Allah ini, tetapi bukan hanya bersungguh-sungguh, namun perlu memahami bahwa harta adalah karunia Allah sehingga ketika mengusahakan dan menggunakan harta itu semuanya disesuaikan dengan panduan hidup yang sudah Allah turunkan. Sebagai contoh bagaimana sikap seorang musllim terhadap harta ini, apa yang dilakukan oleh para sahabat nabi Muhammad saw. Sahabat Abu Bakar misalnya, ketika melihat Bilal disiksa tuannya, maka serta merta Abu Bakar menggunakan hartanya untuk membebaskan Bilal, padahal Bilal bukanlah saudaranya, tetapi Abu Bakar memahami bahwa harta adalah milik Allah, dirinya adalah sebagai yang dititipi dan ia menggunakannya sebagaimana Allah memintanya. Bahkan saat Rasulullah mengumumkan membutuhkan biaya banyak untuk melawan orang-orang yang memusuhi Islam, dari orang-orang kafir, beliau serahkan semuanya kepada Rasulullah, bahkan saat ditanya oleh Nabi Muhammad, apa yang disisakan untuk keluargnya, Abu bakar mengatakan, Allah dan RasulNya cukuplah bagi dirinya dan keluarganya.

Demikianlah sukap para sahabat terhadap harta, mencari sebanyak-banyaknya semampunya dengan cara yang diajarkan oleh Islam, dan menggunakannyapun sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Islam.

Anak kita

Selain harta, sesungguhnya banyak hal yang terkait dengan kehidupan kita sebagaimana kita sebutkan di awal, dalam ayat ini disebutkan dua hal yakni : 1) harta dan 2) anak. Disebutkannya dua hal ini, dalam balaghah bias disebut sebagai menyebutkan sebagain tetapi dimaksudkan untuk semunya. Kedua hal ini, harta dan anak merupakan hal yang paling dekat dengan diri kita sebagai manusia. Kehidupan tanpa kedua hal ini rasanya tidaklah lengkap, banyak harta tetapi tidak memiliki keturunan bias saja pada akhirnya menjadikan malas, tidak bergairah hidup. Begitu pula orang hidup dengan keturunannya tetapi hartanya sedikit. Karena itulah maka anak-anak sebagai kecintaan hidup haruslah juga dipahami ilmunya tentang apa sesungguhnya anak-anak ini dalam hubungannya dengan kita. Apakah sebatas hubungan biologis dan psikologis? Ataukah di sana ada makna lain tentang anak-anak kita?

Fitnah

Keduanya oleh al qur’an disebut sebgai fitnah, sebagai ujian dan cobaan bagi manusia, apakah akan terlenakan sibuk mengurusi hal-hal tersebut sehingga mengabaikan bagaimana seharusnya mengurusi hal-hal tersebut dan mengabaikan kewajiban kita kepada Allah. Bisa jadi orang dalam posisi yang sama, saat diuji dengan kekurangan ia menggerutu sementara saat diuji dengan kelebihan, ia menjadi congak, keduanya tentu bukan yang dikehendaki Islam. Tapi secara umum sabar dan syukur adalah kunci yang silih berganti dipakai baik dalam keadaan kekurangan atau kelebihan.

Allah: tumpuan kita

Ketika kita menumpukan semuanya kepada Allah, tentulah hidup menjadi nyaman, tidak ada lagi rasa was-was jatuh miskin atau kebingungan bagaimana memanfaatkan harta sebaiknya.Dengan keyakinan demikian, maka ia meyakini apapun yang terkait dengan hidupnya, semunya diorentasikan kepada Allah tidak ada keraguan sedikitpun, karena semata mengharapkan karunia di sisi Allah yang jauh lebih besar daripada apa yang ia usahakan dari kehidupan di dunia ini. Jadi semua fitur kehidupan di dunia ini semunya bukan berhenti dan untuk menghabis-habiskan untuk dunia ini saja, tetapi dipakai untuk kebaikan disisi Allah.

Wallahu a’lam bish shawwab.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: