KONTROVERSI KEPUTUSAN MK MENYANGKUT PERKAWINAN

KONTROVERSI KEPUTUSAN MK MENYANGKUT PERKAWINAN
Akhir-akhir ini MK menuai protes atau semacamnya dari lembaga Islam atau sejenisnya, terkait keputusannya yang dipandang kontroversial, miiski bukan sekali dua kali ini keputusan MK menimbulkan protes, tentu dalam kasus yang berbeda.
Kasus yang menimulkan kontroversi ini adalah judicial review undang-undang perkawinan mengenai makna perkawinan dalam undang-undang tersebut.
Masalahnya dalam putusan MK menimbulkan pemahaman bahwa anak di luar nikah memiliki hubungan keperdataan dengan bapak biologisnya, sehingga miskipun tidak dalam hasil akibat hubungan pernikahan seorang anak selain mendapatkan pengakuan sebagai anak dari bapak biologisnya juga mendapatkan hak-hak lainnya. Sebagai contoh mudah, anak hasil diluar pernikahan memiliki status nasab ke bapak bilogisnya bukan kepada ibunya. Tentu masalah-masalah keperdataan lainnya.
Padahal menurut Islam anak diluar pernikahan hanya bisa dinasabkan kepada ibunya dan tidak memiliki hubungan katakanlah, keperdataan dengan bapak biologisnya. Dengan demikian keputusan MK ini dianggap bertentangan dengan syari’at Islam, tentu bila dilihat dari sudut pandang Islam.
Yang menjadi masalah di sini, diantaranya, adalah keputusan MK bertentangan dengan syari’at Islam dalam masalah status anak diluar pernikahan hubungannya dengan bapak biologisnya.
MK dalam struktur kenegaraan adalah sebagaimana badan-badan peradilan atau lembaga kenegaraan lainnya yang berlandasakan Pancasila dan undang-undang positif yang berlaku di Indonesia. Tetapi tentu secara langsung tidak mengacu kepada al qur’an dan al hadits dalam menilik permasalahan hukum yang diajukan kepadanya. Ini berbeda dengan MUI misalnya atau lembaga fatwa keagamaan lainnya yang tentu dalam memutuskan perkara landasan utamanya adalah al Qur’an dan As sunnah.
Pembahasan: Masalah hubungan (hukum) Islam dengan (hukum) Negara
Beranjak dari pemikiran di atas, tentu akan menghasilkan hasil keputusan hukum yang berbeda, miskipun masalah yang diajukan adalah sama. MK misalnya, bisa saja secara individu dan secara tidak langsung merujuk pada al qur’an dan as sunnah juga para ulama sehingga menghasilkan keputusan yang sesuai dengan syari’at Islam, tetapi tentu ini sangat personal yang dalam kontek bernegara sulit untuk dijadikan pedoman bagi individu-individu lainnya.
Terlebih, MK dalam hal ini mewakili negara dengan warga negara yang beragam agama, suku dan norma hukumnya, yang bisa jadi berbeda pijakannya antara satu warga negara dengan lainnya. Hanya saja dalam kasus MK ini yang mengajukan keberatan adalah warga negara muslim.
Tulisan ini sekedar mencoba melihat posisi MK sebagai lembaga negara yang dalam beraktifitas tentu terikat dengan aturannya sendiri yang bisa jadi hasil keputusannya bertentangan dengan katakanlah ajaran Islam. Sebenarnya menilik praktek-praktek lainnya, bisa jadi bila diukur dari ajaran Islam bertentangan dengan Islam secara nyata, karena memang sumber rujukannya berbeda. Beragama berlandaskan kitab suci dengan otoritas para pemuka agama pada umumnya, sementara bernegara yang tidak bersumber pada agama tertentu memiliki sumber rujukannya sendiri, maka sangat mungkin hasil-hasil keputusannya berbeda dan mungkin pula bisa selaras dengan agama.
Keputusan MK ini berkaitan dengan undang-undang perkawinan, yang bila dilihat dari hukum Islam, mungkinkah undang-undang perkawinan ini disebut sebagai fiqih Islam yang memiliki konsekuensi ilahiyah berimplikasi dunia akherat, sehingga tidak boleh sembarangan diutak atik, Atau semata hukum positif negara buatan manusia yang tidak memiliki konsekuensi demikian? Yang boleh saja didiotak-atik. Tampaknya untuk menyebut sebagi fiqih tentu masih banyak pihak yang berkeberatan. Sehingga keputusan perubahan terhadap undang-undang ini tidak membawa konsekuensi pahala atau dosa. Ibaratnya merubah undang-undang ini adalah sesuatu yang dalam zona mubah. Hanya saja memang secara individu seseorang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya
Sebenarnya, menurut saya ada masalah mendasar lagi, yakni masalah tauhid hukum, selama ini dikenal istilah tauhid ilahiyah, tauhid rububiyah, tauhid sifat dan asma, dan yang jarang disinggung adalah masalah tauhid hukum ini. Ketidak jelasan inilah yang akhirnya menimbulkan polemik berkepanjangan.
Bila memakai landasan tauhid hukum ini, maka acuan hukum adalah al qur’an dan al hadits, kemudian disistematiskan dalam kitab-kitab fiqih. Sehingga keputusan ahli hukum dalam kitab fiqih ini memiliki nilai transeden ilahiyah, yang berimplikasi pada dunawi dan ukharawi sekaligus. Maka konsekuensinya acuan selain al qur’an dan as sunnah menjadi tertolak karena tidak ada nilai ilahiyahnya. maka miskipun itu kebenaran atau kebaikan bila tidak didasari dengan al qur’an dan as sunnah maka hanya bernilai kebenaran di dunia ini, yang tidak berimplikasi di akherat, inilah hukum wad’i buatan manusia.
Berdasar ini maka perundangan yang tidak berdasar al Qur’an dan Assunnah tentu tidak bisa disebut undang-undang atau hukum Islam miski bisa jadi isinya sejalan dengan al qur’an dan as sunnah. Karena undang-undang atau hukum al qur’an bersifat duniawi ukhrawi dan ada balasannya baik di dunia ini dan di akherat, sementara undang-undang positif hanya memiliki konsekuensi dunia saja.
Kesimpulan
Sehingga keputusan MK ini, dilihat dari Islam bisa saja salah, tapi bisa jadi secara hukum kenegaraan sah. Karena berpijak pada landasan yang berbeda. Sebagaimana sering dikatakan menikah secara agam karena memenuhi syarat rukunnya dinyatakan sah, tetapi belum sah menurut negara karena tidak dicatatkan di KUA, inipun sebenarnya menyisakan dualisme hukum, dan inilah juga bagian dari masalah yang menjadi keputusan MK di atas, sehingga memunculkan masalah-masalah keperdataan lainnya.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: