ALIRAN SESAT

MENYIKAPI ALIRAN SESAT

A. Pendahuluan

Berita hari ini, senin, 07 Januari 2008, “Nabi” komunitas eden dijemput kejaksaan. Lagi-lagi masalah aliran keagamaan mencuat ke permukaan. Sebut beberapa kasus, di antaranya adalah al qiyadah al islamiyah, ahmadiyah dan eden ini. Aliran-aliran ini bisa dibilang berakar dari ajaran Islam. Dan inilah yang menjadi akar masalah. Barangkali juga beberapa agama selain Islam, dalam komunitasnya juga berkembang aliran-aliran keagamaan yang penafsirannya menyimpang dari penafsiran resmi agama bersangkutan, karena menyimpang inilah maka aliran keagamaan tadi disebut sebagai aliran sesat. Bahkan beberapa tahun lalu, berkembang aliran yang dinamakan aliran kebatinan, yang ajarannya juga beranjak dari agama Islam.

B. Aliran sesat dalam lintasan sejarah Islam

Kalau ditelusur, katakanlah dalam Islam, sejak awal perkembangannya, Islam mengalami tantangan aliran keagamaan serupa. Sebut misalnya Musailamatul Kadzab, bagi yang pernah belajar sejarah Islam tentu mengenal nama tersebut, ia merupakan tokoh nabi bagi pengikutnya, yang dalam sejarah Islam dianggap sebagai nabi palsu. Kenapa dikatakan palsu ? alasannya adalah bahwa seorang nabi harus dapat membuktikan dirinya sebagai utusan tuhan, biasanya bukti ia sebagai utusan adalah wahyu yang diterimanya. Nabi Muhammad misalnya, ia menerima wahyu berupa kitab suci al Qur’an, Nabi Isa menerima wahyu berupa kitab suci Injil, Nabi Daud menerima kitab suci Zabur. Sementara itu, saat Musailamah diminta oleh masyarakat agar membacakan wahyunya, ia mencoba mengarang wahyu, yang ternyata menurut penilaian orang Arab saat itu, wahyu yang dibacakan oleh Musailamah dianggap sebagai kebohongan belaka sebab tidak mungkin tuhan memberikan wahyu yang secara kaidah bahasa saja dan makna sungguh tidak sesuai dengan kaidah berbahasa yang baik dan benar, maka Musailamah di gelari al kadzab, artinya Musailamah si pembohong besar.

 

C. Penerimaan masyarakat

Aliran-aliran keagamaan ini muncul bisa di masyarakat maju ataupun masyarakat berkembang. Alasan yang mendasari tentu berbeda, bila di masyarakat maju, diterimanya aliran keagamaan lebih pada alasan logis maupun spiritual, artinya penafsiran terhadap teks-teks agama bisa diterima secara logis dengan logika sederhana daripada penafsiran standar yang memerlukan kajian beberapa ilmu pendukung menurut tradisi ilmiah akademik.  Secara spiritual aliran keagamaan ini dianggap mampu memberikan kepuasan spiritual atas kegersangan jiwa masyarakat perkotaan yang cenderung hedonis materialis

Sedangkan di masyarakat berkembang karena aliran keagamaan ini menawarkan sesuatu yang dapat membebaskan himpitan kesusahan hidup mereka dengan janji-janji kehidupan akhir yang lebih baik atau yang biasa disebut sebagai pesan mesiah. Di samping alasan bahwa mistik tentang  sosok pemimpinnya yang diyakini memiliki keajaiban – keajaiban tertentu, misalnya klaim memiliki wahyu, utusan tuhan, ramalan-ramalan tertentu masa depan mengenai nasib buruk baiknya suatu masyarakat, pernah di datangi malaikat.

Bagaimanakah sikap kita..

Masyarakat tentu bertanya-tanya mengenai bagaimana menyikapi aliran-aliran keagamaan ini. Ada sebagian masyarakat yang pro dengan berkembangnya aliran keagamaan ini dengan dalih kebebasan (beragama, mengeluarkan pendapat, berkumpul dan lain-lain), namun banyak pula yang tidak ingin aliran keagamaan ini berkembang karena dianggap menodai agama tertentu, meresahkan masyarakat, menyimpang dari mainstream agama, menyesatkan dan sebagainya.

Lembaga resmi, semacam Majlis Ulama atau lainnya tentu akan memberikan jawaban atau fatwa berdasar kepentingan agama, bila aliran keagamaan ini masih dalam taraf perbedaan penafsiran yang masih dalam batas toleransi maka tentu aliran keagamaan ini dilegalkan dan menjadi bagian dari komunitas Islam, tetapi bila ajaran aliran keagamaan ini menyimpang dari mainstream yang ada tentu akan divonis sebagai aliran sesat.

Menurut saya, adalah wajar dan seharusnya agama memiliki penafsiran standar terhadap teks-teks keagamaan, analoginya adalah, dalam bernegara saja, negara tentu memiliki penafsiran standar terhadap dasar negara mapun falsafah negaranya, orang tidak diperbolehkan sembarangan, misalnya menafsirkan pancasila semaunya sendiri yang melenceng dari penafsiran resmi negara. Orang atau kelompok yang menafsirkan, katakanlah, pancasila menurut selera sendiri tentu akan dianggap sebagai perbuatan makar terhadap negara. Begitu pula halnya dengan penafsiran terhadap teks-teks keagamaan yang lebih dianggap sebagai sesuatu yang transenden, tentu pemeluknya akan bereaksi lebih keras bila dianggap ada penyelewengan penafsiran.

Hal ini karena hampir semua model aliran keagamaan yang katakanlah divonis sesat, memang didasarkan dari salah satu ajaran agama tertentu tetapi dengan penafsiran menurut paham mereka sendiri. Hal ini yang memicu kemarahan pemeluk agama tersebut, sebagaimana halnya bila dianalogikan dengan kemarahan orang Indonesia terhadap Malaysia yang dianggap mengklaim reog milik bangsa Indonesia. Tetap bila aliran keagamaan tersebut dikembangkan bukan dari agama tertentu tentu yang merasa memiliki agama tidak akan marah, katakanlah bila aliran sesat itu dikembangkan dari agama Islam tentu pemeluk agama non Islam tidak akan marah, sebaliknya bila lairan sesat keagamaan ini dikembangkan dari agama non Islam tentu pemeluk Islam tidak akan marah terhadap alairan keagamaan ini.

Tentu saja akan sulit untuk meraih simpati masyarakat bila mendirikan aliran keagamaan tanpa merujuk tatacara ritual agama tertentu, bagaimana mungkin aliran itu akan diterima kalau tidak memiliki ajaran ritual, atau religious practices. Maka suatu aliran keagamaan akan eksis kalau pemimpinnya mengenakan atribut keagamaan yang paling tidak telah dikenal masyarakat sebelumnya. Atribut ini bisa berupa pesan mesiah, jubah putih, sorban, tongkat atau simbol-simbol keagamaan lainnya yang memungkinkan pemimpinnya tetap diakui sebagai utusan tuhan bagi para pengikutnya.

 

D. Jalan keluar

Ada yang perlu dikembangkan dalam hal ini, yakni bukan sekedar hujat menghujat, demo mendemo, dukung mendukung dan seterusnya, tetapi semacam pemaparan atau deskripsi yang mengungkap secara lengkap suatu aliran kemudian memberikan kesempatan serta mendorong masyarakat untuk secara mandiri berani bersikap kritis dan bertanggung jawab dengan penilaiannya. Hal ini mengingat bahwa aliran – aliran keagamaan atau pemikiran baik yang memberi kontribusi positif atau negatif akan tetap muncul di masyarakat, baik dilarang ataupun tidak dilarang. maka tentu sikap seperti ini akan lebih berguna bagi pendewasaan cara berpikir masyarakat atau anggota masyarakat untuk masa depannya agar lebih selektif, kreatif dan rasional, tidak cepat mengambil kesimpulan tanpa didukung dengan bukti-bukti, tidak cepat bersikap emosional, dan lebih memiliki toleransi terhadap keragaman pendapat baik yang berseberangan dengan dirinya apalagi yang sejalan dengan pendapatnya.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: