Archive for the ‘Pendidikan’ Category

MEMANFAATKAN YOUTUBE UNTUK MENGEMBANGKAN PENGAJARAN dan MEMBUAT BAHAN AJAR

MEMANFAATKAN YOUTUBE UNTUK MENGEMBANGKAN PENGAJARAN
1. orang pada umumnya membuka youtube, seperti halnya saya, kemudian klak klik, mencari video yang menarik yang sesuai. kemudian di download
2. atau lewat kotak pencarian, disitu mengetika beberapa kata keyword kemudian baru ngeklik kaca pembesar untuk mencari video yang dicari, kemudian mengamati sepintas membuka yang dimaui baru bila dirasa tepat baru didownload.
3. kemudian apa adanya ditayangkan dalam pembelajaran di kelas.
4. adakah cara lain???
5. perlu disadari bahwa youtube ibarat lautan, model di atas ibarat menjaring ikan yang ada dipermukaan, youtube bagian bawah dasar lautannya belum terjamah sama sekali. semakin menyelam ke dasar lautan youtube maka akan banyak didapatkan berbagai macam informasi. tentu menyelam ke dasar lautan youtube dibutuhkan peralatan yang memadai, tidak seperti hanya yang permukaan laut youtube cukup kapal perahu dan jaring.
6. alat yang dibutuhkan minimal adalah – BAHASA minimal bahasa INGGRIS, bagi guru agama ISLAM dan bagi guru bahasa ARAB di MADRASAH ALIYAH dibutuhkan kemampuan bahasa ARAB.
- kemudian pemahaman tentang CHANNEL YOUTUBE.
7. CHANNEL ini bisa anda klik dari sebelah LOGO Youtube ada tiga tanda strip, klik panah ke bawah, kemudian kliklah tanda + browse channel
8. pada kotak pencarian ketikkan misalnya “pendidikan” bila kurang sempit bisa ditambahkan “pendidikan agama Islam” atau “pendidikan biologi” atau “pendidikan seni”, atau apapun yang diinginkan tapi akan beda jauh saat mengetikkan dalam bahasa INGGRIS ” education” atau “biological education” dalam bahasa Inggris lebih lengkap dan lebih banyak. kemudian klik kaca pembesar maka akan ditampilkan seluruh channel pendidikan yang ada di Indonesia.
9. carilah channel yang sesuai misalnya channel dari UPI
10. bila ingin dalam bahasa INGGRIS atau ARAB, gulung ke bawah gantilah dengan klik : country/negara Indonesia dengan negara lain US atau Saudi ARabia.
11. untuk dowload cepat bisa menggunakan IDM atau lainnya, bisa juga dengan menambahkan huruf ss sebelum youtube, misal http://www.youtube.com/watch?v=E4Wl8skbtqs…menjadi http://www.ssyoutube.com/watch?v=E4Wl8skbtqs
download format video yang diinginkan: FLV,WebM,MP4,3GP.
12.Video yang sudah di download bisa diedit di rumah disesuaikan dengan kepentingan pembelajaran di kelas.
13. selamat….

MENAKAR PENDIDIKAN NASIONAL DAN PESANTREN

MENAKAR PENDIDIKAN PESANTREN DAN NON PESANTREN

Pendahuluan
K.ASteenbrink mengadakan penelitian mengenai dinamika kurikulum pesantren, yang hasilnya dituangkan dalam disertasinya Pesantren, Madrasah, Sekolah . Digambarkan bagaimana pesantren yang awalnya mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan dengan model pembelajarannya yang khas kemudian harus menggantinya dengan system baru model madrasah yang akhirnya juga harus menyelenggarkan model pendidikan ala sekolah. Bagaimana perubahan “kiyai” menjadi “drs” dengan segala sifat perbedaan cultural, social maupun psikologis dari kedua istilah tersebut.
Sementara di sisi lain, ada lembaga pendidikan yang sejak awal memproklamirkan dirinya sebagai pendidikan yang bernama sekolah, dengan filosofinya sendiri yang dari kacamata agama relaif bernuansa “sekuler”, guru dengan gelar sarjana/drs yang dengannya ia berhak mengajar di lembaga sekolah. Maka sekolah ini menjadi lembaga yang relative menjunjung rasionalitas dan agak mengabaikan aspek spiritual.

Model pendidikan di Indoensia
Indonesia secara umum mengenal dua model system pendidikan, pertama model pendidikan nasional dan dua model pendidikan local. Model pendidikan nasional artinya system pendidikan yang kurikulum, penilaian, pengawasan dan untuk mengukur taraf pendidikan bangsa dikelola, diawasi oleh Negara. Sedangkan pendidikan local merupakan pendidikan yang dikembangkan oleh individu-individu masyarakat baik kurikulum, system penilaian bahkan evaluasinya. Dalam kaitan dengan pengertian ini, maka tulisan ini igin melihat potret umum kedua pendidikan terutama pendidikan formal yang diselenggarakan oleh Negara dan pendidikan non formal yang diselenggarakan oleh pesantren.
Ditilik dari perjalanannya maka pendidikan pesantren sebenarnya jauh telah ada sebelum Negara Indonesia lahir, sedangkan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh Negara baru berkembang pesat pada kira-kira tahun 70-an. Pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat masa itu mengalami kejayaannya baik dari sisi jumlah murid maupun kualitasnya, tetapi semenjak dibukanya secara besar-besaran program sekolah negeri dan pendanaan yang dicurahkan untuk sekolah negeri termasuk model sekolah inpres maka lambat laun sekolah masyarakt ini banyak yang tenggalam dan nota bene merupakan sekolah-sekolah Islam.
Kedua model pendidikan ini memberikan memberikan sumbangan dalam pengembangan pendidikan masyarakat Indonesia. Barang kali yang membedakan adalah dalam masalah bidang studi yang digeluti. Secara umum system pendidikan nasional cenderung menempatkan ilmu-ilmu praktis yang berkaitan dengan pengelolaan dunia sedangkan pendidikan local lebih mengedepankan ilmu-ilmu keagamaan baik untuk pedoman praktis beragama bekal life skill untuk menghadapi tuntutan hidup dunia.

Perhatian Pemerintah terhadap Model Pendidikan Nasional dan Lokal
Mengingat sama-sama memberikan kontribusi bagi penyedian pendidikan di masyarakat maka perhatian pemerintah seharusnya bisa berimbang antar dua system pendidikan tadi. Masalahnya di lapangan seringkali pendidikan local kurang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
Sebagai disinggung di awal, diantara bentuk pendidikan local tadi adalah pesantren. Nur Cholis Madjid dalam Bilik-Bilik Pesantren, bahkan menyebut pesantren merupakan pendidikan yang sifatnya endegius Indonesia, system pendidikan yang asli dank has dilahirkan oleh masyarakat Indonesia. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik. Tidak saja karena keberadaannya yang sudah sangat lama, tetapi juga karena kultur, metode, dan jaringan yang diterapkan oleh lembaga agama tersebut. Karena keunikannya itu, C. Geertz menyebutnya sebagai subkultur masyarakat Indonesia (khususnya Jawa). Pesantren lahir diperkirakan pada sekitar abad 19.
Saat ini di Indonesia terdapat sekira 12.000 pesantren yang tersebar di seluruh nusantara dengan berbeda bentuk dan modelnya. Bahkan, dihuni tidak kurang dari tiga juta santri. Untuk informasi pesantren ini dapat dilihat lebih jauh di web site.
Usia pesantren yang sedemikian lama, tentu banyak memberikan kontribusi bagi kemajuan Negara Indonesia. Baik sebelum atau setelah kemerdekaan. Pada zaman penjajahan, pesantren menjadi basis perjuangan kaum nasionalis-pribumi. Banyak perlawanan terhadap kaum kolonial yang berbasis pada dunia pesantren. Bahkan dalam beberapa penelitian disebutkan juga sumbangan pesantren bagi pemberdayaan masyarakat yang dalam konteks pendidikan, aksi semcam ini biasanya hanya dapat dilakukan oleh setingkat perguruan tinggi, dan hampir belum didapati lembaga pendidikan setingkat SLTA yang memberikan kontribusi bagi pengembangan masyarakat seperti yang dilakukan pesantren.
Sebut saja beberapa tokoh dengan latar pendidikan pesantren yang dapat menduduki puncak menjadi tokoh nasional, Dr. Hidayat Nur Wahid, KH Abdurahman Wahid.
Image miring pesantren biasanya dilabelkan oleh orang atau peneliti yang tidak sepenuhnya dapat memahami pesantren secara lebih mendalam. Banyak peneliti yang yang memberikan apresisi positif terhadap keberadaan pesantren, bahkan sisi kekurangan bagi peneliti yang baginya memberikan citra negative, justru bagi pesantren hal ini menjadi kekuatan untuk secara otonom menyelenggarakan pendidikan bagi masyarakat.
Beberapa image negative pesantren / kritikan seringkali juga dikarenakan kecenderungan pesantren yang hanya berfokus pada masalah agama, harapan / tuntutan masyarakat yang terlalu tinggi terhadap pesantren, atau keinginan membandingkan system pendidikan atau manajemen pesantren dengan pendidikan non pesantren/manajemen ala perusahaan sekolah umumnya dan lainnya.
Demikian strategisnya pendidikan ala pesantren, tetapi secara undang-undang baru diakui keberadaanya akhir-akhir ini dengan diakomodasinya system pendidikan pesantren lewat undang-undang system pendisikan nasional 2004. Sebagai ilustrasi kira-kira sejak 5 tahun lalu yang lalu lulusan atau murid dari pesantren dapat diakui sebagai murid yang dapat diberi kesempatan langsung untuk ikut ujian Negara tanpa harus ikut mengenyam pendidikan di bangku “sekolah” karena memang pesantren telah diakui sebagai bagian dari system pendidikan nasional.

Antara Pendidikan Sistem Nasional dan Lokal
Kedua system pendidikan tersebut di atas, walaupun pendidikan local telah diakuai keberadaannya sebagai bagian dari system pendidikan nasional yang secara otomatis, pendidikan local tadi sudah menjadi system pendidikan nasional teapi masih menyisakan beberapa kekhasan sendiri-sendiri sebagai konsekuensi logis dari konsep filosofis pendiriannya. Kalau dibuat table perbandingan system pendidikan ala pesantren dan non pesantren kiranya dapat disajikan berikut ini:

Aspek Nasional Lokal
Manajemen Model atasan bawahan/pimpinan dan anak buah Model one figure/kyai dengan mengedepankan hati, pemimpin dengan pengikut
Keuangan/pembiayaan Pembiayaan utamanya dari Negara dengan bantuan masyarakat Dibiayai secara mandiri oleh donator dan juga ada yang mendapatkan bantuan dari Negara baik dalam atau luar negeri
Input/masukan Melalui seleksi tes atau nilai ujian akademik Mendapatkan ijin kiyai, beberapa harus lolos ujian masuk.
Tujuan Mencerdeskan kehidupan bangsa, dengan berlandaskan nilai luhur budaya bangsa Mendidik manusia untuk mengenal penciptnya, beribadah dengan benar dan tahu kedudukannya dan tanggungjawabnya sebagai anggota masyarakat
Strategi dan perlakuan terhadap murid Formal, harkat dan martabat murid diukur dari angka angka hasil ujian atau evaluasi Non formal, diberlakukan sebagai modin (motivator dan dinamisator )masyarakat.
Pola pendekatan Hubungan guru murid formal admnistratif, kaku, rasional Hubungan guru murid bersifat bimbingan, emosional
Pandangan terhadap murid Sebagi obyek yang otaknya harus dipenuhi berbagai macam pengetahuan seperti yang digariskan kurikulum. Sebagai obyek yang harus dibimbing agar menjadi manusia yang berakhlak mulia
Pihak yang memutuskan mengenai apa yang harus dipelajari Birokrat (Pemerintah pusat/Mentri Pendidikan/ pemerintah daerah) Kiyai dan pilihan santri menghendaki untuk mengaji bidang keilmuan yang menjadi minatnya.

Demikian, masing-masing membawa kekhasan dan keunikan sendiri-sendiri yang akan memperkaya khasanah pendidikan di Indonesia, yang dengannya tidak untuk saling menuding kekurangan yang ada atapi bagaimana bersinergi untuk membangun Indonesia lebih.

SEKOLAH DAN LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR

SEKOLAH VS LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR

Kali ini saya ingin melihat sekolah hubungannya dengan lembaga bimbingan belajar. Fenomena bahwa lembaga bimbingan belajar saat ini begitu banyak dan begitu banyak pula tawaran program yang diberikan.

Kondisi Sekolah

Sementara sekolah sering terpaku pada rutinitas dan aktivitas harian yang cenderung administratif dan birokratis, sehingga kurang berani melahirkan inovasi-inovasi baru dalam dunia pendidikan. Berapa banyak tips-tips atau teori-teori baru yang dihasilkan oleh sekian banyak guru kita. Rasanya masih belum banyak, juga  bila melihat buku-buku atau jurnal pendidikan yang merupakan hasil tulisan dari para guru kita juga belum banyak yang dapat kita nikmati. Memang kondisi ini tidak sepenuh- kalau harus mnyalahkan- salah guru. Sistem pendidikan kita barngkali belum sepenuhnya dapat memberikan guru untuk berkreasi sedemikian rupa dengan profesinya.

Lembaga Bimbingan Belajar

Sedangkan lembaga bimbingan belajar karena harus bersaing dengan lembaga bimbingan sejenisnya maka mau tidak mau ia harus inovatif. Sebagai sebuah lembaga profit maka lembaga bimbingan belajar harus banyak kreasi agar diminati oleh siswa-siswinya. Berbeda dengan sekolah yang biaya operasionalnya banyak disuplai oleh negara untu sekolah negri atau dari iuran wali murid untuk sekolah swasta. Lembaga bimbingan belajar untuk membiayai operasionalnya harus pandai memasarkan lembaganya sehingga layak jual. Kalau tidak maka lembaga itu akan mati.

Sebenarnya saya tidak ingin memfokuskan pada kelebihan atau kekurangan dari dua lembaga tadi atau tidak ingin membuat perbandingan mengenai karakteristik keduanya. Hanya saja saya melihat bagaimana antusisme siswa-siswi terutama di kota-kota untuk mengikuti belajar tambahan baik lewat lembaga bimbingan belajar atau les private baik oleh gurunya atau lewat guru lembaga bimbingan belajar. Kadang saya bertanya ada apakah dengan sekolah kita, dengan guru kita ? Bahkan guru LBB itupun banyak pula yang merupakan guru sekolah. Tidak cukupkah anak-anak belajar di sekolah ?, haruskan mereka untuk menjadi cerdas membutuhkan belajar tambahan lewat les atau LBB. Tidak cukupkah dengan sekolah yang ada? Kalau demikian adanya, maka  bagaimana sebenarnya peran sekolah dalam mencerdaskan anak bangsa? Ataukah siswa-siswi kita tidak percaya diri dengan sekolah ataukah ada kepentingan yang berbeda antara sekolah dengan LBB. Ataukah sekolah kita hanya memberikan formalitas ? atau sekedar mengajarkan permulaan ilmu yang harus diperdalam di LBB? Ataukah sekedar untuk memasuki jenjang PT dari SMA, masuk SMA dari SLTP atau lulus ujian nasional dan semester ?

Kalau sekolah hanya berfungsi formalitas, bisa jadi tidak perlu sekolah cukup mencatatkan diri di sekolah, kemudian hanya pada waktu ujian ia mengikutinya selebihnya dapat ia pergunakan untuk belajar apapun dari kehidupan ini, termasuk bekerja atau belajar skill hidup yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

Bahkan bagaimana jadinya bila sekolah kita (utamanya) hanya menargetkan lulus UN ? tetapi kurang atau tidak mengisinya dengan karakteristik pelajar sebagai pencari ilmu yang terus didorong untuk memiliki rasa ingin tahu atau mendorong agar mampu bertanggung jawab terhadap kehidupan masa depannya yang lebih baik.

Inilah beberapa hal yang kadang menggelitik di benak saya.

SEKOLAH DIBIAYAI PEMERINTAH

SEKOLAH GRATIS

Akhir – akhir ini Cut Mini gencar mengiklankan sekolah gratis di televisi, bahkan undang-undang dasar pun sebenarnya mengamanatkan kepada bangsa ini. Coba disimak bunyi UUD ini:

Pasal 28C

(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.

BAB XIII

PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Pasal 31

(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.

(2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Implementasi Sekolah Gratis

Beberapa pemerintah daerah ada yang sudah melaksanakan sekolah gratis ini bahkan sampai tingkat SLTA. Sebut misalnya Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, dan mungkin juga beberapa pemerintah daerah lainnya. Pelaksanaan sekolah gratis ini menyangkut beaya sumbangan pendidikan, maupun sumbangan gedung, ujian maupun sumbangan-sumbangan lainnya yang ditarik dari wali murid untuk membantu beaya subsidi penyelenggaraan sekolah dari pemerintah. Bisa jadi sumbangan ini muncul karena minimnya anggaran pemerintah untuk pengembangan pendidikan sehingga kurang memadai yang akhirnya sekolah menarik sumbangan dari wali murid untuk ikut menopang pembeayaan sekolah.

Besarnya sumbangan juga seringkali bervareasi antar sekolah tergantung pada tingkat ekonomi wali murid atau bonafide tidaknya sekolah bersangkutan. Tingkat ekonomi wali murid menengah ke atas tentu sumbungan lebih besar juga sekolah bonafide tentu menarik sumbangan yang  juga cenderung besar.

Memang untuk menyelenggarakan sekolah yang baik, bermutu dan maju tentu dibutuhkan beaya yang tidak sedikit, negara-negara maju sekalipun mereka menganggarkan beaya pendidikan yang tinggi, baik untuk melengkapi fasiltas, gaji guru/dosen, bahkan untuk penelitian pengembangan keilmuan bahkan untuk beasiswa /subsidi murid-murid.

Melihat kondisi sekolah-sekolah di Indonesia, dan kalau ingin maju maka memang pemerintah seharusnya menggratiskan beaya pendidikan terutama untuk masyarakat menengah bawah dan memenuhi semua kebutuhan pembeayaan pendidikan, terutama untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Gratis sekolah negeri dan swasta

Sekolah gratis ini harusnya diterapkan juga untuk sekolah swasta, anak tidak membayar apapun tetapi semua beaya yang timbul dari penyelenggaraan sekolah dipenuhi semua oleh negara/pemerintah. Bukan hanya untuk sekolah negeri saja karena kalau dibeayai oleh negara maka tentu beaya itu diambilkan dari pajak negara. Sehingga semestinya memang semua anak yang bersekolah di negeri atau swasta berhak mendapatkan beaya sekolah gratis itu . miskipun untuk sekolah swasta tidak sepenuhnya gratis kecuali memang semua beaya yang timbul ditanggung negara. Tetapi mengapa yang gratis hanya sekolah negeri ?. Namun saat ini dengan adanya Bantuan Operasional sekolah, sekolah-sekolah sedikit terbantu karena tidak hanya sekolah negeri tapi sekolah swastapun mendapatkan, tetapi belum menyentuh untuk sekolah menengah atas.

MENYOAL MASA LIBUR SEKOLAH

LIBUR SEKOLAH LEBIH LAMA

Sekian lama berkecimpung di dunia pendidikan, sering rasanya saya ingin tahu bagaimana model sekolah di negara-negara maju. Apakah sekolah mereka seperti sekolah kita. apa saja yang mereka peljari, bagaiamana mereka belajar, bagaimana guru mengajar, buku apa yang mereka pakai apakah buku paket seperti kita, atau justru tidak ada buku khusus untuk sekolah dan lain-lainnya.

Ketika tahu konon mereka belajar hanya sekitar 8 bulan, karea ada libur musim panas yang empat bulan saya kadang membayangkan dengan lbur empat bulan dapat digunakan untuk kursus, jalan-jalan, menjelajah pengalaman baru atau latihan/magang kerja atau untuk kegiatan lainnya yang dapat menunjang bakat baik dalam seni olah raga atau lainnya. Sehingga potensi-potensi lain dalam diri dapat berkembang dengan maksimal.

Ini barangkali, kalau berpikir ideal, tapi pikiran negatif barangkali mengatakan, kekosongan pelajaran jangan-jangan dipakai siswa untuk berantem, kebut-kebutan, kegiatan yang tidak bermanfaat lainnya, .

Tetapi semakin dewasa Indonesia kita berharap, dengan kelonggaran waktu luang kiranya dapat dimanfaatkan dengan baik.

Bagi guru barangkali dapat membuat persiapan pembelajaran yang baik, dapat meningkatkan diri dengan short course atau pelatihan lainnya.

bagi beberapa sekolah, yang dapat mandiri tapa merasa terintervensi pemerintah tentunya dapat lebih leluasa menyelenggarakan pendidikan yang lebih baik.

INOVASI MODEL PENDIDIKAN

Inovasi Lompatan Kemajuan dalam Pendidikan


Beberapa tahun belakangan ini, sekolah-sekolah doributkan untuk menuju sekolah bertaraf internasional, bahkan undang-undang mengamanatkan untuk setiap kabupaten memiliki satu sekolah bertaraf internasional. Maka bila ada kabupaten yang belum meiliki sekolah (rintisan) bertaraf internasional, maka bisa jadi bupatinya bila bertemu atasannya atau rekan buapti lainnya akan menjadi sasaran omongan, kenapa nggak punya sekolah bertaraf iternasional.

Memiliki sekolah bertaraf internasional, tentu bukan hanya kabupatenn yang berkepntingan, ttapi negara juga  sangat berkepentingan, minimal mata dunia tidak sebelah mata memandang pendidikan Indonesia yang begitu terperosok, maka bila katakanlah di Indonesesia ada 40 sekolah bertaraf  internasional, wah tntu gengsi Indoensia akan naik di mata dunia. tetapi melihat betapa negara maju saat ini tentu tidak dengan mudahnya membangu pendidikan mereka yang demikian maju, banyak hal yang harus dilakukan, misalnya komitmen, kesadaran untuk maju dan tentu sarana=prasarana.

Toh begitu saya kira pemerintah tidak cukup hanya mendirikan rsbi-rsbi, bahkan kalau perlu katakanlah untuk membuat sekolah yang benar-benar unggul yang dapat menjadi motor kemajuan, dapat dibuat model sekolah baru, misalnya setiap kabupaten mengirimkan beberapa orang siswanya yang cerdas kemudian dibuatkan sekolah khusus untuk orang-orang cerdas ini di setiap propinsi dengan bantuan dana dari pemerintah yang dikelalo dengan baik baik dari sisi inteletual, mmoral maupun spiritualnya, maka insya allah hal ini akan dapat mendorng lompatan kemajuan pendidikan di Indonesia.

Melihat perjalanan RSBI saat ini,  (miskipun mungkin masih terlalu dini) ibaratnya melihat siput berjalan. Padahal saya kira yang kita perlukan sekarang adalah membuat lompatan-lompatan kemajuan dalam bidang pendidikan, kalau kita bisa melompat seperti kijang kenapa kita harus berjalan seperti siput ?.

di beberapa daerah, bahkan mulai bermunculan sekolah internasional dengan gedung mewah laksana perkantoran , guru yang sangat kompeten, kurikulum standar negara maju, dan lulusannnya tjuannya mekanjutkan studi keluar negri, tentu dengan biaya mahal juga.

Bahkan banyak swasta yang jauh lebih dahulu telah menyelenggarakan sekolah internasional bukan hanya nama tapi memang hampir di semua lini memiliki rasa internasional.

Maka inovasi yang terus menerus kita harapkann dari departemen pendidikan untuk menggenjot kemajuan pendidikan di Indoensia.

Setelah sekolah mandiri, sekolah standar nasional, sekolah standar internasional dengan ISO maka kita harapkan ada lagi sekolah apalah yang penting dapat membuat lompatan kemujuan dalam bidang pendidikan.

ISO

ISO

Ada satu hal yang ketika kita bergaul dengan dunia inernasional perlu menjadi perhatian. Yakni mengenai semacam standar hubungan tertentu sehingga semua apa yang ada pada kita dapat diterima oleh dunia inernasional, dan sayangnya standar itu yang menetapkan adalah dunia barat. Sehingga mau tidak mau kita akan ikut dengan apa yang menjadi tuntutan standar mereka. Ini hampir di segala bidang.

Salah satunya adalah Standar ISO . Barangkali salah sisi yang perlu ditiru , miskipun suatu lembaga tidak dapat memenuhi secara formal sertifikat ISO, tetapi hal yang dapat dikerjakan adalah merumuskan secara bersama standar apa yang harus dikerjakan agar lembaga tersebut dapat lebih berprestasi.

Ini barangkali yang menjadi kesepakatan awal antar komponen yang terlibat pengelolaan suatu lembaga. Dari kesepakatan bersama untuk maju ini kemudian dibuatkan dokumen secara tertulis semua hal yang akan dikerjakan dalam suatu bentuk prosedur kerja yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugas.

Prosedur kerja yang menjadi kesepakatan itulah yang akan menjadi tolok ukur bersama untuk meraih kemajuan, bagaimana komitmen seluruh komponen terhadap prosedur kerja iu ditaati bersama.

Kemudian secara periodic, diadakan evaluasi bersama mana saja hal-hal yng tidak dapat berjalan sesuai dengan prosedur kerja yang telah ditetapkan tadi.

Berangkat dari sini sebenarnya suatu lembaga dapat meningkatkan prestasi dengan standar kualitas tertentu, minimal ada tolok ukur yang dapat dijadikan acuan penilaian dibandingkan ketika tidak mengadakan standarisasi prosedur kerja. Memang tentu tidak setiap lembaga mampu memenuhi syarat sertifikasi ISO mengingat dana yang dibutuhkan sangat besar. Untuk ISO Standart Management System saja di tingkat lembaga pendidikan mencapai Rp. 55 juta. Ini belum termasuk persiapan menuju sertifikasi, bahkan untuk perusahaan untuk satu item yang sama bisa mencapai satu milyar.

Situs-Situs Pendidikan

KEMENTRIAN PENDIDIKAN SAUDI ARABIYA

Saya sebenarya ingin dapat melihat situs-situs tentang pendidikan dari berbagai Negara, dan bahkan situs-situs lembaga-lembaga pendidikan atau mungkin dari para guru dari berbagai belahan dunia. Namun sampai sekarang saya masih belum mendapatkan situs-situs tersebut.

Harapan saya , dengan mengetahui situs tersebut saya dapat memperoleh berbagai informasi tentang perkembangan atau system yang berlaku di berbagai lembaga pendidikan yang ada. Syukur ada situs yang secara lengkap memberikan gambaran utuh tentang profile lembaga pendidikan atau kementrian resmi pendidikan sehingga misalnya, saya dapat membandingkan kurikulum dan buku pegangan yang dipakai oleh masing-masing lembaga. Termasuk daftar mata pelajaran yang diajarkan,metodologi penagajaran dan lainnya, syukur pula disertakan, tentunya secara free, modul-modul pembelajaran, metodologi pengajaran maupun software pengembangan pendidikan.

Baru satu situs yang saya dapatkan buku-buku pegangan yang dapat didownload dari situs kementrian pendidikan Arab Saudi. Bahkan pula disediakan beberapa modul perangkat pembelajaran yang dipakai di sekolah-sekolah di Arab Saudi.

Situs ini beralamat di:

1. http://www2.moe.gov.sa/

2. http://www2.moe.gov.sa/ebooks/

Semoga ke depan ada yang berbagi tentang informasi pendidikan ini, demi kemajuan pendidikan di Negara Indonesia ini. salam

AKHIR UJIAN NASIONAL

UJIAN NASIONAL

Akhir Ujian Nasional
Sebenarnya adalah Ujian Akhir Nasional atau kalau sekarang disebut Ujian Nasional, dan Ujian Nasional tahun 2007/2008 kelas XII berakhir pada hari Kamis, tanggal 25 April 2008. Kisah Suka duka, segala macam rasa jengkel, marah, sedih, gusar,senang, harap-harap cemas menyelimuti panitia, pengawas maupun peserta ujian. Bahkan kisah kelucuan, tangis, hingga juga menyertai ujian kali ini.

Pelaksanaan Ujian Tingkat Lokal
Banyak hal yang dapat dipetik dari un ini maupun sebelumnya.
Misalnya dari sisi penyelenggaraan tingkat lokal, segala hal yang ditempuh dalam penyelenggaraan ujian nasional tingkat lokal semuanya didasarkan pada pertimbangan kesuksesan anak-anak sehingga lulus ujian. Mulai dari bimbingan belajar secara instensif (jadi lahan bisnis baru), do’a bersama, dan berbagai macam strategi belajar lainnya, bahkan secara psikologis anak-anak disiapkan untuk menghadapi un karena miski otak encer tapi mudah stress maka ketika menjawab un otak jadi blank. Dan segala macam bentuk persiapan lainnya secara akademis yang sebenarnya sudah sangat lebih dari cukup. Itu semua belum dirasa cukup mantap untuk menjamin lulus.

Maka ditambah dengan jurus-jurus lain kolaborasi antar sekolah madrasah, antar pengawas, antar mkks, antar-antar lainnya. Yang semuanya menjurus pokoknya tahu sama tahu.

Ini karena un dianggap sebagai sesuatu yang tidak realistis bagi sekolah-sekolah umumnya di Indonesia, sudah dimaklumi bersama bagaima carut marutnya sistem pendidikan di Indonesia, kurikulum yang cenderung tambal sulam, birokarsi yang tidak mendukung pengembangan pendidikan yang kondisif, hingga mutu para guru dalam metodologi pengajaran dsb dsb.
maka dalam benak mereka yang terlibat secara praktis di sekolah ujian nasional ini dengan nilai kelulusan sedimikian tentu sangat jauh diraih dengan cara-cara normal (belajar disekolah dengan sekian matapelajaran dan waktunya, dengan metodologi sedemikian, dengan sarana prasarana sedemikian rupa)pengawasan yang ketat, dll) kemudian diharapkan misalnya 90% lulus ujian dengan nilai murni diatas 9.
Itu harapan, tetapi kenyataan dilapangan katakanlah dalam satu kabupaten ada 16 (SMA, MA, SMK, negeri atau swasta) maka yang difavoritkan paling banter ada 3 sekolah, selebihnya hanya menjadi sekolah pelengkap. Kemudian dari sekian puluh sekolah itu katakanlah untuk mata pelajaran matematika kalau mau fair, siswa yang jago matematika tentu tidak sampai banyak sekali, katakanlah satu kelas ada 40 siswa maka yang jago matematika paling hanya 10 orang. yang lain menjadi pelengkap saja. Maka kalau diuji secara nasional dengan asumsi seperti ini maka sebenarnya kalau banyak yang lulus tentu disamping belajar giat dan disiapkan dengan belajar yang intensif tentu ada cara “jalanan” yang diatur agar siswa dapat lulus dengan mantap.

Sisi Ekonomis Ujian Nasional
Dilihat dari sisi ekonomi ujian nasional ini tentu oleh pemerintah diberikan anggaran yang tidak sedikit, “hanya” untuk menguji kelayakan seseorang murid selama belajarnya untuk layak lulus dari tingkat SLTA atau tidak.

Belum lagi anggaran dari pemerintah provinsi maupun daerah, ditambah pungutan-pungutan untuk “kesuksesan” pelaksanaan ujian.
Maka dari sisi ekonomis ujian ini sangat komersial sekali, satu contoh: untuk pengadaan kaset listening secara kasar dari sisi ekonomis nilai komersialnya bisa jadi sebanding dengan kaset yang dikeluarkan oleh suatu grup musik, belum lagi pengadaan naskah soal hanya untuk penggandaannya belum termasuk pembuatannya.
Ini baru sekelumit biaya-biaya yang timbul dari penyelenggaraan Ujian Nasional belum kalau dihitung untuk biaya-biaya lain.

Inilah barangkali sekelumit kisah underground pendidikan di Indonesia.Toh demikian mari bersama-sama tetap membangun kecerdasan anak-anak bangsa karena dengan kecerdasan itulah yang membedakan manusia dengan binatang, karena kecerdasan itulah ia menjadi makhluk mulia di sisi Allah.

Ujian nasional 2007/2008

kemarin hari Rabu tanggal 22 Agustus 07, saya lihat edaran dari depag untuk wilayah jawa tengah tentang mata pelajaran yang diujikan untuk ujian tahun pelajaran 2007/2008. Tentu ini mengacu pada depatemen pendidikan nasional, sehingga untuk SMA tentu sama.

Bila tahun kemarin ujian nasional hanya tiga mata pelajaran, untuk tahun depan ini mata ujian negara ditambah tiga lagi sehingga menjadi enam mata pelajaran yang bakan diujikan oleh negra republik Indonesia tercinta ini.

Mata Pelajaran ini untuk Jurusan IPA meliputi 1) Bhs Inggris 2) Bhs Indonesia 3) Mataematika 4) Fisika 5) Kimia 6) Biologi.

Mata Pelajaran untuk jurusan IPS meliputi 1) Bhs Inggris 2) Bhs Indonesai 3) Matematika 4) Sosiologi 5) Ekonomi 6) geografi

Tetapi untuk permendiknas dan POS nya  masih nunggu  dari pemerintah.

Terus, bila memang benar demikian maka sekolah atau madrasah harus kerja lebih keras lagi untuk menyiapkan murid-muridnya siap secara materi maupun psikologis untuk menghadapi ujian nasional enam mata pelajaran kali ini.

Untuk para siswa siswi tentu tidak perlu berkecil hati menghadapi ini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.