Fenmena Gerhana

Alkisah, pada hari Selasa, tanggal 21 Agustus 2007, ada sebuah telaga

yang berisi air kehidupan, barang siapa minum air telaga itu ia akan

hidup kekal, miskipun sehari mati tujuh kali ia akan tetap hidup. Konon

air kehidupan ini dijaga oleh dewa bulan. Suatu saat ada raksasa yang

hendak minum air kehidupan ini, singkat cerita terjadilah perang antara

raksasa alias buto ijo dengan dewa bulan, karena raksasa lebih besar

dari dewa bulan maka dengan mulutnya yang mengangaga lebar raksasa tadi

hendak menelan dewa bulan untunglah dewa penjaga alam; wisnu mengetahui

perkelahian itu, dengan senjata panah saktinya wisnu mengarahkan

panahnya ke raksasa tersebut yang tengah mencaplok dewa bulan. panah

tadi mengenai leher si raksasa. sehingga putus badanya dengan kepala.

karena panah tadi mengandung celupan air kehidupan karena kebetulan

panah tadi disimpan ditelaga air kehidupan, maka kepala sang raksasa

tetap hidup. dan badannya jatuh ke bumi berubah menjadi “lesung” tempat

menumbuk padi, dan tangannya menjadi “alu” alat penumbuk padi.

Legenda ini menjelaskan mengapa dulu masyarakat agraris di pedesaan

bila melihat gerhana bulan memukuli lesung dengan alu, karena hal itu

dianggap memukuli badan sang raksasa sehingga diharapkan kepala raksasa

yang sedang mencaplok bulan segera memuntahkan bulan. fenomene bulan

dicaplok raksasa itulah sebagai penjelasan terjadinya gerhana bulan.

Masyarakat pedesaan saat itu begitu percaya dengan legenda ini, dan

legenda ini secara langsung atau tidak langsung dipelihara secara turun

temurun lewat tuturan lisan bahkan menjadi lakon dari pewayangan di

masyarakat Jawa. Bahkan jauh sebelum itu, di hampir semua suku-suku di

dunia ini mempercayai bahwa gerhana merupakan fenomena yang penuh

dengan mistik dan legenda.

Namun, Islam menganggap bahwa gerhana merupakan salah satu fenomena

kekuasaan dan keagungan Allah swt. Bahwa gerhana merupakan fenomena

alam yang bisa dijelaskan secara ilmiyah rasional dan bukan mengada-

ada. Maka sungguh betapa hebatnya Nabi Muhammad saw pada 14 abad silam

menyatakan bahwa gerhana bukan karena mati atau lahirnya seseorang

tetapi merupakan bukti kekuasaan Allah swt. dan benarlah, bahwa ilmu

pengetahuan sekarang ini menyatakan gerhana bukan karena dimakan buto

ijo atau berkaitan dengan hal mistiklainnya. tetapi gerhana sebagai

bukti keagungan Allah, maka umat islam dianjurkan untuk melakukan

shalat gerhana kemudian setelah shalat dialnjutkan dengan khutbah yang

memberikan penjelasan menganai gerhana tersebut sebagai salah satu ayat

Allah sehingga umat Islam akan semakin yakin dengan agamanya.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: