ANTARA SMA,SMK DAN MA

Memilih Sekolah

Saat-saat ini, setelah selesai mengikuti UAN, para siswa disibukkan kegiatan mencari sekolah. Banyak sekali tawaran sekolah yang ada. Dari lembaga yang dikelola oleh negara hingga lembaga swasta dalam negeri maupun kerjasama swasta dalam negeri dan luar negeri. Semua menawakan paket sekolah yang menggiurkan, bahkan juga ada sekolah yang tidak begitu dikenal, kalau mau di grade katakanlah grade satu, dua atau tiga. Siswa tinggal memilih.

Secara umum, sekolah menengah di Indonesia diwadahi tiga lembaga yakni SMA (sekolah Menengah Atas), SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan MA ( Madrasah Aliyah). SMA bertujuan diantara menyediakan dan menyiapkan siswa/i yang hendak melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi; akademi atau perguruan tinggi. Sedangkan SMK lebih ditujukan untuk menyediakan tenaga kerja tingkat menengah, dan MA, sebagaimana SMA bertujuan untuk mengantarkan siswa memasuki perguruan tinggi umum maupun perguruan tinggi Islam.
Kenyataannya tidak semua lulusan SMA berkesempatan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi karena berbagai alasan. Begitu pula dengan lulusan SMK dan MA. Bahkan dari mereka ada yang menjadi pengangguran.

Akhir-akhir ini pemerintah gencar mengiklankan (baca mensosialisasikan) SMK, sebagai sekolah masa depan, SMK bukan sekolah kelas dua, dan arah pendidikan Indonesia ke depan hendak menyetarakan jumlah SMA dan SMK. Maka tidak heran bermunculan iklan sosialisasi SMK di televisi dengan “bintang iklan” dari beberapa orang yang sudah punya nama. Ada seorang sebut saja selebritis pembawa acara yang mengaku lulusan SMK, ada seorang pejabat yang juga mengaku lulusan SMK, bahkan ada seorang direktur dengan anak buah kurang lebih 90 % lulusan SMK.
Itu semua ditujukan untuk membangun citra bahwa SMK bukan sekolah nomor dua sebagai sekolah pencetak tenaga kerja yang mengandlkan otot saja. Tapi dengan iklan itu hendak menonjolkan bahwa lulusan SMK memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh SMA atau MA.
Benarkah demikian, dari iklan itu saja kalau mau dicermati sebenarnya bukan SMK atau tidaknya, saya lebih melihat pada individunya. Bahwa kesuksesan lebih ditentukan pada keuletan, kegigihan seseorang menghadap tantangan. hal ini mengingat secara umum kualitas pendidkan di Indonesia yang sedemikian parah, rasanya sangat kecil kalau semata lembaga sekolah yang menjadikan seseorang sukses.
Banyak juga lulusan SMA atau MA yang juga sukses, kalau di iklan dikatakan bahwa pekerjanya hampir semua lulusan SMK, maka ketika seorang dosen atau rektor yang lulusan SMA dapat saja ia mengiklankan bahwa Universitasnya hampir 90 % lebih lulusan SMA, direktur rumah sakit mengatakan bahwa para karyawannya yang perawat semua lulusan SPK. Nah lho…..
Maka yang paling penting adalah bagaimana kita membenahi pendidikan kita sehingga menghasilkan generasi muda yang siap menyambut tantangan zamannya baik di dunia kerja maupun dunia akademis.

6 comments so far

  1. Lala on

    Sebenarnya kenapa SMK pernah dikatakan sebagai sekolah nomor dua?? Bagaimana sejarahnya? Dan banyak orang mengatakan SMU lebih baik. Pada intinya,bagaimana cara kita menentukan,apakah kita harus masuk SMK atau SMU? Karena lulusan SMK pun juga dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya,bukan? Bagaimana tanggapan anda mengenai perbedaan antara SMU dan SMK?

  2. zulfa4wliya on

    kalo menurut aku, memang secara output akhir yang diinginkan berbeda. SMK menitikberatkan skill sedangkan SMA menitikberatkan knowledge. hanya saja tingkat kemahiran skill atau knowledge yang diperoleh siswa dari setiap sekolah berbeda-beda. Ini tidak terlepas dari perbedaan standar sarana prasarana, kurikulum, dukungan dana,metode pembelajaran, input siswa, maupun dukungan lainnya yang diperoleh oleh masing-masing sekolah. Katakanlah sekolah yang ada di tengah kota baik SMK atau SMA akan sangat berbeda dengan sekolah yang ada dipelosok desa.

  3. Ignasia Hastari K, S.Psi on

    Saya kira kalau SMA dan SMK berbeda itu memang dari awal tujuan dan design kurikulumnyanya sengaja dibuat berbeda. Yang perlu dipahami para siswa terutama adalah mengenai apa perbedaannya, siapa saja yang disarankan untuk melanjutkan ke SMA atau ke SMK, dasar atau pertimbangan apa saja yang sebaiknya mendasari seorang siswa melanjutkan ke SMA atau SMK?Dan dasar serta alasan setiap orang pasti berbeda, tidak bisa disamakan setiap orang.Alasan yang mengatakan bahwa SMK diperuntukkan bagi siswa2 yang kurang mampu secara ekonomi (sehingga seolah-olah SMK adalah nomor 2 dibanding SMA) saya kira itu sangat klasik dan tidak bijaksana.Karena orang mampu pun bisa saja melanjutkan ke SMK jika memiliki pertimbangan lain yang kuat, seperti misalnya bakat dan potensinya akan lebih berkembang jika masuk SMK dibandingkan ke SMA. Toh setelah SMK masih bisa melanjutkan ke PT.Dan mungkin dasar2 lain.
    Saya sangat setuju bahwa kesuksesan seseorang itu penentu utamanya adalah kualitas pribadi seseorang.Tidak ada jaminan ketika bersekolah di SMA pasti sukses atau di SMK pasti gagal dan sebaliknya.

  4. rafi jelek on

    lo mnurut Q mo skul di sma,smk,to MA sm aja cause yg nentuin sukses to tdknya orang itu bukan asal usul sekolah,bukan pinter to kurang pinter tapi yg nentuin orang sukses itu ‘kemauan n usaha utk jadi orang “SUKSES” ‘…….

    so mulae skrg jdlh org yg py “kemauan kuat tuk jd orang SUKSES”….

    moga ni comment da manfaatnya tu temen2……..

  5. tasiwa on

    bagaimana cara terbaik sosialisasi smk..
    pa lagi untuk smk yang baru buka…
    dengan fasilitas yang minim dan kurangnya pencitraan di mata masyarakat…

    sebagai seorang calon pengajar,,,itu tantangan memang..
    tapi bisakah diberi masukan untuk langkah yang lebih baik lagi…mengatasi kendala-kendala…
    bagaimana pencitraan yang baik ke masyarakat???

  6. Master on

    Hehe…saya setuju kalimat terkahir tulisan Anda diatas.
    Bahkan pertanyaan saya masih belum ada yg bisa jawab:
    Kenapa pemerintah membuat “kelas” pekerja,dengan iklan SMK, bukannya malah membuat “kelas” manager, walikota, bahkan presiden?

    Pantas Indonesia disebut “Bangsa Indon” oleh orang2 Malaysia, dengan citra sebagai bangsa buruh..

    Negara manakah yg mensuport kebijakan pemerintah yg pro SMK sehingga menjadikan kita bangsa buruh beberapa tahun ke depan? Atau kita yg terlalu bodoh sehingga gak mau menjadi “kelas manager”???

    Wallohu’alam & peace…
    ^_^


Leave a reply