CHAPTER 6 : Standards and quality in education

CHAPTER 6

Standards and quality in education

(Richard Pring dalam buku PHILOSOPHY OF EDUCATION Aims, Theory, Common Sense and Research)

 

Bashir

 

Empat point pembahasan. Pertama, menguji alasan politis mengenai kegagalan standar dan tentang perlunya system pendidikan yang dapat berbuat sesuatu untuk mengatasinya, dan bagi pemerintah mengenai perlunya tindakan terhadap system pendidikan

Kedua, konsekuensinya adalah cara bagaimana meletakkan perhatian ini sehingga bisa dilakukan. Dalam bahasa lain operatio sequitur esse, sehingga mengerjakan berbagai cara menguji dan memantau standar yang dapat memberitahukan banyak hal mengenai sifat standar yang dipahami oleh para politisi, pegawai pemerintah, dewan penguji dan sebagainya.

Ketiga, kemudian mengenai kawasan teoritis dan kritis, dan menyingkapkan pemahaman mengenai standar ini dalam kontek yang lebih luas dalam berbagai macam tradisi pendidikan..argumentasi yang melandasi mengenai standar ini tidak bisa dilepaskan dari perdebatan etiknya mengenai tujuan dan control pendidikan.

Keempat, refleksi semaunya dalam cara yang lebih filosofis, mencoba memberikan klarifikasi apa yang saat ini Nampak lebih dan lebih menjadi konsep yang “secara esensi bisa dipertarungkan”.

Konteks Politik

Semenjak tahun 1977 sebenarnya sudah ada peringatan yang dibuat terkait penurunan standar pendidikan, ini bisa dilihat dari dokumen konsultasi mengenai pendidikan di sekolah (Documen Education in School), setidaknya ada dua macam penurunan standar dalam pidato Callaghan di Ruskin yakni 1) kelemahan unjuk ketrampilan dasar dan 2) banyaknya mata ajar sampiran dengan penghapusan beberapa mata pelajaran tradisional. Ketrampilan dasar ini menyangkut kemampuan anak dalam menulis, membaca, pejumlahan dan pembagian.

Dokumen konsultasi ini dihasilkan oleh pemerintahan pekerja, diaman reaksi pertama adalah untuk mengorkestrai secara baik masyarakat banyak yang Nampak dari haknya, kedua pada perhatian maslah komesial dan industry, sebagai alasan output dari system pendidikan. Karena itu ada empat kawasan perhatian kualitas ini; ketrampilan dasar, pembelajaran tradisional, disiplin dan relevansi ekonomi. Kualitas direfleksikan dalam suatu standar sebagai acuan peniliannya. “Kualitas” dan “standar” seringkali menjadi perlombaan seruan bagi para politisi dan pemerintah. Bahkan sampai menjaddikannya sebagai pengukuran kinerja “absolute” daripada sebagai “relative”.

Banyak perhatian luas mengenai standar ini, utamanya mengenai pemilahan standar berkaitan dengan pembelajran tradisonal, ktrampilan dasar, perilaku dan relevansi ekonomi. Dan standar ini diasumsikan sebagai sesuatu yang lebih tinggi . untuk menaikkan standar ini perlu dinyatakan secara eksplisit sehingga menjadi tujuan yang dinyatakan secara jelas dimana nantinya kinerja peserta didik akan dinilai lewat standar ini. Dimana dalam salah satu wilayah standar yang ada, katakan misalnya standar dasar kemampuan membaca, akan menjadi secara logis berkaitan dengan standar yang berbeda-beda dan disusun secara herarki.

Namun hal ini akan memunculkan dua pertanyaan: mengapa memilih tujuan khusus mengenai kemampuan sebagai standar pengukuran? Dan mengapa memilih satu tingkat, dalam berbagai herarki tingkat, daripada lainnya sebagai stndar yang cocok untuk suatu kelompok tertentu? Pertanyaan pertama akan menimbulkan pertanyaan lainnya: mengapa penyataan khusus mengenai pilihan tujuan dari sejumlah kemungkinan pernyataan lainnya dan siapakah yang memiliki kewenangan untuk menetapkan standar mana yang cocok diantara banyak competitor, apakah merupakan standar yang tepat?

Para mentri umumnya puas dengan standar yang dibuat oleh dewan sertifikasi umum pendidikan level A, kurang puas dengan sejumlah standar yang “diukur sampai” pada standar itu.

Monitoring standar

Bisa dilihat bahwa pemerintah telah menetapkan “standar absolut”, yang berkaitan secara herarki, dalam wilayah pendidikan tradisional, Ini menekankan lagi pada ‘ peran kapal pemimpin ‘ tentang tingkat A. Hal ini juga mengungkapkan keyakinan pada perangkat standar oleh penganugerahan peringkat darisuatu pendidikan tinggi, terlepas dari kemerosotan pada unit dari sumber daya.

Kalau tidak maka hal ini berarti sutu hal untuk menekankan hal-hal lain. Adalah merupakan hal lain untuk mengecek bahwa penelaian itu benar-memonitor apa yang sesungguhnya dalam kenyataan sebagai kasus.. standar monitoring dalam sekolah dan pendidikan tinggi memiliki beberapa bentuk perbedaan.

Pertama, bahwa hal ini sudah merupakan peran sentral dari Inspektorart Yang Mulia (Her Majesty’s Inspectorate) dan dari adviser lokal. Ini sudah terbantahkan bahwa akumulasi dari pengalaman, kesadaran dari perusahaan akan apakah pekerjaan yang bagus itu, perasaan mengenai penilaian yang sudah terbangun lewat diskusi kritis yang terus menerus dalam konteks praktik yang teramati secara luas bahwa kegiatan profesional semcam ini memberikan pandangan dari dalam dan penilaian yang bisa membuat yang lain kabur. Pengalaman luas membuat mereka memiliki perpektif pembanding. Mereka enggan untuk lebih spsesifik dalam apa yang mereka katakan mengenai suatu sekolah atau departemen, sebagian karena faktor konsekkuensi politik bilamana terlalu spesifik, sebagian lainnya karena kesulitan dalam menggambarkan proses yang begitu rumit dari pembelajaran para siswa dalam beberapa kata yang bagus.

Kedua, ada hasil-hasil dari pengjian-pengujian publik. Dengan demikian,pengujian di GCSE atau di level A sudah dibuatkan gradenya; dan grade ini dijumlahkan atau dirata-ratakan; kemudian tabel liga dimunculkan dalam Panduan Sekolah yang Bagus. Setiap tahun orang menjadi tahu satu sekolah dengan sekolah lainnya, atau secara nasional, atau regional, apakah ada banyak atau sedkit siswa yang yang mencapai grade khusus. Kemudian grade ini menjadi tes mengenai kualitas. Mereka menetapkan standar-standar, dan dengan jelas di sana ada lebih banyak orang-orang muda sekarang menembus ke standar ini. Tapi standar ini dibuat oleh para pemeriksa: pertama, pada pembuatan pertanyaannya dan kesepakatan dalam penandaan skemanya, dan kedua, dalam diskusi mengenai kasus individual atau pinggniran-bimbingan (walalupun tidak secara total ditentukan) oleh norma distribusi peringat.

Ketiga, sudah ada, dalam limabelas tahun terakhir ini, upaya oleh Penilaian Kinerja Unit untuk memberikan perbandingan longitudinal kinerja seluruh kurikulum dan, pada basis sampel yang sangat sederhana, di seluruh negeri pada usia yang berbeda. Laporan mengenai bahasa, ilmu pengetahuan dan matematika telah memberikan kita bukti terbaik yang tersedia tentang apa yang siswa dapat atau tidak dapat dilakukan. Tetapi tidak mungkin menarik dari laporan ini kesimpulan sederhana semacam ini, “standar telah menurun dalam matematika”, karena sebagaimana yang kita sampaikan bahwa tujuan-tujuan telah mengalami perubahan sepanjang waktu, dan begitu juga jadinya apa yang dipakai untuk standar yang cocok.

Keempat, sistem pendidikan telah dipantau oleh studi evaluasi berkala- bukti mendalamoleh para peneliti. Pada umumnya, bagaimanapun, kualitas sudah dipastikan melalui pemeriksaan dan melalui pengujian terhadap kinerja individu, dan pada catatan anekdot dan ‘kesan umum’ bahwa masyarakat dan pemerintah menerimanya melalui media.

Kelemahan utama dalam monitoring standar dalam cara ini adalah kekurangan kriteria tegas dan terperinci di mana nantinya penilian dilakukan. Sama halnya satu pisau dinilai baik atau jelek sesuai dengan seberapa baik bisa memotong -dan kriteria untuk memotong bagus dapat diberikan terlebih dahulu (apakah pisau itu bisa mengiris buah tomat ini tanpa melelehkan airnya?) – sehingga juga bisa jadi apapun kinerjanya dapat dinilai oleh “kesesuainnya dengan tujuan “nya. Bagaimana mungkin kamu mengetahui bahwa satu pisau adalah baik atau jelek kecuali jika kamu tahu apakah pisau ini dapat memotong dan, kemudian, pada gilirannya, mengetahui apakah yang dapat dipakai untuk mengukur sebagai memotong yang bagus itu? Bagaimana mungkin kamu tahu apakah seseorang ahli dalam matematika atau tidak kecuali jika kamu mengetahui apa itu pemahaman spesifik dari matematika dan ketrampilan yang bagus dalam pembelajaran, dan, kemudian, pada gilirannya, mengetahui apa yang orang itu harus lakukan untuk mempertunjukkan bahwa dia mempunyai pemahaman itu dan keterampilan itu? Jadi sasaran kritiknya adalah pada kelemahan pihak dewan penilai yang tidak memiliki “kriteria kinerja ‘ atau ‘ indikator kinerja” sesuai dengan kemana penilaian akan dikerjakan.

Oleh sebab itu, kualitas itu kini ‘ terjamin’ melalui penerapan dari “indikator kinerja”, dan indikator demikian ini adalah untuk menyerap sistem dari Pendidikan pada setiap tingkatnya. Masing-masing institusi harus punya indikator demikian. Satu indikator kinerja akan merupakan hasil pengujian, tapi hasil pengujian ini pada gilirannya akan muncul dari penerapan indikator kinerja ke murid.

Penjaminan mutu/kualitas membutuhkan suatu sistem-suatu mekanisme untuk menetapkan tujuan, memutuskan kriteria dimana dapat menyajikan capaian kinerja dari tujuan tersebut, dan untuk mengecek apakah kriteria itu sudah diterapkan. Sebagai sebuah mekanisme demikian adalah secara berkembang dimodelkan pada industri. Dimana dibuat pembedaan antara quality control dan quality assurance. Kualitas dapat dilihat pada terminologi tentang kesesuain dengan tujuan, tujuan itu diditegakkan secara sebagainnya oleh kostumer yang mendapatkan pelayanan tetapi utamanya oleh pemerintah sebagai penjaga dari kepentingan pelanggan. Quality control (gugus kendali mutu) merujuk pada prosedur khusus untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan itu sudah ditegakkan dan bahwa kinerja-kinerja sudah sesuai dengan spesifikasinya (misalnya sejumlah x murid sudah mencapai tingkat dalam beberpa mata pelajaran yang mengindikasikan bahwa tujuan pembelajaran telah dicapai.

Quality assurance/penjaminan mutu merujuk pada suatu mekanisme untuk memastikan bahwa teknik “gugus kendali mutu” sudah dituntaskan, membuat suatu institusi untuk mengeset tujuan yang lebih tinggi dalam pernyataan misinya, mengajarkan bagian yang lebih besar bagi para siswa untuk untuk mencapai tujuan ini, bahkan di atas semua ini untuk meningkatkan “nilai tambah” dari pengajaran- untuk mengurangi gap antara apa yang para pelajar dapat lakukan/ketahui sebelum pengajaran dan apa yang dapat mereka kerjakan setelah mendapatkan pengajaran.

Konteks yang berbeda

Akademik

Pembedaan yang jelas seringkali digambarkan antara akademik dan vokasional. Tradisi akademik mendasarkan tekananannya pada disiplin intelektual, dan pada standar tinggi dalam berpikir, berargumentasi, enquiri, eksperimen, spekulasi yang semuanya sebagai bagian dari disiplin intelektual. Beberapa bentuk disiplinintelektual ini diwarnai oelh struktur perbedaan logisnya-oleh konsep bahwa harus dikuasai jika seseorang ingin hendak berpikir dalam cara disiplin tertentu, oleh metode pasti tentang enquri (penelitian), oleh permintaan khusus mengenai bukti-buktinya, belajar untuk berpikir dalam cara disiplin tertentu adalah meraih aturan tertentu dalam prosedur, konsep, cara menguji kebenaran atau mengoreksi mengenai apa yang telah dikatakan. Belajar untuk berpikir dengan suatu cara yang telah terdisiplinkan adalah untuk memahami aturan-aturan tertentu tentang suatu prosedur, konsep, cara menguji kebenaran dan kebenaran apa yang dikatakan. Ini adalah belajar untuk merasakan dunia dari perspektif tertentu.

Cara berpikir yang sudah terdisiplinkan semacam terus berkembang sepanjang waktu. Mereka dijaga terus oleh tatanan sosial sebagiannya diakui dalam masyarakat terpelajara dan dalam struktur kekuasaan dan kewenangan yang diakui oleh sekelompok orang yang memiliki minat yang sama. Disiplin akademik dengan demikian memiliki dua bentuk dimensi yakni dimensi logis dan dimensi sosial. Kesemuanya merupakan cara mengindentifikasi dan ekplorasi masalah, lewat berpikir kritis dan lewat identifikasi problem baru, secara tetap melibatkan, menegakkan standar baru, kriteria baru mengenai kinerja yang bagus.

Pengakuan menegnai disiplin akademik yang berbeda ini sering terlihat sebagai tanda “pendidikan liberal”-kebebasan dari kebodohan, dari semata-mata perasaan bersama dan visi sempit. Kebebasan pendidikan ini telah menajdi, seperti yang dirujuk oleh Oakeshott sebagai warisan – ke dalam ide-ide, juga khayalan, ke dalam prosedur yang disepakati mengenai penyelidikan yang membebaskan seseorang dari subyektifitasnya. Hal ini menjadi inisiasi dalam perbincangan yang berlangsung antara generasi manusia – sebuah percakapan yang harus dapat mendengarkan suara aatara puisi dan filsafat, antara sejarah dan ilmu pengetahuan. Dan tugas kita sebagai guru adalah dalam dua hal berpartisipasi dalam percakapan itu dan untuk mengenalkan ngenerasi mendatangkan akan hal tersebut.

Untuk meringkas, dengan demikian, ada tradisi akademik yang dominan yang melihat yang melihat kualitas usaha intelektual (dan standar implisit kinerja yang baik atau buruk) bersandngan dalam tradisi tertentu tetang disiplin penelitian.Tradisi tersebut didefinisikan sebagiannya dalam istilah konsep yang relevan,prosedur, masalah, tes validitas. Dan konsep ini dan seterusnya dapat digunakan banyak atau sedikit efektif, banyak atau kurang benar. Memang ada standar, tetapi yang demikian ini, lewat pengenalan usaha intelektual seseorang, adalah lebih sering tidak terkatakan. Lewat pengakuan dalam penilaian yang dibuat, mereka sering tidak bisa diantisipasi. Dan pelaksanaan mengenai semua standar ini tidak mencakup formulasi eksplist semuanya.

Kejuruan.

Sebaliknya, pembelajaran kejuruan menjadi ditekankan, bukan tradisi, tetapi keterhubungan dengan pekerjaan. Hal ini menuntut pengakuan berbagai skill dan pemahaman yang dibutuhkan untuk mengerjakan pekerjaan yag khusus. Pembelajaran yang berhasil berkesesuaian dengan tujuan, pertama seseorang mengidentifikasi persyaratan tentang suatu pekerjaan dan kemudian dia mengkhususkan hal-hal “yang dapat dikerjakan”, kompetensi yang membuat seseorang dapat mengerjakan suatu pekerjaan. Kompetensi ini diungkapkan dalam penstadaran, tugas yang berkaitan dengan pekerjaan, menggantikan standar. Mereka diuji dalam “kinerja di dunia kerja”, yang itu menjadi indikator seseorang berkompeten dan dengan demikian berkesesuaian secara nyata dengan standar yang dinyatakan. Indikator kinerja tidak sama dengan standar- adalah selalu logis mungkin bahwa kinerja tertentu bisa saja itu secara kebetulan dan mungkin tidak menunjukkan penguasaan tertentu kompetensi.

Untuk menjadi kompeten (yaitu sesuai untuk tujuan tertentu seperti penataan rambut atau pengelasan) dapat dipecah menjadi berbagai unit yang pada gilirannya dapat dianalisis dalam hal berbagai elemen koheren : dengan demikian, tidak diragukan lagi penata rambut yang kompeten akan kompeten pula dalam beberapa aspek (atau ‘unit’) – mencuci rambut, memberi gaya rambut, dll. Dan masing-masing unit (penataan gaya rambut, misalnya) dapat dianalisis menjadi elemen-elemen yang saling berkaitan namun dapat membedakan misalnya, (memotong pinggiran, membentuk rambut di tengkuk, menutup kebotakan). Kompetensi dalam setiap elemen dapat diverifikasi melalui kinerja, dan kompetensi secara keseluruhan pada tingkat yang telah ditetapkan sudah dapat dipastikan. Penting untuk keseluruhan perusahaan adalah mengenai presisinya dengan yang kompetensi yang sudah dinyatakan dan indikator kinerja yang sudah dibuat secara eksplisit. Berbeda dengan standar implisit dalam studi akademik, standar kompetensi kejuruan sudah cukup eksplisit, dan kriteria kinerja sudah jelas, yang jadinya tinggal sedikit saja keraguan tentang apa yang yang dapat dilakukan oleh pelajar yang berhasil.

Tidak seperti standar akademik, untuk kejuruan bukanlah merupakan sesuatu yang misterius untuk secara perlahan diinternalisasikan, memerlukan magang bertahap, ada “kurang lebih’nya dan memiliki berbagai tingkatan. agak, bahwa seseorang itu kompeten atau tidak kompetenSebaliknya, satu baik atau tidak kompeten. Seseorang baik dapat melakukan pekerjaan sebagai yang dianalisis dalam hal berbagai kinerja atau (sebagai indikator kinerja menunjukkan) ia tidak dapat melakukannya. Penata rambut dapat membentuk rambut seperti yang diminta di tengkuk atau bisa saja dia tidak dapat mengerjakannya. Dalam hal ini, maka standar adalah mutlak.

Belajar untuk kecakapan

Ketidaksetujuan tidak sekedar antara yang ada dalam tradisi akademik ( yang melihat standar jadi secara logis sebagai pencapaian kemampuan dalam pembedaan disiplin mengenai penelitian dan mengenai perkuliahan) dan yang ada dalam standar pada “kesesuaian terhadap tujuan” (fitness for porpuses). Dimana tujuan dianalisa secara mudah sebagai persyarakatan kesesuaian dengan pekerjaan. Ada kekecewaan/kesadaran antara dua konsepsi pendidikan dan pelatihan dan dengan persepsi mengenai hubungan keduanya. Sehingga (kemudian diberikan alasan dan direfelksikan dalam beberapa inovasi pra-vokasional seperti Inisiasi Pendidikan Teknik dan Vokasi, Sertifikat Pendidikan Pra-Vokasi, diploma Dewan Pendidikan Bisnis dan Teknik) disana ada berbagai kecakapan dan ketrampilan inti atau kualitas yang bisa ditularkan dimana cukup umum dan mencakup sehigga mampu diaplikasikan dalam dalam rentang yang luas yang seringkali juga tidak bisa diramalkan situasinya. Beberapa kecakapan itu bisa lebih penting daripada keterkaitan pekerjaan dengan komptensi (untuk ini bisa saja nanti segera kadaluarsa selagi keadaan ekonomi berubah) atau kemudian konsep dan pemahaman mengenai disiplin akademik tertentu (untuk ini, tanpa penggunaan regular, akan segera dilupakan). Gerakan “pendidikan kecakapan” sudah dikritisi ( Thompson, 1984; Ashton, 1986).

Tanggapan terhadap pasar

Dalam setiap tiga kontek yang digariskan di atas, kualitas dan demikian juga standar yang implisit dalam penilian mengenai kualitas, praduga beberapa tujuan berbasis untuk penilaian – beberapa diantaranya berdasar darimana suatu kemampuan peserta didik akan dinilai Kata yang bagus “achievement” (kemampuan) sudah dimasukkan kedalamnya sebagai ide mengenai standar baik dan jelek dari kemampuan, mengenai penguasaan sesuatu yang berarti dari suatu pengembangan dan sering juga dari suatu perjuangan dari rasa seseorang yang tidak puas terhadap suatu kinerja (katakana dalam suatu permainan). Memang tidak jelas benar rasa apa yang dapat diberikan untuk suatu pencapaian, untuk pengembangan, untuk ketidakpuasaan, untuk perjuangan tanpa adanya pengakuan yang eksplisit mengenai standar yang dipakai seseorang menilai apa yang orang kerjakan atau hasilkan. Menjadi terpelajar adalah datang memberikan pengakuan terhadap standar ini dan menginternalisasikannya-menerapkannya kepada diri seseoranng. Dalam hal ini, standar berdampak suatu obyektifitas, suatu dimensi perbandingan terhadap kinerja yang dimiliki seseorang. Dan bukan sekedar sederhanya mengenai produk olahan, dari harapan seseorang, dari yang ada dalam kepentingan diri seseorang. Hal ini penting dipahami. Seorang petenis, merasa tidak puas dengan penampilannya, tidak puas karena ia telah diinternalisasi oleh aturan dan harapan mengenai bermain tenis yang baik itu tidak hanya sekedar aturan menang, namun juga aturan, jika anda suka, bisa bermain dengan elegan, penuh gaya, dengan usaha ekonomis, dengan unsur seni yang memberikan kesenangan untuk pemain dan penonton. Meskipun dia menang, dia mungkin merasa bahwa, berlawanan masih dengan harapan tersebut, dia belum merasa belum cukup seperti itu.

Tradisi akademik, kejuruan dan pra kejuruan sepakat mengenai point umum penilaian objektif ini- dan dengan demikian mengenai onjectifitas standar (dalam hal ini).

Ada, bagaimanapun, tradisi sainganyang berusaha untuk menempatkan standar dalam konteks yang sangat berbeda – konteks yang mencakup relativisme sebagai satu-satunya posisi yang rasional untuk mengadopsi mengenai hal-hal yang bernilai. Dengan demikian, akan ada landasannya, bahwa tidak ada dasar rasional untuk mengatakan bahwa satu area pembelajaranlebih berharga daripada yang lain, atau bahwa satu kegiatan yang unggul dari yang lain, atau bahwa salah satu bentuk pemahaman yang lebih berharga daripada yang lain. Dalam hal ini, tidak ada standar, secara objektif, yang harus dijaga oleh para ahli dari standar tersebut, oleh mereka yang berwenang dalam dunia pendidikan. Dalam cara yang aneh dan kontradiktif, yang tampaknya sebagian posisi pemerintah ini, meskipun kekhawatiran sering terjadi untuk standar ini. Mari saya jelaskan.

Pemerintah yang mengklaim bahwa pengembangan standar adalah suatu prioritas adalah juga suatu pemerintahan yang menyatakan kekuatan superioritas pasar sebagai yang menentukan bagaiaman seharsunya suatu standar itu. Kecuriagaan umum tentang profesional (dalam kerja sosial dan dalam hukum sebagaimana dalam pengajaran dan dalam pendidikan tinggi) adalah bahwa seseorang dan sebagaimana kecuriagaan mengenai “kewenangan” dalam area kepedualian profesiona seperti dan dalam area pembelajaran tradisonal. Dalam pandangan semacam ini maka penjaga standar sebenarnya alah penjaga suatu kepentingan pribadi.

Untuk menyimpulkan bagian ini, saya telah menempatkan perdebatan tentang standar, dan dengan demikian pada kualitas pendidikan, dalam konteks tradisi yang berbeda mengenai tujuan dan nilai-nilai pendidikan dan pelatihan. Setiap tradisi melihat kualitas (dan dengan demikian standar) dengan cara yang sangat berbeda, yang mempengaruhi bagaimana kita memahami ajaran dan kerangka kelembagaan di mana mengajar harus dilakukan.

Tradisi akademik memahami standar sebagai tindakan, tentu saja, mengenai kebenaran, ketepatan, gaya, validitas, dalam disiplin penelitian yang berbeda.Tapi pengukuran-pengukuran ini, lebih sering daripada tidak, adalah hanya implisit dalam penelitian ini, tergoda keluar, bukan oleh para politisi dan pegawai negeri sipil, tetapi oleh para filsuf ilmu pengetahuan atau sejarah karena mereka merefleksikan proses ilmu pengetahuan dan proses berpikir secara historis.

Tradisi kejuruan, yang bila dibatasi dengan benar, bisa duduk gembira di samping tradisi akademik, hal ini berkaitan dengan ‘kesesuaian untuk tujuan’ di mana tujuan tersebut jelas dan spesifik. Kesemua ini diturunkan dari analisis tugas ekonomi. Standar menyangkut kompetensi yang terbukti merupakan sarana untuk mencapai tujuan itu.

Konsep standar

Saya tidak dapat mengatakan secara pasti apa itu standar atau apa yang saya maksud dengan standar, karena penggunaan makna suatu kata secara logis berkhubungan dengan penggunaannya dalam suatu bahasa atau dalam suatu bidang diskursus. Dan pentingnya menempatkan kata “standar” dalam berbagai tradisi bisa memperlihatkan bahwa berbagai kritik tentang standar harus dipahami berbagai perbedaan dan luasnya diskursus termasuk dominannya metapor dari setiapnya.

Namun begitu ada beberapa logikabtertentu dari kata dan beberapa pertimvangan filosofis tertentu mengenai tindakan manusia, tang dapat membantu kita memutuskan perbedaan tradisi-tradisi itu atau paling tidak batasan dari masing-masing.

Pertama, ada sesuatu yang ganjil mengenai standar yang menaik atau menurun. Performan /kemampuan peserta didik sebagaimana diukur oleh standar, bisa menaik dan bisa menurun, tetapi tidak demikian dengan standar itu sendiri. Jika standar itu telah naik atau turun, bahwa kenaikan atau menurunnya itu dapat hanya dinilai sebagai lawan/berhadapan dengan beda tipe standarnya. Yaitu standar-standar itu dengan jalan mana seseorang menilai satu standar dari berbagai standar, dan dus seseorang masuk pada surut yang tak terbatas.

Kedua, bagaimanapun seseorang bisa saja melihat “menurunnya standar” dalam arti bahwa kemampuan tidak mencapai setinggi standar sampai dapat meluas pada suatu kalinya, atau kemampuan itu bisa mencapai standar yang berbeda dari apa yang pernah diraihnya. Tingkat standar sebagai dalam kurikulum nasional, harus bermakna sesuatu dalam jenis ini.Sebagai contoh, seseorang dapat melihat bagaimana bagian yang panjang membuat dugaan awal mengenai cakupan kegiatan aritmatika, sedangkan ada beberapa kemajuan logika dari penjumlahan dan pembagian sederhana menuju operasi matematika yang komplek. Setiap tingkatnya menunjukkan suatu perbedaan standar, tetapi standar itu secara logis berkaitan sejauh ini sebagai keberhasilan dalam satu duagaan awal seseorang berhasil dalam orang lain. Dengan cara ini maka seseorang memiliki standar yang terkait secara deferensiasi dan herarki.

