BID’AH

BID’AH

Pengertian:

Bid’ah berasal dari kata bada’a artinya mengadakan dan memulai, sesuatu yang pertama kali. Arti ini seperti dalam firman Allah:

قُلْ : ما كنتُ بِدْعاً من الرُّسُلِ

Bid’ah adalah sesuatu yang baru dan yang diada-adakan dalam beragama padahal agama ini sudah sempurna.

Firman Allah yang lain:

وَرَهْبَانِيّةً ابْتَدَعوها ما كَتَبْنَاها عليهم إلاّ ابْتِغَاءَ رِضْوانِ اللّه

Dalam arti ini, salah satu asmaul husna Allah adalah al Badi’ (dzat yang menciptakan segala sesuatu yang belum ada sebelumnya)

Secara Istilah dalam agama, para ulama memberikan pengertian yang beragam mengenai arti bid’ah ini, karena memang terjadi perbedaan sudut pandang dan pemahaman dari makna bid’ah ini.

Pandangan Ulama tentang Bid’ah

Secara garis besar ada dua pandangan tentang makna bid’ah. Pertama, ada yang berpendapat bahwa semua yang baru termasuk bid’ah. Kedua, pendapat yang menyempitkan makna bid’ah.

Pendapat Pertama:

Pendapat pertama menyatakan bahwa bid’ah mencakup semua yang baru yang tidak didapatkan dalam al qur’an maupun assunnah, baik dalam masalah ibadah atau adat, baik yang tercela maupun yang tidak. Ulama yang berpendapat ini adalah Imam Syafi’I, al Izzu bin Abd Salam, an Nawawi, Abu Syamah. Al Qarafi, az Zarqani, Ibn Abidin, Ibnul Jauzi, Ibn Hazm.

Al Izzu bin Abd Salam menerangkan bahwa bid’ah berarti perbuatan yang tidak dikenal pada masa Rasulullah.

Menurut pendapat ini bid’ah ada lima hokum : bid’ah wajib, bid’ah yang diharamkan, bid’ah dianjurkan, bid;ah makruh, bid’ah mubah/boleh.

Contohnya:

1. Bid’ah wajib: belajar tata bahasa arab/nahwu yang diperlukan untuk memahami al qur’an dan sunnah rasul secara lebih baik.

2. Bid’ah yang diharamkan: paham qadariyah, jabariyah, murji’ah dan khawarij.

3. Bid’ah yang dianjurkan: mendirikan sekolah, membangun jembatan, shalat tarawih dengan berjamaah di masjid dengan seorang imam.

4. Bid’ah makruh: menghiasi masjid dan lembaran-lembaran al quran

5. Bid’ah mubah: bersalaman setelah shalat, keleluasaan dalam makanan dan minuman ang lezat, berpakaian yang baik.

Beberapa landasan yang dipakai misalnya:

فقد روي عن عبد الرّحمن بن عبد القاريّ أنّه قال :’ خرجت مع عمر بن الخطّاب رضي الله عنه ليلةً في رمضان إلى المسجد ، فإذا النّاس أوزاعٌ متفرّقون ، يصلّي الرّجل لنفسه ، ويصلّي الرّجل فيصلّي بصلاته الرّهْطُ. فقال عمر : إنّي أرى لو جمعت هؤلاء على قارئٍ واحدٍ لكان أمثل ، ثمّ عزم ، فجمعهم على أبيّ بن كعبٍ ، ثمّ خرجت معه ليلةً أخرى ، والنّاس يصلّون بصلاة قارئهم ، قال عمر : نعم البدعة هذه ، والّتي ينامون عنها أفضل من الّتي يقومون. يريد آخر اللّيل وكان النّاس يقومون أوّله ‘.

2. Ibn Umar menyebut shalat dhuha berjama’ah di masjid dengan sebutan bid’ah, padahal hal ini merupakan sesuatu yang baik

3. Hadits yang dapat memberikan petunjuk bahwa bid’ah itu ada yang baik dan buruk adalah hadits:

من سنَّ سُنَّةً حَسَنةً ، فله أجرُها وأجرُ من عمل بها إلى يوم القيامة ، ومن سنَّ سُنّةً سيّئةً ، فعليه وِزْرُها ووِزْرُ مَنْ عَمِلَ بها إلى يوم القيامة

“barang siapa mengawali suatu sunnah/perbuatan yang baik maka baginya pahala dari perbuatan itu dan pahala orang yang menirunya sampau hari kiamat, dan barang siapa yang memulai perbuatan jelek jelek maka atasnya dosa dari perbuatan itu dan dosa dari orang yang menirunya sampai hari kiamat”

Pendapat Kedua:

Ulama yang mencela bid’ah dan menetapkan bahwa semua bid’ah adalah sesat, baik dalam ibadat maupun adat. diantaranya adalah: ulama dari kalangan Maliki: Imam Malik, asy Syathibi, dan al Tharthusi, imam asyamani, al Aini. Ulama dari kalangan Syafi’iyah: al Baihaqi, ibn Hajar al Asyqalani. Ulama dari kalangan Hanbaliyah: Ibn Rajab, Ibn Taimiyah.

Imam Asyathibi menjelaskan bahwa bid’ah bisa berarti:

1. Jalan atau tatacara dalam menjalankan agama yang diada-adakan, yang menyerupai atau mirip syariat, yang dimaksudkan dengan melalui jalan itu untuk berlaku berlebihan dalam beribadah. Hal ini berarti menambah yang sudah ada.

Dalam pengertian ini adat tidak termasuk dalam bid’ah, tapi bid’ah khusus dalam ibadah saja. Berbeda dengan mengadakan sesuatu yang baru dalam masalah adat.

2. Jalan dalam beragama yang diada-adakan yang menyamai syari’at dimaksudkan dengan menempuh jalan itu seperti menempuh jalan syare’at. Ini berarti membuat jalan lain yang serupa dengan yang ada.

Dalam pengertian kedua ini termasuk pula masalah adat bila sudah menyamai jalan syari’at, seperti melakukan nadzar puasa berdiri dibawah terik matahari tanpa naungan, membatasi diri pada makanan dan pakaian tertentu tanpa alasan sah.

Mereka mendasarkan pendapatnya pada:

1. Bahwa Islam telah sempurna sejak sebelum Rasul meninggal, maka tidak ada lagi tempat untuk membuat hal-hal baru dalam beragama:

اليومَ أَكْملتُ لكم دينَكم وأَتممتُ عليكم نِعْمتي ورضيتُ لكم الِإسلامَ دِيناً

2. Beberapa ayat al qur’an yang mencela bid’ah,misalnya:

وأَنَّ هذا صراطي مستقيماً فاتَّبِعوه ولا تَتَّبِعُوا السُّبلَ فَتَفَرَّقَ بكم عن سبيلِهِ

“ Dan sesungguhnya inilah jalanku yang lurus maka ikutilah ia, dan jangan mengikuti jalan-jalan lain maka terpecah kamu dari jalanNya”.

3. Semua hadits tentang bid’ah mencela bid’ah itu sendiri:

حديث العرباض بن سارية : ” وَعَظَنَا رسولُ اللّه صلى الله عليه وسلم موعظةً بليغةً ، ذَرَفتْ منها العيونُ ، وَوَجلَتْ منها القلوبُ. فقال قائل : يا رسولَ اللّه كأنّها موعظةُ مودِّعٍ فما تَعْهَد إلينا. فقال : أوصيكم بتقوى اللّه والسّمعِ والطّاعةِ لولاة الأمرِ ، وإن كان عبداً حبشيّاً ، فإنّه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافاً كثيراً ، فعليكم بسنّتي وسنّة الخلفاء الرّاشدين المهديّين ، تمسّكوا بها ، وعضّوا عليها بالنّواجذ ، وإيّاكم ومُحْدَثاتِ الأمورِ. فإنَّ كلّ مُحْدَثَةٍ بِدعةٌ ، وكلّ بدعةٍ ضلالة

Konsekuensi Melakukan Bid’ah

Dari kelima hokum bid’ah di atas, terutama bid’ah yang diharamkan dibagi lagi menjadi bid’ah yang menjadikan kafir dan bid’ah yang tidak menjadikan kafir. Bid’ah kecil dan bid’ah besar.

BIDANG BID’AH:

Bid’ah dalam Aqidah

Para ulama sepakat bahwa bid’ah dalam masalah aqidah adalah haram bahkan bias menyeret pada kekafiran. Seperti bid’ahnya zaman jahiliyah dulu.

Bid’ah dalam Ibadah

Para ulama juga sepakat bahwa bid’ah dalam ibadah ada haram sebagai suatu kemaksiayan dan ada yang makruh. Yang pertama seperti hidup membujang, puasa berdiri di bawah matahari, mengkebiri diri untuk memutus keinginan berjima’ demi mencurahkan beribah.

Bid’ah yang makruh: menyebut nama-nama pembesar dalam khutbah untuk mengangingkan mereka, menghiasi masjid.

Bid’ah dalam Adat

Bid’ah ini ada yang makruh seperti: berlebihan dalam makan minum. Ada pula yang hukumnya mubah: keleluasaan dalam menikmati kelezatan makan minum, pakain maupun tempat tinggal tanpa berlebihan.

Ada pula yang berpendapat bahwa bid’ah dalam masalah adat yang tidak ada kaitanya dengan ibadah, diperbolehkan

Menetapkan Ibadah berdasar Dalil Umum

Ada bid’ah yang secara dalil umum ada sandarannya/disyari’atkan tetapi tidak disyari’atkan dari sisi penetapan waktu dan cara tertentu. Misalnya shalat raghaib (shalat dua belas rekaat pada jum’at pertama bulan rajab. Shalat malam nisfu sa’ban, shalat birul walidain. Terjadi perselisihan sengit antara yang menyatakan sebagai sunnah dan bid’ah. Karena ada dalil yang membolehkan untuk melakukan sholat mutlak, shalat yang tidak ditentukan macamnya.

Pendorong Munculnya Bid’ah

1. Ketidaktahuan sarana untuk memahami syari’ah maupun ketidakpahaman mengenai maksud syari’ah.

2. ketidaktahuan mengenai sunnah Rasul

3. dugaan baik dari akal pikiran semata yang tidak didasarkan pada wahyu.

4. memperturukan hawa nafsu

Perlu dipahami bahwa untuk menghukumi sesuatu itu sebagai bid’ah (dalam arti khusus) atau bukan bid’ah perlu dicermati terlebih dahulu, apakah hal tersebut memang termasuk perkara yang sebenarnya menurut dalil-dalil keumuman syari’at diperbolehkan ataukah memang tidak diperbolehkan dan dengan demikian sebagai bid’ah..

Kalau jelas bertentangan dengan syari’at maka hukumnya terlarang tetapi yang tidak bertentangan maka tidak terlarang.

1 comment so far

  1. ridwan on

    assalamualaikum wr wb, kenapa banyak orang berpendapat ada bid’ah hasanah seperti maulud nabi, apa benar ada???? bukankah agama islam ini telah sempurna…!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: