Archive for the ‘sosial keagamaan’ Category
MEMBANGUN RUMAH DI SYURGA
Membangun Rumah di Syurga
Rumah Dunia
Hidup di dunia, kebutuhan rumah atau tempat tinggal dilihat dari sisi ekonomi merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Rumah merupakan tempat berllindung dari panas dan hujan maupun maupun terpaan dingin angin bahkan dari ancaman binatang buas. Rumah juga tempat membina keluarga, lebih dari itu rumah merupakan pretise perlambang kemakmuran penghuninya atau tingkat budaya manusia yang dulu sebagai penghuni gua sekarang sebagai penghuni rumah mewah dengan arsetektur modern.
Mengingat begitu penting peranan rumah bagi manusia, maka muncul berbagai cabang aktifitas manusia berkaitan dengan rumah, hitung saja misalnya: toko bahan bangunan, kontraktor, developer, KPR, arsitektur, bahkan desin interior. Persawahan dan ladang subur, hutan dan pantai disulap menjadi perumahan. Inipun masih belum dapat secara keseluruhan memenuhi kebutuhan perumahan manusia, bahkan dengan model kepemilikan rumah secara kredit bahkan ada yang membangun rumah di atas lahan yang bukan haknya.
Inilah perlombaan manusia untuk memiliki rumah sendiri yang kadang mengabaikan sisi – sisi kemanusiannya sendiri, karena berprinsip hidup materialism.
Rumah Akherat
Bukan sesuatu yang tidak baik atau salah memiliki rummah yang bagus denga fasilitas lengkap baik untuk interior rumah maupun lingkungan. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa rumah yang dibangun itu memang dibangun untuk ditinggali bukan sekedar membangun untuk “menghabiskan” uang karena memiliki uang berlebih dan hampir setiap hari tidak pernah menginjakkan kakinya di rumah tersebut karena rumah tak terkira banyaknya.
Al kisah, Ummu Habibah ra berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda:” barang siapa yang mengerjakan shalat (sunnat rawatib) dua belas rakaat sehari semalam maka akan dibangunkan untuknya rumah di surga”. Setelah mendengar sabda Rasulullah ini Umu Habibah mengatakan,” “tidaklah aku meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah”. Berkata pula perawi hadits lainnya; ‘Anbasah ibn Abi Sufyan, ” tidaklah aku meninggalkan shalat rawatib ini semenjak aku mendengarnya dari Umu Habibah”. Berkata pula Amr ibn Aus,” aku tidak meninggalkan shalat rawatib ini sejak aku mendengarnya dari Anbasah”. Berkata an Nu’man ibn Salim,” aku tidak meninggalkan shalat rawatib ini sejak aku mendengarnya dari Amr ibn Aus”. HR Muslim
Kisah ini memberikan pelajaran pentingnya membangun rumah masa depan di syurga kelak yang salah satu modalnya adalah dengan mengerjakan shalat sunnat rawatib yang sebenarnya juga sangatlah ringan untuk dikerjakkan, subahanallah betapa Maha Pemurahnya Allah terhadap hambaNya
Inilah sepenggal kisah yang sering kita lupakan, untuk membangun rumah di syurga kelak yang akan ditempati selamanya, sederhananya bagaimana mau tinggal di syurga kalau tidak pernah membangun rumah di syurga, apa mungkin termasuk orang yang membangun rumah kemudian orang lain diminta untuk menempatinya.
Demikian, keyakinan para salaf salih akan adanya balasan amal kebajikan di akherat kelak. Semoga Allah memudahkan jalan kita ke syurgaNya dan mengijinkan kita membangun rumah di syurga yang kelak menjadi tempat tinggal kita.
BELAJAR DARI FPI
FPI DAN FUCTIONALISM
Adalah teosri sosiologi yang menjelaskan hubungan suatu kasus dengan kasus lain dalam kontek hubungan kemanfataan atau fungsi, maka teori ini disebut teori fungsionalisme. Ambil contoh, kemiskinan, dai sudut fungsionalism ia berfungsi memberikan arti bagi orang kaya, sehingga ia bisa disebut dermawan, kemiskinan juga meneguhkan status sosial orang kaya sebagai majikan. Ia juga menjadi alasan kaum ningrat untuk sah menginjak orang miskin, ia juga dapat menjadi komoditas kaum intelektual untuk proyek pengentasan kemiskinan.
Tak terkecuali,perilaku keras dalam gama yang dianut oleh sebagain pemeluk suatu agama, FPI misalnya, sifat keras FPI dapat dimanfaatkan oleh pihak lain untuk kepetingannya sendiri. Misalnya dari sisi politik, sungguh scenario cantik bagaiaman membenturkan elemen dalam masyarakat ini, kemudian mengelminasikannya dalam skup tertentu yang dilakukan oleh aparat tertentu misalnya, tentu akan menaikkan promosi jabatan bagi komandan satuan yang menangani kasus tersebut. Ia berfungsi mengukur kemampuan seseorang dalam mengendalikan huru hara di masyrakat.
Bagi penguasa ia dapat memalingkan kasus-kasus bessar yang sedang dihadapi masyarakat, misalnya, saat ini lagi marak demo kenaikan BBM, lantas dimunculkan FPI dan elemen masyarakat lainnya, kemudian dibuat scenario huru-hara yang didramatisir sedemikian rupa oleh media masa dan pejabat-pejabat terkait sehingga terkesan sebagai suatu kasus besar. Kemudian masyarakat dipertontontan setiap hari berita ini, sehingga masyarakat melupakan kasus BBM.
Bagi dunia internasional, betapa menikmati mereka akan keretakan antar elemen bangsa ini sehingga ke depannya akan sangat mudah menguasai bangsa Indonesia.
Bagi pihak-pihak lain, yang tidak sepaham, maka mereka mengambil keuntungan dengan tidak perlu terlalu banyak mencurahkan tenaga, fikiran untuk memporakporandakan umat islam.
Wal hasil itulah pemandangan dunia, siapa yang bisa bersabar dan menahan diri niscaya akan mendapatkan sesuatu yang lebih manis, baik bagi dirinya, keluarganya, masyarakat maupun agama. Kalaupun tih tidak di dunia ini , niscaya kesabaran itu akan dibalas oleh Allah dengan sesuatu yang lebih baik di akherat nanti
ALIRAN SESAT
MENYIKAPI ALIRAN SESAT
A. Pendahuluan
Berita hari ini, senin, 07 Januari 2008, “Nabi” komunitas eden dijemput kejaksaan. Lagi-lagi masalah aliran keagamaan mencuat ke permukaan. Sebut beberapa kasus, di antaranya adalah al qiyadah al islamiyah, ahmadiyah dan eden ini. Aliran-aliran ini bisa dibilang berakar dari ajaran Islam. Dan inilah yang menjadi akar masalah. Barangkali juga beberapa agama selain Islam, dalam komunitasnya juga berkembang aliran-aliran keagamaan yang penafsirannya menyimpang dari penafsiran resmi agama bersangkutan, karena menyimpang inilah maka aliran keagamaan tadi disebut sebagai aliran sesat. Bahkan beberapa tahun lalu, berkembang aliran yang dinamakan aliran kebatinan, yang ajarannya juga beranjak dari agama Islam.
B. Aliran sesat dalam lintasan sejarah Islam
Kalau ditelusur, katakanlah dalam Islam, sejak awal perkembangannya, Islam mengalami tantangan aliran keagamaan serupa. Sebut misalnya Musailamatul Kadzab, bagi yang pernah belajar sejarah Islam tentu mengenal nama tersebut, ia merupakan tokoh nabi bagi pengikutnya, yang dalam sejarah Islam dianggap sebagai nabi palsu. Kenapa dikatakan palsu ? alasannya adalah bahwa seorang nabi harus dapat membuktikan dirinya sebagai utusan tuhan, biasanya bukti ia sebagai utusan adalah wahyu yang diterimanya. Nabi Muhammad misalnya, ia menerima wahyu berupa kitab suci al Qur’an, Nabi Isa menerima wahyu berupa kitab suci Injil, Nabi Daud menerima kitab suci Zabur. Sementara itu, saat Musailamah diminta oleh masyarakat agar membacakan wahyunya, ia mencoba mengarang wahyu, yang ternyata menurut penilaian orang Arab saat itu, wahyu yang dibacakan oleh Musailamah dianggap sebagai kebohongan belaka sebab tidak mungkin tuhan memberikan wahyu yang secara kaidah bahasa saja dan makna sungguh tidak sesuai dengan kaidah berbahasa yang baik dan benar, maka Musailamah di gelari al kadzab, artinya Musailamah si pembohong besar.
C. Penerimaan masyarakat
Aliran-aliran keagamaan ini muncul bisa di masyarakat maju ataupun masyarakat berkembang. Alasan yang mendasari tentu berbeda, bila di masyarakat maju, diterimanya aliran keagamaan lebih pada alasan logis maupun spiritual, artinya penafsiran terhadap teks-teks agama bisa diterima secara logis dengan logika sederhana daripada penafsiran standar yang memerlukan kajian beberapa ilmu pendukung menurut tradisi ilmiah akademik. Secara spiritual aliran keagamaan ini dianggap mampu memberikan kepuasan spiritual atas kegersangan jiwa masyarakat perkotaan yang cenderung hedonis materialis
Sedangkan di masyarakat berkembang karena aliran keagamaan ini menawarkan sesuatu yang dapat membebaskan himpitan kesusahan hidup mereka dengan janji-janji kehidupan akhir yang lebih baik atau yang biasa disebut sebagai pesan mesiah. Di samping alasan bahwa mistik tentang sosok pemimpinnya yang diyakini memiliki keajaiban – keajaiban tertentu, misalnya klaim memiliki wahyu, utusan tuhan, ramalan-ramalan tertentu masa depan mengenai nasib buruk baiknya suatu masyarakat, pernah di datangi malaikat.
Bagaimanakah sikap kita..
Masyarakat tentu bertanya-tanya mengenai bagaimana menyikapi aliran-aliran keagamaan ini. Ada sebagian masyarakat yang pro dengan berkembangnya aliran keagamaan ini dengan dalih kebebasan (beragama, mengeluarkan pendapat, berkumpul dan lain-lain), namun banyak pula yang tidak ingin aliran keagamaan ini berkembang karena dianggap menodai agama tertentu, meresahkan masyarakat, menyimpang dari mainstream agama, menyesatkan dan sebagainya.
Lembaga resmi, semacam Majlis Ulama atau lainnya tentu akan memberikan jawaban atau fatwa berdasar kepentingan agama, bila aliran keagamaan ini masih dalam taraf perbedaan penafsiran yang masih dalam batas toleransi maka tentu aliran keagamaan ini dilegalkan dan menjadi bagian dari komunitas Islam, tetapi bila ajaran aliran keagamaan ini menyimpang dari mainstream yang ada tentu akan divonis sebagai aliran sesat.
Menurut saya, adalah wajar dan seharusnya agama memiliki penafsiran standar terhadap teks-teks keagamaan, analoginya adalah, dalam bernegara saja, negara tentu memiliki penafsiran standar terhadap dasar negara mapun falsafah negaranya, orang tidak diperbolehkan sembarangan, misalnya menafsirkan pancasila semaunya sendiri yang melenceng dari penafsiran resmi negara. Orang atau kelompok yang menafsirkan, katakanlah, pancasila menurut selera sendiri tentu akan dianggap sebagai perbuatan makar terhadap negara. Begitu pula halnya dengan penafsiran terhadap teks-teks keagamaan yang lebih dianggap sebagai sesuatu yang transenden, tentu pemeluknya akan bereaksi lebih keras bila dianggap ada penyelewengan penafsiran.
Hal ini karena hampir semua model aliran keagamaan yang katakanlah divonis sesat, memang didasarkan dari salah satu ajaran agama tertentu tetapi dengan penafsiran menurut paham mereka sendiri. Hal ini yang memicu kemarahan pemeluk agama tersebut, sebagaimana halnya bila dianalogikan dengan kemarahan orang Indonesia terhadap Malaysia yang dianggap mengklaim reog milik bangsa Indonesia. Tetap bila aliran keagamaan tersebut dikembangkan bukan dari agama tertentu tentu yang merasa memiliki agama tidak akan marah, katakanlah bila aliran sesat itu dikembangkan dari agama Islam tentu pemeluk agama non Islam tidak akan marah, sebaliknya bila lairan sesat keagamaan ini dikembangkan dari agama non Islam tentu pemeluk Islam tidak akan marah terhadap alairan keagamaan ini.
Tentu saja akan sulit untuk meraih simpati masyarakat bila mendirikan aliran keagamaan tanpa merujuk tatacara ritual agama tertentu, bagaimana mungkin aliran itu akan diterima kalau tidak memiliki ajaran ritual, atau religious practices. Maka suatu aliran keagamaan akan eksis kalau pemimpinnya mengenakan atribut keagamaan yang paling tidak telah dikenal masyarakat sebelumnya. Atribut ini bisa berupa pesan mesiah, jubah putih, sorban, tongkat atau simbol-simbol keagamaan lainnya yang memungkinkan pemimpinnya tetap diakui sebagai utusan tuhan bagi para pengikutnya.
D. Jalan keluar
Ada yang perlu dikembangkan dalam hal ini, yakni bukan sekedar hujat menghujat, demo mendemo, dukung mendukung dan seterusnya, tetapi semacam pemaparan atau deskripsi yang mengungkap secara lengkap suatu aliran kemudian memberikan kesempatan serta mendorong masyarakat untuk secara mandiri berani bersikap kritis dan bertanggung jawab dengan penilaiannya. Hal ini mengingat bahwa aliran – aliran keagamaan atau pemikiran baik yang memberi kontribusi positif atau negatif akan tetap muncul di masyarakat, baik dilarang ataupun tidak dilarang. maka tentu sikap seperti ini akan lebih berguna bagi pendewasaan cara berpikir masyarakat atau anggota masyarakat untuk masa depannya agar lebih selektif, kreatif dan rasional, tidak cepat mengambil kesimpulan tanpa didukung dengan bukti-bukti, tidak cepat bersikap emosional, dan lebih memiliki toleransi terhadap keragaman pendapat baik yang berseberangan dengan dirinya apalagi yang sejalan dengan pendapatnya.
BERSYKUR
BERSYUKUR KEPADA ALLAH
(Alasan dan bagaimana cara kita bersyukur)
Pendahuluan.
Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7-8 sebagai berikut:
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ أَنجَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ [١٤-٦]
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu”.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [١٤-٧]
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Ayat ini merupakan pokok ajaran hidup sukses, bahagia dunia akherat. Sangat simple tetapi kaya makna.
Alasan mengapa harus bersyukur
Rahasia hidup bahagia adalah hati yang selalu bersyukur, kita harus senantiasa mensyukuri apapun yang telah Allah berikan kepada kita, apabila kita melihat contoh-contoh yang ada dalam al qur’an kita akan mendapatkan banyak alasan mengapa kita harus bersyukut.
Kita bersyukur atas makanan yang halal dan baik, atas kehalalan rezki yang kita nikmati sementara bisa jadi orang lain belum menikmatinya seperti dalam suarat al baqarah: 172 atau dalam surat an Nahl: 114.
Kitapun bersyukur atas kekuasaan yang yang diamanatkan oleh Allah yang ada dalam genggaman kita sebagaimana digambarkan oleh Allah dalam surat an Naml: 19 dan 40.
Kitapun harus bersyukur atas ilmu yang diberikan oleh Allah kepada kita, seperti yang dilukiskan oleh Allah dalam surat Luqman: 12
Kitapun wajib bersyukur bahwasannya orang tua dengan segala jerih payahnya telah berusaha semampu mereka untuk memberikan asuhan terbaik bagi kita, juga sebagaimana yang diilustrasikan oleh Allah dalam surat Luqman: 14
Diantara alasan bersyukur lainnya seperti yang jelaskan oleh Allah dalam suarat Saba: 15 adalah bahwa kita diberikan bumi yang subur makmur, baik yang ada di perut bumi maupun yang dipermukannya.
Itulah beberapa paparan al Qur’an yang dapat kami sampaikan tentang alasan mengapa kita harus bersyukur, tentu kalau kita melihat lebih jauh lagi di al Qur’an, kita akan mendapatkan gambaran yang lebih banyak lagi.
Cara bersyukur kepada Allah.
Al Qur’an juga memberikan penjelasan bagaimana kita harus bersyukur kepada Allah atas semua ini. Banyak bentuk untuk mengekspresikan syukur ini, misalnya dengan beramal shalih lewatn nikmat yang telah kita terima seperti digambarkan oleh Allah dalam surat An Naml: 19. Apabila kita mendapatkan ilmu maka bentuk amal shalihnya bisa dengan terus menjaga dan mengembangkan ilmu tersebut, menyebarkannya kepada orang lain. Menggunakan ilmu tersebut untuk kepentingan dakwah islamiyah.
Allah juga mengajarkan bentuk lain dalam bersyukur yakni dengan tidak mengkufuri atau mengingkari. Seperti dijelaskan oleh Allah dalam surat al Baqarah: 152. Bahwa apa yang ada pada kita semuanya adalah berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Apa yang kita miliki, semuanya adalah atas karunia dan kemurahan Allah belaka, bukan atas jerih payah kita. Maka bilamana seseorang mendapatkan karunia Allah kemudian ia menyia-nyikan maka ia sungguh telah mengingkari nikmat tersebut. Bila seseorang misalnya, mendapatkan nikmat amanat kekuasan atau perbendaharaan kekayaan atau ilmu kemudian ia menggunakannya untuk kemaksiyatan dan perbuatan dosa maka sungguh ia telah mengkufuri nikmat tersebut.
Bahkan Allah juga memberikan penjelasan lainnya bagaiman cara kita harus bersyukur, dalam surat al al Baqarah: 172, Allah menjelaskan beribadah adalah merupakan cara lain dalam bersyukur. Maka setiap ibadah yang kita tunaikan adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Motivasi yang baik ibadah seseorang adalah karena syukurnya kepada Allah.
Beribadah bukan karena takut siksa ataupun hukuman dan dosa yang akan ditimpakan oleh Allah kepada orang yang tidak beribadah, bila ibadah semacam ini tak ubahnya seperti sikap pelayan atau budak terhadap majikannya, inilah “ibadah budak atau pelayan”.
Beribadah tidak pula karena menginginkan pahala atau balasan dari Allah yang berlipat-lipat. Seseorang yang beribadah semacam ini maka ia telah bersikap sebagai pedagang dalam beribadah yang semata ingin mendapatkan keuntungan dari ibadahnya, inilah bentuk ” ibadah pedagang”.
Manakal seseorang beribadah karena syukurnya kepada Allah maka itulah jawaban Rasulullah saw kepada istrinya; Aisyah ketika pada suatu malam ia melihat telapak kaki Rasulullah saw bengkak dan pecah-pecah karena lama dan banyaknya shalat malam.Kemudian ia bertanya kepada Rasulullah saw, ” ya Rasulullah saw, bukankah dosa engkau masa lalu maupun yang akan datang telah diampuni (tidak punya dosa)?. Rasulullah saw:” tidakkah akau senang menjadi seorang hamba yang senantiasa bersyukur”. maka kata kuncinya adalah bersyukur.
Kesimpulan.
Wal hasil:
Bagaimana bersyukur, adalah dengan mengakui sepenuh hati bahwa semuanya adalah berasal dari Allah, suka duka, gembira sedih, kekayaan dan kekurangan, semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Secara lisan akan terucap dan terus terucap rasa syukur alhamdulillah….yang tiada henti dan terus mengalir dari bibirnya dan secara konkret diwujudkan dalam tindakan sehari-hari untuk menjaga,mengelola dan memanfaatkan sebaik-baiknya nikmat yang telah diberikan oleh Allah, untuk dirinya, keluarganya dan orang lain termasuk untuk agamanya.
Wallahu a’lam bish shawwab.
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ [٤٦-١٥
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ ﴿النمل: ١٩﴾
Ucapan selamat idul fitri
Ucapan selamat lebaran, beberapa tahun lalu dikirim lewat pos berupa kartu pos. barangkali saat ini kartu pos ucapan selamat lebaran sudah digantikan dengan SMS lewat ponsel. Selain simple dan cepat juga bisa sedikit panjang lebar dan mungkin tidak memakan biaya banyak.
berikut ini contoh ucapan selamat lebaran dari murid, sesama kolega saya:
1. Sujudkan hati n benamkan keangkuhan dalam keikhlasan, karena di hari yang penuh dengan ampunan. Tiada yang lebih indah selain tuk saling memafkankan. selamat hari raya idul fitri 1428 H.
2. Kami juga mengucapkan “ Taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin. SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1428 H.
3. Suara takbir bergema di seluruh penjuru dunia, menandakan indahnya hari kemenangan yang fitrah ini telah tiba, semoga lewat pesanini dapat mengeratkan tali silaturahmi. Taqabbalallahu minna wa minkum
4. Tad, mohon maaf lahir batin ya…
5. Sabit tampak syawal menjelang seisi alam bertakbir besarkan al Quds. Tundukkan hati dan jiwa, roja’ dan khauf menjelma. TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM.
6. aSS wR.wb. dari mata, kata, rasa dan raga kadang menimbulkan dosa dan salah yang tersirat dan tersurat. Di hari yang fitri ini tiada yang lebih indah selain memohon maaf dan doa. farid sekeluarga mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir batin wass wr wb
7. Taqabbal yaa kariim… amiiin
8. Taqabbalallahu ya kharim wa iyyaka, demikian juga kami sekeluarga mohon maaf lahir dan bathin, semoga Allah menerima amal ibadah kita.
9. Makasih, semoga rahmat serta maghfirah Nya selalu terlimpah tuk kita semua yang tak pernah luput dari alfa dan dosa.
10 Nasykurukum, kullu am wa antum bil khaer. Mohon maaf lahir batin.
Taqabbalallahu minna wa minkum, semoga Allah menerima amal kebaikan kita semua dan mengampuni segala dosa kita amiin
Selamat hari raya idul fitri 1428 H
Masyarakat Indonesia biasanya menyebut hari raya idul fitri dengan istilah lebaran, kata ini diserap dari bahasa Jawa yang berasal dari akar kata lebar (huruf e dibaca kecil seperti dalam kata lebah) maknanya adalah purna selesai dengan akhiran -an, mengandung makna kegiatan setelah menyelesaiakan sesuatu, dalam hal ini adalah kegiatan setelah menyelesaikan puasa, yakni silaturhami, saling mengunjungi antar sesama sanak suadara, tetangga, teman, karib kerabat. Kegiatan ini dilakukan oleh yang lebih muda terhadap yang lebih tua atau terhadap yang lebih dihormati. Misalnya seorang anak kepada orang tuanya, seorang cucu kepada orang tua atau kakek neneknya, atau seorang adik kepada kakaknya atau kepada tetangga yang lebih tua.
Inilah inti dari lebaran, kemudian dalam silaturahmi tadi ada kegiatan lain yakni saling memaafkan dimulai dari yang lebih muda kepada yang lebih tua disamping meminta maaf, juga ucapan selamat hari raya /lebaran, ditambah meminta do’a restu untuk kebahagian dunia akherat.
Misalnya seorang anak akan bersilaturahmi kepada orang tua, ia akan mengucapkan (dalam bahasa Jawa) “ matur bapak/ibu, simbah kawulo ngaturaken sugeng riyadi, sedoyo lepat nyuwun pangapunten, donga pangestunipun bapak/ibu/simbah ingkang tansah kulo suwun kangge kula lan sak kulawargo” (yang intinya adalah saya mengucapkan selamat hari raya idul fitri kepada bapak,ibu, kakek, nenek, saya juga meminta maaf segala kesalahan, serta meminta do’a restunya untuk kebahagiaan saya dan seluruh keluarga).
Kemudian dijawablah apa yang tadi diutarakan oleh yang lebih muda tadi. yang intinya adalah pemberian maaf karena yang tua juga tidak luput dari kesalahan sehingga terjadi saling maaf memaafkan, dan juga dido’akan.
Kemudian baru dipersilahkan mencicipi hidangan, minuman dan sebagainya.
Adapun hidangan bisanya berupa makanan ringan berupa kue pabrik maupun buatan sendiri semacam pisang rebus, kacang rebus, kacang goreng, emping melinjo goreng dan lain-lain. Adapun suguhan minuman, bila beberapa saat lalu berupa air teh manis, saat ini sudah mulai ditinggalkan dan diganti dengan air putih kemasan bahkan minuman soda ringan sprite, coca cola, coke termasuk minuman cup rasa buah yang saat ini banyak beredar di pasaran.
Untuk karib kerabat dekat selain disuguhkan hidangan makanan ringan juga disuguhkan makan nasi dengan lauk pauk utamanya daging ayam atau daging sapi.
Ini gambaran singkat lebaran di kampung, dan barangkali di kota juga hanya mungkin kemasan dan kemewahannya yang membedakan dengan leberan di kampung.
Sebab-Sebab Syirik
Sebab-Sebab Syirik
Telah diketahui bahwa syirik secara garis besar dikelompokkan menjadi dua macam. Pertama adalah Syirik Besar: yakni menyekutukan Allah dengan selain Allah (makhluk). Perilaku ini bias berupa pemujaan terhadap arwah-arwah, makhluk ghaib, jin dan sejenisnya, maupun pemujaan terhadap gunung, pohon besar, danau, mata air, binatang buas, batu besar, patung orang terkenal/shalih, dan hal-hal lainnya.
Kedua adalah Syirik Kecil: yakni melakukan ibadah tidak tulus untuk Allah. Perbuatan ini bisa berupa riya’, sombong dan lainnya.
Adapun bahaya syirik bagi keimanan adalah terutama syirik besar karena dapat menjadikan pelakunya keluar dari Islam sehingga menjadi kafir.
Gambaran singkat syirik di atas dapat mengantarkan kita untuk mencari sebab seseorang tergelincir dalam syirik besar. Bahwa pemujaan terhadap selain Allah akan menjadikan seseorang sebagai musyrik. Pemujaan ini timbul karena, si pemuja merasakan kekerdilan dirinya, ia melihat dirinya sebagai makhluk yang lemah, tiada daya bahkan terhadap nasib baik atau buruk bagi dirinya ia tidak dapat menentukan dan merasa hidupnya tergantung pada sesuatu di luar dirinya. Ketidak berdayaan ini melahirkan sikap pasrah terhadap sesuatu yang dianggap menetukan nasib baik buruknya, kepasrahan inilah yang mengantarkan pada pemujaan atau kultus terhadap seuatu yang dianggap luar biasa tadi. Inilah awal munculnya syirik.
Umpama, manusia bila dihadapkan dengan bencana alam: gunung meletus, laut meluap pasang dengan ombaknya yang menggulung, gempa bumi, banjir, angin topan, apa yang dimilkinya selama ini tidak akan mampu menghadapi bencana itu. Maka tepikirkan olehnya, kemarahan alam tadi sebagai bentuk ketidak tertundukan manusia atau pembangkangan manusia terhadap sesuatu yang dianggap menggerakkan bencana tadi. Hal ini karena ketika alam tidak menimbulkan bencana, dianggap manusia telah memenuhi tuntutan sesuatu yang dianggap sumber bencana. Maka manusia terkadang menghubungkan gunung meletus dengan makhluk penjaga gunung, bila laut menimbulkan bencana maka terlintas dipikirannya makhluk pnjaga laut dan seterusnya. Untuk meredam kemurkaan makhluk tadi m aka manusia kemudian membuat upacara-upacara ritual/pemujaan terhadap makhluk-makhluk yang dianggap mendatangkan bencana tadi. Ini kemunculan syirik. Bahkan terhadap orang yang dianggap solih sekapun, syirik dapat muncul. Ini karena orang shalih tadi dipandang sebagai orang yang dapat menentukan nasib baik dirinya. Dengan perantaraan orang sholih ini, dirinya merasa mendapat keberuntungan nasib baik. Maka muncul pula pemujaan terhadap diri orang shalih tadi baik ketika ia masih hidu atau sesudah matinya.Ini yang sebab yang pertama.
Adapun sebab yang kedua adalah karena ketidaktahuan manusia akan Dzat Allah Subhanahu wa ta’ala. Bahwa dirinya dan seluruh alam jagad raya ini adalah,pada hakekatnya sama dengan dirinya, sebagai makhluk Allah SWT. Maka karenanya tidak akan dapat menentukan nasib baik atau buruk bagi manusia. Bencana atau keberuntungan manusia adalah ditentukan manusia itu sendiri atas ijin Allah swt. Gunung meletus, gempa bumi yang mencelakakan manusia bukan karena kemurkaan makhluk penunggu keduanya tetapi atas kehendak Allah SWT terjadilah bencana itu. Maka pemahamaan akan Allah menjadi sesuatu yang mutlak diketahui oleh manusia agar terhindar dari syirik. Apapun yang menjadi sebab bagi celaka atau berutungnya manusia adalah karena ijin Allah semata, tanpa ijin Allah apapun tidak akan bisa memberikan pengaruh bagi manusia. Karena itulah harus dipahami bahwa Allahlah yang menggerakkan seluruh kehidupan jagad raya ini. Bukan karena dewa-dewa atau makhluk halus tertentu. Juga makhluk yang dapat membahayakan manusia itu juga karena ijin atau kuasa Allah semata.
Karena manusia tidak mengetahui Allah dengan baik, maka kebodohannya mejerumuskan pada kesyirikan bahwa ada selain Allah yang menentukan nasib buruk dan nasib baik dirinya. Mereka menyembah selain Allah, yakni sesuatu yang tidak dapat memberikan kemadharatan atau kemanfataan sedikitpun….
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (١٨)
18. dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?”[678] Maha suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).
[678] Kalimat ini adalah ejekan terhadap orang-orang yang menyembah berhala, yang menyangka bahwa berhala-berhala itu dapat memberi syafaat Allah.
Sinetron Ramadhan Kita
Pada bulan-bulan tertentu, seperti pada bulan ramdhan ini, stasiun televise mengemas acaranya sedemikian rupa menyesuaikan dengan bulan ramadhan. Karena bulan Ramadhan merupakan bulan suci bagi umat Islam, dimana pada bulan ini umat islam menjalankan puasa dan amalan ibadah lainnya dengan penuh semangat. Maka kaitannya dengan pembicaraan kita, acara televisi juga dikemas dalam berbagai nuansa yang-maunya – mendukung pemaknaan bulan ramadhan menjadi lebih bermakna.
Acara tersebut misalnya, ceramah keagamaan, kultum,acara waktu sahur dan sinetron . Acara-acara tersebut ditayangkan dan dikemas dalam format acara yang berbau Islam. Bahkan banyak sinetron ini sengaja dikemas untuk menyambut bulan Ramadhan ini. Secara umum patut diberikan apresiasi terhadap hal-hal semacam ini. Tetapi perlu juga diberikan beberapa catatan mengenai hal ini. Beberapa sinetron memang ingin menyuguhkan pesan Islam, ada yang dikemas dalam bentuk komedi ada pula yang dalam bentuk drama. Bila dilihat dari kemasannya, mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Hanya saja dibeberapa sinetron pesan yang hendak disuguhkan kepada para pemirsa seringkali masih bersifat verbal yang terlalu kasar ditangkap. Karena sinetron kita belum lepas dari format model cerita “bawang merah bawang putih” atau model cerita “cinderela”. Penonjolan karakter kaya miskin, jahat baik masih sangat kental. Sehingga untuk semacam ekspresi marah atau tertawa masih belum tampak natural. Karakter miskin kadang belum pas benar, baju digambarkan compang-camping tapi kulit dan raut muka tampak putih bersih. Maka kadang kesan memaksakan suatu ide masih sangat menonjol. Sehingga pesan yang hendak disampaikan terasa hambar, kurang sedap, bahkan belum enak untuk ditonton, sebagai sebuah hiburan sekaligus ajaran.
Beberapa sinetron lain, kadang sudah tidak menawarkan format semacam ini, artinya kesan memaksakan ide sudah tidak begitu menonjol karena dikemas dalam format keseharian kehidupan manusia sehingga lebih terkesan mengalir apa adanya dan kerap enak ditonton.
Saya teringat film “Robinhood the prince of thief”, film ini satu sisi menggambarkan kepahlaanan RobinHood, tetapi ada suatu adegan dimana kawan Robin yang diperankan Morgan Freeman???, mewakili sosok dari dunia Timur (Islam) yang mencenggangkan dunia barat saat itu dengan ilmu pengetahuannya dengan kemasan yang halus tetapi mengena, dapat menggambarkan- sedikit dari ajaran islam- yang begitu indah sebagai sebuah ajaran agama.
Mudah-mudahan ke depan kita dapat menampilkan wajah Islam yang lebih menarik tanpa terkesan dalam gambaran yang kasar maupun vulgar.
Tuhan Yang Kita Sembah
Mengenal Allah
Ketika diajukan pertanyaan kepada kita siapakah tuhanmu. Tentu kita akan menjawab : Tuhanku adalah Allah. Jawaban inilah yag dikemukakan dan memang itulah jawabannya. Karena memang tuhan kita adalah Allah subhanau wa ta’ala. Dan barangkali hanya berhenti di sini, tanpa menyebutkan atribut lainnya. Barangkali demikian pula ketika kita ditanya tentang sesorang, siapakah si fulan ? Jawaban kitapun paling hanya menyebutkan tentang namanya, mungkin ditambah sekolahnya, daerahnya. Dapatkah kita menjawab siapakah si fulan degan jawaban yang mengagambarkan hakekat atau gambaran utuh tentag si fulan.
Al Qur’an sebenarnya telah memberikan kepada kita penjelasan yang jelas tentang tuhan. Bahkan di buku-buku tauhid diajarkan tentang macam-macam tauhid: ada tauhid uluhiyah (pengesaan ketuhanan) ada tauhid rububiyah (pengesaan tentang tuhan pencipta dan pemelihara) ada tauhid asma dan sifat (pengesaan Tuhan tentang af’al/perbuatan dan sifatnya).
Namun ada baiknya kita mencoba melihat informasi al Qur’an tentang tuhan ini. Di surat al Baqarah: ayat 21 – 22 Allh berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١)الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٢)
21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui.
Ayat ini menjelaskan tentang hakekat Tuhan kita. Kepada siapakah kita menyembah? Tentu menyembah Allah, tapi ternyata diayat tersebut menjelaskan bahwa tuhan yang disembah itu adalah 1) dzat yang menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita. 2) Tuhan yang menciptakan bumi, langit, yang menurunkan hujan, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan buah-buahannya.
Tapi ketika kita hanya menyebut Allah saja, tentu hakekat Allah sebagai dzat yang menciptakan kita dan memberi rezki bahkan Allah sebagai dzat yang menciptkan alam ini, akan terlewatkan dari segenap benak dan perasaan kita.
Maka sebenarnya ayat tersebut mengajak, menggugah akal pikiran dan kesadaran kita akan hakekat Allah subahana wa ta’ala. Banyak faedah bila kita menyadari Allah dalam hakekat seperti firmanNya tersebut. Kita akan merasa dekat dengan Allah. Karena Allahlah yang menciptakan kita. Kita akan merasakan keagungan Allah, bagaimana bumi ini dihamparkan, bagaimana langit sebagai banguna tegak. Ini semua akan menggugah kesadaran kita akan keagungan Allah. Kita merasakan kasih sayang Allah, bagaiman hujan dicurahkan untuk menumbuhkan bumi yang gersang, dengan hujan pula maka kehidupan ini menjadi semarak dan bergairah lagi.
Dalam surat yang sama yakni al Baqarah ayat : 163-164
وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (١٦٣)إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (١٦٤)
163. dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
Ayat ini menjelaskan bahwa tuhan kita adalah tuhan yang esa tiada tuhan selain dia yang maha pengasih maha penyayang. Hal ini mengajarkan kepada kita bagaimana kita seharusnya memahami Allah, sehingga kita benar-benar mengerti tentang tuhan kita sebagaimana informasi Allah tentang diriNya sendiri kepada kita. Wallahu a’lam bishshawwab.
MANUSIA dan Al QUR’an
Manusia dihadapan al Qur’an
Allah menurunkan al Qur’an kepada ummat manusia pada sekitar empat belas abad silam lewat perantaraan Nabi Muhammad saw. Tujuan utamanya adalah sebagai petunjuk dan pembimbing manusia demi kebahagiaan hakiki mereka di dunia ini maupun dikehidupan akherat kelak.
Namun reaksi atau tanggapan manusia tidak semuanya bersikap antusias terhadap al Qur’an ini. Hal ini bisa dilihat dari sejarah tanggapan umat Nabi Muhammad sejak al Qur’an diturunkan hingga saat ini.
Berkaitan dengan hal ini, maka respon manusia terhadap al Qur’an dapat dibedakan menjadi tiga kelompok:
a. Mereka yang membenarkan dan mengimani al Qur’an. Merekalah orang yang beruntung
b. Mereka yang ragu-ragu terhadap Al Qur’an, antara mengimani dan menolak. Mereka ini perlu diberi penjelasan sehingga dengan pengetahuannya dapat menyingkirkan keraguannya
c. Mereka yang menolak dan mengingkari al Qur’an. Mereka perlu bahkan wajib didakwahi dengan bukti-bukti dan argumentasi yang dapat mematahkan keingkarannya sesuai dengan tingkat keingkarannya.
Karena itulah sebenarnya ayat – ayat al qur’an penuh dengan segala mukjizat, ayat-ayatnya teratur sesuai dengan akal pikiran. Allah menyampaikan ayat-ayatnya secara argumentatif sehingga tidak ada lagi bagi akal celah untuk menggugat al Qur’an, hanya orang yang kurang akal saja yang mencoba-coba berlagak menggugat aL Qur’an.
Sebagai contoh, Allah berfirman di surat al Lail ayat 1-3
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى (١)
وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى (٢)
وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالأنْثَى (٣)
1. demi malam apabila menutupi (cahaya siang),
2. dan siang apabila terang benderang,
3. dan penciptaan laki-laki dan perempuan,
Ayat tersebut, dalam tata bahasa Arab disamapikan dalam bentuk sumpah: demi malam…Dalam keseharian, orang melakukan sumpah biasanya untuk sesuatu urusan yang dianggap besar, sumpahnyapun dengan sesuatu yang besar pula. Misalnya ada orang bersumpah demi kehormatan atau demi bangsa atau demi bapak ibunya (orang islam dilarang bersumpah kecuali dengan Allah).
Ketika Allah bersumpah dengan makhluknya, seperti ayat di atas di mana Allah bersumpah dengan malam, maka tentu hal tersebut bukan tanpa arti apa-apa. Pernahkah terlintas dipikiran untuk secara serius memikirkan apa hakekat diciptakannya malam, dipergilirkannya siang dan malam. Apa rahasia yang terkandung di kedua waktu tersebut.
Sesungguhnya banyak sekali ayat-ayat semakna yang semuanya menggugah akal pikiran manusia. Maka hanya orang berakal saja yang mengimani al Qur’an dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bishawwab.
Comments (1)
Comments (1)
Leave a Comment