membangun peradaban dunia bersama perpustakaan maya

Perpustakaan

Isinya buku tentu saja, dan itu karya pemikiran umat manusia, tetapi kemudian jaman kapitalis, anugerah pemikiran itu dipatenkan oleh penerbit buku. Sehingga pemikiran pemikiran orang orang hebat itu tentu saja akhirnya hanya bisa dimiliki oleh orang yag punya duit. Bagiaman tidak kalau untuk membeli bukunya saja yang memuat hasil pemikiran tadi harganya mancapai ratusan bahkan jutaan perbuku? Belum lagi misalnyabtidak membeli bukunya tetapi mendapatkan langsung dengan cara belajar di mana si pengarang tadi mengajar, tentu juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit termasuk harus bersaing untuk bisa masuk d ruang kelas sang pemikir tersebut.

ambil contoh, satu buku saja tentang pendidikan mengenai desain pengajaran atau instructional design. Beberapa buku tentang DP/ID yang bagus tentu ditulis dalam bahasa asing krn dikembangkan oleh mereka. Berapa ruapiah yang harus dibayarkan untuk mendapatakn bukunya? Mahal tentu ukuran kantong mahasiswa kita, rata rata demikian. Kl harus mendapatkan langsung ilmunya tentubhrus keluar negri, brapa banyak lagi yag harus dikeluarkan biayanya? Mungkin akan dikatakan memang mahal untuk meraih semua itu. Yaa kalau berpikirnya ala kapitalis memang bgtu, dengan demikian akan selamnya kira kira yang bodoh dilarang jadi pintar….karena memang tidak ada akses untuk pintar, maka yang ada kapitalisasi pendidikan. Padahal kalau mau merenungkan bukankah ilmu anugerah dari yang maha kuasa yangbsemestinya disebarakan dengan cara yang semurah dan seluas mungkin, hanya karane kapitalisme global maka kepeintaran hanya bisa dinikmati sekelompok mereka yg punya uang.

namun kesadaran manusia, dijaman digital sekarang ini mulai tumbuh, paling tidak muncul wikipedia yang nirlaba sehingga semua orng bisa mengakses pengetahuan. Termasuk barangkali orang orangbyang gemar ,enulis dalam blog yang mmberikan ilmunya semampunya sehingg bisa dibaca dikutip orang lain.

rasanya harus berterima kasih kepada sumber sumber yang menyediakan akses buku buku bermutu secara gratis, misalnya en.bookfi.org, en.booksee.org, gen.lib.rus.ec dan sebagainya, barangkali itu tiga dari sekian banyak peepustakaan digital yang terbesar. Andai bisa lebih besar lagi dan gratis maka peradaban dunia akan bisa dibangun lebih cepat. Namun barangkali dari sisi kapitalisme dianggap merugikan. Maka mereka bergabung menutup misalnya yang dulu konon pernah ada, library.nu atau sejinisnya yang dahulu pernah ada

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: