Archive for the ‘Pendidikan’ Category
SEKOLAH DIBIAYAI PEMERINTAH
SEKOLAH GRATIS
Akhir – akhir ini Cut Mini gencar mengiklankan sekolah gratis di televisi, bahkan undang-undang dasar pun sebenarnya mengamanatkan kepada bangsa ini. Coba disimak bunyi UUD ini:
Pasal 28C
(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
BAB XIII
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Pasal 31
(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
(2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
Implementasi Sekolah Gratis
Beberapa pemerintah daerah ada yang sudah melaksanakan sekolah gratis ini bahkan sampai tingkat SLTA. Sebut misalnya Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, dan mungkin juga beberapa pemerintah daerah lainnya. Pelaksanaan sekolah gratis ini menyangkut beaya sumbangan pendidikan, maupun sumbangan gedung, ujian maupun sumbangan-sumbangan lainnya yang ditarik dari wali murid untuk membantu beaya subsidi penyelenggaraan sekolah dari pemerintah. Bisa jadi sumbangan ini muncul karena minimnya anggaran pemerintah untuk pengembangan pendidikan sehingga kurang memadai yang akhirnya sekolah menarik sumbangan dari wali murid untuk ikut menopang pembeayaan sekolah.
Besarnya sumbangan juga seringkali bervareasi antar sekolah tergantung pada tingkat ekonomi wali murid atau bonafide tidaknya sekolah bersangkutan. Tingkat ekonomi wali murid menengah ke atas tentu sumbungan lebih besar juga sekolah bonafide tentu menarik sumbangan yang juga cenderung besar.
Memang untuk menyelenggarakan sekolah yang baik, bermutu dan maju tentu dibutuhkan beaya yang tidak sedikit, negara-negara maju sekalipun mereka menganggarkan beaya pendidikan yang tinggi, baik untuk melengkapi fasiltas, gaji guru/dosen, bahkan untuk penelitian pengembangan keilmuan bahkan untuk beasiswa /subsidi murid-murid.
Melihat kondisi sekolah-sekolah di Indonesia, dan kalau ingin maju maka memang pemerintah seharusnya menggratiskan beaya pendidikan terutama untuk masyarakat menengah bawah dan memenuhi semua kebutuhan pembeayaan pendidikan, terutama untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Gratis sekolah negeri dan swasta
Sekolah gratis ini harusnya diterapkan juga untuk sekolah swasta, anak tidak membayar apapun tetapi semua beaya yang timbul dari penyelenggaraan sekolah dipenuhi semua oleh negara/pemerintah. Bukan hanya untuk sekolah negeri saja karena kalau dibeayai oleh negara maka tentu beaya itu diambilkan dari pajak negara. Sehingga semestinya memang semua anak yang bersekolah di negeri atau swasta berhak mendapatkan beaya sekolah gratis itu . miskipun untuk sekolah swasta tidak sepenuhnya gratis kecuali memang semua beaya yang timbul ditanggung negara. Tetapi mengapa yang gratis hanya sekolah negeri ?. Namun saat ini dengan adanya Bantuan Operasional sekolah, sekolah-sekolah sedikit terbantu karena tidak hanya sekolah negeri tapi sekolah swastapun mendapatkan, tetapi belum menyentuh untuk sekolah menengah atas.
MENYOAL MASA LIBUR SEKOLAH
LIBUR SEKOLAH LEBIH LAMA
Sekian lama berkecimpung di dunia pendidikan, sering rasanya saya ingin tahu bagaimana model sekolah di negara-negara maju. Apakah sekolah mereka seperti sekolah kita. apa saja yang mereka peljari, bagaiamana mereka belajar, bagaimana guru mengajar, buku apa yang mereka pakai apakah buku paket seperti kita, atau justru tidak ada buku khusus untuk sekolah dan lain-lainnya.
Ketika tahu konon mereka belajar hanya sekitar 8 bulan, karea ada libur musim panas yang empat bulan saya kadang membayangkan dengan lbur empat bulan dapat digunakan untuk kursus, jalan-jalan, menjelajah pengalaman baru atau latihan/magang kerja atau untuk kegiatan lainnya yang dapat menunjang bakat baik dalam seni olah raga atau lainnya. Sehingga potensi-potensi lain dalam diri dapat berkembang dengan maksimal.
Ini barangkali, kalau berpikir ideal, tapi pikiran negatif barangkali mengatakan, kekosongan pelajaran jangan-jangan dipakai siswa untuk berantem, kebut-kebutan, kegiatan yang tidak bermanfaat lainnya, .
Tetapi semakin dewasa Indonesia kita berharap, dengan kelonggaran waktu luang kiranya dapat dimanfaatkan dengan baik.
Bagi guru barangkali dapat membuat persiapan pembelajaran yang baik, dapat meningkatkan diri dengan short course atau pelatihan lainnya.
bagi beberapa sekolah, yang dapat mandiri tapa merasa terintervensi pemerintah tentunya dapat lebih leluasa menyelenggarakan pendidikan yang lebih baik.
INOVASI MODEL PENDIDIKAN
Inovasi Lompatan Kemajuan dalam Pendidikan
Beberapa tahun belakangan ini, sekolah-sekolah doributkan untuk menuju sekolah bertaraf internasional, bahkan undang-undang mengamanatkan untuk setiap kabupaten memiliki satu sekolah bertaraf internasional. Maka bila ada kabupaten yang belum meiliki sekolah (rintisan) bertaraf internasional, maka bisa jadi bupatinya bila bertemu atasannya atau rekan buapti lainnya akan menjadi sasaran omongan, kenapa nggak punya sekolah bertaraf iternasional.
Memiliki sekolah bertaraf internasional, tentu bukan hanya kabupatenn yang berkepntingan, ttapi negara juga sangat berkepentingan, minimal mata dunia tidak sebelah mata memandang pendidikan Indonesia yang begitu terperosok, maka bila katakanlah di Indonesesia ada 40 sekolah bertaraf internasional, wah tntu gengsi Indoensia akan naik di mata dunia. tetapi melihat betapa negara maju saat ini tentu tidak dengan mudahnya membangu pendidikan mereka yang demikian maju, banyak hal yang harus dilakukan, misalnya komitmen, kesadaran untuk maju dan tentu sarana=prasarana.
Toh begitu saya kira pemerintah tidak cukup hanya mendirikan rsbi-rsbi, bahkan kalau perlu katakanlah untuk membuat sekolah yang benar-benar unggul yang dapat menjadi motor kemajuan, dapat dibuat model sekolah baru, misalnya setiap kabupaten mengirimkan beberapa orang siswanya yang cerdas kemudian dibuatkan sekolah khusus untuk orang-orang cerdas ini di setiap propinsi dengan bantuan dana dari pemerintah yang dikelalo dengan baik baik dari sisi inteletual, mmoral maupun spiritualnya, maka insya allah hal ini akan dapat mendorng lompatan kemajuan pendidikan di Indonesia.
Melihat perjalanan RSBI saat ini, (miskipun mungkin masih terlalu dini) ibaratnya melihat siput berjalan. Padahal saya kira yang kita perlukan sekarang adalah membuat lompatan-lompatan kemajuan dalam bidang pendidikan, kalau kita bisa melompat seperti kijang kenapa kita harus berjalan seperti siput ?.
di beberapa daerah, bahkan mulai bermunculan sekolah internasional dengan gedung mewah laksana perkantoran , guru yang sangat kompeten, kurikulum standar negara maju, dan lulusannnya tjuannya mekanjutkan studi keluar negri, tentu dengan biaya mahal juga.
Bahkan banyak swasta yang jauh lebih dahulu telah menyelenggarakan sekolah internasional bukan hanya nama tapi memang hampir di semua lini memiliki rasa internasional.
Maka inovasi yang terus menerus kita harapkann dari departemen pendidikan untuk menggenjot kemajuan pendidikan di Indoensia.
Setelah sekolah mandiri, sekolah standar nasional, sekolah standar internasional dengan ISO maka kita harapkan ada lagi sekolah apalah yang penting dapat membuat lompatan kemujuan dalam bidang pendidikan.
ISO
ISO
Ada satu hal yang ketika kita bergaul dengan dunia inernasional perlu menjadi perhatian. Yakni mengenai semacam standar hubungan tertentu sehingga semua apa yang ada pada kita dapat diterima oleh dunia inernasional, dan sayangnya standar itu yang menetapkan adalah dunia barat. Sehingga mau tidak mau kita akan ikut dengan apa yang menjadi tuntutan standar mereka. Ini hampir di segala bidang.
Salah satunya adalah Standar ISO . Barangkali salah sisi yang perlu ditiru , miskipun suatu lembaga tidak dapat memenuhi secara formal sertifikat ISO, tetapi hal yang dapat dikerjakan adalah merumuskan secara bersama standar apa yang harus dikerjakan agar lembaga tersebut dapat lebih berprestasi.
Ini barangkali yang menjadi kesepakatan awal antar komponen yang terlibat pengelolaan suatu lembaga. Dari kesepakatan bersama untuk maju ini kemudian dibuatkan dokumen secara tertulis semua hal yang akan dikerjakan dalam suatu bentuk prosedur kerja yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugas.
Prosedur kerja yang menjadi kesepakatan itulah yang akan menjadi tolok ukur bersama untuk meraih kemajuan, bagaimana komitmen seluruh komponen terhadap prosedur kerja iu ditaati bersama.
Kemudian secara periodic, diadakan evaluasi bersama mana saja hal-hal yng tidak dapat berjalan sesuai dengan prosedur kerja yang telah ditetapkan tadi.
Berangkat dari sini sebenarnya suatu lembaga dapat meningkatkan prestasi dengan standar kualitas tertentu, minimal ada tolok ukur yang dapat dijadikan acuan penilaian dibandingkan ketika tidak mengadakan standarisasi prosedur kerja. Memang tentu tidak setiap lembaga mampu memenuhi syarat sertifikasi ISO mengingat dana yang dibutuhkan sangat besar. Untuk ISO Standart Management System saja di tingkat lembaga pendidikan mencapai Rp. 55 juta. Ini belum termasuk persiapan menuju sertifikasi, bahkan untuk perusahaan untuk satu item yang sama bisa mencapai satu milyar.
AKHIR UJIAN NASIONAL
UJIAN NASIONAL
Akhir Ujian Nasional
Sebenarnya adalah Ujian Akhir Nasional atau kalau sekarang disebut Ujian Nasional, dan Ujian Nasional tahun 2007/2008 kelas XII berakhir pada hari Kamis, tanggal 25 April 2008. Kisah Suka duka, segala macam rasa jengkel, marah, sedih, gusar,senang, harap-harap cemas menyelimuti panitia, pengawas maupun peserta ujian. Bahkan kisah kelucuan, tangis, hingga juga menyertai ujian kali ini.
Pelaksanaan Ujian Tingkat Lokal
Banyak hal yang dapat dipetik dari un ini maupun sebelumnya.
Misalnya dari sisi penyelenggaraan tingkat lokal, segala hal yang ditempuh dalam penyelenggaraan ujian nasional tingkat lokal semuanya didasarkan pada pertimbangan kesuksesan anak-anak sehingga lulus ujian. Mulai dari bimbingan belajar secara instensif (jadi lahan bisnis baru), do’a bersama, dan berbagai macam strategi belajar lainnya, bahkan secara psikologis anak-anak disiapkan untuk menghadapi un karena miski otak encer tapi mudah stress maka ketika menjawab un otak jadi blank. Dan segala macam bentuk persiapan lainnya secara akademis yang sebenarnya sudah sangat lebih dari cukup. Itu semua belum dirasa cukup mantap untuk menjamin lulus.
Maka ditambah dengan jurus-jurus lain kolaborasi antar sekolah madrasah, antar pengawas, antar mkks, antar-antar lainnya. Yang semuanya menjurus pokoknya tahu sama tahu.
Ini karena un dianggap sebagai sesuatu yang tidak realistis bagi sekolah-sekolah umumnya di Indonesia, sudah dimaklumi bersama bagaima carut marutnya sistem pendidikan di Indonesia, kurikulum yang cenderung tambal sulam, birokarsi yang tidak mendukung pengembangan pendidikan yang kondisif, hingga mutu para guru dalam metodologi pengajaran dsb dsb.
maka dalam benak mereka yang terlibat secara praktis di sekolah ujian nasional ini dengan nilai kelulusan sedimikian tentu sangat jauh diraih dengan cara-cara normal (belajar disekolah dengan sekian matapelajaran dan waktunya, dengan metodologi sedemikian, dengan sarana prasarana sedemikian rupa)pengawasan yang ketat, dll) kemudian diharapkan misalnya 90% lulus ujian dengan nilai murni diatas 9.
Itu harapan, tetapi kenyataan dilapangan katakanlah dalam satu kabupaten ada 16 (SMA, MA, SMK, negeri atau swasta) maka yang difavoritkan paling banter ada 3 sekolah, selebihnya hanya menjadi sekolah pelengkap. Kemudian dari sekian puluh sekolah itu katakanlah untuk mata pelajaran matematika kalau mau fair, siswa yang jago matematika tentu tidak sampai banyak sekali, katakanlah satu kelas ada 40 siswa maka yang jago matematika paling hanya 10 orang. yang lain menjadi pelengkap saja. Maka kalau diuji secara nasional dengan asumsi seperti ini maka sebenarnya kalau banyak yang lulus tentu disamping belajar giat dan disiapkan dengan belajar yang intensif tentu ada cara “jalanan” yang diatur agar siswa dapat lulus dengan mantap.
Sisi Ekonomis Ujian Nasional
Dilihat dari sisi ekonomi ujian nasional ini tentu oleh pemerintah diberikan anggaran yang tidak sedikit, “hanya” untuk menguji kelayakan seseorang murid selama belajarnya untuk layak lulus dari tingkat SLTA atau tidak.
Belum lagi anggaran dari pemerintah provinsi maupun daerah, ditambah pungutan-pungutan untuk “kesuksesan” pelaksanaan ujian.
Maka dari sisi ekonomis ujian ini sangat komersial sekali, satu contoh: untuk pengadaan kaset listening secara kasar dari sisi ekonomis nilai komersialnya bisa jadi sebanding dengan kaset yang dikeluarkan oleh suatu grup musik, belum lagi pengadaan naskah soal hanya untuk penggandaannya belum termasuk pembuatannya.
Ini baru sekelumit biaya-biaya yang timbul dari penyelenggaraan Ujian Nasional belum kalau dihitung untuk biaya-biaya lain.
Inilah barangkali sekelumit kisah underground pendidikan di Indonesia.Toh demikian mari bersama-sama tetap membangun kecerdasan anak-anak bangsa karena dengan kecerdasan itulah yang membedakan manusia dengan binatang, karena kecerdasan itulah ia menjadi makhluk mulia di sisi Allah.
Ujian nasional 2007/2008
kemarin hari Rabu tanggal 22 Agustus 07, saya lihat edaran dari depag untuk wilayah jawa tengah tentang mata pelajaran yang diujikan untuk ujian tahun pelajaran 2007/2008. Tentu ini mengacu pada depatemen pendidikan nasional, sehingga untuk SMA tentu sama.
Bila tahun kemarin ujian nasional hanya tiga mata pelajaran, untuk tahun depan ini mata ujian negara ditambah tiga lagi sehingga menjadi enam mata pelajaran yang bakan diujikan oleh negra republik Indonesia tercinta ini.
Mata Pelajaran ini untuk Jurusan IPA meliputi 1) Bhs Inggris 2) Bhs Indonesia 3) Mataematika 4) Fisika 5) Kimia 6) Biologi.
Mata Pelajaran untuk jurusan IPS meliputi 1) Bhs Inggris 2) Bhs Indonesai 3) Matematika 4) Sosiologi 5) Ekonomi 6) geografi
Tetapi untuk permendiknas dan POS nya masih nunggu dari pemerintah.
Terus, bila memang benar demikian maka sekolah atau madrasah harus kerja lebih keras lagi untuk menyiapkan murid-muridnya siap secara materi maupun psikologis untuk menghadapi ujian nasional enam mata pelajaran kali ini.
Untuk para siswa siswi tentu tidak perlu berkecil hati menghadapi ini.
NILAI NILAI-AN
Judul diatas diserap dari bahasa Jawa, semacam bal-balan, tembak-tembakan, maling-malingan yang kesemuanya lebih mengambarkan pada kejadian tidak sungguh sungguh terjadi. Ada unsur permainan atau lebih tepatnya dolanan (dalam bhs Jawa). Ini saya maksudkan untuk menggambarkan penilaian yang ada saat ini (menurut yang saya amati)
Lembaga-lembaga pendidikan formal dalam mengukur kemampuan seorang peserta didiknya akan mengadakan berbagai model penilaian. Ada penilaian pada ujian tengah semester atau mid semester, ada ujian semester, ada ujian semesterpendek, ada ujian akhir,ada ujian nasional, ada ujian praktek. Sekian kali ujian ini dimaksudkan untuk memberikan laporan secara berkalamengenai kemajuan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran,apakah ia telah mampu menyerap pelajaran yang diberikan oleh seorang guru atau belum. Disamping tujuan-tujuan laiannya. Sehingga dengan laporan ini pihak yang berkaitan dengan peserta didik akan dapat memantau perkembangan si peserta didik tadi, kesulitan apa yang dialaminya juga dalam hubungannya dengan pembelajaran akan dapat juga dipantau.
Proses penilaian ini menggunakan instrument tertentu yang memang diharapkan dapat memberikan gambaran hasil yang telah diraih oleh peserta dalam menyerap ilmu yang diajarkan oleh gurunya. Maka dalam hal ini, teknik membuat soal yang baik harus dipahami, bahkan ada alat uji untuk mengukur kualitas suatu soal. Begitu pula dalam penilaian terhadap hasil pekerjaan siswa dalam menyelesaikan siswa, ada hal-hal yang harus dipedomani sehingga menghasilkan penilaian yang valid, yang pada akhirnya validitas penilaian benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Beberapa lembaga atau pendidik menerapkan hal demikian bahkan bisa jadi lebih ketat lagi, terutama bagi lembaga pendidikan yang sudah mapan dan tidak terikat pada suatu aturan birokrasi, dalam kondisi demikian, dalam hal penilaian terhadap peserta didiknya lembaga ini akan menerapkan penilaian “apa adanya” dalam arti peserta didik yang mampu akan ia mendapatkan nilai bagus,sedangkan peserta didik yang kurang atau tidak mampu tentu ia akan mendapatkan nilai jelek. Tapi bagi sebagian lembaga pendidikan yang lain akan lain ceritanya. Katakanlah nilai bagi peserta didik akan dibuat grade minimal enam (6), maka peserta didik didik dalam kategori tidak atau kurang mampu menyerap pelajaran ia akan mendapatkan nilai minimal enam (6), sedangkan peserta didik diatasnya akan mendapatkan nilai tujuh dan seterusnya. Maka hasil penilaian bila dibaca oleh orang lain tidak akan dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan peserta didik dalam menyerap pelajaran, kecuali oleh gurunya sendiri karena ia memang mengikuti proses si pserta didik.
Apalagi bagi pendidikan yang tidak mementingkan proses atau penguasaan ilmu dan hanya mementingkan nilai, terlebih bagi kalangan yang berkepentingan dengan laporan dan data yang menyenangkan (model ABS), maka nilai-nilai yang tinggi akan sangat membanggakan bahwa katakanlah siswa-siswi sekarang lulus sekian persen lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya dengan nilai sekian-sekian dan sekian. Tapi apakah dilihat proses penialain yang dilakukan. Bahkan ada suatu kabar (burung) konon beberapa tahun lalu di Jateng disinyalir ada model konversi nilai Ujian Akhir nasional sehingga perolehan nilai siswa menjadi tinggi. Ini hanya sedikit dampak dari sekolah atau lembaga pendidikan atau system pendidikan yang mengutamakan nilai daripada penguasaan keilmuan.
Kalau kita bertanya, ketika Ujian Nasional kemarin, berapa persen siswa dari semua siswa di Indonesia yangmengerjakan soal ujian secara mandiri dan berapa persen yang bekerja sma sesama teman dalam mengerjakan soal. Berapa sekolah yang sama sekali tidak melakukan modifikasi dan penyikapan terhadap peraturan pelaksanaan ujian Nasional dan bahkan berani melakukan pengetatan terhadap pelaksanaan ujian nasional. Kiranya dapat diyakini hampir semua sekolah melakukan “hilah” terhadap peraturan, sehingga peraturan terkesan ketat hanya diatas kertas, tetapi peraturan yang tidak menguntungkan di lapangan akan disikapi tertentu sehingga lentur di lapangan.
Dengan nilai-nilai yang bagus saat ini, bila dibandingkan dengan nilai-nilai pada kurun waktu sebelum tahun 2000-an dimana saat itu nilai dua (2),tiga (3), emapat (4) adalah lumrah, tampaknya tidak terjadi perbedaan yang signifikan, artinya kemampuan yang dimiliki siswa relative sama,bukan berarti siswa sekarang yang memiliki nilai lebih tinggi mutunya lebih baik dari siswa sebelum tahun 2000-an yang nilainya di bawah. Yang membedakan hanya saat itu tidak ada”tuntutan” seorang siswa harus memiliki nilai baik untuk lulus, terserah pada sekolah mau memberikan standar nilai berapa kepada siswa, apakah akan dinaikan kelas atau diluluskan dengan standar itu ataukah tidak.
Mendongkrak Self Esteem
5 Jurus memompa self esteem..
Self esteem adalah berpikir setinggi mungkin sebagaimana halnya anda pikirkan terhadap teman anda. Self (anda) esteem ( lebih menyukai..)artinya anda menyukai diri anda sebanyak mungkin, baik yang di dalam maupun luar anda.Self esteem juga berarti anda memberikan penghargaan pada harga diri anda sendiri maupun pentingnya anda.
Apakah anda merasa tersiksa dengan self esteem anda yang rendah, sehingga hal ini mempengaruhi seluruh ruang kehidupan anda?
Abraham Maslow mendeskripsikan bahwa ada dua bentuk kebutuhan self esteem ini, pertama: kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan/respect dari orang lain, kedua : kebutuhan mendapatkan pengakuan dari pribadi sendiri.
Self respect/pengakuan dari diri sendiri mencakup rasa percaya diri (feeling of confidence), prestasi, kompetensi dan ketidak tergantungan. Penghargaan atau pengakuan dari orang lain mencakup: penerimaan, apresiasi, pengakuan (recognition). Maslow menandaskan bahwa jika kebutuhan-kebutuhan ini tidak dipenuhi akan menimbulkan ketidakpercayaan diri, ketidakberanian, lemah dan rendah diri/inferior…
Lantas bagaimana seseorang dapat meningkatkan self esteem-nya? Bagaimana anda merasakan diri anda dapat berbeda dari hari ke hari?
1. stop…jangan bandingkan diri anda dengan orang lain
Kita, secara alamiah, cenderung menggunakan orang lain untuk menilai dan mengukur penampilan, atribut atau kemampuan kita. Konsekuensinya kita sering merasa bahwa diri kita tidak sebanding dengan orang lain dalam pandanganmata kita sendiri atau kita merasa tidak beranjak kepada apa yang kita persepsikan sebagaimana yang diharapkan orang lain terhadap kita. Selalu saja ada orang lain yang lebih baik dalam berbagai cara/segi dari pada anda tapi sekedar bagian dari kekayaan atau perbedaan hidup dan anda memilki beribu atribut lain yang tidak dimiliki orang lain. Jadi konsentrasikan pada apa yang anda miliki daripada apa yang tidak anda miliki.
Apakah hal ini benar-benar menjadi masalah mengenai apa yang dipikirkan orang lain tentang anda? Ketika kita muda, kita mencoba untukmemenuhi apa yang menjadi harapan keluarga, tapi pada suatu ketika kita beranjak dewasa dan tua kita seharusnya mencoba dan ….pada harapan sendiri berbdasarkan pada apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup ini. Saya sering mengingatkan ddiri sendiri: “apa yang orang lain pikirkan tentang diriku adalah bukan urusanku”
2. Yang berlalu biarlah berlalu
Seringkali kita menguras waktu dan energi pikiran untuk memikirkan kesalahan yang telah lewat dan membiarkan hal ini mengkontrol perasaan dan pikiran kita saat ini. Setiap orang membuat kesalahan dan kita harus dapat memaafkan dan melupakan siapa yang berlawanan dan kita harus tetap maju.
Mirip dengan hal ini adalah jika anda masih terus menyalahkan diri anada atas kesalahan yang telah lewat, anggaplah ini sebagai pelajaran yang anda dapatkan dan tetaplah terus melaju. Lebih dari ini, berkonsentrasilah pada achievement/ketangkkasan/ketrampilan anda, walau hanya sejenak dan setiap hari, hal ini dapat membangun self esteem anda.
3. Terimalah diri anda sebagai pribadi yang unik.
Anda adalah unik…jadi terimalah diri anda sebagai adanya. Tentu dunia ini akan membosankan mnakala dihuni oleh orang yang sama, khususnya manakala kita semua sempurna. Jadi pikirkanlah mengenai apa yang anda inginkan dalam hidup ini, bukan apa yang kamu pikirkan apa yang seharusnya kamu inginkan berdasarkan atas apa yang kamu pikirkan orang lain harapkan. Ini adalah mengenai kamu hidup dalam kehidupan kamu bukan mereka
Salahsatu cara menguatkan self esteem ini adalah dengan berolah raga, tidak harus olah raga berat, cukup
dengan jalan-jalan 2-3kali dalam seminggu akan meningkatkan kadar horman rasa nyaman. Aktivitas outdoors juga dapat mendorong
untuk berpikir positif.
4. Buatlah buku jurnal pribadi
Membuat jurnal pribadi rasanya merupakan pekerjaaan berat tapi sesungguhnya hal ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Anda perlu memperbarui jurnal ini secara berkala tapi tidak harus setiap hari. Sebagai awalnya, anda dapat menulis hal-hal yang berkualitas dari diri anda. Anda tidak harus berpikir untuk menuliskannya semua, tapi anda dapat menambahkannya kemudian. Dengan melihat catatan ini dan setiap kali mereviewnya akan menguatkan kembali pikiran anda.
Begitu pula daftarlah prestasi anda dalam jurnal harian ini sehinga anda dapat menambahkannya kemudian dan mengadakan review sepanjang waktu.
Dalam jurnal ini anda dapat menuliskan peraan anda dan mungkin juga hal-hal yang memicu menurunnya self esteem anda. Sementara anda berusaha untuk memompa self esteem, anda dapat melihat kebelakang hal-hal yang mendorong kemajuan dan mengapa ada waktu-waktu tertentu dimana anda dapat mencapai self esteem yang tinggi maupun yang rendah. Kemajuan-kemajaun ini ada masanya sendiri, anda mungkin tidak menyadarinya bila anda tidak mencatatnya.
5. Tentukan beberapa tujuan.
Jika anda menghendaki perubahan dalam hidup anda, anda perlu membuat tujuan yang lebih khusus lagi. Cara terbaik untuk meraihnya adalah dengan menuliskannya, di buku jurnal tentu lebih baik.
Belajar akan memperlihatkan bahwa anda akan dapat meraih sasaran dan tujuan anda jika anda mencatatnya dan mereviewnya sevra berkala. Realistislah dengan tujuan anda dan buatlah jangka waktu untuk mencapainya. Jika anda gagal mencapai sesuai waktu yang ditargetkan, jangan anda merasa gagal, tapi set ulang tujuan ini dan ukuran yang lebih jelas.
Kesimpulannya adalah, self esteem yang lebih baik akan mungkin anda raih jika anda mau mengkontrol hidup anda dan proses berpikir.
Androgogy
Malcom Knowles merupakan orang yang dianggap pioner dalam memperkenalkan pembelajaran untuk orang dewasa.(http://www.learningandteaching.info/learning/knowlesa.htm).
Ia menjelaskan mengapa pembelajar dewasa berbeda dengan pembelajar umumnya. Karena Knowles berasumsi bahwa :
Sedangkan perbedaan androgogy dan pedagogy dapat dilihat pada daftar berikut ini:
1. Demands of learning :
Andragogy: Learner must balance life responsibilities with the demands of learning.
Pedagogy: learner can devote more time to the demands of learning because responsibilities are minimal.
2. Role of instructor :
Androgogy : Learners are autonomous and self directed. Teachers guide the learners to their own knowledge rather than supplying them with facts.
Pedagogy : Learners rely on the instructor to direct the learning. Fact based lecturing is often the mode of knowledge transmission.
3. Life experiences :
Androgogy : Learners have a tremendous amount of life experiences. They need to connect the learning to their knowledge base. They must recognize the value of the learning.
Pedagogy : Learners are building a knowledge base and must be shown how their life experiences connect withthe present learning.
4. Purpose for learning :
Androgogy : Learners are goal oriented and know for whatpurpose they are learning new information
Pedagogy: Learners often see no reason for taking a particular course. They just know they have to learn the information.
5. Permanence of learning :
Androgogy : Learning is self-initiated and tends to last a long time.
Pedagogy: Learning is compulsory and tends to disappear shortly after instruction.
(http://coe.sdsu.edu/eet/Articles/andragogy/index.htm)
Joke Pendidikan Kita
Waktu ikut seminar tentang Sosialisasi Pendidikan Sehari dengan tema Pelayanan Prima Pembelajaran, ada joke menarik tentang pendidikan di Indonesia. Di antaranya adalah adanya kuliah yang diistilahkan kuliah senin kamis atau sabtu ahad. Sekolah di daerah pantai yang liburnya bukan berdasar kalender tetapi berdasar ikan, bila lagi musim ikan datang (dari laut yang dibawa kapal nelayan) maka kelas menjadi bubar, semuanya ikut memanen ikan.
Ada lagi yang menggelikan sekaligus ironi, konon menteri pertanian Vietnam adalah alumni IPB, perguruan tinggi bidang pertanian di Indonesia yang kesohor. Sebagai alumni yang baik beliau mempraktekkan ilmunya yang diperoleh semasa kuliah di IPB untuk memajukan negaranya, hasilnya ia buktikan dengan mengeksport beras ke Indonesia negara dosennya dulu. Itulah hebatnya Indonesia. Bahkan konon banyak alumni IPB yang menjadi pejabat diberbagai departemen, bahkan pak SBY juga dari IPB. Saking banyaknya alumni IPB yang bekerja diluar bidang pertanian sehingga dinyatakan sebagai perguruan tinggi yang bisa melahirkan alumni yang ahli di bidang apapun kecuali bidang pertanian itu sendiri. Maka IPB diplesetkan menjadi Institut Pleksible Banget. yaa….Barangkali pak menteri Vietnam menerapkan ilmunya dengan sungguh-sungguh untuk memajukan negaranya, sementara di negara kita belum ada kesungguhan yang sungguh-sungguh untuk membangun negara.
Leave a Comment
Comments (1)
Comments (2)