Catatan Perjalanan

Catatan Perjalanan.

Beberapa hari yang lalu saya mengadakan lawatan ke Rembang, masih di minggu bulan Mei ini. Saya berangkat kurang lebih jam 14.00 sampai di Rembang kurang lebih jam 16.30.

Mulai Perjalanan: menuju Grobogan Purwodadi, jalan bergelombang

Perjalanannyapun lancar, miskipun jalan raya solo purwodadi/grobongan di beberapa titik jalan ibaratnya melewati sungai kering karena jalanan telah lobang dan penuh kubangan bahkan jalanan yang tidak rata dan bergelombang ditambah habis hujan. Untuk menyiasati jalan itu kita sampai di sumber lawang memilih jalan alternatif  jalan yang menuju waduk kedungombo hingga mencapai wilayah Gundih ???. Jalanan menuju kedungombo karena berbukit-bukit untuk kali ini jauh lebih menarik, naik turun, disepanjang jalan tumbuhan dan pohon jati nampak menghijau bahkan dibeberapa bukit sungguh betapa suburnya tanah yang disiram air hujan yang ditumbuhi jagung. Bahkan jalan beraspal yag pecah-pecah menjadi keindahan tersendiri.

Sebenarnya sepanjang perjalanan di kanan kiri jalan terlihat bukit bukit hutan pohon jati yang mulai gundul tetapi sebenarnya bukan gundul hanya karena ditanami ulang pohon yang belum besar sehingga kelihatan gundul.

Melintasi Blora: panen padi, potret lugu masyarakat pedesaan

Selepas purwodadi  grobogan sepanjang jalan menunuju bloro, yang nampak disepanjang jalan adalah persawahan yang sedang menunggu untuk di panen dan yang menarik persawahan ini begitu terhampar luas, sungguh persawahan yang tidak saya temukan sebelumnya untuk wilayah surakarta. Hanya saya saya melihat sepertinya lahan persawahan yang begitu luas meliputi grobogan, blora, cepu, rembang, pati tetapi untuk irigasi yang saya lihat hanya mengandalkan tadah hujan, sehingga kurang produktif. Ini karena saya melihatnya ketika musim penghujan.

Memang terlihat pula bukit-bukit dikejauhan perbukitan yang ditumbuhi pepohonan jati tapi juga habis digunduli dan ditanami pohon baru.

Lebih dari itu, saya melihat perekonomian daerah-daerah ini sangat nampak masih terkesan minim, kesan kesahajaan terpancar sangat kuat, ternak sapi berkeliaran di mana-mana, jalan raya berlalu lalang bus-bus besar, bus pedesaan, mobil pribadi sepeda motor dan sepeda angin mengangkut jerami padi hasil bercampur baur jadi satu.

Kesan kumuh nampak di mana-mana, apalagi daerah ini merupakan daerah dataran yang air tidak langsung bisa mmengalir ke tempat rendah sehingga cenderung menggenang dipekarangan. Bahkan sepintas basih belum banyak kiranya lantai yag diperkeras hanya lantai tanah. Rumah-rumah memang hampir keseluruhan terbuat dari papan kayu (jati) yang sudah berusia sekian puluh tahun terlihat dari kekusaman warna rumah papan tadi. Berbeda dengan yang saya lihat di daerah Solo, rumah papan yang mengkilap karena dicat vernish.

Memasuki ibukota kabupaten mulai terlihat keramain kota, karena disepanjang jalan hampir tidak ditemu pusat-pusat keramaian sehingga sangat sulit untuk menemukan budaya-budaya perkotaan.

Rembang dan Sekitarnya: pantai dan desa agraris dalam pelukan Islam tradisonal

Memasuki Rembang mulai terlihat keramain kota yang berbeda dengan kota-kota sebelumnya. Udara di rembang relatif lebih panas karena memang merupakan daerah pesisir pantai utara. Sampai di Rembang kira-kira pukul 7.00 sore. Kita disambut sangat ramah oleh Mbah Mat (KH Fathurahmat dan keluarga). Keluarga yag bersahaja tetapi sangat dihormati oleh bukan hanya masyarakat bawah tapi juga kalangan atas dan birokrat negri ini. Kami menginap semalam di rumah ini. Selepas makan malam dengan menu yang enak yang kalau dirumah sendiri pasti saya makan banyak kalau lagi bertama saya ambil sedikit masalahnya kalau banyak yang susahnya adalah pada pagi harinya. Bukan masalah sungkan atau tidaknya untu makan banyak. Tapi memang saya biasanya saya mengukur danmembatasi porsi makan untuk menjaga berat badan dan keehatan tubuh.

Oh ya selepas makan malam kami dilanjutkan bincang-bincang tentang berbagai hal mulai masalah pesantren, politik, keluarga dan lain-lain. Untuk shalat kami lakukan jamak maghrib dengan isa’ di masjid rumah mbah Mat, pagi harinya setelah shalat shubuh, kami jalan-jalan menuju pantai utara rembang yang hanya berjarak beberapa meter dari kediaman Mbah Mat.

Pantai ini sebelah utara jalan Dendeles jalan yang dibangun secara kerjasama paksa oleh gubernur Dendeles semasa penjajahan Belanda dulu. Jalan ini berada di pinggir pantai sehingga meliwati jalan ini akan menyaksikan pemandagan pantai. Di pantai Rembang yang saya lihat di sebelah timur pantai wisata kartini rembang, tepat dibelakang rumah seseorang saya berdiri dibelakang pelataran belakang ruah tersebut dibuat bercor membentengi rumah tersebut dari ombak pantai, rumah yang cukup megah tetapi di sampingnya rumah-rumah kumuh khas perkampungan nelayan.

Pantai yang saya bayangkan berpasir indah bersih ternyata airnya kotor, tempat membuang sampah dan tidak ada pasirnya karena sudah diuruk untuk perluaan rumah-rumah. Pohon bakaupun sudah tidak ada. Nelayan pantai utara di rembang ini terlihat sangat banyak apalagi pagi hari ini.

Beberapa saat kemudian kami kembali ke rumah mbah Mat, menikmati minum kopi pagi dan teh sembari menggigit pisang goreng, ehm nikmat. Pagi hari ini kami menuju ke daerah sluke, gunem atau tepatnya saya kurang hapal tetapi melewti daerah-daerah tadi. Ingin menemui seseorang yang memiliki yayasan sosial dan pendidikan. Melewati daerah-daerah ini, lagi-lagi sangat khas rumah papan yang kusam tidak teratur pekaranngan yang kumuh, sapi-sapi di mana-mana, budaya masyarakat khas pedesaan. Ada suat daerah yang penuh ditanami pohon kelapa disamping tanaman tebu dan mangga, oh ya konon dan yang saya lihat Rembang ini sangat cocok untuk ditanami pohon mangga.

Tanah rembang juga menyimpan berbagai bahan tambang dari batu kuarsa bahan baku kaca, bahkan 7 dari 11 bahan semen ada di Rembang ini. Termask batu gamping hanya saja mungkin membutuhkan anak-anak bangsa yag cerdas untuk mengolah hasil tambang ini ntuk memberikan kemakmuran warganya. Anak bangsa yang bukan hanya cerdas tetapi juga berbudi luhur dan peduli terhadap nasib miskin bangsa ini di tengah kemakmuran alamnya.

Menjelang jum’at kita pergi shalat jum’at di masjid agung Rembang, jama’ahnya penuh tumpah ruah di luar masjid, sayang saya masih melihat untuk tata tertib shaf belum sepenuhnya melaksanan shaf yang lurus dan rapat.

Melihat ke atas atap rumah di Rembang nampak antena televisi menjulang di atas atap setiap rumah penduduk menyoratkan pemandangan tersendiri, karena hampir tidak ada antena yang dipasang pendek di ats rumah, semua antena dipasang tinggi dengan tiang tiang yang tinggi, menampakkan “pohon” antena di atasp rumah

Pulang Kembali: jalan beda, pemandangan beda

Kira-kira jam 14.00 kita pamitan dengan tuan rumah untuk kembali ke pulang dan kita memutuskan lewat Pati Purwodadi Grobogan setelah sebelumnya diberi tahu bahwa jalur ini  sudah bagus jalannya. Untuk lewat jalur ini kita mengikuti jalur pantura hingga juwana menuju pati, untungnya jalur pantura ini sudah banyak yang di beton karena memang rawan rusak kalau di aspal mengingat jalan ini selalu dilewati truk dengan muatan kelewat berat, belum lagi musim penghujuan yang kadang meluberkan temasuk air laut ke jalanan sehingga membuat jalan mudah cepat rusak.

Jalur Pati Grobogan juga penuh jalan bergelombang hanya saja sudah diperbaiki sehingga terasa nyaman dilewati, disepanjang jalan juga terlihat padi yang siap panen miskipun genangan air hujan nampak di berbagai pekarangan, perumahan sepintas lebih tertata dan nampak tidak terlalu kumuh dibanding lewat Grobogan Blora Rembang, memasuki Grobogan, jalanan ini melewaati perbukitan yang mengandung batu kapur dan mungkin juga barang tambang lainnya, karena saya sempat melihat posko demo penolakan pendirian pabrik semen. Di atas bukit malah terlihat pemukiman padat dan pohon-pohon jati yang dikeringkan dalam posisi tegak siap tebang. Begitu trun bukit, jalanan menuju Grobogan terlihat sangat parah rusaknya.

Sebenarnya banyak hal yang dapat dicatat dalam perjalanan ini sayang tidak membawa kamera untuk memotret setiap moment ini.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: