MENAKAR PENDIDIKAN NASIONAL DAN PESANTREN

MENAKAR PENDIDIKAN PESANTREN DAN NON PESANTREN

Pendahuluan
K.ASteenbrink mengadakan penelitian mengenai dinamika kurikulum pesantren, yang hasilnya dituangkan dalam disertasinya Pesantren, Madrasah, Sekolah . Digambarkan bagaimana pesantren yang awalnya mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan dengan model pembelajarannya yang khas kemudian harus menggantinya dengan system baru model madrasah yang akhirnya juga harus menyelenggarkan model pendidikan ala sekolah. Bagaimana perubahan “kiyai” menjadi “drs” dengan segala sifat perbedaan cultural, social maupun psikologis dari kedua istilah tersebut.
Sementara di sisi lain, ada lembaga pendidikan yang sejak awal memproklamirkan dirinya sebagai pendidikan yang bernama sekolah, dengan filosofinya sendiri yang dari kacamata agama relaif bernuansa “sekuler”, guru dengan gelar sarjana/drs yang dengannya ia berhak mengajar di lembaga sekolah. Maka sekolah ini menjadi lembaga yang relative menjunjung rasionalitas dan agak mengabaikan aspek spiritual.

Model pendidikan di Indoensia
Indonesia secara umum mengenal dua model system pendidikan, pertama model pendidikan nasional dan dua model pendidikan local. Model pendidikan nasional artinya system pendidikan yang kurikulum, penilaian, pengawasan dan untuk mengukur taraf pendidikan bangsa dikelola, diawasi oleh Negara. Sedangkan pendidikan local merupakan pendidikan yang dikembangkan oleh individu-individu masyarakat baik kurikulum, system penilaian bahkan evaluasinya. Dalam kaitan dengan pengertian ini, maka tulisan ini igin melihat potret umum kedua pendidikan terutama pendidikan formal yang diselenggarakan oleh Negara dan pendidikan non formal yang diselenggarakan oleh pesantren.
Ditilik dari perjalanannya maka pendidikan pesantren sebenarnya jauh telah ada sebelum Negara Indonesia lahir, sedangkan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh Negara baru berkembang pesat pada kira-kira tahun 70-an. Pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat masa itu mengalami kejayaannya baik dari sisi jumlah murid maupun kualitasnya, tetapi semenjak dibukanya secara besar-besaran program sekolah negeri dan pendanaan yang dicurahkan untuk sekolah negeri termasuk model sekolah inpres maka lambat laun sekolah masyarakt ini banyak yang tenggalam dan nota bene merupakan sekolah-sekolah Islam.
Kedua model pendidikan ini memberikan memberikan sumbangan dalam pengembangan pendidikan masyarakat Indonesia. Barang kali yang membedakan adalah dalam masalah bidang studi yang digeluti. Secara umum system pendidikan nasional cenderung menempatkan ilmu-ilmu praktis yang berkaitan dengan pengelolaan dunia sedangkan pendidikan local lebih mengedepankan ilmu-ilmu keagamaan baik untuk pedoman praktis beragama bekal life skill untuk menghadapi tuntutan hidup dunia.

Perhatian Pemerintah terhadap Model Pendidikan Nasional dan Lokal
Mengingat sama-sama memberikan kontribusi bagi penyedian pendidikan di masyarakat maka perhatian pemerintah seharusnya bisa berimbang antar dua system pendidikan tadi. Masalahnya di lapangan seringkali pendidikan local kurang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
Sebagai disinggung di awal, diantara bentuk pendidikan local tadi adalah pesantren. Nur Cholis Madjid dalam Bilik-Bilik Pesantren, bahkan menyebut pesantren merupakan pendidikan yang sifatnya endegius Indonesia, system pendidikan yang asli dank has dilahirkan oleh masyarakat Indonesia. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik. Tidak saja karena keberadaannya yang sudah sangat lama, tetapi juga karena kultur, metode, dan jaringan yang diterapkan oleh lembaga agama tersebut. Karena keunikannya itu, C. Geertz menyebutnya sebagai subkultur masyarakat Indonesia (khususnya Jawa). Pesantren lahir diperkirakan pada sekitar abad 19.
Saat ini di Indonesia terdapat sekira 12.000 pesantren yang tersebar di seluruh nusantara dengan berbeda bentuk dan modelnya. Bahkan, dihuni tidak kurang dari tiga juta santri. Untuk informasi pesantren ini dapat dilihat lebih jauh di web site.
Usia pesantren yang sedemikian lama, tentu banyak memberikan kontribusi bagi kemajuan Negara Indonesia. Baik sebelum atau setelah kemerdekaan. Pada zaman penjajahan, pesantren menjadi basis perjuangan kaum nasionalis-pribumi. Banyak perlawanan terhadap kaum kolonial yang berbasis pada dunia pesantren. Bahkan dalam beberapa penelitian disebutkan juga sumbangan pesantren bagi pemberdayaan masyarakat yang dalam konteks pendidikan, aksi semcam ini biasanya hanya dapat dilakukan oleh setingkat perguruan tinggi, dan hampir belum didapati lembaga pendidikan setingkat SLTA yang memberikan kontribusi bagi pengembangan masyarakat seperti yang dilakukan pesantren.
Sebut saja beberapa tokoh dengan latar pendidikan pesantren yang dapat menduduki puncak menjadi tokoh nasional, Dr. Hidayat Nur Wahid, KH Abdurahman Wahid.
Image miring pesantren biasanya dilabelkan oleh orang atau peneliti yang tidak sepenuhnya dapat memahami pesantren secara lebih mendalam. Banyak peneliti yang yang memberikan apresisi positif terhadap keberadaan pesantren, bahkan sisi kekurangan bagi peneliti yang baginya memberikan citra negative, justru bagi pesantren hal ini menjadi kekuatan untuk secara otonom menyelenggarakan pendidikan bagi masyarakat.
Beberapa image negative pesantren / kritikan seringkali juga dikarenakan kecenderungan pesantren yang hanya berfokus pada masalah agama, harapan / tuntutan masyarakat yang terlalu tinggi terhadap pesantren, atau keinginan membandingkan system pendidikan atau manajemen pesantren dengan pendidikan non pesantren/manajemen ala perusahaan sekolah umumnya dan lainnya.
Demikian strategisnya pendidikan ala pesantren, tetapi secara undang-undang baru diakui keberadaanya akhir-akhir ini dengan diakomodasinya system pendidikan pesantren lewat undang-undang system pendisikan nasional 2004. Sebagai ilustrasi kira-kira sejak 5 tahun lalu yang lalu lulusan atau murid dari pesantren dapat diakui sebagai murid yang dapat diberi kesempatan langsung untuk ikut ujian Negara tanpa harus ikut mengenyam pendidikan di bangku “sekolah” karena memang pesantren telah diakui sebagai bagian dari system pendidikan nasional.

Antara Pendidikan Sistem Nasional dan Lokal
Kedua system pendidikan tersebut di atas, walaupun pendidikan local telah diakuai keberadaannya sebagai bagian dari system pendidikan nasional yang secara otomatis, pendidikan local tadi sudah menjadi system pendidikan nasional teapi masih menyisakan beberapa kekhasan sendiri-sendiri sebagai konsekuensi logis dari konsep filosofis pendiriannya. Kalau dibuat table perbandingan system pendidikan ala pesantren dan non pesantren kiranya dapat disajikan berikut ini:

Aspek Nasional Lokal
Manajemen Model atasan bawahan/pimpinan dan anak buah Model one figure/kyai dengan mengedepankan hati, pemimpin dengan pengikut
Keuangan/pembiayaan Pembiayaan utamanya dari Negara dengan bantuan masyarakat Dibiayai secara mandiri oleh donator dan juga ada yang mendapatkan bantuan dari Negara baik dalam atau luar negeri
Input/masukan Melalui seleksi tes atau nilai ujian akademik Mendapatkan ijin kiyai, beberapa harus lolos ujian masuk.
Tujuan Mencerdeskan kehidupan bangsa, dengan berlandaskan nilai luhur budaya bangsa Mendidik manusia untuk mengenal penciptnya, beribadah dengan benar dan tahu kedudukannya dan tanggungjawabnya sebagai anggota masyarakat
Strategi dan perlakuan terhadap murid Formal, harkat dan martabat murid diukur dari angka angka hasil ujian atau evaluasi Non formal, diberlakukan sebagai modin (motivator dan dinamisator )masyarakat.
Pola pendekatan Hubungan guru murid formal admnistratif, kaku, rasional Hubungan guru murid bersifat bimbingan, emosional
Pandangan terhadap murid Sebagi obyek yang otaknya harus dipenuhi berbagai macam pengetahuan seperti yang digariskan kurikulum. Sebagai obyek yang harus dibimbing agar menjadi manusia yang berakhlak mulia
Pihak yang memutuskan mengenai apa yang harus dipelajari Birokrat (Pemerintah pusat/Mentri Pendidikan/ pemerintah daerah) Kiyai dan pilihan santri menghendaki untuk mengaji bidang keilmuan yang menjadi minatnya.

Demikian, masing-masing membawa kekhasan dan keunikan sendiri-sendiri yang akan memperkaya khasanah pendidikan di Indonesia, yang dengannya tidak untuk saling menuding kekurangan yang ada atapi bagaimana bersinergi untuk membangun Indonesia lebih.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: