Archive for May, 2009|Monthly archive page
SEKOLAH DAN LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR
SEKOLAH VS LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR
Kali ini saya ingin melihat sekolah hubungannya dengan lembaga bimbingan belajar. Fenomena bahwa lembaga bimbingan belajar saat ini begitu banyak dan begitu banyak pula tawaran program yang diberikan.
Kondisi Sekolah
Sementara sekolah sering terpaku pada rutinitas dan aktivitas harian yang cenderung administratif dan birokratis, sehingga kurang berani melahirkan inovasi-inovasi baru dalam dunia pendidikan. Berapa banyak tips-tips atau teori-teori baru yang dihasilkan oleh sekian banyak guru kita. Rasanya masih belum banyak, juga bila melihat buku-buku atau jurnal pendidikan yang merupakan hasil tulisan dari para guru kita juga belum banyak yang dapat kita nikmati. Memang kondisi ini tidak sepenuh- kalau harus mnyalahkan- salah guru. Sistem pendidikan kita barngkali belum sepenuhnya dapat memberikan guru untuk berkreasi sedemikian rupa dengan profesinya.
Lembaga Bimbingan Belajar
Sedangkan lembaga bimbingan belajar karena harus bersaing dengan lembaga bimbingan sejenisnya maka mau tidak mau ia harus inovatif. Sebagai sebuah lembaga profit maka lembaga bimbingan belajar harus banyak kreasi agar diminati oleh siswa-siswinya. Berbeda dengan sekolah yang biaya operasionalnya banyak disuplai oleh negara untu sekolah negri atau dari iuran wali murid untuk sekolah swasta. Lembaga bimbingan belajar untuk membiayai operasionalnya harus pandai memasarkan lembaganya sehingga layak jual. Kalau tidak maka lembaga itu akan mati.
Sebenarnya saya tidak ingin memfokuskan pada kelebihan atau kekurangan dari dua lembaga tadi atau tidak ingin membuat perbandingan mengenai karakteristik keduanya. Hanya saja saya melihat bagaimana antusisme siswa-siswi terutama di kota-kota untuk mengikuti belajar tambahan baik lewat lembaga bimbingan belajar atau les private baik oleh gurunya atau lewat guru lembaga bimbingan belajar. Kadang saya bertanya ada apakah dengan sekolah kita, dengan guru kita ? Bahkan guru LBB itupun banyak pula yang merupakan guru sekolah. Tidak cukupkah anak-anak belajar di sekolah ?, haruskan mereka untuk menjadi cerdas membutuhkan belajar tambahan lewat les atau LBB. Tidak cukupkah dengan sekolah yang ada? Kalau demikian adanya, maka bagaimana sebenarnya peran sekolah dalam mencerdaskan anak bangsa? Ataukah siswa-siswi kita tidak percaya diri dengan sekolah ataukah ada kepentingan yang berbeda antara sekolah dengan LBB. Ataukah sekolah kita hanya memberikan formalitas ? atau sekedar mengajarkan permulaan ilmu yang harus diperdalam di LBB? Ataukah sekedar untuk memasuki jenjang PT dari SMA, masuk SMA dari SLTP atau lulus ujian nasional dan semester ?
Kalau sekolah hanya berfungsi formalitas, bisa jadi tidak perlu sekolah cukup mencatatkan diri di sekolah, kemudian hanya pada waktu ujian ia mengikutinya selebihnya dapat ia pergunakan untuk belajar apapun dari kehidupan ini, termasuk bekerja atau belajar skill hidup yang tidak pernah diajarkan di sekolah.
Bahkan bagaimana jadinya bila sekolah kita (utamanya) hanya menargetkan lulus UN ? tetapi kurang atau tidak mengisinya dengan karakteristik pelajar sebagai pencari ilmu yang terus didorong untuk memiliki rasa ingin tahu atau mendorong agar mampu bertanggung jawab terhadap kehidupan masa depannya yang lebih baik.
Inilah beberapa hal yang kadang menggelitik di benak saya.
SEKOLAH DIBIAYAI PEMERINTAH
SEKOLAH GRATIS
Akhir – akhir ini Cut Mini gencar mengiklankan sekolah gratis di televisi, bahkan undang-undang dasar pun sebenarnya mengamanatkan kepada bangsa ini. Coba disimak bunyi UUD ini:
Pasal 28C
(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
BAB XIII
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Pasal 31
(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
(2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
Implementasi Sekolah Gratis
Beberapa pemerintah daerah ada yang sudah melaksanakan sekolah gratis ini bahkan sampai tingkat SLTA. Sebut misalnya Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, dan mungkin juga beberapa pemerintah daerah lainnya. Pelaksanaan sekolah gratis ini menyangkut beaya sumbangan pendidikan, maupun sumbangan gedung, ujian maupun sumbangan-sumbangan lainnya yang ditarik dari wali murid untuk membantu beaya subsidi penyelenggaraan sekolah dari pemerintah. Bisa jadi sumbangan ini muncul karena minimnya anggaran pemerintah untuk pengembangan pendidikan sehingga kurang memadai yang akhirnya sekolah menarik sumbangan dari wali murid untuk ikut menopang pembeayaan sekolah.
Besarnya sumbangan juga seringkali bervareasi antar sekolah tergantung pada tingkat ekonomi wali murid atau bonafide tidaknya sekolah bersangkutan. Tingkat ekonomi wali murid menengah ke atas tentu sumbungan lebih besar juga sekolah bonafide tentu menarik sumbangan yang juga cenderung besar.
Memang untuk menyelenggarakan sekolah yang baik, bermutu dan maju tentu dibutuhkan beaya yang tidak sedikit, negara-negara maju sekalipun mereka menganggarkan beaya pendidikan yang tinggi, baik untuk melengkapi fasiltas, gaji guru/dosen, bahkan untuk penelitian pengembangan keilmuan bahkan untuk beasiswa /subsidi murid-murid.
Melihat kondisi sekolah-sekolah di Indonesia, dan kalau ingin maju maka memang pemerintah seharusnya menggratiskan beaya pendidikan terutama untuk masyarakat menengah bawah dan memenuhi semua kebutuhan pembeayaan pendidikan, terutama untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Gratis sekolah negeri dan swasta
Sekolah gratis ini harusnya diterapkan juga untuk sekolah swasta, anak tidak membayar apapun tetapi semua beaya yang timbul dari penyelenggaraan sekolah dipenuhi semua oleh negara/pemerintah. Bukan hanya untuk sekolah negeri saja karena kalau dibeayai oleh negara maka tentu beaya itu diambilkan dari pajak negara. Sehingga semestinya memang semua anak yang bersekolah di negeri atau swasta berhak mendapatkan beaya sekolah gratis itu . miskipun untuk sekolah swasta tidak sepenuhnya gratis kecuali memang semua beaya yang timbul ditanggung negara. Tetapi mengapa yang gratis hanya sekolah negeri ?. Namun saat ini dengan adanya Bantuan Operasional sekolah, sekolah-sekolah sedikit terbantu karena tidak hanya sekolah negeri tapi sekolah swastapun mendapatkan, tetapi belum menyentuh untuk sekolah menengah atas.
PLUS MINUS PROGRAM AKSELERASI
Yang didapat di program akselerasi
Program Akselerasi merupkan percepatan waktu belajar, misalnya waktu belajar di SMP/MTSdan SMA/MA adalah tiga tahun, dengan model akselerasi maka waktu belajar tadi dapat ditempuh dalam waktu dua tahun
Siswa-siswi yang dapat menempuh program ini adalah siswa-siswi yang lulus tes masuk program akselerasi, selain tes IQ di atas 125 juga tes – tes yang lain. Sehingga ia dapat menempuh program akselerasi dan dapat menyelesaikan waktu studi selama dua tahun.
Materi yang dipelajari pada dasarnya sama dengan siswa kelas reguler, kalau sekarang memakai kurikulum KTSP maka yang dipelajari kelas akselerasi juga sama. Jadi pada prinsipnya secara kurikulum apa yang diterima oleh peserta program akselerasi sama dengan program reguler.
Karena program akselerasi merupakan siswa-siswa berbakat cerdas maka dalam penyampaian pelajaran menggunakan metode yang memang dirancang khusus untuk anak-anak cerdas.
Tetapi sebenarnya, bila seseorang dengan kemampuan relatif sama, maka dari sisi kematangan materi pelajaran antara peserta akselerasi dan reguler, maka bisa dipastikan lebih matang keilmuan siswa reguler. Lebih dari itu, karena ia belajar materi yang sama dengan rentang waktu yang lebih lama. Untuk akselerasi barang kali yang paling didapat adalah waktu menyelesaikan studi relatif pendek, tetapi dengan kurikulum yang sama ia juga mendapatkan yang sama dengan kelas reguler.
Kelas reguler dengan waktu tiga tahun ia juga mendapatkan hal sama dengan kelas akselerasi.
Saya hanya ingin melihat dari sisi apa yang dicapai oleh siswa program akselerasi. Dengan materi kurikulum yang sama maka siswa akselerasi hanya mendapatkan porsi yang sama dengan siswa reguler. Siswa reguler dengan kemampuan yang sama dengan siswa aksel ia bisa mendapatkan porsi lebih dalam rentang waktu tiga tahun.
MILIH PRESIDEN
Memilih Presiden
Tiga pasangan.
Bangsa Indonesia pada minggu-minggu ini disibukkan hajatan untuk memilih presiden. pemilihan presiden kali ini dikuti tiga pasangan, sesuai urut deklaarasi. Pertama pasangan Yusuf Kalla- Wiranto, kedua pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boudiono dan ketiga pasangan Megawati- Prabowo.
Alasan Memilih capres cawapress,
Ketiga pasangan ini tentu memiliki program-program sendiri yang layak jual untuk mendapatkan massa pengusung yang banyak. selain menawarkan program, mereka juga memiliki basis akar pendukung sendiri-sendiri, bahkan mereka juga memiliki kharismanya masing-masing, yang denganya mereka dapat diterima dalam kelompok masyarakat tertentu.
Alasan budaya.
Kira-kira banyak banyak masyarakat Indonesia yang akan memilih prsidennya bukan karena program yang ditawarkan atau solusi permasalahan bangsa atau bagaimana bangsa ini akan dikelola, tetapi banyak yang memilih bukan alasan rasional tadi tapi lebih pada alasan emosional, misalnya “pokoknya calon presiden a”, ” kalau tidak b, tidak”.
Saya mungkin termasuk orang yang akan memilih bukan karena semata tawaran program bagaimana negara ini akan dikelola tapi lebih emosional, misalnya: siapa diantara calon presiden itu yang yang praktek ibadahnya lebih baik, bagaimana kondisi kelarganya, bagaimana sikap dan perilaku istrinya.
Khusus masalah istri ini saya anggap penting karena, istri ini nanti akan menjadi ibu negara dan perlu diingat bahwa bagaimanapun peran seorang ibu sangatlah penting miskipun ia tidak terlibat langsung dengan urusan negara, tetapi secara budaya ibu negara ini bisa memberikan pengaruh yang besar, bahkan pengaruh budaya yang ditimbulkan dapat merubah pola kebiasaaan masyarakat. Kalau melihat ini saya jadi cenderung milih pasangan siapa ya…ya minimal secara penampilan lahiriyah atau cara berpakaian tentu saya pilih capres cawapres yang keseharianya mncermin adab berpakaian Islam.
MENIRU ISLAM SHAHABAT
Meniru dan Meneladani Islam Shahabat
Sumber Islam.
Sumber Islam dapat dibedakan menjadi dua pertama wahyu Allah swt dalam al qur’an dan kedua sunnah Rasulullah. Dua hal ini merupakan sumber utama agama Islam, tanpa keduanya bangunan Islam akan roboh. Pembahasan kali ini ingin membahas masalah Islam dalam perpektif shahabat. Maka akan kita bahas kedudukan sahabat dalam Islam mencakup pujian Allah dan Rasulullah terhadap sahabat ini dan fungsi mereka kaitannya dengan otentitas agama Islam.
Al Qur’an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah saw, lewat perantaraan malaikat Jibril dalam rentang waktu yang lama. Rasulullah menghapal, memahami dan mengajarkan kepada para sahabatnya setiap turun wahyu, bahkan setiap Ramadhan Jibril senantiasa mengecek ulang al Qur’an ini, para sahabat yang ditunjuk Rasulullah mencatat al qur’an ini disamping mereka, para sahabat yang ada menghapalkan al qur’an ini, dan kebanyakan sahabat sebagai tradisi masyarakat saat itu yang belum populer budaya tulis mereka menghapal al qur’an ini. Bahkan dalam perkembangannya ada sahabat-sahabat senior yang sangat ahli dalam al qur’an ini yang disebut sebagai qurra’ dari para sahabat inilah al qur’an disebarkan dan diajarkan dalam tradisi lisan dan hapalan. Tranmisi al qur’an lewat sahabat – sahabat yang dalam ilmu hadits mereka adalah adil yang karenanya diterima ajaran mereka tentang Islam. Al qur’an ini diyakini umat Islam menjadi pedoman hidup umat Islam, menjadi kitab suci umat Islam, yang dengannya Islam menjadi tegak dan eksis. Keraguan terhadap isi al Qur’an berarti meragukan seluruh bangunan Islam.
Rasulullah sebagai sumber Islam, beliau yang merupakan tafsir sah dari al qur’an baik secara pengetahuan maupun perilaku atau implementasi pelaksanaan al qur’an dalam tataran praktik keseharian. Secara umum perilaku Rasululah tadi dituturkan dari secara lisan lewat orang-orang yang adil terpercaya/’aadil tsiqah kemudian dalam perkembangannya dicatat secara sistematis dalam berbagai kitab utamanya kitab-kitab hadits dan sirah. Dalam tradisi hadits, hal-hal yang tercatat tadi meliputi perbuatan, perkataan dan hammiyah ( semacam keinginan ) Rasulullah, saw.
Sahabat sebagai transmiter pertama.
Sahabat sebagai orang yang pertama kali melihat praksisnya Islam dalam diri Rasulullah mereka berusaha untuk dapat memahami dan melaksanakan Islam sebagaimana yang Rasulullah amalkan. Tentu mereka melaksanakan Islam dalam kapasitas mereka sebagai sahabat Rasulullah yang tentu secara kualitas berbeda dengan Rasulullah karena para sahabat ini betapapun hebatnya mereka bukanlah seorang rasul. Namun demikian para sahabat ini telah mendapatkan jaminan dari Rasulullah dan Alllah mengenai kualitas keislaman mereka. Dalam kaitan inilah sebenarnya kita ingin melihat rekaman perilaku Rasulullah dalam kitab hadits sebagai para sahabat mempraktekkan Islam ketika mereka melihat praktek langsung Rasulullah dalam berislam.
Perlu ditegaskan lagi di sini, bahwa kita menempatkan Al qur’an dan Rasulullah sebagai sumber Islam, dalam kaitan ini menyangkut Rasulullah sebagai sumber ajaran Islam, maka beliau menempati posisi normatif ajaran Islam, sehingga bisa jadi membutuhkan penafsiran terhadap perilaku, perkataan maupun hammiyah Rasulullah. Penafsir pertama yang paling sahih mestinya adalah para shahabat. Bila ingin melihat orisinil Islam dalam tataran praktis masyarakat Islam mestinya melihat bagaimana Islam dipraktekkan oleh para shahabat. Karena Islam shahabat ini sudah dijamin oleh Allah dan Rasuullah.
Meniru Islam Shahabat.
Berkaitan dengan ini, fokus kita adalah melihat keislaman para shahabat untuk dapat kita contoh, dan hal ini sah saja mengingat adanya jaminan Allah dan Rasulullah akan sahabat ini, misalnya. Beberapa ayat yang menjelaskan keutamaan shahabat adalah: al Fath: 18, 26, 29. At taubah: 100, 111, al Anfal: 74, an Naml: 59, ar ra’du: 28.
Adapun beberapa hadits di antaranya adalah, riwayat at Tirmidzi, bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, ada satu yang selamat yakni yang menempuh “apa-apa yang aku berjalan di atasnya dan juga para shahabatku ”, dinilai hasan oleh al Albani. Bukhari dan Musllim meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda:” jangan kalian mencela shahabatku, andai ada yang berinfaq emas sebesar Uhud, tidak akan menyamai baik satu mud atau sebagiannya”.
Manakala Rasulullah teladan mutlak tanpa salah, maka bagaimana para shahabat dalam posisi mereka sebagai manusia meneladani pribadi agung Rasulullah. Bagaimana para shahabat memahami setiap sabda Rasulullah. Bagaimana mereka menterjemahkan petunjuk Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat sesama Islam atau dengan kelompok yahudi, nasrani, orang kafir maupun orang musyrik dan munafik. Bagaimana mereka secara individu menterjemahkan apa yang mereka lihat dan mereka dengar dari Rasulullah.
Ini yang menjadi fokus kita, berislam ala shahabat, berislam sebagai hasil dari pemahaman mereka terhadap Al quran dan Rasulullah, pemahaman dan praktek Islam mereka dalam kehidupan sehari-hari telah diiyakan oleh Rasulullah dan Allah.
Maka bisa jadi kita meneladi Sahabat secara perorangan misalnya ingin meneladi sahabat Abu Dzar Al ghifari atau kita ingin meneladi Sahabat secara keseluruhan dalam kerangka melihat masyarakat Islam awal untuk membentuk masyarakat Islam di masa kini. Wallahu a’lam bish shawwab
MERAIH KEMAJUAN
KENAPA KITA TIDAK MAJU-MAJU
Bisa jadi kita sering mengikuti pengajian, sering mengikuti workshop, seminar, pelatihan dan berbagai kursus serta sekolah, namun juga merasa tidak ada kemajuan berarti yang diraih.
Ambil contoh, ketika kita mengikuti pengajian, setelah sekian lama ternyata tidak ada perubahan berarti di diri baik secara pengetahuan maupun perilaku. Atau barangkali kita mengikuti pelatihan bahkan beberapa minggu, kemudian sekembalinya dari pelatihan kita merasa tidak mendapatkan apa.
kalau dirunut tentu banyak hal mendasari hal itu.
pertama: kekurangsiapan diri kita ketika katakanlah mengikuti pengajian atau pelatihan. Baik kurang siap secara mental maupun persiapan lainnya. Akibatnya kita mengikuti platihan dengan rasa malas, kurang kontribusi terhadap kegiatan selama pelatihan, bahkan yang paling besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pelatihan tadi adalah pikiran bahwa materi yang dibawakan oleh presenter sudah biasa dilakukan.
kedua : dari sisi presenter bisa jadi juga memiliki kondisi yang sama, yakni kurang persiapan dan merasa bahwa materi yang dibawakan sudah menjemukan dan merasa hal itu sudah biasa dilakukan oleh para peserta.
Ini barangkali yang sangat mempenagruhi kekurang berhasilan suatu kegiatan.
Apalagi dalih, bahwa paling-paling materinya hanya itu -itu saja.
kalau dicermati rasanya banyak hal yang sebenarnya hanya “itu-itu saja” atau hal biasa tapi dikemas, dikerjakan, dicarikan nuansa baru yang akhirnya justru memberikan keberhasilan yang gemilang.
Ibarat orang belajar bela diri, barangkali selama sekian tahun dan selama sesi latihan gerakan -gerakan yang dilakukan tidak ada yang baru, baik tendangan atau pukulan, tetapi perbaikan-perbaikan setiap latihan, mencari efektifitas pukulan, melatih berbagai macam teknik pukulan, maka akhirnya ia berhasil menguasai bela diri.
atau misalnya perkembangan sepeda motor, bila kita bongkar maka bentuk dasar sepeda motor itu rasanya sejak tahun ‘65 hingga ‘9 tidak banyak mengalami perubahan bentuk dasar tapi penambahan, perbaikan, vareasi baru senantiasa ditambahkan setiap tahhun yang akhirnya memberikan nilai tambah.
Maka untuk meraih kemajuan, hal utama yang perlu ditanamkan adalah meninggalkan pikiran bahwa hal tersebut sudah biasa, dilakukan, sebaliknya harus ditanamkan dalam pikiran bahwa miskipun hal itu sudah biasa dilakukan maka perlu difikirkan kemungkinan vareasi baru dari hal tadi untuk memperoleh efektifitas dan efensiensi sehingga semakin mendatangkan nilai tambah.
Latihan bersama sinsei Donovan waite
Latihan Aikido bersamma shinshe Donovan Waite
Berangkat jam 16.30 tiga puluh sampai Jogya jam 18.00, kemudian mampir di UIN Sunan Kalijaga untuk menunaikan shalat Maghrib dan Isya’ sekaligus, sempat masuk halaman menuju masjid lama, kemudian kita bilang dan tanya penjaga gerbang masjid UIN SUKA dan diberitahu kalau masjidnya pindah ke timur, akhirnya kita balik ke timur dan bnar disana ada orang-orang yang sedang menunaikan shalat maghrib. Ternyata ini bangunan masjid sementara, artinya gedung yag difungsikan sebagai masjid, sebelum bangunan masjid baru selesai dibangun.
Selesai shalat kita ganti celana dogi dan melanjutnya ke Sanatadarma, miskipun lancar sempat juga nyelonong agak ke dalam alias keblandangen (jw), akhirnya kita belok lagi dan masuk aula sadar, ternyata sudah dimulai pemanasan dan kita lihat sudah mandi keringat semua, setelah absen, langsung kita ikut gabung bersama peserta lainnya dari Jogya.
Sambil menunggu sinse Donavan, peserta seminar aikido ini melatih gerakan-gerakan “jungkir balik “ bersama sinse dari dojo Sanatadharma. Kali ini para peserta karena di Jogya maka yang paling banyak adalah dari Jogya kemudian dari Solo dan dari Malang.
Begitu sinse Donovan datang suasana menjadi gemuruh, melihat sinse yag ditunggu – tunggu sudah datang dan barangkali juga postur dan serta perawakan ditambah tingkah lakunya yang lucu ramah slengekan. Begitu masuk arena sinse memulai dengan “mengheningkan cipta” beberapa saat, mnghormat pada simbol-simbol aikido baru dilanjutkan dengan pemanasan yang berjalan kurang lebih setengah jam.
Selanjutnya sesi lathan bersama yang sebenarnya gerakan-geraan dasar yang setiap kita latihan senantiasa dipraktekkan, tetapi ditangan sinse Donovan apa yang diperagkan mennjadi sesuatu yang baru karena ada gerakan detail dan bagaimana seharusnya setiap gerakan aikido dilakukan dapat kita saksikan secara gamblang, sempat juga kita ikut bahkan dua kali latihan langsung dengan sinse, gara-gara ketika sinse keliling melihat kita tidak benar alias tidak bisa melakukan gerakan dengan benar.
Akhir cerita, sinse sangat senang bisa bertemu kita dan di akhir sesi diberikan kenang-kenangan berupa bros, topeng, “sovenir manuk kuntuk”, serta kain batik motif wayang . Selesai acara diadakan foto bersama kemudian kita pamita dan balik pulang sampai rumah kira-ira jam 00.00.
Catatan Perjalanan
Catatan Perjalanan.
Beberapa hari yang lalu saya mengadakan lawatan ke Rembang, masih di minggu bulan Mei ini. Saya berangkat kurang lebih jam 14.00 sampai di Rembang kurang lebih jam 16.30.
Mulai Perjalanan: menuju Grobogan Purwodadi, jalan bergelombang
Perjalanannyapun lancar, miskipun jalan raya solo purwodadi/grobongan di beberapa titik jalan ibaratnya melewati sungai kering karena jalanan telah lobang dan penuh kubangan bahkan jalanan yang tidak rata dan bergelombang ditambah habis hujan. Untuk menyiasati jalan itu kita sampai di sumber lawang memilih jalan alternatif jalan yang menuju waduk kedungombo hingga mencapai wilayah Gundih ???. Jalanan menuju kedungombo karena berbukit-bukit untuk kali ini jauh lebih menarik, naik turun, disepanjang jalan tumbuhan dan pohon jati nampak menghijau bahkan dibeberapa bukit sungguh betapa suburnya tanah yang disiram air hujan yang ditumbuhi jagung. Bahkan jalan beraspal yag pecah-pecah menjadi keindahan tersendiri.
Sebenarnya sepanjang perjalanan di kanan kiri jalan terlihat bukit bukit hutan pohon jati yang mulai gundul tetapi sebenarnya bukan gundul hanya karena ditanami ulang pohon yang belum besar sehingga kelihatan gundul.
Melintasi Blora: panen padi, potret lugu masyarakat pedesaan
Selepas purwodadi grobogan sepanjang jalan menunuju bloro, yang nampak disepanjang jalan adalah persawahan yang sedang menunggu untuk di panen dan yang menarik persawahan ini begitu terhampar luas, sungguh persawahan yang tidak saya temukan sebelumnya untuk wilayah surakarta. Hanya saya saya melihat sepertinya lahan persawahan yang begitu luas meliputi grobogan, blora, cepu, rembang, pati tetapi untuk irigasi yang saya lihat hanya mengandalkan tadah hujan, sehingga kurang produktif. Ini karena saya melihatnya ketika musim penghujan.
Memang terlihat pula bukit-bukit dikejauhan perbukitan yang ditumbuhi pepohonan jati tapi juga habis digunduli dan ditanami pohon baru.
Lebih dari itu, saya melihat perekonomian daerah-daerah ini sangat nampak masih terkesan minim, kesan kesahajaan terpancar sangat kuat, ternak sapi berkeliaran di mana-mana, jalan raya berlalu lalang bus-bus besar, bus pedesaan, mobil pribadi sepeda motor dan sepeda angin mengangkut jerami padi hasil bercampur baur jadi satu.
Kesan kumuh nampak di mana-mana, apalagi daerah ini merupakan daerah dataran yang air tidak langsung bisa mmengalir ke tempat rendah sehingga cenderung menggenang dipekarangan. Bahkan sepintas basih belum banyak kiranya lantai yag diperkeras hanya lantai tanah. Rumah-rumah memang hampir keseluruhan terbuat dari papan kayu (jati) yang sudah berusia sekian puluh tahun terlihat dari kekusaman warna rumah papan tadi. Berbeda dengan yang saya lihat di daerah Solo, rumah papan yang mengkilap karena dicat vernish.
Memasuki ibukota kabupaten mulai terlihat keramain kota, karena disepanjang jalan hampir tidak ditemu pusat-pusat keramaian sehingga sangat sulit untuk menemukan budaya-budaya perkotaan.
Rembang dan Sekitarnya: pantai dan desa agraris dalam pelukan Islam tradisonal
Memasuki Rembang mulai terlihat keramain kota yang berbeda dengan kota-kota sebelumnya. Udara di rembang relatif lebih panas karena memang merupakan daerah pesisir pantai utara. Sampai di Rembang kira-kira pukul 7.00 sore. Kita disambut sangat ramah oleh Mbah Mat (KH Fathurahmat dan keluarga). Keluarga yag bersahaja tetapi sangat dihormati oleh bukan hanya masyarakat bawah tapi juga kalangan atas dan birokrat negri ini. Kami menginap semalam di rumah ini. Selepas makan malam dengan menu yang enak yang kalau dirumah sendiri pasti saya makan banyak kalau lagi bertama saya ambil sedikit masalahnya kalau banyak yang susahnya adalah pada pagi harinya. Bukan masalah sungkan atau tidaknya untu makan banyak. Tapi memang saya biasanya saya mengukur danmembatasi porsi makan untuk menjaga berat badan dan keehatan tubuh.
Oh ya selepas makan malam kami dilanjutkan bincang-bincang tentang berbagai hal mulai masalah pesantren, politik, keluarga dan lain-lain. Untuk shalat kami lakukan jamak maghrib dengan isa’ di masjid rumah mbah Mat, pagi harinya setelah shalat shubuh, kami jalan-jalan menuju pantai utara rembang yang hanya berjarak beberapa meter dari kediaman Mbah Mat.
Pantai ini sebelah utara jalan Dendeles jalan yang dibangun secara kerjasama paksa oleh gubernur Dendeles semasa penjajahan Belanda dulu. Jalan ini berada di pinggir pantai sehingga meliwati jalan ini akan menyaksikan pemandagan pantai. Di pantai Rembang yang saya lihat di sebelah timur pantai wisata kartini rembang, tepat dibelakang rumah seseorang saya berdiri dibelakang pelataran belakang ruah tersebut dibuat bercor membentengi rumah tersebut dari ombak pantai, rumah yang cukup megah tetapi di sampingnya rumah-rumah kumuh khas perkampungan nelayan.
Pantai yang saya bayangkan berpasir indah bersih ternyata airnya kotor, tempat membuang sampah dan tidak ada pasirnya karena sudah diuruk untuk perluaan rumah-rumah. Pohon bakaupun sudah tidak ada. Nelayan pantai utara di rembang ini terlihat sangat banyak apalagi pagi hari ini.
Beberapa saat kemudian kami kembali ke rumah mbah Mat, menikmati minum kopi pagi dan teh sembari menggigit pisang goreng, ehm nikmat. Pagi hari ini kami menuju ke daerah sluke, gunem atau tepatnya saya kurang hapal tetapi melewti daerah-daerah tadi. Ingin menemui seseorang yang memiliki yayasan sosial dan pendidikan. Melewati daerah-daerah ini, lagi-lagi sangat khas rumah papan yang kusam tidak teratur pekaranngan yang kumuh, sapi-sapi di mana-mana, budaya masyarakat khas pedesaan. Ada suat daerah yang penuh ditanami pohon kelapa disamping tanaman tebu dan mangga, oh ya konon dan yang saya lihat Rembang ini sangat cocok untuk ditanami pohon mangga.
Tanah rembang juga menyimpan berbagai bahan tambang dari batu kuarsa bahan baku kaca, bahkan 7 dari 11 bahan semen ada di Rembang ini. Termask batu gamping hanya saja mungkin membutuhkan anak-anak bangsa yag cerdas untuk mengolah hasil tambang ini ntuk memberikan kemakmuran warganya. Anak bangsa yang bukan hanya cerdas tetapi juga berbudi luhur dan peduli terhadap nasib miskin bangsa ini di tengah kemakmuran alamnya.
Menjelang jum’at kita pergi shalat jum’at di masjid agung Rembang, jama’ahnya penuh tumpah ruah di luar masjid, sayang saya masih melihat untuk tata tertib shaf belum sepenuhnya melaksanan shaf yang lurus dan rapat.
Melihat ke atas atap rumah di Rembang nampak antena televisi menjulang di atas atap setiap rumah penduduk menyoratkan pemandangan tersendiri, karena hampir tidak ada antena yang dipasang pendek di ats rumah, semua antena dipasang tinggi dengan tiang tiang yang tinggi, menampakkan “pohon” antena di atasp rumah
Pulang Kembali: jalan beda, pemandangan beda
Kira-kira jam 14.00 kita pamitan dengan tuan rumah untuk kembali ke pulang dan kita memutuskan lewat Pati Purwodadi Grobogan setelah sebelumnya diberi tahu bahwa jalur ini sudah bagus jalannya. Untuk lewat jalur ini kita mengikuti jalur pantura hingga juwana menuju pati, untungnya jalur pantura ini sudah banyak yang di beton karena memang rawan rusak kalau di aspal mengingat jalan ini selalu dilewati truk dengan muatan kelewat berat, belum lagi musim penghujuan yang kadang meluberkan temasuk air laut ke jalanan sehingga membuat jalan mudah cepat rusak.
Jalur Pati Grobogan juga penuh jalan bergelombang hanya saja sudah diperbaiki sehingga terasa nyaman dilewati, disepanjang jalan juga terlihat padi yang siap panen miskipun genangan air hujan nampak di berbagai pekarangan, perumahan sepintas lebih tertata dan nampak tidak terlalu kumuh dibanding lewat Grobogan Blora Rembang, memasuki Grobogan, jalanan ini melewaati perbukitan yang mengandung batu kapur dan mungkin juga barang tambang lainnya, karena saya sempat melihat posko demo penolakan pendirian pabrik semen. Di atas bukit malah terlihat pemukiman padat dan pohon-pohon jati yang dikeringkan dalam posisi tegak siap tebang. Begitu trun bukit, jalanan menuju Grobogan terlihat sangat parah rusaknya.
Sebenarnya banyak hal yang dapat dicatat dalam perjalanan ini sayang tidak membawa kamera untuk memotret setiap moment ini.
MUJMAL dan MUBAYYAN
MUJMAL DAN MUBAYYAN
A. Pengertian Mujmal
Secara bahasa berarti samar-samar dan beragam/majemuk. Secara istilah berarti: lafadz yang maknanya tergantung pada lainnya, baik dalam menentukan salah satu maknanya atau menjelaskan tatacaranya, atau menjelaskan ukurannya.
1. Contoh: lafadz yang masih memerlukan lainnya untuk menentukan maknanya: kata ” rapat ” dalam bahasa Indonesia misalnya memiliki dua makna: perkumpulan dan tidak ada celah. Sedangkan dalam al Qur’an misalnya surat al Baqarah: 228
وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ …….﴿البقرة: ٢٢٨﴾
kata ” قروء ” dalam ayat ini bisa berarti : suci atau haidh. Sehingga untuk menentukan maknanya membutuhkan dalill lain.
2.contoh: lafadz yang membutuhkan lainnya dalam menjelaskan tatacaranya. Surat An Nur: 56
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿النور: ٥٦﴾
Kata “ mendirikan shalat” dalam ayat di atas masih mujmal/belum jelas karena tidak diketahui tatacaranya, maka butuh dalil lainnya untuk memahami tatacaranya.
Begit pula ayat- ayat haji dan puasa
3. contoh lafadz yang membutuhkan lainnya dalam menjelaskan ukurannya. Surat an nur : 56 di atas.
Kata ” menunaikan zakat ” dalam ayat di atas masih mujmal karena belum diketahui ukurannya sehingga untuk memahaminya masih diperlukan dalil lainnya.
B. Pengertian Mubayyan
Mubayyan artinya yang dinampakkan dan yang dijelaskan, secara istilah berarti lafadz yang dapat dipahami maknanya berdasar asal awalnya atau setelah dijelaskan oleh lainnya.
Contoh lafadz yang dapat dipahami berdasar asal awalnya. Misal kata: langit, bumi, adil, dhalim dan sejenisnya Kata-kata ini dapat dipahami berdasar asal awal terjadinya seperti itu.
Contoh lafadz yang dapat dipahami setelah ada penjelasan dari lainnya adalah surat an Nur: 56 di atas yang asalnya mujmal kemudian setelah ada dalil penjelasannya dari rasululah saw, maka kemudian kata mujmal tadi menjadi mubayyan.
C. Kaidah Mujmal
Wajib bagi seorang mukallaf untuk mengamalkan yang mujmal manakala ada dalil yang menjelaskannya dari kemujmalannya.
Comments (4)
Leave a Comment
Comments (1)