Ketiga, bagaimanapun standar adalah suatu benchmark, suatu kriteria diaman seseorang menilai atau mengevaluasi kualitas suatu kegiatan atau proses tertentu. Dan kualitas itu harus tergantung pada identifikasi dan tujuan dari suatu kegiatan- pada suatu nilai yang tertera di dalamnya. Gamblangnya, akan ada banyak standar karena ada banyak kegiatan, akan ada banyak kegiatan karena ada banyak keinginan dan tujuan yang mendorong orang. Ada standar khas membersihkan rumah, lukisan pemandangan alam, menulis soneta Shakespeare, menghargai dampak sains terhadap lingkungan. Standar tidaklah naik atau turun, tetapi hanya berubah. Pertimbangan tersebut membuat omong kosong dari agregat tanda dimana kita berbicara tentang standar dalam matematika atau standar moral. Dan itu membuatnya secara logis tidak mungkin untuk membuat perbandingan yang masuk akal dari standar seluruh generasi – atau, memang, lintas budaya kecuali budaya-budaya dan generasi-generasi berbagi seperangkat nilai-nilai yang berkaitan dengan kegiatan itu.

 

Kesimpulan

Kesulitan membicarakan standar adalah karena konsepnya seperti ”kebenaran”, atau ‘kebaikan”atau kecantikan”, karena secara logis membutuhkan dan hampir hampir tidak mungkin mendefinisikanya tanpa mempertimbangkan penggaliannya secara filosofis. Hal itu bisa mencemaskan bagi yang memiliki konsep sempit mengenai rasionalisme dimana mereka meyakini bahwa semua konsep dapat didefinisikan secara operasional dan bisa digunakan secara jelas dan tidak ambigu. Pemerintah sekalipun yang mencoba mengontrol outcome-dengan cara membirokrasikan pendidikan dan mengubahnya menjadi sesuatu hal lain lagi, juga mengubah guru menjadi penyampai kurikulum-tidak diragukan lagi bila sudah tertarik oleh godaan pandangan tersebut. Mereka jelas mengabaikan kompleksitas pemahamannya dan memperlakukan sebagai pemikiran yang bisa diturunkan menjadi pengertian sederhana.

Bahkan hal demikian akan dapat mengaburkan mereka dari tradisi-tradisi sosial yang lebih luas dan tradisi pendidikan dimana mereka dapat memiliki arti semua ini. Disini sekedar ditekankan pada sedikit perbedaan tradisi. Mengabaikan perbedaan-perbedaan ini dapat mendistorsi suatu hal dari seorang guru dimana srcara tradisional,sebut saja, sebagai mengenalkan generasi mendatang pada berbagai ide dan ketrampilan serta keyakinan yang sudah selamat dari pengawasan kritis. Dan untuk disadari mengenai untuk apa pentingnya, jika gagal menyadari, maka ada upaya-upaya untuk merubah institusi pendidikan keluar dari semua pengakuan itu.

Demgan demikian, dominasi oleh berbagai pandangan sempit mengenai pemahaman terhadap standar sebagi “sesuai dengan tujuan”, ini dilandasi oleh alasan bahwa pendidikan harus diperoleh setelah 16 harus diturunkan dalam lingkup kompetensi dengan berbagaintingkatnya. (Lima tingkat berdasar NVQ), Yakni mencapai target kurikulum nasional, ketrampilan utama, BTECs, tingkat A, dan sebagainya. Bahkan unit-unit pengajaran seperti PT dan universitas harus menjadi Training Acces Points ( titik masuk pelatihan), dimana lewat penilaian reguler dari pengetahuan sebelumnya (assesment of prior learning), rencana kerja seseorang harus dipetakan yang dapat membuat pengajaran sesuai dengan materi dan durasi yang sudah didefinisikan sebelumnya. Untuk ruang apa universitas kalau demikian ini, yang sudah didominasi oleh pusat-pusat penilain yang bebas yang mengarahkan pada titik pelatihan, yang hanya menampilkan sejumlah indikator kompetensi dan akumulasi kredit, oleh program yang sudah terindividualkan diarahkan untuk sejumlah prestasi, sebut saja dalam dunia nyata di tempat kerja. Maka kuliah seperti baju,yang dipotong dan digunting agar sesuai. Kalau tidak demikain maka hanya akan ada sedikit tempat bagi kuliah sebagaimana yang biasa dilihat.

Bahkan semua ini terletak pada kegagalan dalam memahami bahwa ada visi pendidikan yang lebih luas, yang tidak dapat dianalisa lanjut dalam cara ini, dan dimana dipakainya konsep standar yang jelas berbeda, bahwa satunya tidak dapat menyingkirkan dari mengenai pemahakan aktivitas manusia.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: