MENEBARKAN ILMU

MENEBARKAN ILMU:PERPEKTIF AGAMA

Syekh mana’ qathan menceritakan dalam bukunya mabahits fi ulum al qur’an, tentang transfer tafsir dari rasulullah hingga terbukukannya tafsir seperti yang kita kenal sekarang ini. Pada masa hidup Rasululaah saw, beliau mengajarkan dan menjelaskan dan memberikan contoh pengamalan al qur’an kepada sahabatnya-sahabatnya. Miskipun sahabat secara bahasal mereka mengetahui makna al qur’an tapi juga beberapa hal mereka tidak tahu maknanya apa yang dimaui dalam ayat tertentu. Misalnya ayat yang menyebutkan kata Dhalim

والذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم

Dan orang-orang yang beriman tetapi tidak mencaumpur keimanan mereka dengan kedhaliman. Para shahabat bertanya kepada Rasulullah, manakah diantara kami yang tidak melakukan kedhaliman ?. Kemudian Rasulullah saw menjawab bahwa dhalim dalam ayat diatas adalah seperti firman Allah:

إن الشرك لظلم عظيم

Sesunguhnya syirik merupakan kedhaliman yang besar.

Maka makna dhalim pada ayat di atas adalah syirik.

Diantara sahabat yang terkenal sebagai ahli tafsir adalah Khulafaurasidin, ibn mas’ud, ibn abbas, ubay bin ka’ab, zaid bin tsabit, abu musa al asy’ari, Abdullah bin umar anas bin malik, aisyah dan lai-lain. Sahabat-sahabat rasulullah saw ini sebagian menetap di Madinah, sebagain di Makkah dan sebagian di Iraq/basrah sembari mereka mengajarkan ilmu kepada para tabi’in.

Di madinah ada sahabat ada ubay bin ka’ab, beliau memiliki murid tabi’in diantaranya yang terkenal adalah zaid bin aslam, abul aliyah, Muhammad bin ka’ab.

Di makah ada sahabat ibn abas yang memiliki urid dari kalangan tabi’in, yang terkenal diantaranya adalah: sa’id bin jabir, mujahid, ikrimah bekas pembantu ibn abbas sendiri, atha’ bin abi rabah dan lain-lain

Sedang di Iraq ada sahabat ibn mas’ud, beliau mempunyai murid tabi’in diantaranya yang terkenal adalah: ‘alqamah bin qais, masruq al hasan al bashry dan lain-lain. Ibn mas’ud oleh beberapa ulama belakngan dinobatkan sebagai peletak dasar penggunaan ra’yu atau akal pikiran/rasio dalam melakukan tafsir.

Kisah ini menggambarkan semangat menyebarluaskan ilmu dan da’wah islam dari kalangan sahabat, sehingga dari merekalah kita mengenal Islam. Namun ini juga mengindikasikan adanya perbedaan atau perkembangan pemahaman ajaran Islam karena memang kondisi tempat tinggal para sahabat berbeda-beda. Ibnu mas’ud yang di basrah irak cenderung memakai ra’yu sedangkan sahabat yang di madinah dan mekah masih mempertahankan ma’tsur. Hal ini dikarenakan perkembangan social ekonomi dan politik masyarakat basrah irak saat itu jauh lebih pesat dibanding makah madinah. Sepeninggal khulafaurosyidin pusat pemerintahan Islam dipindahkan ke Irak, sebagai pusat ibukota pemerintahan tentu secara social ekonomi maupun politik dinamika kehidupan tentu lebih maju dibanding apa yang terjadi di makah dan madinah. Maka seiring dengan kemajuan ini tentu banyak persoalan kehidupan yang muncul yang memerlukan pemecahan keagamaan yang saat sebelumnya atau di makah dan madinah belum ada. Maka disinilah letak perintah Islam kepada umatnya untuk senantiasa belajar dan belajar.

Sungguh banyak ayat al qur’an yang menyemangati dan memberi inspirasi para ulama dahulu untuk giat belajar dan menebarkan ilmu. Islam adalah agama ilmu, al qur’an diturunkan untuk orang yang berilmu. Allah adalah al ‘alim dzat yang memiliki ilmu. Dakwah islam harus disampaikan berdasar pemahaman yang jernih dan jelas.

قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة

Bashirah adalah pemahaman yang jelas bukan ngawur.

Al qur’an menjadikan aktifitas berpikir tentang alam dan isinya sebagai salah satu sarana mempertebal iman.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ (١٩٠)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda

bagi orang-orang yang berakal,

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

Al qur’an mengungkapkan dengan beberapa bentuk anjuran untuk memanfaatkan akal pikiran ini, misalnya dengan ungkapan yatafakarun, ya’lamun, ya’qilun, yafqahun, dst.

Misalnya:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ (٢١٩)ÇËÊÒÈ

219. mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,

 

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ قَدْ فَصَّلْنَا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (٩٧)وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ (٩٨

dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.

98. dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri[493], Maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan[493]. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.

bahkan al qur’an menjanjikan derajat tinggi bagi orang beriman lagi berilmu:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (١١)

niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ (٩)

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.(azzumar:9)

Allah memerintahkan untuk berdo’a meminta tambahnya ilmu:

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا (١١٤)

114. Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu[946], dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: