LAFADZ YANG TIDAK JELAS MAKSUDNYA DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMAHAMAN HUKUM

LAFADZ YANG TIDAK JELAS MAKSUDNYA DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMAHAMAN HUKUM
Pendahuluan
Istinbath hukum harus memperhatikan aspek bahasa dari teks atau nash hukum, dalam hal ini al qur’an dan as sunnah. Kalau diperhatikan secara bahasa ada teks yang dilihat dari jelas dan tidaknya dari maksud yang dikehendaki terbagi dua, 1) teks yang memiliki makna jelas pada apa yang dimaksud, dan 2) teks yang sesungguhnya memiliki makna yang jelas, tetapi membutuhkan penjelasan lebih lanjut untuk penerapannya pada kasus-perkasus hukum. yang pertama disebut lafadz wadhih dan yang kedua disebut lafadz ghairu wadhih.
sekedar ilustrasi, hal ini juga berlaku dalam peraturan atau undang-undang negara, dimana ada ayat-ayat atau pasal yang sudah jelas maksud dan maknanya sehingga bisa langsung dikenakan pada perbuatan hukum, tetapi ada juga ayat atau pasal yang sesungguhnya sudah bisa dipahami maksudnya tetapi masih membutuhkan penjelasan tersendiri, sehingga dibuatkan lampiran penjelasan dari ayat per ayat atau pasal perpasal tadi sehingga diharapkan tidak ada lagi penafsiran ganda dan langsung bisa diterapkan untuk mengekseskusi kasus hukum.
diskusi ini lebih pada yang termasuk dalam kelompok kedua yakni lafadz ghairu wadhih yang mencakup empat macam 1) Khafi, 2) Mujmal, 3) Musyakkal dan 4) Mutasyabih, pada kesempatan ini akan diekplorasi lebih lanjut mengenai keempat macam lafadz yang masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut ini beserta contohnya dari al qur’an atau al hadits.
Tentu ini berimplikasi pada pemahaman hukum semacam beragam penafsiran untuk pasal karet dalam suatu undang-undang, juga hasil ketetapan hukumnya bisa bebas atau terjerat hukum, dan implikasi pada pengembangan hukum bila dihadapkan pada perkembangan teknologi misalnya.
Penjelasan singkat istilah dan permasalahannya dalam istinbath hukum.
1. Khafi: adalah suatu lafadz yang dari sisi bentuk katanya sudah bisa dipahami, tetapi dari sisi cakupan maknanya masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut, ini disebabkan karena berkaitan dengan faktor luar ketika hendak dieksekusikan atau diterapkan dalam kasus-kasus hukum yang memiliki cakupan makna lafadz tadi tetapi secara eksplisit tidak ternamakan dalam lafadz itu.
Abu Zahrah memberikan penjelasan sebagai berikut:
ما خفي معناه في بعض مدلولاته لعارض غير الصيغة بل في تطبيقه على مدلولاته
Abdul Wahhab Khalaf memberikan definisi Khafi yang lebih mudah dicerna:
اللفظ الذي يدل معناه دلالة ظاهرة، ولكن في انطباق معناه على بعض الأفراد نوع غموض وخفاء تحتاج إزالته إلى نظر وتأمل، فيعتبر اللفظ خفياً بالنسبة إلى البعض من الأفراد
Contoh lafadz khafi:
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا .. المائدة: 38
Lafadz as sariq (pencuri) adalah jelas pengertiannya dan maksudnya tetapi ketika diterapkan pada kasus pencoptetan, penjambretan, pencurian sepeda motor di tempat parkir atau sandal di masjid saat pemiliknya lengah, apakah kasus tersebut termasuk kategori pencuri? ini membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Contoh lain adalah riba:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ.. البقرة: 275
Lafadz riba ini secara hukum jelas maksudnya, tetapi apakah bisa untuk mencakupkan maknanya pada bunga bank dan tambahan dalam simpan pinjam koperasi?. Dan kenyataan, membuktikan bahwa tidak bisa serta merta menyatakan keduanya sebagai riba, namun untuk menyatakan sebagai riba atau tidak masih membutuhkan kajian, lihat misalnya pada hasil keputusan Ijtima ulama komisi fatwa se-Indonesia Majelis Ulama Indonesia 16 desember 2003 tentang fatwa bunga dan fatwa MUI nomor 1 tahuun 2004 tentang Bunga (interest/fa’idah).
Contoh lain adalah sabda Rasulullah saw:
لَا يَرِثُ الْقَاتِلُ مِنْ الْمَقْتُولِ شَيْئًا. رواه الدارمي: 2951 ، 2957 .أبو دود: 3955 ، أحمد : 328
Pembunuh (al Qatil) tidak bisa mewarisi, lafadz pembunuh tentu jelas maksudnya yakni pembunuhan sengaja, tetapi bila diterapkan pada kasus perkasus tentu membutuhkan penelitian lebih lanjut, karena ada pembunuhan tersalah/khatha’, pembunuhan karena sebagai sebab terjadi pembunuhan, pembunuhan bersama atau merencanakan atau membantu pembunuhan. Untuk diskusi lebih lanjut bisa dilihat di kitab Ushul Fiqh karya Muhammad Abu Zahrah
Untuk memahami yang khafi sehingga menjadi jelas maksudnya maka seseorang perlu belajar lebih lanjut, penelitian, kajian, mendalami filosofi atau maksud hukum secara umum maupun secara khusus
2. Musykil
adalah lafadz yang tidak bisa dipahami maksudnya berdasar lafadz itu sendiri karena lafadz itu memiliki banyak makna sehingga untuk menentukan maksudnya memerlukan penjelasan dari luar lafadz itu sendiri, mana maksud yang dipilih dari sekian makna, saat dalam konteks pemakaian lafadz itu.
Abdul Wahhab Khalaf memberikan pengertian musykil sebagai berikut:
اللفظ الذي لا يدل بصيغته على المراد منه، بل لابد من قرينة خارجية تبين ما يراد منه
Kesamaran makna musykil lebih pada persoalan lafadz itu sendiri yang memiliki makna ganda atau majemuk, sedangkan kesamaran makna khafi lebih pada cakupan makna lafadz ketika penerapannya pada kasus per kasus
Termasuk musykil adalah kata musytarak yakni memiliki lebih dari satu arti, kata ‘ain dalam bahasa Arab dapat bermakna : mata untuk melihat, mata air, pokok perkara, spionase,matahari, emas. Contoh musykil dalam keseharian dalam bahasa Indonesia adalah kata rapat ( pertemuan atau tidak ada celah), bisa (racun atau dapat),mangkat (mati atau berangkat).
Bahkan lafadz musykil tidak terbatas pada arti bahasa yang dimilikinya, tetapi juga bila arti istilah ketika dipergunakan untuk menyebut suatu aktifitas tertentu. Misalnya lafadz sujud secara bahasa memiliki arti tersendiri yakni khudhu’ (tunduk/patuh), tetapi juga dipergunakan untuk istilah tertentu yakni gerakan dalam shalat, tetapi musytarak juga dimasukkan dalam pembahasan mujmal (lihat selanjutnya).
Mengingat lafadz musykil seperti diuraikan di atas maka untuk menentukan maknanya membutuhkan kajian lebih lanjut juga harus melihat konteks luarnya, bukan dari kata itu sendiri. Bila terkait dengan nash-nash syari’at tentu harus melihat nash-nash lain yang terkait dengannya.
Misalnya untuk menentukan arti lafadz quru’ yang sering dijadikan contoh sebagai lafadz musytarak dalam firman Allah berikut:
وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوَءٍ : البقرة: 228
quru dalam ayat di atas memiliki dua makna: haid dan suci, tetapi tidak bisa serta merta menentukan arti quru sebagi haid atau suci, tanpa melihat nash-nash lainnya. maka disinilah urgensinya mengenal permasalahan seputar persoalan kebahasaan dalam hal ini menyangkut kejelasan maksud suatu lafadz pada maksud yang dikehendakinya dari al qur’an dan assunnah serta implikasinya.
Imam Syafi’i misalnya memilih arti quru sebagai suci, sementara imam Abu Hanifah mengartikan haid. Setiap pendapat ini dengan alasannya sendiri-sendiri. Untuk mengetahui alasannya bisa ditelusur lebih lanjut di kitab-kitab fiqih atau ushul fiqih.
Contoh lain ada yang menganggap ayat berikut sebagai mujmal.
وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ..البقرة: 240
ayat ini dipahami sebagai iddah wanita cerai mati adalah satu tahun, sementara ayat lain
وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا.. البقرة: 234
ayat ini menyatakan iddah cerai mati adalah empat bulan sepuluh hari, karenanya dua ayat tadi dianggap mujmal.
Tetapi bila diperhatikan ayat pertama terkait dengan hak wanita yang diterima untuk mendapatkan tempat tinggal misalnya, selama satu tahun, jadi bukan terkait dengan iddah. ayat kedua secara langsung menyatakan iddah. jadi iddahnya empat bulan sepuluh hari, dan hak mendapatkan jaminan mata’ ( sandang pangan papan) dari selama satu tahun.
contoh lain, lafadz annaa dalam ayat:
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ ..البقرة:223
karena lafadz anna bisa bermakna aina (dari mana) dan kaifa (bagaimana), sehingga harus dipastikan mana maksud yang dipilih, karena tentu berimplikasi pada istinbath hukum.
Annaa dalam makna aina seperti tercantum dalam :
قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا…آل عمران: 23
dan annaa dalam arti kaifa seperti dalam :
قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا . مريم : 20
contoh lain, lafadz biyadihi uqdatun nikah
إِلا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ ..البقرة: 237
lafadz ini mujmal karena musytarak, makna pertama adalah suami, kedua adalah wali. hal ini bisa dilihat dalam terjemahan al qur’an dari Kementrian Agama RI.
3. Mujmal
Abdul Wahhab Khallaf menjelaskan mujmal sebagai:
اللفظ الذي لا يدل بصيغته على المراد منه، ولا يوجد قرائن لفظية أو حالية تبينه، فسبب الخفاء فيه لفظي لا عارض
Sehingga lafadz mujmal tidak bisa dipahami rinciannya dengan semata mengacu pada makna lafadz itu sendiri. juga tidak bisa dipahami semata berdasar pemikiran mendalam/ijtihad dalam memberikan penafsiranya. Tetapi untuk menjelaskan maksud mujmal membutuhkan penjelasan tersendiri dari sumbernya. Demikian Wahbah Azzuhaili :
المجمل هو اللفظ الذي خفي المراد منه بنفس اللفظ خفاء لا يدرك إلا ببيان من المتكلم به…و هو ضد المفسر.
Mujmal mencakup tiga lafadz pertama: yang secara bahasa memiliki makna tersendiri, kemudian lafadz itu dipergunakan untuk pengertian istilah tertentu, seperti kata shalat, haji, wudlu dan shiyam. Penggunaan dalam kalimat bisa memilliki makna berlainan.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. الأحزاب: 56
وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ..التوبة: 103
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ. البقرة: 43
Khusus ayat terakhir ini adalah mujmal karena tidak mungkin bisa memahami maksud lafadz shalat semata dari arti bahasanya. Namun untuk bisa memahaminya memerlukan penjelasan tersendiri yakni dari tatacara Rasulullah saw melakukan shalat. Sebagaimana disabdakan Rasulullah:
صلوا كما رأيتموني أصلي.
Contoh lainnya, firman Allah:
و آتوا حقه يوم حصاده [الأنعام: 141]،
Contoh sabda Rasulullah:
((أُمرتُ أن أقاتِلَ النَّاسً حتَّى يشهدُوا أن لا إلـه إلاَّ الله، وأنَّ محمَّدًا رسول الله، ويُقيمُوا الصَّلاةَ، ويُؤتُوا الزَّكاةَ، فإذا فعلُوا عصمُوا منِّي دِماءَهُمْ وأموالَهُم إلاَّ بحقِّهَا وحسابُهُم على الله)) [متفقٌ عليه عن ابنِ عُمرَ
dua contoh di atas mujmal, tidak bisa dimengerti maksudnya karena belum diketahui kadar ukurannya, atau belum dimengerti jenisnya
kedua: lafadz musytarak contohnya kata quru seperti dalam pembahasan sebelumnya dan ketiga: lafadz gharib/asing yang maknanya masih tertutup, misalnya al qari’ah dan halu’a yang dijelaskan langsung oleh al qur’an dalam ayat selanjutnya.
الْقَارِعَةُ (1) مَا الْقَارِعَةُ (2) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ (3) يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ…القارعة: 1- 4 .
إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا # إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا # وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا. المعارج: 19-21

Sedangkan syekh Utsaimin menjelaskan mujmal sebagai:
ما يتوقف فهم المراد منه على غيره، إما في تعيينه أو بيان صفته أو مقداره
Mujmal di sini mencakup tiga kelompok pertama: kata musytarak,seperti dalam contoh kata quru’ di atas. Kedua: kata yang membutuhkan penjelasan tatacara, sebagaimana ayat perintah shalat dalam contoh di atas, Dan ketiga: kata yang membutuhkan penjelasan ukurannya, contohnya.
وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ. البقرة: 43
Lafadz zakat adalah mujmal karena tidak bisa dipahami maksudnya, yakni ukurannya tidak diketahui, sehingga Rasulullah misalnya menjelaskan dengan sabdanya:
قَالَ فِيمَا سَقَتْ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْرِ. رواه البخاري: 1388
“Pada tanaman yang diairi dengan air hujan, mata air, atau air tanah maka zakatnya sepersepuluh, adapun yang diairi dengan menggunakan tenaga maka zakatnya seperduapuluh”
Hampir semua ayat berkaitan dengan hukum taklifi bersifat mujmal. dan assunnah datang memberikan kejelasan maksdunya, maka di sinilah pentingnya as sunnah dalam kaitannya dengan al qur’an.

4. Mutasyabih
Lafadz yang maknanya benar-benar tersembunyi dan tidak bisa dipahami oleh para ulama sekalipun.bahkan tidak ada penafsiran yang bersifat qoth’i atau dhonni dari al qur’an sendiri atau assunnah, maka konsekuensi adalah menyerahkan pengertiannya kepada Allah dan menyadari kelemahan serta ketidakmampuan akal untuk memahaminya.
Abdullah bin Yusuf al Judai’ memberikan pengertian singkat sebagai berikut;
هوَ اللَّفظُ الَّذي لا تدلُّ صيغَتُهُ على المُرادِ منهُ، وليسَ ثمَّةَ قرائِنُ تُبيِّنُه، واستأثرَ الله عزَّوجلَّ بعلمِ حقيقتِهِ
Memang al qur’an sendiri menyatakan adanya lafadz mutasyabih dan Allah sendiri yang mengetahuinya. dan manusia dengan akal budinya sekedar memberikan penjelasan yang dirasa memberikan kelogisan makna bagi akalnya saja.
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ. آل عمران: 7
Ibn Hazm sebagaimana dikutip oleh Abu Zahrah menyatakan bahwa lafadz mutasyabih meliputi dua kelompok saja. Pertama: potongan huruf-huruf dalam al qur’an dan kedua: sumpah Allah dalam al Qur’an. misalnya :
{ الم }[البقرة:1]، { ص }[ص:1]، {حم}[غافر:1]،
لا أقسم بيوم القيامة
و الشمس و الضحاها..
tetapi sebagian ulama menambahkan, ketiga : lafadz atau ayat berkaitan dengan dzat Allah yang serupa dengan makhluk. Misalnya:
{ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ }[الفتح:10]، وقوله:{ وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا }[هود:37]
Secara garis besar Abdul Wahhab Khalaf menyebutkan dua kelompok yang berbeda dalam memahami ayat mutasyabih. kelompok pertama berpandangan bahwa ayat mutasyabih tidak bisa dipahami berdasar lafadznya itu sendiri, dan tidak ada penjelasannya oleh Allah dan hanya Allah yang mengetahui maksudnya. kata alif lam min tidak bisa dipahami maknanya, yadullah tidak bisa dipahami tangan allah sebagaimana tangan manusia. maka kelompok ini membiarkan lafadz itu apa adanya tanpa memberikan komentar atau penjelasannya, terserah Allah mengenai maksudnya. Kelompok kedua mengatakan secara lahiriyah memang ayat /lafadz mutasyabih mustahil dipahami maksudnya, tetapi tidak menutup kemungkinan memberikan penjelasan kandungan maknanya berdasar makna majaz atau kiasan. hal ini bukan berarti tindakan menyerupakan Allah dengan makhluknya.
يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ }[الفتح:10]،
Maknanya adalah kekuasaan Allah diatas kekuasaan mereka
{ وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا }[هود:37]،
maknanya adalah agar membuat bahtera dengan pengawasan, bimbingan kami dan pengetahuan kami.
perbedaan ini disebabkan pemahaman ayat mutasyabih,
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا } [آل عمران:7]
bila dibaca dan berhenti:
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ..
maka hanya Allah yang mengerti maksudnya, maka pengertiannya diserahkan sepenuhnya kepada Allah dan tidak ada hak bagi akal untuk menjelaskannya dalam bentuk apapun, tetapi bila dibaca dan berhenti:
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ..
maka ada kemungkinan bagi orang-orang yang berilmu boleh memahaminya miski sebatas pada kandungan makna lafadz itu itu dengan tetap meyakini dan menyepakati dengan kelompok pertama bahwa maksud sesungguhya hanya Allah yang mengetahui dan mustahil Allah serupa dengan makhlukNya.
Untuk kepentingan al qur’an sebagai petunjuk atau memberikan inspirasi bagi manusia, bisa jadi pandangan kedua bisa dikembangkan dengan tetap berpegang pada prinsip bahwa mutasyabih hanya Allah yang mengetahui maknanya dan tetap tidak menyerupakan Allah dengan makhluknya. Misalnya manusia perlu bekerja keras, teliti, untuk mengurusi apa yang menjadi tugasnya berdasar inspirasi dari ayat
لا تأخذه سنة و لا نوم
Tidak lena dan tidak tidur bagi Allah tentu beda dengan manusia, demkian ini Allah menyatakan diriNya dalam mengurusi ciptaanNya.
Juga ayat-ayat sumpah Allah dengan makhluknya, bisa jadi indikasi rahasia yang harus dipecahkan manusia terkait dengan ciptaan tersebut yang bisa jadi bermanfaat bagi kehidupan manusia tetapi Allah tidak menyebutkan secara jelas apa manfaatnya, tetapi diserahkan pada akal budi manusia untuk menyingkapnya.
Kesimpulan
Sangat dimungkinkan adanya lafadz yang masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut mengenai maksudnya, miskipun secara dhahir sepintas bisa dipahami maknanya. Lafadz ini secara berurutan berdasar tingkat ketidakjelasan maksudnya adalah Khafi, Musykil, Mujmal dan Mutasyabih.
Untuk memahaminya secara umum memerlukan kajian lebih lanjut yang melibatkan penentuan makna berdasarkan nash-nash al qur’an dan as sunnah yang memberikan penjelasan lebih lanjut dari lafadz yang tidak jelas maksudnya tadi, karena sesungguhnya al qur’an dan assunnah baik berdiri sendiri atau bersama, saling menjelaskan maknanya satu sama lain.
Namun demikian tetap memberikan Implikasi dalam perbedaan pemahaman sehingga terjadi perbedaan istinbath hukum

Maraji’
1. Terjemahan al Qur’an Karim Kementrian Agama RI
2. Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul fiqhi,Maktabah ad da’wah al islamiyah, 1968
3. Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqih, darul Fikr al Arabi
4. Syeikh Utsaimin, al ushul min ilmi ushul
5. Abdullah bin Yusuf al Judai’, Taisir ilmu ushul fiqih
6. Wahbah Azzuhaili, al wajiz fi ushul fiqih, darul fikr, 1999
7. Muhammad al Khudhori Beik, Ushul Fiqih, Darul Fikr Beirut, 1988
8. Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975, Erlangga, Jakarta, 2011

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: