NILAI NILAI-AN

    Judul diatas diserap dari bahasa Jawa, semacam bal-balan, tembak-tembakan, maling-malingan yang kesemuanya lebih mengambarkan pada kejadian tidak sungguh sungguh terjadi. Ada unsur permainan atau lebih tepatnya dolanan (dalam bhs Jawa). Ini saya maksudkan untuk menggambarkan penilaian yang ada saat ini (menurut yang saya amati)

Lembaga-lembaga pendidikan formal dalam mengukur kemampuan seorang peserta didiknya akan mengadakan berbagai model penilaian. Ada penilaian pada ujian tengah semester atau mid semester, ada ujian semester, ada ujian semesterpendek, ada ujian akhir,ada ujian nasional, ada ujian praktek. Sekian kali ujian ini dimaksudkan untuk memberikan laporan secara berkalamengenai kemajuan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran,apakah ia telah mampu menyerap pelajaran yang diberikan oleh seorang guru atau belum. Disamping tujuan-tujuan laiannya. Sehingga dengan laporan ini pihak yang berkaitan dengan peserta didik akan dapat memantau perkembangan si peserta didik tadi, kesulitan apa yang dialaminya juga dalam hubungannya dengan pembelajaran akan dapat juga dipantau.

Proses penilaian ini menggunakan instrument tertentu yang memang diharapkan dapat memberikan gambaran hasil yang telah diraih oleh peserta dalam menyerap ilmu yang diajarkan oleh gurunya. Maka dalam hal ini, teknik membuat soal yang baik harus dipahami, bahkan ada alat uji untuk mengukur kualitas suatu soal. Begitu pula dalam penilaian terhadap hasil pekerjaan siswa dalam menyelesaikan siswa, ada hal-hal yang harus dipedomani sehingga menghasilkan penilaian yang valid, yang pada akhirnya validitas penilaian benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Beberapa lembaga atau pendidik menerapkan hal demikian bahkan bisa jadi lebih ketat lagi, terutama bagi lembaga pendidikan yang sudah mapan dan tidak terikat pada suatu aturan birokrasi, dalam kondisi demikian, dalam hal penilaian terhadap peserta didiknya lembaga ini akan menerapkan penilaian “apa adanya” dalam arti peserta didik yang mampu akan ia mendapatkan nilai bagus,sedangkan peserta didik yang kurang atau tidak mampu tentu ia akan mendapatkan nilai jelek. Tapi bagi sebagian lembaga pendidikan yang lain akan lain ceritanya. Katakanlah nilai bagi peserta didik akan dibuat grade minimal enam (6), maka peserta didik didik dalam kategori tidak atau kurang mampu menyerap pelajaran ia akan mendapatkan nilai minimal enam (6), sedangkan peserta didik diatasnya akan mendapatkan nilai tujuh dan seterusnya. Maka hasil penilaian bila dibaca oleh orang lain tidak akan dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan peserta didik dalam menyerap pelajaran, kecuali oleh gurunya sendiri karena ia memang mengikuti proses si pserta didik.

Apalagi bagi pendidikan yang tidak mementingkan proses atau penguasaan ilmu dan hanya mementingkan nilai, terlebih bagi kalangan yang berkepentingan dengan laporan dan data yang menyenangkan (model ABS), maka nilai-nilai yang tinggi akan sangat membanggakan bahwa katakanlah siswa-siswi sekarang lulus sekian persen lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya dengan nilai sekian-sekian dan sekian. Tapi apakah dilihat proses penialain yang dilakukan. Bahkan ada suatu kabar (burung) konon beberapa tahun lalu di Jateng disinyalir ada model konversi nilai Ujian Akhir nasional sehingga perolehan nilai siswa menjadi tinggi. Ini hanya sedikit dampak dari sekolah atau lembaga pendidikan atau system pendidikan yang mengutamakan nilai daripada penguasaan keilmuan.

Kalau kita bertanya, ketika Ujian Nasional kemarin, berapa persen siswa dari semua siswa di Indonesia yangmengerjakan soal ujian secara mandiri dan berapa persen yang bekerja sma sesama teman dalam mengerjakan soal. Berapa sekolah yang sama sekali tidak melakukan modifikasi dan penyikapan terhadap peraturan pelaksanaan ujian Nasional dan bahkan berani melakukan pengetatan terhadap pelaksanaan ujian nasional. Kiranya dapat diyakini hampir semua sekolah melakukan “hilah” terhadap peraturan, sehingga peraturan terkesan ketat hanya diatas kertas, tetapi peraturan yang tidak menguntungkan di lapangan akan disikapi tertentu sehingga lentur di lapangan.

Dengan nilai-nilai yang bagus saat ini, bila dibandingkan dengan nilai-nilai pada kurun waktu sebelum tahun 2000-an dimana saat itu nilai dua (2),tiga (3), emapat (4) adalah lumrah, tampaknya tidak terjadi perbedaan yang signifikan, artinya kemampuan yang dimiliki siswa relative sama,bukan berarti siswa sekarang yang memiliki nilai lebih tinggi mutunya lebih baik dari siswa sebelum tahun 2000-an yang nilainya di bawah. Yang membedakan hanya saat itu tidak ada”tuntutan” seorang siswa harus memiliki nilai baik untuk lulus, terserah pada sekolah mau memberikan standar nilai berapa kepada siswa, apakah akan dinaikan kelas atau diluluskan dengan standar itu ataukah tidak.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: