MENIRU ISLAM SHAHABAT

Meniru dan Meneladani Islam Shahabat

Sumber Islam.
Sumber Islam dapat dibedakan menjadi dua pertama wahyu Allah swt dalam al qur’an dan kedua sunnah Rasulullah. Dua hal ini merupakan sumber utama agama Islam, tanpa keduanya bangunan Islam akan roboh. Pembahasan kali ini ingin membahas masalah Islam dalam perpektif shahabat. Maka akan kita bahas kedudukan sahabat dalam Islam mencakup pujian Allah dan Rasulullah terhadap sahabat ini dan fungsi mereka kaitannya dengan otentitas agama Islam.

Al Qur’an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah saw, lewat perantaraan malaikat Jibril dalam rentang waktu yang lama. Rasulullah menghapal, memahami dan mengajarkan kepada para sahabatnya setiap turun wahyu, bahkan setiap Ramadhan Jibril senantiasa mengecek ulang al Qur’an ini, para sahabat yang ditunjuk Rasulullah mencatat al qur’an ini disamping mereka, para sahabat yang ada menghapalkan al qur’an ini, dan kebanyakan sahabat sebagai tradisi masyarakat saat itu yang belum populer budaya tulis mereka menghapal al qur’an ini. Bahkan dalam perkembangannya ada sahabat-sahabat senior yang sangat ahli dalam al qur’an ini yang disebut sebagai qurra’ dari para sahabat inilah al qur’an disebarkan dan diajarkan dalam tradisi lisan dan hapalan. Tranmisi al qur’an lewat sahabat – sahabat yang dalam ilmu hadits mereka adalah adil yang karenanya diterima ajaran mereka tentang Islam. Al qur’an ini diyakini umat Islam menjadi pedoman hidup umat Islam, menjadi kitab suci umat Islam, yang dengannya Islam menjadi tegak dan eksis. Keraguan terhadap isi al Qur’an berarti meragukan seluruh bangunan Islam.
Rasulullah sebagai sumber Islam, beliau yang merupakan tafsir sah dari al qur’an baik secara pengetahuan maupun perilaku atau implementasi pelaksanaan al qur’an dalam tataran praktik keseharian. Secara umum perilaku Rasululah tadi dituturkan dari secara lisan lewat orang-orang yang adil terpercaya/’aadil tsiqah kemudian dalam perkembangannya dicatat secara sistematis dalam berbagai kitab utamanya kitab-kitab hadits dan sirah. Dalam tradisi hadits, hal-hal yang tercatat tadi meliputi perbuatan, perkataan dan hammiyah ( semacam keinginan ) Rasulullah, saw.
Sahabat sebagai transmiter pertama.
Sahabat sebagai orang yang pertama kali melihat praksisnya Islam dalam diri Rasulullah mereka berusaha untuk dapat memahami dan melaksanakan Islam sebagaimana yang Rasulullah amalkan. Tentu mereka melaksanakan Islam dalam kapasitas mereka sebagai sahabat Rasulullah yang tentu secara kualitas berbeda dengan Rasulullah karena para sahabat ini betapapun hebatnya mereka bukanlah seorang rasul. Namun demikian para sahabat ini telah mendapatkan jaminan dari Rasulullah dan Alllah mengenai kualitas keislaman mereka. Dalam kaitan inilah sebenarnya kita ingin melihat rekaman perilaku Rasulullah dalam kitab hadits sebagai para sahabat mempraktekkan Islam ketika mereka melihat praktek langsung Rasulullah dalam berislam.
Perlu ditegaskan lagi di sini, bahwa kita menempatkan Al qur’an dan Rasulullah sebagai sumber Islam, dalam kaitan ini menyangkut Rasulullah sebagai sumber ajaran Islam, maka beliau menempati posisi normatif ajaran Islam, sehingga bisa jadi membutuhkan penafsiran terhadap perilaku, perkataan maupun hammiyah Rasulullah. Penafsir pertama yang paling sahih mestinya adalah para shahabat. Bila ingin melihat orisinil Islam dalam tataran praktis masyarakat Islam mestinya melihat bagaimana Islam dipraktekkan oleh para shahabat. Karena Islam shahabat ini sudah dijamin oleh Allah dan Rasuullah.

Meniru Islam Shahabat.
Berkaitan dengan ini, fokus kita adalah melihat keislaman para shahabat untuk dapat kita contoh, dan hal ini sah saja mengingat adanya jaminan Allah dan Rasulullah akan sahabat ini, misalnya. Beberapa ayat yang menjelaskan keutamaan shahabat adalah: al Fath: 18, 26, 29. At taubah: 100, 111, al Anfal: 74, an Naml: 59, ar ra’du: 28.
Adapun beberapa hadits di antaranya adalah, riwayat at Tirmidzi, bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, ada satu yang selamat yakni yang menempuh “apa-apa yang aku berjalan di atasnya dan juga para shahabatku ”, dinilai hasan oleh al Albani. Bukhari dan Musllim meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda:” jangan kalian mencela shahabatku, andai ada yang berinfaq emas sebesar Uhud, tidak akan menyamai baik satu mud atau sebagiannya”.
Manakala Rasulullah teladan mutlak tanpa salah, maka bagaimana para shahabat dalam posisi mereka sebagai manusia meneladani pribadi agung Rasulullah. Bagaimana para shahabat memahami setiap sabda Rasulullah. Bagaimana mereka menterjemahkan petunjuk Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat sesama Islam atau dengan kelompok yahudi, nasrani, orang kafir maupun orang musyrik dan munafik. Bagaimana mereka secara individu menterjemahkan apa yang mereka lihat dan mereka dengar dari Rasulullah.
Ini yang menjadi fokus kita, berislam ala shahabat, berislam sebagai hasil dari pemahaman mereka terhadap Al quran dan Rasulullah, pemahaman dan praktek Islam mereka dalam kehidupan sehari-hari telah diiyakan oleh Rasulullah dan Allah.
Maka bisa jadi kita meneladi Sahabat secara perorangan misalnya ingin meneladi sahabat Abu Dzar Al ghifari atau kita ingin meneladi Sahabat secara keseluruhan dalam kerangka melihat masyarakat Islam awal untuk membentuk masyarakat Islam di masa kini. Wallahu a’lam bish shawwab

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: