Keistimewaan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Keistimewaan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
1. Seperti yang disebutkan oleh ‘Aisyah bahwa Nabi saw menghidupkan/menyemarakkan malam-malam akhir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggangnya, yakni menjauhi istri-istri untuk mencurahkan diri beribadah shalat dan ibadah lainnya. Menghidup-hidupkan sepuluh hari akhir Ramadhan ini untuk memberikan perhatian mengenai keutamaannya, mencari lailatul qadr yang merupakan malam lebih baik dari seribu bulan. Selain shalat lail, tetapi juga dengan amalan ibadah lainnya seperti shalat lail, membaca al qur’an, dzikir, sahur,shadaqah dan lain-lainnya.
2. Ada malam lailatul qadr yang lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah bersabda, padanya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang mengharamkan/menutupi dirinya akan malam itu maka sungguh tertutup baginya kebaikan semuanya. Dan sebenarnya tidak ada yang mau tertutup darinya kecuali memang orang yang tidak mau. Hadits shahih an Nasa’I dan Ibnu Majah.
Kata imam an Nakha’i,” beramal pada hari itu lebih baik dari pada seribu bulan selainnya. Para ulama menghitung seribu bulan ini sama dengan 83 tahun 4 bulan.
Maka siapa yang ingin mendapatkan malam lailatul qadar ia harus sungguh – sungguh berusaha mendapatkan lailatul qadar ini. Karena orang yang ingin sekali mendambakan sesuatu tentu ia akan berusaha sungguh-sungguh.
Lailatul qadr pada sepuluh hari akhir Ramadhan. Terutama pada hari ganjil yakni malam 21, 23, 25,27,29. bila tidak mampu maka pada tujuh hari terakhir Ramadhan jangan sampai terlewatkan yakni malam 29, 27, 25.
قَالَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِلْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْبَوَاقِي فِي الْوِتْر مِنْهَا ” وَرَوَاهُ أَحْمَد مِنْ حَدِيث عَلِيٍّ مَرْفُوعًا
وَلِمُسْلِمٍ مِنْ طَرِيق عُقْبَةَ بْن حُرَيْثٍ عَنْ اِبْن عُمَر ” اِلْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْر الْأَوَاخِر ، فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَن عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي ”
( وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ، لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَأَبُو دَاوُد

3. I’tikaf, yakni menetap di masjid meluangkan waktu untuk memenuhi ketaatan kepada Allah.
وفي صحيح البخاري عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان النبي – صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اِعْتَكَفَ عِشْرِينَ
Dalam shahih Bukhari, dari ‘Aisyah ra berkata bahwa Nabi saw beri’tikaf di setiap Ramadhan sepuluh hari dan ketika pada tahun wafatnya beliau beri’tikaf dua puluh hari.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: