Archive for the ‘keutamaan orang berilmu’ Tag

Adab Mencari Ilmu

Adab Mencari Ilmu
Banyak Buku yang dikarang ulama berkaitan dengan mencari ilmu. Mereka menganggap adab bagian penting dari seseorang dalam mencari ilmu, bahkan adab didahulukan dan diutamakan ketika seseorang mencari ilmu.
Buku-buku itu misalnya: Ta’limul Muta’allim, Tadzkiratu Saami’ wal Mutakallim: Ibnul Jama’ah, Adabul Alim Wa Muta’allim: KH Hasyim Asy’ari, Hilyatu Thalibil Ilmi abu zaid dan lain-lain.
Pada kesempatan ini kita mencoba membaca satu buku tersebut, paling tidak bab pertama.Yakni kitab :
تَذْكِرَةُ السَّامِعِ والمُتَكَلِّم في أَدَب العَالِم والمُتَعَلِّم، للشيخ العالم بدر الدين أبو عبد الله محمد بن إبراهيم بن سعد الله ابن جماعة الكناني المتوفى سنة 733هـ
Isi buku ini: Muqaddimah. Bab 1: Keutamaan ilmu dan ulama,keutamaan belajar dan mengajarkan ilmu. Bbab 2: Adab seorang alim/orang yang berilmu terhadap dirinya, perhatiannya terhadap murid dan pelajarannya. Bbab 3: Adab orang yang belajar terhadap dirinya, gurunya, temannya, pelajarannya. Bab 4: Adab terhadap buku dan sarana lainnya. Bab 5: Adab terhadap lingkungan belajar bagi yang tingkat akhir dan yang dalam tahap belajar
Keutamaan ilmu dan orang berilmu/ulama dan keutamaan belajar dan mengajarkannya.
Allah berfirman:
{يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ} [المجادلة: 11]
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”
Ibnu Abbas mengatakan: ulama itu seratus derajat di atas kaum mukmin, dimana dua derajatnya seratus tahun.
{شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِسْطِ} [آل عمران: 18]
Allah memberi kesaksian bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah). Juga para Malaikat dan orang-orang yang berilmu, dalam keadaan tegak dengan keadilan…
Dalam ayat ini, Allah memulai dengan diriNya sendiri, kedua dengan para malaikatNya, ketiga dengan ahli ilmu, hal ini cukup menunjukkan kemulian dan keutamaan keagungan, kehormatan bagi mereka orang-orang berilmu.
{قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ} [الزمر: 9]
Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
{فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ} [النحل: 43]
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui
{وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ} [العنكبوت: 43]
tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu
وقال تعالى: {بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ} [العنكبوت: 49] ،
Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu
وقال تعالى: {إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ} [فاطر: 28] ، وقال تعالى: {أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ} [البينة: 7] إلى قوله: {ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ} [البينة: 8]
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk…yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya
Dua baris terakhir ini menjelaskan bahwa para ulama adalah mereka yang takut kepada Allah ta’ala, dan orang-orang yang takut kepada Allah adalah sebaik-baik makhluk, maka bisa disimpulkan bahwa para ulama adalah sebaik-baik makhluk.
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ …
Rasulullah bersabda, barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah padanya, maka akan Allah pahamkan dalam masalah agama.Bukhari: 69
وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
Juga sabdanya, ulama adalah pewaris para nabi. Attirmidzi: 3157
Kiranya derajat ini sudah cukup sebagai kemulian dan kebanggaan, sebagaimana tidak ada derajat diatas derajat kenabian, maka tidak ada pula kemualian diatas kemualian sebagai pewaris dersajat itu.
Ada juga riwayat ketika disebutkan di hadapan nabi, tentang dua orang, salah satuunya abid ahli ibadah dan satunya alim. Maka Rasulullah bersabda: keuatmaan seorang alim atas abid seperti keutamanku atas orang yang paling rendaj di antara kalian. Addarimi:2609
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ
Juga nabi saw bersabda: barang siapa menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka sesungguhnya ia telah menempuh satu jalan dari jalan-jalan menuju surga, dan sungguh para malaikat benar-benar meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu karena keridhaan allah padanya, dan sungguh seorang yang alim/berilmu benar-benar akan memintakan ampun padanya siapa yang dilangit dan di bumi sampaipun ikan yang di kedalaman palung laut. Dan sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan malam purnama atas seluruh bintang gemintang, dan sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi, dan para nabi tidaklah mewariskan dinar tidak pula dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang komplet. Attirmidzi: 3157
Perlu diketahui, bahwa tidak ada peringkat di atas peringkat sebagai orang yang malaikat sibuk beserta lainnya dalam memintakan ampunan orang tersebut, mendoakan dirinya dan meletakkan sayap-sayapnya di atas dirinya.Dan sesunguhnya sangat berharga doa seorang yang shalih atau kita duga kuat keshalihannya, maka bagaimana dengan doa para malaikat ini!!.
Ada berbagai pendapat tetang makna malaikat meletakkan sayapnya ini. Ada yang mengatakan: tawadhuk sikap kerendahan hati. Ada yang mengatakan: turun dan hadir bersamanya. Ada yang mengatakan: menghormati dan ta’dhim padanya. Ada yang mengatakan: malaikat membawa di atas sayapnya dan membantu mencapai maksudnya.
Adapun maksud hewan juga memintakan ampunan disini ada yang mengatakan: karena hewan diciptakan untuk kemaslahatan dan kemanfaatan bagi hamba. Sedangkan ulama merupakan orang yang menerangkan apa yang halal dan apa yang diharamkan dan mewasiatkan kebaikan pada hewan-hewan itu dan melepaskan madharat darinya.

Juga diriwayatkan dari Rasulullah: akan ditimbang pada hari kiamat tinta para ulama dan darah para syuhada. Ada sebagian ulama mengomentari: padahal yang paling tinggi nilainya bagi seorang syahid adalah darhanya, sementara yang paling tidak bernilai bagi seorang yang berilmu adalah tintanya.
Juga riwayat lain: tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih afdhal dari kepahaman dalam agama. Dan sesungguhnya seorang yang paham agama lebih tegas terhadap syaithan daripada seribu ahli ibadah.Attirmidzi:2605.Ibn majah: 218
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُلُهُ يَنْفُوْنَ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَ انْتِحِال الْمُبْطِلِيْنَ وَ تَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ
Ilmu ini akan dipikul orang-orang yang adil dari setiap generasi. Mereka menolak perubahan orang yang melewati batas, menolak intihaal ahli kebatilan dan ta’wil orang bodoh.
Hadits ini dishahihkan Imam Ahmad dan dilemahkan oleh Imam Al Iraqi. Yang rajih, hadits ini adalah hadits hasan dengan banyaknya jalan periwayatan
Hadits lain menyebutkan: akan memberi syafaat tiga kelompok, para nabi kemudian para ulama dan para syuhada
Diriwayatkan pula bahwa para ulama pada hari kiamat di atas minbar-minbar dari hari.
من أحب العلم والعلماء لم تكتب عليه خطيئة أيام حياته
Al qadhi Husain bin muhammad rahimallahu di awal catatannya menukilkan sebuah riwayat: barangsiapa mencintai ilmu dan ulama maka tidak dicatat atasnya kesalahan pada hari-hari hidupnya.
Ia juga meriwayatkan dari Nabi saw: barang siapa memuliakan ahli ilmu maka seolah ia memuliakan 70 nabi, siapa yang memuliakan orang yang mencari ilmu maka seolah memuliakan 70 syuhada.
Dan Nabi saw juga berkata: barang siapa shalat di dibelakang ahli ilmu maka seolah shalat di belakang nabi, sementara orang yang shalat di belakang nabi maka Allah sungguh mengampuninya.
Syeikh Asy-Syarmasahy al-Maliky dalam pengantar kitabnya Nadzmu ad-Durry menukil sebuah sabda Nabi SAW, bahwasannya beliau bersabda:
من عظم العالم فكأنما يعظم الله تعالى ومن تهاون بالعالم فإنما ذلك استخفاف بالله تعالى وبرسوله
Barangsiapa mengagungkan ahli ilmu maka sama halnya dia mengagungkan Allah SWT, dan barangsiapa menganggap ringan ahli ilmu maka sama pulahalnya dengan meremehkan Allah SWT dan Rosul-Nya.”
وقال علي رضي الله عنه: كفى بالعلم شرفًا أن يدعيه من لا يحسنه، ويفرح به إذا نسب إليه، وكفى بالجهل ذمًا أن يتبرأ منه من هو فيه
Ali RA berkata cukuplah ilmu sebagai alasan untuk menjadi mulia, yang mendorong orang yang tidak menganggap keelokan ilmu, dan bergembira dengan ilmu itu jika ia menisbatkan diri padanya, dan cukuplah kebodohan sebagai sesuatu yang tercela bagi dirinya untuk melepaskan diri dari ketercelaan itu
Sebagian salaf berkata: sebaik-baik hadiah adalah ilmu pengetahuan, dan sejelek-jelek musibah adalah kebodohan.
Abu Muslim al Khaulani mengatakan: ulama di muka bumi ini laksana bintang di langit, jika bintang nampak bagi manusia mereka mendapat petunjuk, jika bintang itu tersembunyi dari pandangan, mereka menjadi bingung.
Abul Aswad adduali mengatakan: tidak ada sesuatu yang lebih mulia dibandingkan ilmu, bisa jadi raja sebagai penguasa manusia, tetapi ulama pemandu para raja.
Wahb bin Munabbah berkata: ilmu bisa melahirkan berbagai macam hal mulai dari kemulian bila pemiliknya hina, kejayaan bilamana ia terpuruk, kedekatan bilamana ia jauh, kekayaan jika ia dalam kefakiran, dan kedigdayaan bila ia jelata.
Mu’adz RA berkata: pelajarilah oleh kalian akan ilmu, karena mempelajarinya merupakan kebaikan, mencari ilmu merupakan ibadah, mudzakarahnya merupakan tasbih, membahasnya merupakan jihad, mencurahkan segenap upaya untuk memperoleh ilmu merupakan pendekatan kepada Allah, mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu merupakan sedekah.
Kata Fudail bin Iyadh: orang berilmu yang mau mengajarkan akan banyak dido’akan di kerajaan langit.
Sufyan bin Uyainah berkata: setingi-tinggi kedudukan manusia di sisi Allah adalah orang yang berada diantara Allah dan hamba-hambanya yakni mereka para nabi dan ulama. Ia juga berkata: Allah tidak memberikan di dunia ini sesustu yang lebih utama selain kenabian, adapun setelah kenabian tidak ada yang lebih afdhal selain ilmu dan kefaqihan. Kemudian ditanyakankepadanya: tentang siapa ini? Sufyan bin Uyainah menjawab: mereka fuqaha (yang paham ilmu agama).
Kata Sahl: barang siapa yang ingin melihat majlis para nabi hendaknya melihat majlis para ulama, maka ketahuilah oleh kalian akan mereka itu.
Kata imam Syafi’i: jika saja fuqaha yang mau beramal itu tidak menjadi wali Allah maka tidaklah Allah memiliki wali.
Kata Sufyan At tsauri dan Imam Syafi’i: tidak ada yang lebih afdhal setelah ibadah fardlu, selain mencari ilmu.
Abu Dzar dan Abu Hurairah mengatakan: satu bab ilmu yang kami pelajari lebih kami sukai daripada 1000 rekaat shalat sunnat.dan satu bab ilmu yang kami ketahui dan diamalkan atau belum diamalkan juga lebih kami sukai daripada 100 rakaat shalat sunnat.
Di atas sudah jelas bahwa menyibukkan diri dengan ilmu semata karena Allah itu lebih afdhal daripada ibadah sunat badaniyah baik berupa shalat sunnat, puasa sunnat, tasbih, doa dan sebagainya.karena kemanfaatan ilmu itu bisa menjangkau pemiliknya dan manusia umumnya. Sementara ibadah badaniyah yang sunat terbatas pada pelakunya saja. Dan karena ilmu juga sebagai hal yang bisa menjadikan ibadah yang benar, yang ia tergantung pada ilmu itu bukan ilmu tergantung pada ibadah.dan karena ulama meruapakan pewaris para nabi, bukannya bagi para ahlli ibadah.dan karena ketatan seorang yang berilmu itu wajib atas lainnya dalam diri orang alim itu. Dan karena ilmu itu pengaruhnya masihtetap miski pemiliknya telah mati. Sementara ibadah sunat akan berakhir dengan matinya pelaku. Dan tetap adanya ilmu menjadikan hidupnya syariah dan merupakan penjagaan terhadap petunjuk agama ini.
Tapi perlu diingat, bahwa keutamaan tadi, itu hanya bagi ulama yang mau mengamalkan, yang baik-baik yang bertaqwa yang bermaksud mencari keridhaan Allah, mencari kedekatan di sisiNya dalam surga, keutamaan ilmu tadi bukan untuk yang mencarinya dengan niat jelek atau semata kepentingan duniawiyah saja baik untuk kebanggan, kekayaan, atau banyaknya pengikut dan muridnya.
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ
Diriwayatkan dari Nabi saw: “Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat para ulama, atau untuk mengolok-olok orang bodoh atau untuk mengalihkan pandangan manusia kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka”
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Barangsiapa belajar Ilmu untuk selain Allah atau menginginkan selain Allah, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya (kelak) di neraka” Attirmidzi: 2579
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat. Abu daud: 3179
“Sesungguhnya manusia yang pertama kali dihisap pada hari Kiamat ialah seseorang yang mati syahid, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, lantas Dia bertanya: ‘Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku? Dia menjawab: ‘Saya berjuang dan berperang demi Engkau ya Allah sehingga saya mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Dusta kamu, sebenarnya kamu berperang bukan karena untuk-Ku, melainkan agar kamu disebut sebagai orang yang berani. Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat? ‘ Dia menjawab, ‘Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Al Qur’an demi Engkau.’ Allah berfirman: ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu, kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan seorang laki-laki yang di beri keluasan rizki oleh Allah, kemudian dia menginfakkan hartanya semua, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas.’ Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat dengannya? ‘ dia menjawab, ‘Saya tidak meninggalkannya sedikit pun melainkan saya infakkan harta benda tersebut di jalan yang Engkau ridlai.” Allah berfirman: ‘Dusta kamu, akan tetapi kamu melakukan hal itu supaya kamu dikatakan seorang yang dermawan, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.”Muslim: 3527
Kata Hammad bin Salmah: orang yang mencari hadits bukan karena Allah, ia telah berbuat makar terhadapnya
Kata Basyar: Allah mewahyukan kepada nabi Daud janganlah kamu jadikan antarKu dengan kamu seorang berilmu yang suka memfitnah karena akan memalingkanmu dengan keraguan dari mencintaiKu, mereka itu penyamun jalanan atas ibadah kepadaKu.
Wallahu a’lam bi shawwab.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.